Jadi Yang Kedua

Jadi Yang Kedua
Bab 71


__ADS_3

Laras keluar kamar Belva berjalan dengan mengendap-endap, Laras celingak-celinguk untuk melihat sudut ruangan yang nampak sudah sepi, sepertinya orang rumah sudah tidur. Dirasa kondisinya sudah aman terkendali, Laras mulai berjalan pelan-pelan tidak menimbulkan suara.


"Alhamdulillah selamet-selamet." guman Laras lirih.


Setelah sampai pintu depan rumahnya Pak Wira, sekali lagi Laras melihat sudut ruangan yang sepi hanya lampu remang-remang yang menghiasi rumahnya.


Laras bersiap untuk memutar-mutar kunci handel pintu, dan membuka pintu rumahnya secara pelan-pelan, sebelum pintu terbuka semuanya Laras di kejutan suara seseorang dari belakang.


"Mau kemana kamu malam-malam begini, Ras?" tanyanya Wira lirih.


"Laras bingung mau menjawab apa? pikirannya dipenuhi dengan kata hantu."


Mendengar suara yang tidak kasat mata, membuat bulu kuduk Laras merinding disko, seluruh aliran darahnya terasa terhenti.


"Apa jangan-jangan di rumah ini ada hantunya ya." kata Laras lirih. Tetapi masih terdengar oleh Wira, yang masih setia berdiri di belakangnya Laras.


"Kok suaranya sepertinya Laras kenal ya?" Kata Laras lirih.


"Laras."


"Semakin dekat saja suaranya sepertinya di belakangku?"

__ADS_1


***


Wira menepuk-nepuk pundaknya Laras sangat pelan, dengan bergumam dengan menyebutkan kata Laras.


"Kamu mau kemana malam begini, Ras?" tanyanya Wira yang diulangi. Wira di buat gemas dengan tingkah Laras yang tidak menyadari keberadaan Wira di belakangnya, malah asyik menerka-nerka.


"Mau kemana kamu, Ras!"


"Ehh Pak Wira." Jawabnya Laras sedikit cengengesan tanpa ada rasa takut bersalah sama sekali.


"Pak Wira belum tidur ya." Tutur Laras malah balik bertanya.


"Jawab dulu pertanyaan saya? jangan suka mengalihkan pembicaraan!" Seloroh Wira yang sedikit jengkel pertanyaannya diabaikan oleh mahasiswanya.


"Kalau ada pertanyaan itu dijawab! Jangan suka mengalihkan pembicaraan!"


"Iya Pak."


"Mau kemana bawa tas?" tanyanya Wira penuh selidik sembari memicingkan matanya untuk melihat dari atas bawah.


"Laras mau pulang, Pak! Belva juga sudah tidur." Sahutnya Laras beralibi kepada pak Wira.

__ADS_1


"Terus kalau bangun tidur nyariin kamu gimana?" tanya Wira.


"Laras diam saja, tidak minat menjawab pertanyaan Pak Wira yang sedikit tersulut emosi."


***


"Balik ke kamar atau saya gendong?" tanyanya Wira dengan memainkan matanya yang sedikit penuh minat.


"Enggak usah bisa jalan sendiri! terima kasih!" Sahutnya Laras meninggalkan Wira di depan pintu rumahnya.


"Menyebalkan! Laras Kan mau pulang! siapa juga yang bertanggung jawab kalau Belva bangun mencari dirinya! pasti Papa-nya masak Laras." gerutu'an Laras tidak berhenti-henti setelah masuk kedalam kamarnya Belva kembali.


Akhirnya Laras memilih merebahkan tubuhnya di sampingnya Belva, sembari satu tangannya memeluk tubuhnya Belva yang nampak tertidur pulas.


"Sweet dream, sayang." Laras mengecup keningnya Belva.


Pukul 04.30 pagi, Belva sudah terbangun dari tidurnya lebih dulu. Belva merasakan bahagia melihat disampingnya Tante Laras yang masih tertidur nyenyak.


"Telimakasih ya Allah! ante Lalas bobok dicini ama Va." Tutur Belva mengucapkan rasa syukur dan terima kasih.


Setelah puas memandangi tantenya bobok, Belva berniat turun dari tempat tidurnya untuk buang air kecil, tetapi tubuhnya di tahan oleh pelukan Tante Laras yang merengkuhnya sangat erat, membuat Belva kesusahan untuk bernafas.

__ADS_1


"Ante epas! Va ndak Ica apas."


__ADS_2