
Mereka bertiga sudah sampai di kediaman Pramana, Belva yang kegirangan membuat keduanya tersenyum hangat, mereka saling melempar senyum dan tangannya saling bertautan.
"Yeeeehh udah ampai, Va seneng deh." Serunya Belva yang sudah siap untuk turun dari mobil.
"Sabar sayang."
"Va udah ndak sabal ingin ain tanah, Ma!"
"Iya-iya Mama tahu, nunggu Papa buka pintunya dulu baru kita turun."
"Iya Mama cayang."
🌻🌻🌻
Wira turun duluan dari mobilnya, dan bersiap untuk membukakan pintu untuk kedua tuan putri. Tetapi belum sempat membuka pintu tapi tangannya sudah di handel pintu, tiba-tiba ponselnya bergetar di saku celananya.
Wira mengernyitkan dahinya tertera nomor telepon yang tidak di kenalnya, nomornya pun tidak ada di kontaknya.
"Siapa ya? guman Wira memasukkan ponselnya kembali.
Niat hati berjalan ke tempat mobilnya, ponselnya Wira kembali bergetar dengan nomor yang sama, Wira mengurungkan niatnya untuk ke mobilnya, dan menerima panggilan telepon siapa tahu penting.
"Hallo....ini siapa.?" tanya Wira dengan lugas.
"Hai brothers, Aku Andra temen kuliah mu di London." Jawabnya Andra dengan singkat.
"Andra yang playboy itu! suaminya Vina?" tanya Wira lagi.
"Iya brothers, Selamat atas pernikahannya! maafkan kemarin tidak bisa datang, maklum Vina lagi mabuk lagi."
"Maksudnya istrimu hamil lagi gitu?"
__ADS_1
"Iya brothers."
"Selamat ya, semoga sehat selalu Debay hingga melahirkan nanti."
"Aamiin, makasih ya! udah dulu ya istriku ntar ngambek kalau kelamaan berbicara di telepon."
"Wanita maha benar, maunya menang sendiri Hahahaha*....."
Wira tersenyum tipis teman kuliahnya ternyata masih mengingatnya, Wira memasukkan ponselnya kembali ke saku celananya dan menghampiri Laras dan Belva yang sudah menunggunya di dalam mobil.
🌻🌻🌻
"Maaf sayang." Tutur Wira yang merasa bersalah membiarkan keduanya masih di dalam mobil.
"Nggak apa-apa Mas, telepon dari siapa mas sepertinya asyik ngobrolnya?" tanya Laras yang mengelus lembut tangan suaminya.
"Oohh itu teman kuliahnya Mas waktu di London."
"Perempuan sayang, mana berani Mas mengangkat telepon seorang perempuan di belakang istrinya Mas yang cantik ini."
"Ahh dasar sukanya gombal." Laras melempar permen mengenai dada bidangnya Wira.
"Awas aja berani macam-macam di belakangku, tidur di luar satu bulan." Ujarnya Laras dengan sedikit nada mengancam.
"Nggak bakalan Mas menduakanmu, sayang! cinta Mas hanya untukmu seorang."
"Gombal....!"
🌻🌻🌻
"Ehemmmmmm, Papa dan mama sepelti pemain sinetlon akting Kelen." Tutur Belva yang mengacungkan dua jari jempolnya.
__ADS_1
"Va, yang ad di cini aja ndak di peduliin! Papa Mama ndak cayang agi ama Kaka." Ujar Belva yang memanyunkan bibirnya. Wira dan Laras hanya saling melirik, saling melempar senyum, anak gadisnya ternyata lagi ngambek karena di cuekin.
"Cieee Kaka, tambah cantik." Seloroh Wira yang merayu Belva. Laras yang berada di samping hanya tersenyum tipis, melihat Wira membujuk Anaknya supaya tidak ngambek.
Rayuan Wira tidak mempan, Belva lebih memilih turun dari mobil masuk ke rumah Kakek Neneknya.
🌻🌻🌻
"Nek, Kek Papa Mama-nya Kaka nakal...." teriaknya Belva.
"Ehh cucu nenek yang cantik udah datang, ayo masuk ke dalam, terus ikut Nenek ke kebun belakang kita ambil singkong." Tutur Neneknya celingak-celinguk mencari keberadaan Laras dan Wira, setelah melihatnya nenek mengajak Belva masuk ke dalam.
"Mau Nek." Serunya Belva yang semangat dan melupakan Papa Mamanya.
Mereka berdua sedang di kebun belakang, yang tadinya Belva memanyunkan bibirnya, sekarang sudah bisa tertawa lepas, dengan bermain tanah ngambeknya hilang.
Wira dan Laras yang mengintip di balik pintu, tersenyum menghangat Melihat Belva ceria lagi.
"Ajaibnya gadis-nya Papa, Mama dengan main tanah bisa mengembalikan cerianya kembali." guman Wira dan Laras bersamaan.
Keduanya saling berpelukan, berharap hari esok akan lebih indah untuk mereka melangkah, memulai hari baru yang lebih baik lagi untuk kedepannya.
Jangan lupa bantu
LIKE
KOMENTAR
VOTE
RATE-NYA
__ADS_1