
Setelah Wira dari tempat kerjanya, Wira mulai membuka kamarnya Belva, menemukan Laras yang masih setia memeluk Belva dengan sangat eratnya, membuat sang empunya tertidur mendusel-dusel ke Laras.
"Pemandangan yang indah." batinnya Wira.
"Eeeugghh...." Suara lenguhan tidurnya Laras membuat Wira sedikit kaget dari lamunannya..
Wira berusaha menguasai dirinya dari rasa gugupnya, dan mulai berjalan menghampiri Laras yang masih sangat nyamannya bersama Belva.
"Ras, bangun makan dulu." Tutur Wira memegang lengannya.
"Malas bangun Buk! Laras belum lapar."
"Krucuk.... krucuk...."
Ingin rasanya Wira tertawa terbahak-bahak, menertawakan Laras yang tidurnya lasak, dan tidak sadar kalau ini bukan rumahnya.
"Bangun udah malam! ayo makan, Ras."
"Kok sepertinya bukan suara Ibuk ya? kenapa suara Ibuk berbeda seperti suara laki-laki? Kalau suara Adiknya Rudi? sepertinya nggak mungkin, terus siapa ya?
Laras terus saja bertanya dalam hatinya, tetapi tidak menemukan jawabannya. Karena dipikiran Laras sedang tidur di dalam kamarnya yang sangat nyenyak.
__ADS_1
"Woiii! bangun sudah pagi!"
Mendengar suara yang sepertinya kenal, Laras mencoba mengintip dari balik selimutnya. Menampilkan wajahnya Wira yang tertawa, menertawakan dirinya yang tidurnya seperti kebo.
"Ehh maaf Pak! nggak tahu kalau sedang di rumah, Pak Wira." Selorohnya Laras yang tangannya membentuk huruf V.
"Tidur kamu lucu seperti Belva saja." Celetuk Wira tepat di wajahnya Laras. Membuat Laras semakin salah tingkah dengan ucapan pak Wira yang tidak tahu tempat.
"Kenapa wajahmu memerah, Ras?" Tutur Wira yang berniat menggoda Laras, yang sedikit menahan rasa geli karena ucapannya.
"Digigit nyamuk, Pak! nyamuknya nakal seperti pak Wira." Celetuk Laras. Laras langsung membekap mulutnya karena berbicara yang tidak-tidak didepannya Pak Wira, yang niat awalnya untuk menggodanya....
"Ini mulut nggak bisa di ajak kompromi." Batinnya Laras.
"Brruuukkkk....."
Laras terjatuh tersungkur di hadapannya Pak Wira, rasanya ingin sekali menertawakan kecerobohan Laras yang kedua matanya tidak melihat-lihat.
"Aduuuhh sakit."
"Bukannya ditolongin malah diam seperti patung." guman Laras lirih.
__ADS_1
Tetapi didengar oleh Wira sayup-sayup, sebenarnya Wira ingin membantunya tetapi niatnya diurungkan karena takutnya di tolak Laras.
"Bisanya cuma lihat! bukan bantuin bangun." decak Laras sedikit kesal.
Laras bangkit dari lantai, dan mulai berjalan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya yang memerah akibat menahan sakit.
"Bisa-bisanya ceroboh, Ras." Laras membatin.
Didalam kamar mandi Laras mengutuk kecerobohannya, berulang-ulang Laras mengetuk-ngetuk kepala, dan pelipisnya dengan tangannya.
Tok tok tok....
Wira mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi berkali-kali, tetapi tidak ada jawaban sama sekali. Laras masih asyik dengan dunianya, dan pikirannya melayang kejadian barusan yang tersandung kakinya Wira.
"Andai saja ada pintu Doraemon! ingin rasanya Laras bersembunyi."
"Ras, buka pintunya." Ujar Wira didepan kamar mandi.
"Iya Pak."
Ceklek....
__ADS_1
Laras membuka pintu tanpa ada kata yang terucap, Laras langsung nyelonong keluar kamar mandi, tanpa memperdulikan Wira yang terbengong-bengong melihat tingkah laku mahasiswanya.
Laras meraih tas Selempang-nya, dan mengecup keningnya Belva yang panasnya sudah turun. Laras ingin pulang ke rumahnya walaupun hari sudah malam. Tanpa pamit ke pemilik rumahnya, Laras nyelonong keluar kamar Belva, yang diam tanpa kata.