Jadi Yang Kedua

Jadi Yang Kedua
Ekstrak Part keempat


__ADS_3

Masih ingatkah dengan Tari? Sahabatnya Laras?


Tiga bulan sudah, usia pernikahannya Laras dan Wira. Kedekatan keduanya terjalin begitu indah, berkat si kecil Belva yang menyatukan cinta keduanya.


Sudah mulai tumbuh benih-benih asmara di hati keduanya, Wira sudah tidak canggung lagi memeluk istrinya, bila keduanya bobok dalam satu ranjang yang sama.


Mereka berdua saling bercanda, saling melempar senyum, saling mencurahkan isi hatinya masing-masing. Ternyata cintanya Laras, tidak bertepuk sebelah tangan, terbalaskan dengan ijab Qabul.


Belva adalah pemersatu keduanya, hari ke hari cinta keduanya semakin mekar, semakin tumbuh subur, seperti bunga di taman yang bermekaran sangat indah di pandang kedua mata.


Semenjak Papa dan Mamanya menikah, Belva sangat manja sekali, apa-apa harus Mama dan Mama, sekarang Papa-nya jadi nomor dua.


Hari berganti hari, Minggu berganti Minggu, bahkan bulan berganti bulan. Kemesraan keduanya semakin jelas terlihat, tidak sungkan-sungkan lagi mereka menunjukkan keharmonisan di depan khalayak ramai.


Laras semakin jatuh cinta dengan suaminya, laki-laki yang mau menerima kekurangan dan kelebihannya. lelaki yang tidak pernah menuntut-nya, lelaki yang mengalihkan tanggung jawab dari kedua orang tuanya Laras, sekarang menjadi tanggung jawab suaminya.


***


Weekand ini, Laras berencana untuk menginap di rumah orang tuanya. Sudah satu minggu juga, Laras tidak berjumpa dengan keluarganya. Rasa rindu membuncah di hatinya, apalagi untuk masakan ibunya yang tiada duanya, restauran terkenal di Jakarta pun lewat.

__ADS_1


"Mau nggak Belva nanti malam nginep di rumah Kakek, Nenek?"


"Mau banget, Ma! tapi Papa ikut nggak, Ma?"


"Ikut dong sayang."


"Ahsyiiikkk nginep lumah kakek, Nenek."


Keduanya sedang asyik menonton layar televisi kesukaan Belva, beberapa kali juga Belva sudah menguap, tetapi tidak mau untuk bobok, masih saja kepalanya mengangguk, dan matanya mulai terpejam.


"Bobok ya di kamar! Mama temenin."


"Kakak Belva dari tadi menguap terus, itu tandanya kakak harus bobok siang."


Belum juga menjawab pertanyaan Mamanya, Belva sudah bobok di samping Mamanya, kepalanya Belva sudah di letakkan di atas paha Mamanya.


"Gitu aja sudah bobok." guman Laras.


"Cup..." Anak gadis Mama sudah besar.

__ADS_1


Laras mengangkat tubuhnya Belva, untuk di letakkan di kamarnya. Sedangkan Laras bersiap untuk masak menu makan siang, biasanya Wira akan pulang dan makan siang di rumah dengan masakan istrinya.


Sejak menikah dengan Wira, Laras merasa seperti di hargai sebagai seorang istri, yang memasak untuk suami dan anaknya. Menyiapkan berbagai macam kebutuhan sehari-hari suaminya.


Setelah memasak, Laras masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan tubuhnya dari bau bawang. Laras ingin menyambut suaminya pulang dengan pakaian rapi, wangi, dan tidak bau bawang.


Ceklek... baru saja Laras membuka pintu kamar mandi, Laras mematung di tempat melihat suaminya tidak berkedip menatap dirinya, hanya dengan sehelai handuk melilit di tubuhnya.


Wira berjalan ke arah istrinya, memeluknya erat dari belakang dan mengendus-endus lehernya, sembari menggigit kecil menimbulkan bekas keunguan di leher Laras.


"Kamu makin cantik, seksi, Mas suka sayang." Bisiknya Wira.


Laras tidak bergeming sama sekali mendapatkan perlakuan suaminya tiba-tiba. Bulu kuduknya Laras sudah meremang, sekujur tubuhnya terbawa suasana yang menyenangkan.


"Mas, entar Belva bangun lho." Laras berusaha mengalihkan perhatiannya.


"Nggak akan, sayang!"


Wira membalikkan badan istrinya, mata keduanya saling bertemu, saling penuh damba, perasaan yang menggelora di hati keduanya.

__ADS_1


__ADS_2