
Malam telah larut semilir angin yang dingin, tak menghentikan geng pemuda tanpa masa depan yang ada di depan rumah Nayla berhenti untuk berkumpul dan memetik gitarnya bersenandung dengan riang, tertawa bersama.
Bila nanti saatnya telah
tiba ku ingin kau menjadi
istriku berjalan bersamamu
dalam terik dan hujan kesana
kemari dan tertawa
.akad.
Pernikahan Nayla semakin dekat tinggal dua hari lagi, dia akan menikah dengan Aska, perasaannya hanya ada kekhawatiran, ketakutan, ia sudah membolak-balikan tubuhnya. Mencoba terlelap di tempat tidur namun matanya tak bisa terpejam, ia gelisah tak bisa menuju kealam mimpi, belum lagi geng pemuda tanpa masa depan yang suaranya begitu berisik, membuatnya bertambah kesal dan tak bisa memejamkan matanya.
"Berisik sekali sih mereka" Nayla terduduk sambil menutup telingannya dengan bantal ia mulai frustasi.
"Mereka pasti sedang menyindirku !!!awas kalian!" Melempar bantalnya.
Nayla beranjak dari kamarnya ia sudah sangat kesal, ia keluar kamarnya lalu menuju teras. Ia telah siap mengeluarkan amarahnya, Endy yang duduk di ruang tamu sedang mengutak-katik handphonenya, melihat Nayla lewat dihadapannya dengan wajah kesal, ia kemudian beranjak dari duduknya kemudian mengikuti Nayla dari belakang.
Restui kami doa kami jadi
pasangan abadi dan akan
kutanggung jawapi kebutuhannya
lahir batin, jiwa, raganya
ijab kabul
"Stop kalian !!!" Nayla berteriak suaranya membahana.
"Hei kalian !!Apa kalian tidak bisa berhenti bernyanyanyi sebentar saja!, kalian sangat beirisik " Mengkacak pinggangnya, berteriak kesal.
"Maaf bule Jerman kami hanya menghibur diri" Jawab salah seorang dari mereka.
Dika yang berada diruang Dj mendengarkan suara teriakan Nayla lalu bergegas melihat kekacauan itu, di lihatnya Nayla sudah mengkacak pinggang wajahnya memerah
sambil tangannya menunjuk-nunjuk kumpulan pemuda yang ada dihadapannya.
"Kenapa Nay??" Tanya Endy menepuk bahu Nayla mencoba menenagkannya. Endy tahu Nayla tidak suka pada gerombolan itu.
"Ini pemuda tanpa masa depan dari tadi mereka bernyanyi berisik sekali" Ujar Nayla dengan nada tinggi.
"Mereka hanya menyanyi Nay" Ujar Dika muncul dari belakang Nayla dengan santai.
"Mereka memang cuma bernyanyi!!! Tapi dari tadi lagunya selalu menyinggung Nayla" Nayla sudah seperti serigala yang siap menerkam mereka.
Endi menahan tubuh Nayla berdiri dihadapannya.
"Tenang Nay" Mencoba menghentikan Nayla.
"Kak Endy dari tadi mereka menyanyi tentang pernikahan, perpisahan, lagu galau, bahkan mereka sudah lima kali mengulang lagu malam terakhir! kalian mau mengusirku? kalian senang tidak lama lagi aku akan pergi dari sini?" Bentak Nayla.
__ADS_1
"Nay hentikan" Endi masih menahan tubuh Nayla.
"Tidak bule Jerman kami tidak menyinggungmu" Jawab pemuda tanpa masa depan kompak
"Itu perasaan kamu saja, kamu lagi sensitif" Ujar Dika membela temannya.
"Kenapa mereka harus kembali lagi sih kesini! aku benci dengan kalian! kalian pasti sedang tertawa senang, melihat penderitaanku" Urat lehernya seperti mau putus sangking kesalnya.
"Sabar Nay" Endy menarik tangan Nayla masuk ke dalam membuatnya pergi jauh dari gerombolan itu, ia membawanya kedapur mencoba menengkannya disana mereka duduk berdampingan di depan meja makan. Endy tahu Nayla sedang galau ,sebenarnya ia hanya melampiaskan kekecewaan tentang pernikahannya, bukan dengan pada lagu gerombol itu.
"Ada apa denganmu Nay" Tanya Endy menghadapkan wajahnya ke Nayla.
Nayla tertunduk mencengkeram tangannya di meja.
"Nayla sangat takut kak" Jawab Nayla pelan.
"Takut....Kenapa?" Endy mengenggam tangan Nayla.
"Nayla takut menghadapi pernikahan ini, Nayla belum siap menghadapi ini, bayangan suram terus mengantui Nay " Suaranya pelan, kepalanya masih tertunduk.
"Ngak apa-apa Nay jalanilah perlahan, dia akan membimbingmu, dia lelaki yang baik Nay" Mencoba menenangkan Nayla menepuk punggung tangannya.
"Apa kami akan bahagia nanti? atau hanya saling menyakiti? Nay tak ingin kehilangan kakak sebaik dia karena pernikahan ini" Ujar Nayla.
"Tidak Nay, Tidak akan yang ada yang berubah hanya statusmu sebagai istrinya, tapi hubungan kalian masih sama kakak-adik jadi jalanin harimu seperti biasanya." Endy meyakinkan Nayla.
"Benarkah? menurut kak Endy hubungan tanpa cinta ini akan bertahan berapa lama? tiga bulan, satu tahun?" Tanya Nayla wajah mulai sedikit tersenyum seperti memberi teka-teki.
"Selamanya Nay" Ujar Endy tersenyum.
"Nay menikah itu sekali seumur hidup, lagian Aska ngak akan melepaskan kamu, kamu ngak akan bisa pergi dari sisinya walaupun cuma selangkah, dia akan menjagamu dengan segenap jiwa dan raganya" Jelas Endy.
"Kenapa begitu? dia juga ngak mencintai Nay, kak Dika menyuruhnya menikah dengan Nay tujuannya untuk menjaga Nay, dia cuma mengaggap Nay adik." Jelas Nayla.
Harusnya aku yang disana
dampingimu dan bukan dia
harusnya aku yang kau pilih
dan bukan dia
armada.
Gerombolan pemuda itu masih menyanyi diteras depan.
"kenapa geng pemuda masa depan ini lagunya seperti sedang menyindirku sih.." Gumam Endy dalam hati.
"Kak Endy kalau Nay boleh bertanya, sejak kapan kak Dika menjodohkan nay dengan kak Aska "Tanya Nayla penasaran.
"Sudah lama banget sih Nay.......udah dari 3 tahun yang lalu" Jawab Endy.
"Apa......udah lama banget kenapa dia masih bertahan menunggu Nayla, bukankah banyak wanita yang mengejarnya, jangan gara alasan bodoh... ingin melindungi Nayla....... Dasar persahabatan yang aneh." Nayla terkejut mendengarkannya.
"Apa, Kak Caren dan Serena tahu masalah perjodohan ini" Tanya Nayla penasaran dia merasa seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa
__ADS_1
"ia tahu,semuanya " Jelas Endy.
Nayla memikirkan kata-kata Endy, ia seperti kecolongan bisa-bisanya dia tidak tahu rencana perjodohan yang sudah tiga tahun. di siapkan kakaknya untuknya benar-benar telah tersusun rapi bahkan Caren dan Serena, tahu mungkin juga gerombolan pemuda masa depan juga tahu, Nayla masih asik dengan lamunannya.
Cinta mengapa singgah dihatiku
kau salah memilih tempat dan
waktu. Cinta galau aku menimbang
rasa aku atau sahabatku
ilusi tak bertepi.
"semakin lama semakin menyinggungku lagu mereka ini ....awas kalian ,kuhajar kalian nanti" Gumam Endy dalam hati ,ia tak enak hati mendengar lagu mereka wajah merenggut
"Sudahlah Nay, jangan khawatir lagi Aska orang yang sangat baik kau sudah mengenalnya bertahun-tahun, bagaimana dia, sifatnya dia, apa dia pernah menyakiti hatimu,hanya satu kekurangannya suka muntah di teras rumahmu Ha...Ha...."endy terbahak.
"Itu yang Nayla takutkan ia pemabuk" Ujar Nayla.
"Dia akan berubah Nay, lagi pula jika kalian menikah ia akan menjadi suami yang baik untukmu.... kau tinggal mengatakan jurusmu yang tak mau memasak lagi, makan dia akan menurutimu dia kan sangat takut dengan jurusmu itu ...ha...ha...." Endy tertawa lagi.
Nayla mengerucutkan bibir mendengar Endy tertawa.
"Kamu tenang aja Nay, dia itu gila kerja sekarang, kamu juga akan jarang bertemu dengannya, kamu hanya akan bertemu dengan pagi dan akhir pekan. " Jelas Endy.
"Gila kerja .....Baguslah kalau begitu jadi aku ngak perlu melihatnya terus terusan" Nayla tersenyum.
Aku diam-diam suka kamu
kucoba mendekat
kucoba mendekati hatimu
aku diam diam suka kamu
semuakan indah seandainya
aku bisa memilikimu
diam diam suka
Cukup sudah....kurang ajar mereka sepertinya seperti aku juga harus menyuruh mereka diam"
Guman Endy dalam hati lagi.
Endy juga mulai tak tahan mendengar lagu geng pemuda masa depan yang seperti menyinggungnya.
Prak.......Endy menggeprak meja dengan keras, membuat Nayla tersentak wajahnya menjadi pucat karena kaget.
"Kurang ajar mereka ...Tunggu disini Nay, Kak mau keluar dulu, nanti kakak kembali lagi" Endy keluar untuk menegur pemuda tanpa masa depan.
Sedangkan Nayla masih terdiam membatu terkejut akibat geprakkan meja oleh Endy.
"Hei......Hentikan....Apa kalian tidak bisa berhenti bernyanyi.....kalian juga sedang menyinggungku tau....dengan lagu cinta tak terbalas kalian itu......." Bentak Endy yang ternyata juga lagi sensitif dengan perasaan dan hatinya.
__ADS_1
Nayla masih diam tertunduk, pembicaraannya dengan Endy setidaknya mengurangi sedikit ke resahan di hatinya.