Jadi Yang Kedua

Jadi Yang Kedua
Bab 58


__ADS_3

Setelah tiba di tempat parkir di kampusnya, sayup-sayup Laras mendengar seseorang memanggil .


"Ante Lalas...." Teriak Belva masih di dalam mobilnya dengan kaca jendela diturunkan, dan nampak kepala Belva.


"Ante Lalas..." Seru Belva kegirangan melihat tantenya ada ditempat parkir khusus sepeda motor.


Setelah Laras memprakirkan motornya, sayup-sayup Laras mendengar seseorang memanggil lagi, "Sepertinya suaranya kenal tetapi siapa?" guman Laras berjalan meninggalkan tempat parkir.


Laras berjalan masuk ke dalam kampusnya, berjalan lurus tanpa menoleh kearah kanan kiri, tiba-tiba seseorang memeluk kakinya. Membuat Laras melihat ke bawah, ada batita kecil dengan rambutnya yang di kuncir dua kanan kiri.


"Ante Lalas...di panggil dali tadi kok nggak dengel-dengel." Tutur Belva dengan bibir yang sudah mengerucut.


Laras langsung teringat Belva yang beberapa hari ini sangat di rindukan Laras, hampir dua Minggu mereka tidak bertemu ada rindu di tatapan keduanya.


Laras berjongkok menyamakan tingginya dengan Belva.


"Tante rindu Belva." Tutur Laras yang sudah mendekap erat tubuhnya Belva.


"Va, uga lindu ante! lindu anget." Sahut Belva yang tidak kalah mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


"Sama dong." Ujar Laras sembari mengecup pipi chubynya Belva.


***


Wira yang melihat dari jauh kebersamaan anaknya, dan Laras mahasiswanya jurusan Manajemen Akutansi, membuncah bahagia karena Belva bisa tertawa lepas, dan cekikikan benar-bener sangat bahagia.


Berkali-kali Wira memperkenalkan seorang teman wanitanya ke Belva, berulang-ulang juga Belva tidak seantusias pertemuannya dengan Laras.


Belva cenderung lebih pendiam, tidak seceria kebersamaan dengan mahasiswanya. Wira menghirup oksigen sebanyak-banyaknya untuk melepaskan sesak di dadanya.


Bila mengingat mendiang istrinya, membuat Wira berkaca-kaca karena merasa bersalah, pas detik-detik melahirkan Wira sedang tugas ke luar kota, karena perusahaan Kakeknya sedang mengalami masalah.


Flashback On


Wira sangat ingat kata terakhir istrinya.


"Bila nanti ada masalah di persalinan! tolong selamatkan anak kita! jaga anak kita baik-baik rawatlah dengan penuh kasih sayang! kelak suatu hari nanti anak kita menanyakan Mamanya! bilang saja Mamanya sangat menyayanginya, dan akan selamanya menemaninya dari jauh." Tutur istrinya dengan senyum manisnya yang tidak pernah luntur, dan semakin cantik.


"Jangan bicara seperti itu! kita akan sama-sama merawat anak kita sampai kita menua nanti! sampai kita punya cucu butut." Sahut Wira yang sudah bercucuran air matanya, di hadapan istrinya.

__ADS_1


"Jangan menangis! Istrimu ini akan selalu menyayangi, dan mencintaimu selamanya Mas." Tutur istrinya tersenyum sangat lebar, tetapi mukanya nampak berseri-seri.


Flashback Off


Wira membalikkan badannya, dan mengusap air matanya yang sudah mengalir di kedua pipinya.


"Papa angis?" tanya Belva.


"Nggak sayang! Papa kelilipan debu." Jawabnya Wira de senyum sedikit di paksakan.


"Papa! Va ingin anget tidul ama ante, Boleh." tanyanya Belva dengan matanya yang mengerjap lucu.


"Terus Papa tidurnya dengan siapa? kalau Belva tidur sama Tante?" tanya Papa-nya yang pura-pura cemberut.


Belva yang melihat Papa-nya sedih, mengurungkan niatnya untuk tidur di rumahnya tante Laras.


"Va, ndak adi Papa! ain aja boyeh?" tanya Belva.


"Boleh sayang."

__ADS_1


"Yeahhh! Va eneng ain ama ante tantik." Belva memutar-mutar tubuhnya, sedikit berjoget, membuat Laras sangat-sangat ingin mencubitnya.


__ADS_2