
Laras sedikit menarik tangannya dari genggaman Pak Wira, mungkin Laras sok alim atau bagaimana, karena Laras kaget tiba-tiba tangannya di genggam Pak Wira selaku dosennya.
"Ras, ikut saya kerumah."
"Ada apa Pak! kok sepertinya sangat penting?" tanyanya Laras.
"Pokoknya ikut saya kerumah." Sembari tangannya Pak Wira mengengam tangannya Laras.
Dilihat dari kacamata orang lain, mereka berdua seperti sepasang kekasih yang sedang berantem atau sedang marahan, prianya sedang membujuknya.
Laras mengikuti langkah kakinya Pak Wira yang sedikit terseok-seok, karena langkah kakinya Pak Wira sangat cepat, membuat Laras susah mengimbangi langkahnya.
"Lepaskan tangan Laras, Pak."
Wira diam saja tidak membalas ucapan Laras, yang bagi Yudha seperti angin lalu. Wira terus mengengam tangannya Laras, walaupun mereka berdua sudah berada di dalam mobil.
Wira seperti tidak sadar, pikirannya sekarang tertuju pada Belva yang sedang tidak enak badan. Wira sedikit mencengkeram erat tangan Laras, untuk melampiaskan rasa sesak di nafasnya bila mengingat Belva tidak mau makan.
Tidak butuh waktu berlama-lama dalam perjalanan ke rumahnya, Wira mengemudi mobilnya seperti pembalap kelas kakap yang menikung Kanan kiri jalanan yang sedikit lebih lengang.
Wira membunyikan klakson mobilnya, untuk dibukakan pagar rumahnya kepada mang Nurdin selaku tukang kebun rumahnya. Sehari-hari mang Nurdin tidur di paviliun belakang, Mang Nurdin merupakan suaminya bik Ani pembantu di rumah Wira.
Setelah pagar rumahnya di buka, Wira masih saja mengengam tangannya Laras untuk mengikuti langkahnya di sampingnya.
__ADS_1
Wira mulai menaiki tangga untuk masuk ke kamarnya, sampai di lantai atas Wira terburu-buru untuk masuk ke dalam kamarnya, untuk melihat Belva-nya masih tidur apa sudah bangun?
Ceklek....
Wira membuka pintunya pelan-pelan, mulai mengintip lewat ekor matanya yang melirik keatas ranjang tempat tidurnya. Nampak si mungil Belva sudah bangun di temani bik Ani, yang setia mengusap lembut rambut anaknya.
"Papa ke ana ya, bik? kok ama anget."
"Nggak tahu Non! Papa-nya non Belva nggak bilang sama bibik."
Wira yang mendengar suara Anaknya yang sedang mencari tahu Lewat bik Ani, membuat Wira sedikit lega. Belva mau diajak komunikasi walaupun keadaannya masih sangat lemas.
Tak! Tak,!......
Wira mulai melangkah masuk ke kamarnya, dan tangannya masih saja tidak mau lepas dari genggaman Laras.
***
Sedangkan Laras dibuat salah tingkah dengan aksinya Pak Wira yang tiba-tiba menggenggam tangan. Berkali-kali Laras mencoba melepasnya, tetap saja tidak bisa karena genggamannya sangat erat.
Laras membiarkan saja! percuma saja meminta untuk dilepaskan, tetapi tidak ada jawaban malah semakin erat genggaman tangannya.
Laras yang melihat Belva-nya bersandar di kepala ranjangnya yang sedikit wajahnya pucat, Membuat Laras bertanya-tanya. Sakitkah? atau sekedar tidak bermain di lu kamar.
__ADS_1
Laras terus mengikuti langkahnya Pak Wira yang berhenti di samping ranjangnya. Wira berjongkok untuk mengelus rambut anaknya, dan mencium bau wangi shampo, membuat Wira bernafas lega.
***
"Ante Lalas......." Sapa Belva dengan raut wajah yang bahagia.
"Tante kangen sayang."
"Va, juga angen, ante."
Setelah melepas kangen, Belva terus bergelayut manja dengan tante Laras yang duduk di sebelahnya.
"Papa dicuekin nich." Tuturnya Wira.
Belva masih saja diam, tidak menanggapi ucapan Daddy-nya. Belva masih saja sangat manja, dan tidak mau lepas dari tantenya. Tangan Laras mulai pegel yang masih saja di gelayutin tangannya, Belva yang memeluknya sangat erat.
"Belva makan ya."
"Ndak au! pengennya ama ante Lalas."
"Makan disuapin -tante ya." Bujuknya Laras mengelus surai rambut anaknya.
"Kalau Belva tidak mau makan! tante pulang lho." Tutur Laras yang sudah mulai beranjak dari tempat duduknya.
__ADS_1
"Jangan ulang ante! Va ingin ama ante." Hiks... Hiks....
Mendengar suara tangisan Belva, Laras kembali duduk di sebelahnya, Laras merasa iba melihat Belva-nya sedikit pucat, dan tidak bersemangat seperti hari-hari sebelumnya.