
Aska dan Nayla masih berada didapur menikmati ciuman mereka meluapkan segala perasaanya cinta yang terpendam, jantung Aska berdetak dengan kencang saat istrinya ini tak menolaknya, mereka terus berpungut cukup lama mereka saling mmelumat, menghisap, Aska terus mengamati reaksi Nayla sejauh ini semua berjalan sesuai kehendaknya. ia berhenti sejenak Aska menatap wajah istrinya yang memerah memberi kesempatan mengambil napas kemudian kembali menempelkan bibir mereka, napas Aska mulai terasa berat dan memburu hasratnya semakin kuat, kini ia siap tinggal menuju langkah terakhirnya. Aska melepaskan pungutannya, ia beralih mengecup seluruh wajah itu lembut membuat Nayla semakin hanyut dalam sentuhan Aska, kecupan itu lalu turun ia mengecup lembut dan menghisap dibagian leher putih itu hingga meninggalkan jejak, Nayla memalingkan wajahnya menutup matanya menahan rasa geli, ia serasa melayang namun ia membulatkan matanya ketika permainan itu semakin panas dan Aska mulai meraba tubuhnya dan mulai membuka kancing piyamanya, ia kembali menutup matanya pasrah Aska mengerayangi seluruh tubuhnya. tubuhnya telah lemas ia sudah tak bisa merasakan kakinya karena berdiri menerima serangan dari Aska. cukup lama Aska tangan aska bergerliya.hingga akhirnya.
"Aau....." Ringis Aska menghentingkan aktivitas panasnya.
Nayla terkejut ia membuka matanya mendengar suara Aska.
"Kakak kenapa?" Tanya Nayla wajahnya berubah panik. melihat suaminya meringis kesakitan.
"Leher kakak sakit Nay" Keluh Aska memegang tengkuk lehernya.
Aska merasakan lehernya terasa seakan patah kerena terlalu lama tertunduk mengimbangi tubuh mungil Nayla.
"Lehernya kenapa?" Tanya Nayla merasa semakin cemas, baru saja mereka hanyut dalam ciumannya dan sentuhannya tiba-tiba ia sudah melihat suaminya kesakitan.
"Kayak mau patah," Ujar Aska.
"Kenapa bisa begini" Tak mengerti dengan keluhan Aska, ia tak tahu harus berbuat apa-apa. masih binggung kenapa pria ini meraskan sakit.
"terlalu lama nunduk, kamu sih Nay pendek banget" Keluh Aska tinggi badan mereka yang kontras membuatnya harus tunduk jika ingin mencium istrinya.
"ih...kakak bukan Nay yang pendek, kakak yang ketinggian" Protes Nayla. kemudian ingin memeriksa kondisi Aska
"Sini Nay liat" Nayla berjinjit memijat leher suaminya.
" Aduh"
Nayla tersenyum melihat Aska yang berdiri tak bisa menggerakkan lehernya, ia bisa bernapas lega setidaknya ia selamat dari serangan lelaki ini.
"Ya udah kita ke kamar," Ajak Nayla menuntun langkah Aska. mengarahkannya kekamar dengan perlahan. Sesampainya dikamar Nayla mendudukkannya dipinggir tempat tidur.
" Tunggu disini, aku akan mengompres leher kakak biar aliran darahnya lancar." Nayla kemudian berjalan keluar kamar meninggalkan Aska sendirian
haaa...gagal ...padahal aku sudah berhasil membuka dua kancing bajunya, tinggal sedikit lagi...kenapa dia sangat pendek sih, leherku rasanya mau patah" keluh Aska merasa kesal batal malam kedua dengan istrinya, terlebih lagi ia menyalahkan tubuh mungil istrinya.
Nayla datang membawa wadah, serta kain kecil.
"Sini Nay pijat dulu" Nayla duduk dibelakang Aska, kemudian mulai memegang lehernya.
"Lain kali kamu naik dikursi dong Nay, biar tinggi kita sama" wajahnya masam, suaranya terdengar datar, Nayla yang mendengar ucapan Aska yang kecewa berusaha menahan tawanya.
"Kakak sih...tinggi banget seperti tiang listrik" Ejek Nayla mencoba membela diri terus memijat kemudian menempelkan kain dileher suaminya.
"Kamu kan bule Jerman harusnya kamu tumbuh tinggi juga" Keluh Aska.
__ADS_1
Rasanya Nayla sangat gemas melihat lelaki didepannya ini, menyesali tinggi badan istrinya. hanya kerena gagal malam kedua. ingin rasanya ia melepaskan tawanya. dari tadi mereka menyalahkan tinggi badan masing-masing.
"Ia, Nay kan memang bule Jerman yang gagal tumbuh" Nayla kemudian terkekeh. merasa senang selamat malam ini.
"Gimana udah ngak sakit lagi?" Tanya Nayla kemudian beralih dari belakang Aska, lalu duduk disampingnya.
Aska mencoba mengerakkan lehernyabmerasakan sakitnya
"Udah berkurang" Jawab Aska.
"Udah kakak tidur, besok sakitnya juga hilang" Nayla membantu Aska berbaring. Aska terus memasang Wajah cemberut dan tak bersemangat.
Harusnya kita malam kedua, malam ini, semua gagal, tapi ngak apa, setidaknya aku tahu kau tidak menolakku lagi. tinggal menunggu waktu saja.
"Kamu tidur juga" Ajak Aska menggeser tubuhnya agar Nayla bisa tidur disamping.
Nayla kemudian naik ketempat tidur, ia menarik selimut hingga kepinggang lalu merebahkan tubuhnya.
"Sini kakak peluk, bule Jermanku yang gagal tumbuh ini" Goda Aska kemudian memeluk tubuh istrinya.menjadikan lengannya sebagai bantal istrinya.
"Ih, kakak yang ketinggian, kaya tiang listrik" Protes Nayla mencubit pinggang Aska. membenamkan wajahnya didada Aska.Masih berdebat masalah tinggi badan.
"Terima kasih karena kamu telah kembali padaku, ke depannya kakak akan selalu membahagiakanmu, menjagamu." Ucap Aska dengan lembut terus mencium puncak kepala istrinya.
"Apa?"
"Jangan menangis sendiri lagi ya, menangislah dipelukkan kakak, semua yang telah terjadi jangan menyalahkan dirimu, masalah calon anak kita, itu bukan takdir kita memiliknya." Jelas Aska yang tahu Nayla selalu menangisi kegagalannya menjadi ibu.
"Harusnya kita sudah memiliki anak yang lucu saat ini, melihat kalian bertiga tertawa memperebutkan anak itu, tapi semua gagal" Ucapnya kembali meneteskan air mata.
"Sudahlah ...ini tangisanmu yang terakhir, kakak pastikan kamu tidak akan menangis lagi. Aku mencintaimu" Aska menenangkan istrinya mengecup tangan punggung tangannya.
"Baiklah... tadi itu air mata terakhir ..kita tidur besokkan liburan" Ucapnya bersemangat, mempererat pelukkannya.
Pelukkan yang diberikan istrinya kembali membagkitkan gairahnya, Aska yang masih penasaran masih ingin melanjutkan malam keduannya yang tertunda.
"Nay kita lanjut yang tadi..." Ucap Aska suaranya terasa berat. Rasanya ia tak bisa tidur jika tak menuntaskan hasratnya malam ini.
"Nay Ayo"Aska mulai mendaratkan ciuman bertubi ke puncak kepala Nayla.
"Nay....Nay...." Aska duduk melihat gadis ini ternyata telah tertidur.
Dasar bule jerman, selain bertubuh mungil, rebahan dikit aja uda langusung tidur. Batin Aska.
__ADS_1
Aska mengecup seluruh wajah istrinya menggerayangi tubuhnya agar istrinya terbangun namun yang terjadi, Nayla terlalu dalam masuk ke alam mimpi, ia tidur sangat pulas.
Malam semakin larut Aska terus menatap wajah Nayla yang begitu menggemaskan saat tidur, ia masih tak percaya yang gadis yang ia cintai tidur disampingnya tanpa guling pemisah, rasanya ia seperti seperti mimpi, ditambah lagi rasa penasaran membuat matanya tak kunjung terpejam, malam kedua terniang-niang terus dikepalanya. ia berharap istrinya ini cepat bangun. kemudian mereka akan melakukannya, hingga akhirnya hampir semalaman ia terus terjaga menunggu istrinya bangun.
Pagi menjelang hangat sinar matahari masuk ke dalam celah jendela, Aska menggeliat perlahan, kesadarannya belum sadar sepenuhnya, ia belum ingat jika ia tidak tidur sendiri lagi, ia terus mereganggkan tubuhnya dengan mata tertutup. Beberapa saat kemudian ia mulai sadar, ia membuka matanya. ia melihat istrinya tak ada ditempat tidur. ia dengan cepat terduduk.
"bagaimana aku bisa ketiduran, aku menunggunya bangun untuk malam kedua" Guman Aska kemudian berjalan cepat keluar kamar.
Aska melangkahkan kakinya kedapur, ia melihat Nayla sedang memasak dengan penampilan telah rapi. Aska kemudian menghampirinya.
"Nay kok kamu udah bangun" Ucap Aska memeluk tubuh istrinya dari belakang menghirup wangi tubuhnya.
"Ia kan kita mau liburan hari ini jadi, Nay harus siapkan semuanya" Ucap Nayla bersemangat dengan liburannya. sambil memasak
"Ngak mau...ayo kita kembali kekamar" Ajak Aska melepaskan pelukkannya kemudian menarik Tangan Nayla, ia masih penasaran.
"Tapi hari ini kita mau liburan, kita udah janji dengan kak Dika dan kak Endy." Tolak Nayla.
"Kita ngak jadi pergi, kita dirumah aja" Aska masih ingin bersama istrinya tanpa penggangu.
"Udah lama kita ngak liburan, ngak enak juga kalau dibatalin" Jelas Nayla ia sudah memperiapkan semuanya dari kemarin
"Udah kakak mandi terus siap-siap, sebentar lagi mereka datang, habis itu kita sarapan" Saran Nayla tersenyum, ia sangat gemas melihat lelaki ini masih penasaran dengan malam keduannya.
Aska yang tak bisa menolak keinginan Nayla mengiyakan"Ya, baiklah" Memasang wajah cemberut, berjalan tak bersemangat kembali kekamar untuk membersihkan diri, langkah kakinya terasa berat.
.
.
.
.
.
.
.
Like, coment,vote......
Maaf gagal malam keduanya....πππ author siapkan malam yang lebih baik.
__ADS_1