
Endy dan Nayla berada di ruang keluarga duduk berdampingan menemani Endy yang sedang bersedih, hingga ia hampir melupakan apa yang membuatnya datang kembali ke rumah ini.
"Kak Endy.....Kak Dika mana ya?" Tanya Nayla matanya menyusuri seluruh ruangan.
"Dika sedang keluar" Jawab Endy lirih ia tak memberitahu bahwa kakaknya sedang kesal padanya.
"Gimana sih katanya ada hal penting yang ingin dia katakan" Nayla mengerucutkan bibirnya.
Endy terdiam seperti menemukan suatu ide ia memperbaiki duduknya lalu menatap Nayla.
"Nay kita jalan-jalan yuk" Ajak Endy antusias
"Jalan-jalan" Sejenak Nayla berbinar mendengar kata jalan-jalan namun saat mengingat pesan Aska wajahnya menjadi lesu.
"Ia.... kita jalan-jalan udah lama kita ngak pernah jalan berdua" Seru Endy
"Nay sih pengen kak..tapi kak Aska ngak ngizinin Nayla keluar dari rumah ini " Tolak Nayla ia teringat pesan Aska.
"Dekat aja kok, cuma taman depan aja, jalan-jalan liat pemandangan. Di taman pasti rame, banyak makanan lagi" Bujuk Endy.
"Tapi Nayla ada urusan dengan kak Dika" Kembali ketujuan awal.
"Nanti aja kalau kita udah pulang. Kakak kamu pasti pulang malam, sebentar aja Nay cuma satu jam doang" Endy terus membujuk Nayla ia tahu Dika mungkin tak akan pulang malam ini. ia ingin memanfaatkan kesempatan ini.
Nayla berfikir sejenak ia mulai tertarik dengan bujukkan Endy tapi disatu sisi dia khawatir bagaimana jika ada yang menyerangnya lagi seperti dulu saat ia jalan-jalan ke mall.
Endy menggengam tangan Nayla dengan wajah dibuat sesedih mungkin.
"Nay kakak mohon, kakak lagi butuh hiburan ini, kakak kangen agenda malam jumat kita, kamu tahu Nay sudah 27 malam jumat yang terlewat sejak kamu menikah dengan Aska, anggap saja ini agenda malam jumat kita Nay"Ujar Endy sedih suaranya bergetar
"Emang udah 27 malam jumat? Nay ngak ngitung, kakak kurang kerjaan ngapain juga ya?ngitungin malam jumat" Nayla terkekeh.
"Tapi Nay takut, gimana nanti kalau kita diserang lagi" Ujar Nayla
"Jangan khawatir Nay, nanti kakak izin dengan Aldy untuk mengawasi kita, dekat ko cuma taman depan, jalan bentar trus pulang, bentar doang " Jelas Endy tak hentinya mempengaruhi Nayla.
"Baiklah kakak yang atur semuannya. Nayla cuma ikut, bentar aja ya ...." Akhirnya Nayla mengiyakan keinginan Endy.
Nayla dan Endy bersiap menuju taman dekat rumah mereka setelah melalui proses panjang perizinan dengan geng pemuda tanpa masa depan, akhirnya Aldy mengalah ternyata Aldy juga mati kutu jika berhadapan dengan Endy Entah bagaimana caranya, ia menyakinkan Aldy nyatanya ia berhasil dengan mudah .
Nayla dan Endy berada di atas motor menuju taman untuk jalan-jalan, setelah sekian lama akhirnya mereka jalan berdua lagi, tak lama beberapa saat mereka pun sampai endy dan Nayla turun dari motor Endy langsung mengenggam tangan Nayla berjalan-jalan keliling taman .
__ADS_1
"Nay kakak senang akhirnya kita bisa jalan berdua lagi" Seru Endy mengayun-ayunkan tangan Nayla.
"Gimana sedih kakak udah hilang?" Tanya Nayla melihat sekitar menikmati pemandangan.
"Kamu memang selalu menghilangkan sedih kakak Nay, dekat kamu bikin kakak selalu bahagia" Jelas Endy ia tahu juga sumber yang membuatnya sedih itu adalah orang yang ada disampingnya.
Nayla dan Endy terus berkeliling bercanda tawa seperti dulu tak memperduli orang sekitar yang melihatnya. Mereka heboh berdua dunia serasa milik mereka. Nayla tak pernah membatasi kedekatannya dengan Endy karena dari ketiga kakak itu hanya Endy yang mengerti dirinya. ia bebas menjadi dirinya sendiri, Endy melihatnya sebagai teman tak pernah menekannya, berbeda dengan Dika yang bijak ia selalu berdebat dimata Nayla seorang seperti orang tua mengatur kehidupannya, dengan Aska selalu canggung menjaga sikapnya, yang dia selalu menjaganya membuatnya merasa hanya terlihat sebagai anak kecil yang rapuh.
"Nay ita makan yuk" Ajak Endy ke stand makan yang disana banyak penjual makanan.
"Boleh, Nay juga lapar, akhir-akhir ini Nayla ngak nafsu makan" Keluh Nayla
"Ayo kamu mau makan apa? Tanya Endy.
"Nay lagi kepingi makan bakso"
"Oke kita makan bakso"
Nayla dan Endy duduk dibangku menunggu pesanan mereka datang mereka memesan dua mangkok bakso, setelah menunggu tak beberapa lama kemudian pesanan mereka datang dan berada dihadapan mereka masing-masing. Endy mulai menyuap makanan kemulutnya, menikmati bakso sedangkan Nayla hanya melihat mengaduk aduk dengan sendok, Endy yang melihat Nayla menjadi heran.
"Kenapa Nay ngak enak ya" Tanya Endy mnatap Nayla
"Kak Endy ? Nayla lagi pingin mie ayam deh," Pinta Nayla
"Sini biar kakak pesanin" Endy menghentikan makananya lalu menuriti keinginan Nayla.
Selang beberapa lama pesanan datang dan lagi-lagi Nayla tak memakannya ia hanya mencium baunya.
"Kenapa Nay ngak enak ya?"
"Nayla kayaknya pengen siomay deh "Ujar Nayla
"Oh" Lagi-lagi Endy menuruti keinginan Nayla dengan sabar ia memang tak pernah menolak permintaan Nayla.
Endy mulai merasa ada yang aneh dengan Nayla setelah hampir memesan semua jenis makan yang ada disana, mulai, bakso, batagor, siomay, sate, cilok, gorengan. Semua telah ada namun tak ada satu pun ia sentuh, ia hanya mencium aromanya lalu meletakkannya kembali
"Nay kamu kenapa sih, kamu sakit ya"Tanya Endy khawatir
"Ngak tahu, belakangan ini Nay ngak nafsu makan, kalau pun makan pasti mual" Jelas Nayla
"Itu pasti kamu sedang stress karena belajar terus-terusan, jadi kamu ngak perhatikan makan kamu" Ucap Endy
__ADS_1
"Aaaaa...." Endy menyuapkan siomay ke mulut Nayla.
Nayla membuka mulutnya mengunyah makanannya, namun baru saja lolos dari tenggorokannya Nayla menjadi mual.
"Kakak Endy tunggu disini...Nayla ke toilet dulu" Nayla menutup mulutnya mempercepat langkahnya meninggalkan Endy.
Endy mengernyitkan dahinya melihat tingkah Nayla, ia merasa heran dan khawatir dengan perubahan Nayla, disisi lain dari jauh Aska berdiri melihat dengan wajah kesal, ia mengepalkan tanganya melihat Endy berduaan dengan Nayla. Apalagi ia melihat adegan Endy menyuapi Nayla kecemburuan merasuki hatinya, Aska menghampiri Endy menepuk bahunya dengan keras.
"Ngapain kalian disini" Tanya Aska yang entah tahu dari mana, dia tatapannya berubah tajam.
"Aska "Endy membelalakan matanya terkejut kenapa Aska bisa ada disini, apalagi ia tak memberitahu pada Aska untuk menbawa Nayla jalan-jalan.
"Kami sedang jalan sore" Jelas Endy santai
"Aku menyuruhnya pulang untuk bicara penting dengan Dika, bukan jalan-jalan denganmu" Aska memutar bola mata jengah lalu duduk disamping Endy
"Ia aku tahu aku hanya jalan sebentar" Alasan Endy
"Jalan-jalan kau tahukan banyak yang mengawasi gerak gerik Nayla, kau tidak ingat penyerangan lalu" Bentak Aska wajahnya kesal.
"Ia aku tahu, tapi mereka tak akan curiga jika Nayla jalan denganku" Endy membela diri.
"Tetap saja, aku tak ingin kau membawa Nayla, jaga jarak dengannya" Aska memperingatkan
"Kau cemburu lagi, Aska aku hanya rindu padanya, bukan niat merebutnya" Jelas Endy agak kesal
Aska terdiam memasang wajah kesal.
"Hati Nayla itu bagai kertas putih polos aku hanya takut namamu terukir lebih dulu dari pada namaku jika kau terus mendekatinya "Batin Aska dalam hati, benar cemburu itu untuk orang yang tidak percaya diri sama dengan dirinya.
Nayla kembali dari toilet ia membulatkan matanya melihat Aska duduk disamping Endy ia pun mendekat.
"Kak Aska " Ucap Nayla lirih
"Ayo kita pulang" Aska menarik tangan Nayla agar meninggalkan tempat itu
Endy menahan bahu Aska " Aska aku yang mengajaknya jangan marah padanya" Ucap Endy khawatir dengan Nayla
Aska berlalu pergi tak menghiraukan Endy lagi, sedangkan Nayla melangkahkan kakinya cepat mengikuti langkah Aska, pandangannya kebelakang melihat Endy yang wajahnya menjadi sedih kembali.
.
__ADS_1
.
like ,coment vote YA.