
Wira dan Belva masuk ke dalam mobil, sekian kalinya Belva ikut Papa-nya ke kantor, mungkin juga Belva dirumah dengan pembantunya atau mungkin kesepian karena di tinggal Papa-nya kerja yang pulangnya sore, beda dengan Papa-nya kalau pergi ke kampus.
"Papa! ental ain keempat ante ya."
"Emang Belva tahu rumah Tante Laras."
"Enggak!" Katanya Belva sembari menggeleng kepalanya.
"Sama dong! Papa juga nggak tahu."
Mendengar jawaban Papa-nya Belva langsung terdiam, kembali melihat lalu lintas jalanan yang padat merayap karena bertepatan dengan jam berangkat kerja.
"Belva kok diam? biasanya juga aktif." Tutur Wira membelai rambutnya Belva.
"Enggak pa-pa! Va hiyat Mobik yang ewat." Sahutnya Belva.
Wira terdiam mendengar suara Anaknya seperti sedang terjadi apa-apa. Sedangkan Wira sedikit khawatir dengan Belva, bila tidak di turuti kemauannya takutnya mogok bicara dengan Papa-nya atau malah sakit.
Keduanya sudah tiba di kantor, dengan posisi Belva berada di dalam gendongannya, sedangkan tangan satunya untuk menjinjing tas kerja yang berisi dokumen penting, dan laptop.
__ADS_1
Setelah mengetahui kedatangan Pak Wira, selaku pemilik perusahaan. Semua pegawai tertunduk hormat, dan semuanya berdiri untuk menyambut kedatangan Pak bosnya.
Belva memberikan senyuman, sedangkan Pak Wira berjalan tanpa menoleh sama sekali, Wira terkenal sangat tidak murah senyum, rahangnya yang tegas, membuat Wira sedikit galak dengan tampangnya sedikit brewok, dan ke bule-bule'an.
Setelah sampai di lantai lima tempatnya, tempat Wira berkantor karena libur semester membuat Wira harus rajin-rajin ke kantor, dan melupakan sejenak urusan belajar mengajar.
Belva duduk di atas kasur bulu Rasfur, Belva mulai menumpahkan mainannya yang di bawanya dari rumah. Belva mulai memerankan karakter tokoh sesungguhnya, Belva sedang main boneka Barbie, dan boneka beruangnya.
Wira melirik sedikit kearah Anaknya, yang masih menyibukkan dirinya dengan mainannya, Wira tersenyum melihat Anaknya yang sangat mandiri, terkadang menangis bila keinginannya tidak terpenuhi Papa-nya. Tetapi bagi Wira tidak masalah, yang terpenting Anaknya bisa tersenyum seperti hari-hari sebelumnya.
"Benar yang di katakan Belva, Belva tidak akan mengganggu kerja Papa-nya."
Tidak terasa jam kantor selesai, pekerjaan juga selesai. Melihat Anaknya tidur dengan memeluk boneka beruangnya, membuat Wira mengiris kalbu. Bila mengingat masa lalu, mengingat kehamilan istrinya yang waktu itu mengandung Belva yang masih di rahim Bundanya.
Membuat Wira berkaca-kaca menghampiri Belva, dan mulai menciumi seluruh wajah Anaknya yang sedikit gempil. Wira mengangkat tubuhnya Belva untuk turun ke lantai dasar, karena pekerjaan Wira udah selesai, saatnya keduanya akan pulang ke rumahnya.
Semenjak Belva sering ikut Papa-nya ke kantor, Wira diantar jemput sopirnya. Wira tidak sanggup mengemudi mobilnya dengan momong Belva, Wira tidak ingin terjadi apa-apa dengan Putri semata wayangnya, Wira memutuskan untuk menghubungi Laras untuk menanyakan kabar.
Tetapi niat itu hanya ada sebatas angan-angannya saja, Wira tidak berani menghubunginya dengan alasan keperluan pribadi atau ada maksud tertentu.
__ADS_1
***
Di Cafe suasana sangat ramai, banyak muda-mudi yang mampir sekedar minum kopi atau nongkrong saja.
Laras berulang-ulang mengusap keringat di dahinya yang terus menerus keluar, karena cuacanya sangat panas.
Disangkanya hujan, tetapi malah terang benderang seperti masih siang saja. Laras mengantarkan pesanan kesana kemari, dan Laras mencatat pesanan satu persatu yang ingin merasakan makanan khas teamlo khas Solo, Jawa Tengah.
Walaupun Laras sekarang bukan lagi tinggal di ibukota, tetapi Laras sangat bahagia pernah tinggal di Jakarta, dan mempunyai sahabat yang mau menerima kekurangan, dan kelebihan Laras.
***
Ditempat kediaman Wira, Belva sangat rewel mengingau nama Tante Laras. Sesekali terisak-isak dengan dahinya yang mengkerut seperti memikirkan sesuatu.
"Sayang! ini Papa." Tutur Wira.
Setelah mendengar suara Papa-nya, Belva sedikit tenang dan mulai tertidur kembali dengan posisi memeluk erat tubuh Papa-nya.
"Ada Papa! bobok yang nyenyak, sayang."
__ADS_1