
"Waktu yang berlari tidak mungkin kembali"
"Akan jadi saksi bisu perjalananku"
"Rasa yang dulu pernah tertinggal"
"Seiring berjalannya waktu"
"Rasa itu hilang tergantikan rasa bahagia"
"Pernah memiliki walaupun hanya sesaat"
Tidak terasa waktu berlalu sangat lah cepat, hari ini, merupakan hari terakhir Laras ujian semester satu di kampusnya.
Rasa bahagia membuncah di hatinya, ternyata Laras bisa melewati hari-hari di kampusnya dengan sangat baik, sekarang Laras sudah banyak temen baik di kampusnya ataupun tempat tinggalnya sekarang.
Laras sudah bersiap di kamarnya, dengan baju sederhana tetapi sangat elegan untuk di pandang mata.
Bolak-balik Laras membenahi penampilannya, berulang-ulang juga Laras menatap dirinya di cermin, setelah semua kelihatan perpect Laras keluar dari kamarnya untuk sarapan bersama dengan yang lainnya.
Serangkaian acara telah di lalui, sarapan bersama dengan keluarga, mengantar Adik-adiknya ke sekolah, baru Laras pergi ke kampusnya.
Setibanya Laras di kampus langsung masuk kelas, dan membuka bukunya untuk belajar sebentar sebelum ujiannya di mulai.
***
Di tempat yang berbeda di rumahnya Pak Wira, seorang batita kecil yang usianya sekitar 2 tahun sedang merengek ingin ikut Papa-nya ke kampus.
"Papa au ana?" Tanya si kecil.
'Ke kampus sayang! Belva sama bibik ya!" Jawabnya Wira yang berjongkok menyamakan menjajarkan tingginya dengan tinggi anaknya.
"Nda au! itut Papa ekolah." Ujar Belva yang lantang.
__ADS_1
"Kan Papa kerja sayang! entar sama Papa ya, kalau Papa sudah pulang dari sekolah." Tutur Wira yang mengelus lembut surai rambut panjang anaknya.
"Ndak au! itut Papa Hiks....." Sahut Belva yang sudah menangis sesenggukan.
"Kok malah nangis anak Papa yang cantik ini! entar cantiknya hilang lho!" Ujar Papanya sedikit menjawil hidung mancung anaknya.
"Va, etap tantik sepelti Bubu." Seru Belva.
Deg...
Rasanya bagaikan teriris pisau belati, ketika anaknya Belva menyebut kata Bubu yang berarti Ibu.
Belva di tinggal Ibunya saat Belva melihat indahnya dunia, Istriku meninggal setelah Mel anak kita Belva. Sangat miris nasib anakku yang belum sama sekali melihat wajah Ibunya.
"Va, itut Papa!" decak Belva
"Iya-iya sayang." Ujar Wira yang nampak sangat terkejut dengan lengkingan suara anaknya.
"Bik, tolong persiapkan kebutuhan Belva ya! Belva mau ikut Papa-nya ke kampus." Tutur Wira.
"Yeahhh itut Papa ekolah! yeahhh!." Seru Belva bersorak gembira.
"Enter kalau ikut Papa Belva nggak boleh nakal ya, harus nurut sama Papa, nggak boleh lari-larian seperti kemarin-kemarin ya." Tutur Wira yang menasehati anaknya, dan memberitahunya dengan suara yang meneduhkan.
"Ahiap Papa." Sahut Belva yang tersenyum riang.
***
5 menit lagi ujian di mulai, Laras sudah menempatkan duduknya sesuai nama, dan nomornya.
"Perasaanku deg-degan ya." guman Laras meraba dadanya.
"Selamat pagi Anak-anak." Sapa dosennya
__ADS_1
"Hari ini ujian terakhir, udah siapkan mengerjakannya?" tanya dosennya biar sedikit rileks.
"Siap Bu!" Jawab serempak semua mahasiswa.
Kertas ujian sudah di bagikan, semua mahasiswa menundukkan kepalanya ke lembaran ujian yang berada di meja kelasnya.
"5 menit lagi waktunya ya." Tutur dosennya.
"Baik Bu." Jawabnya.
Setelah lembar ujian Laras terkumpul, Sebagian mahasiswa menghamburkan ke luar ruangan, dan menyisakan yang belum selesai mengumpulkan lembar ujiannya.
Bukk...
Hiks... Papa.. atit... Hiks......
Suara tangisan batita menyadarkan Laras dari keterkejutannya, yang tiba-tiba di tabrak seseorang.
"Cup. Cup .... Anak cantik nggak boleh nangis."
"Mana yang sakit sayang?" tanya Laras yang sudah mendudukkan di atas pangkuannya.
"Ini ante." Tangan kecilnya menunjukkan luka yang lecet di
"Tante tiupin ya."
Belva mengangguk "Iya nte."
"Belva, kamu di mana sayang?" Suara Wira melengking tinggi, mencari anaknya di lorong-lorong kampus.
'Va, di ini Papa." teriakan Belva
Suara teriakan Belva yang menggema Membuat Wira segera menuju ke tempat anaknya berada.
__ADS_1
"Pak Wira." lirihnya suara Laras.
"Laras." gumun Wira.