
Setelah menutup teleponnya, Wira mengajak Belva untuk sikat gigi, cuci kaki, cuci tangan sebelum tidur. Belva anak yang sangat penurut, tidak pernah membantah perintah Papa-nya seperti malam ini.
Selesai dari kamar mandi, Belva naik ke atas ranjang tidurnya dengan posisi selimut menutupi dadanya.
"Belva tidur ya! ini sudah malam! Papa juga mau tidur." Tutur Wira mengusap puncak rambut Anaknya.
Tapi Va, ingin tidul dengan Papa." Sahutnya Belva.
"Mau tidur di kamar Belva apa kamar Papa?" Tanyanya Wira sedikit merapikan selimut anaknya.
"Kamal Va aja Papa." Jawabnya.
Akhirnya Wira mengalah tidur di kamar Anaknya, yang tempat tidurnya sangat minimalis, keduanya saling berdempetan posisi tidurnya.
Wira menyanyikan lagu penghantar tidur untuk Anaknya Belva, yang masih aja terang benderang kedua matanya.
"***Nina bobo, oh nina bobo
"Kalau tidak bobo, digigit nyamuk
"Nina bobo, oh nina bobo
"Kalau tidak bobo, Belva digigit nyamuk
"Nina bobo, oh nina bobo
"Hari sudah malam, terkabut Intan
"Nina bobo, oh nina bobo
"Bulan kan menjagamu, tidurlah sayang***.
__ADS_1
Tangannya Wira tidak berhenti mengusap lembut rambut anaknya, dan puk-puk pantatnya.
Mendengar suara dengkuran halus Anaknya, membuat Wira tersenyum melihat Anaknya yang tertidur sangat pulas. Tidak ketinggalan boneka beruang kesukaannya menjadi teman tidurnya Belva.
"Sweet dream sayang." Tutur Wira mengecup keningnya Belva lama.
Setelah memastikan Belva tertidur pulas, Wira merebahkan tubuhnya, dan mulai memejamkan kedua matanya untuk masuk ke dalam mimpi indah tidurnya.
***
Di kamar tidurnya Laras mulai memejamkan matanya, untuk menyusul Wira, dan Belva yang lebih dulu tertidur dengan pulas. Tidak henti-hentinya Laras tersenyum bila mengingat percakapannya dengan batita kecil nan menggemaskan.
"Tante kangen, sayang." guman Laras lirih.
Laras akhirnya menutup kedua matanya, berharap hari esok hari yang lebih baik, daripada hari-hari sebelumnya.
Saking kangen-nya, Di dalam tidurnya Laras mimpi bertemu sahabatnya, yang sudah lama tidak saling bertemu.
Bunyi alarm jam beker-nya, membuat sang tuan Putri mulai terbangun dari tidurnya, dan mulai membuka kedua matanya sangat perlahan un menyesuaikan cahayanya yang masih nampak malu-malu.
"Hoaammm...." Ucap Laras dengan suara khas bangun tidurnya.
Laras langsung melihat jam bekernya yang terletak diatas nakas kamarnya, bila mengingat semalam, membuatnya tersenyum tipis.
Laras menyibak selimutnya, mulai menuruni ranjang tidurnya untuk mengambil air wudhu untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Setelah rangkaiannya selesai, Laras menuruni tangga untuk membantu Ibunya memasak di dapur. Tidak membutuhkan waktu lama, Laras sudah selesai menghidangkan makanannya di meja makan.
Beranjak ke kamar adik-adiknya untuk membangunkannya,
"Dik, bangun udah pagi." Ujar Laras mengetuk-ngetuk pintu kamar Adik-adiknya satu-satu.
__ADS_1
Selesai mandi, Laras bersiap untuk mencari pekerjaan selama liburan semester ganjil, pagi ini keluarga Pramana sarapan bersama, sebelum menelusuri kota Yogyakarta, Laras mengantar kedua adik-adiknya untuk pergi ke sekolahnya dulu, baru Laras melanjutkan langkahnya.
Selesai mengantar Adik-adiknya, Laras memasuki sebuah cafe yang menempel lowongan kerja untuk pramusaji. Akhirnya Laras memberanikan untuk melamar kerja, selama libur kuliah.
"Permisi Mbak! apa bener cafe ini lagi membutuhkan pramusaji?" tanyanya Laras.
"Benar Mbak, Silahkan ketemu sama pemiliknya Mbak! ada di lantai dua." Sahut Mbaknya.
"Makasih Mbak."
Laras menaiki tangga untuk ke lantai dua, menemui pemilik cafenya.
Tok!....Tok!....
"Masuk." Ucapnya dari dalam.
"Permisi Pak!" Tutur Laras.
"Silahkan duduk dulu." Sahutnya.
"Apa benar ada lowongan kerja untuk pramusaji, Pak?" tanya Laras.
"Betul." Jawabnya.
"Bolehkah saya melamar di sini, Pak?"
"Silahkan!"
Laras memperkenalkan dirinya dengan singkat, dan pekerjaannya sebagai mahasiswa semester ganjil.
Setelah dipertimbangkan, Laras keterima kerja , dan mulai besok Laras mulai bekerja tepat jam 09.00 pagi Laras harus tetap waktu, tidak boleh telat.
__ADS_1