Jadi Yang Kedua

Jadi Yang Kedua
Bab 60


__ADS_3

Satu minggu sudah Laras menikmati liburannya hanya di rumah saja, niatnya untuk bekerja untuk mengisi kekosongan akibat liburan semester ganjil di kampusnya.


Berulang-ulang Laras membolak-balikkan badannya untuk mencari posisi ternyaman-nya untuk memejamkan kedua matanya, yang sudah sangat mengantuk tetapi sudah untuk di pejamkan


Laras sangat mengingat kejadian demi kejadian yang di lalui nya, mulai perkenalannya dengan pak Andra Wiranegara, dan istrinya.


Mulailah cerita cinta Laras di mulai, mulai dari pernikahan sirinya yang berumur seumur jagung, pernikahan yang di dasarkan untuk memperoleh keturunan atau uang berobat untuk Bapaknya Laras bukan karena cinta.


Setelah menjalani kisah masa lalunya, Laras mencoba untuk bangkit membuka lembaran kertas yang putih untuk kehidupan rumah tangga barunya kelak.


Di kota Yogyakarta Laras mulai seperti terlahir kembali, Laras mulai melanjutkan pendidikannya di bangku perkuliahan di universitas ternama di Yogyakarta.


Tidak terasa waktu berlalu sangat cepat sekali, Laras tinggal di Yogyakarta sudah enam bulan, semester ganjil Laras mulai dengan suka cita. Banyak perjuangan, jatuh bangun untuk bisa bangkit dari cerita masa lalu, bersyukurlah Laras di kelilingi keluarga yang sangat menyayanginya.


Pukul 00.00 akhirnya kantuk datang, Laras mulai tertidur dengan guling sebagai teman tidurnya, dan boneka kelinci pemberian sahabatnya Tari.


Biarkan Laras tertidur dengan pulas malam ini, karena hari esok tidak akan tahu apa yang terjadi cerita cinta Laras selanjutnya. Autthor berharap Laras menemukan cinta sejatinya dengan seseorang yang bisa menerima, dan memberi hehehe.


Kring....kring...

__ADS_1


Suara alarm jam Beker diatas nakasnya kamarnya Laras, berbunyi sangat nyaring untuk membangunkan sang tuan rumah yang sangat terlelap dalam tidurnya.


"Apaan sih berisik." guman Laras menarik selimutnya untuk menutupi seluruh tubuhnya, agar tidak terdengar bunyi alarm.


Belum juga mendengkur halus tidurnya kembali, suara jam Beker nya kembali berbunyi sangat nyaring.


Tangan Laras mulai meraba-raba jam Beker diatas nakasnya, dan berniat untuk mematikannya tetapi di raba-raba dengan tangannya, dan matanya masih terpejam malah terjatuh pecah seribu.


Prayar.....(Anggap bunyi jam beker) hehehe. mendengar suara pecahan, Laras langsung membuka kedua matanya untuk menyesuaikan cahaya di dalam kamarnya yang sudah masuk adzan subuh berkumandang.


"Sial! Jamnya pecah." batinnya Laras.


Laras masih dengan posisi di atas tempat tidur, dengan menatap atap di kamarnya, menghitungnya satu-satu jumlah kayu atapnya.


Lamunan Laras buyar, ketika mendengar suara getaran di ponselnya. Membuat sang empunya terjangkit kaget yang bergetar nyaring, dan berulang-ulang.


Laras melihat layar ponselnya yang tertera nomor baru, tidak ada nama si penelepon yang tertera. Laras ogah-ogahan untuk mengambil ponselnya malah melanjutkan tidurnya, karena Laras sedang libur bulanan tidak menunaikan shalat.


Belum juga memejamkan kedua matanya, suara getaran ponsel bergetar kembali dengan nomor telepon yang sama.

__ADS_1


Dengan keterpaksaan Laras mengangkat teleponnya, yang semula telepon biasa sekarang di rubah menjadi video call, menampilkan batita kecil dengan suara khas bangun tidur, dan piyama anak motif Doraemon.


"Accalamu'alaicum ante! ini Va nte." Sapa Belva yang masih bergelung di dalam selimut.


"Walaikumsalam sayang." Jawabnya Laras.


"Ante beyum angun? sama kayak Va hihihi." Tutur Belva sedikit cekikikan.


"Tante udah bangun, tetapi malas untuk turun dari tempat tidur sayang." Sahutnya Laras dengan senyum manisnya.


"Ante ucu! cepelti Va yang alas angun." Ujar Belva.


Mendengar suara Belva Laras jadi salah tingkah, bingung mau menjawab gimana, karena Belva sangat pintar tidak bisa di bohongi.


"Sayang! udah dulu ya tante di panggil Nenek! disuruh untuk bantuin masak." Tutur Laras.


"Va, boyeh ain ke lumah ante ndak?" tanya Belva.


"Boleh sayang."

__ADS_1


"Maacih ante."


Sambungan telepon di matikan Wira yang kebetulan ada di samping Belva. Senyum terukir indah di bibirnya Belva, yang bahagia bisa melihat tantenya walaupun lewat video call.


__ADS_2