Jodoh Pilihan Kakakku

Jodoh Pilihan Kakakku
mengajak pulang.


__ADS_3

Aska dan Nayla berada di dalam Mall berjalan gandengan tangan, untuk pertama kalinya Aska merasakan mengandeng tangan wanita yang begitu ia cintai di muka umum, rasanya ia sangat bahagia, dulu ia hanya diam menatap dari jauh saat Endy yang menggengam tangan halus ini, sekarang tidak lagi ialah yang akan terus mengenggam tangan ini untuk selamanya, senyuman selalu menghiasi wajahnya setelah semua kesedihan, penantiaan, air mata akhirnya kebahagian itu datang juga.


Pasangan yang dimabuk asmara ini hanya tersenyum bahagia tak memperdulikkan orang sekitarnya, yang menatap aneh pada mereka, setelah menggungkan perasaanya, Nayla sudah merasa lebih baik, kecanggungan mereka telah seakan hilang.


Nayla dan Aska menemui Endy dan Dika yang telah berada di Mall lebih dulu, mereka sedang mencari perlengkapan untuk mereka bawa liburan ke pantai.


Nayla dan Aska menghampiri, kakaknya yang sedang menenteng paperbag baru saja keluar dari toko pakaian.


Dika dan Endy menatap pasangan yang jalan bergandengan tangan memancarkan aura kebahagiaan diwajahnya. Endy menjadi gemas untuk tidak menggodanya.


"cie...cie yang udah bisa gandengan tangan" Goda Endy berdiri berdampingan dengan Dika.


"Ck...ck...gandengan aja terus, dulu aja ngak mau" Ucap Dika ketus melihat pasangan dihadapannya.


"Ih kak Dika.. sirik aja kalian sepasang jomblo" Ejek Nayla tersenyum manis menggelayut manja pada Aska. Aska hanya tersenyum melihat kakak adik ini seperti akan memulai perdebatannya sengit lagi sama seperti dulu.


"Bule Jerman, jomblo itu pilihan hati, bukan karena ngak laku, kami ini jomblo bahagia." Ucap Endy membela diri ia tak ingin terlihat menggenaskan menjadi seorang yang tidak punya pasangan.


"Jomblo itu bebas Nay,free" Ucap Dika singkat ikut membela diri, menunjukkan dia baik-baik saja.


"freehatin maksudnya, " Ledek Nayla, keahlian berdebat Nayla telah kembali sama seperti dulu.


"Nay awas kamu...."Dika maju hendak mencubit gemas adiknyadari tadi mengejeknya. Nayla yang melihat kakaknya maju kemudian menghindari. dengan cepat mengambil langkah mundur.


"Ayo kak Aska...cuaca sedang ngak stabil sama seperti perasaan jomblo kalau lihat orang gandengan tangan.hahahaha" Ledek Nayla kemudian menarik tangan suaminya.


"Nay....awas kamu" Dika tersenyum bahagia untuk adiknya.


"Bule jerman udah ngak bisa diajak gandengan lagi" Ucap Endy tersenyum untuk sahabatnya.


"Sudahlah, biarkan saja mereka, bertahun-tahun Aska selalu menatap punggungmu dari jauh ketika kau menggengam tangan Nayla sekarang giliranmu." Dika dan Endy kembali melanjutkan langkah mereka menyusuri Mall sambil berbincang santai.


"Kapan kita menyusul mereka?" Endy melihat punggung pasangan itu dari jauh merasakan hal yang sama seperti yang dilakukan Aska dulu hanya jalan beriringan dengan Dika.


"Entahlah, aku juga ngak tahu" Dika mengendikkan bahunya menatap ke depan.


"Dika ini sudah lama sekali sejak kau putus dengan Caren, masa sih kau ngak bisa dekat dengan satu gadispun" Ejek Endy sekaligus mengingatkan sahabatnya yang sama sekali tak mencoba mengganti Caren dihatinya.


"Jangan sok menasehati deh, kamu juga belum move on dari bule Jerman itu." Ucap Dika ketus ia merasa masalahnya sama saja seperti Endy.


Mereka terus melangkahkan kaki, berjalan beriringan sambil berbincang, mengenai nasib hidup mereka.


"Ia, tapi setidaknya aku berusaha, ngak seperti kamu" Jelas Endy.


"Berusaha dengan gadis-gadis itu memberinya harapan palsu" Dika menghentikan langkah kakinya, mengarahkan pandangannya pada Endy.


"Seenggaknya aku ngak diam aja seperti kamu, kamu punya pilihan ngak? belum kan?" Ucapnya dengan bangga.


"Aku ngak seperti kamu, yang suka mainin perasaan para gadis " Ucapnya.


"Namanya juga usaha, lagi pula jika aku mentok, paling aku sama serena, kamu?" Ledek Endy yang merasa ia lebih beruntung dari Dika.


Dika mulai sedikit kesal pada sahabatnya yang merasa percintaannya lebih baik dari dirinya padahal mereka sama saja terlalu dalam mencinta jika menyukai seorang gadis.


"Baiklah kita berlomba move on, dan menemukan cinta kita" Tantang Dika


"Oke, aku setuju,siapa takut" Endy mengiyakan ucapan Dika.


"Siapa dia antara kita yang move up duluan"


***


Setelah puas berbelanja dan menyiapkan perlengkapan untuk liburan besok, mereka menuju tempat makan untuk mengisi perut mereka sebelum pulang kerumah. Mereka berempat duduk menunggu pesanan makanan datang, sambil berbincang bercanda tawa sama seperti dulu yang mereka lakukan. Selang beberapa lama menunggu pesanan merekapun datang. Beberapa pelayan meletakkan dan menata piring yang berada dimeja. Mata Nayla berbinar melihat makanan yang lezat dihadapanya. Endy dan Dika mulai menyantap hidangan yang ada didepannya.


Nayla mulai menyendok makanan dihadapannya kemudian mengarahkan sendoknya ke mulut Aska, yang hanya diam tak meraih makanan apa pun yang ada dimeja, ia hanya sibuk menggenggam sebelah tangan Nayla, ia sama sekali tidak berubah trauma makannya masih saja ada. Tidak dapat makan ditempat ramai.


"Kak Aska, aaa" Nayla mengarahkan sendok yang terisi makanan ke mulut Aska.


Aska menarik sudut bibirnya, setelah sekian lama ia merasakan lagi suapan dari gadis ini, ada rasa terharu dihati. Aska kemudian membuka mulutnya. Menerima suapan dari istrinya.


"Enak ngak?" Tanya Nayla dengan wajah ceria.

__ADS_1


"Lumayan, enak masakan istriku" Puji Aska mengusap puncak kepala Nayla.


Nayla tersipu malu mendengar pujian dari Aska yang menyebutnya istri.


Endy dan Dika memasang wajah datar melihat pasangan yang dimabuk cinta ada didepannya, seperti tak menghiraukan jika ada sepasang jomblo yang melihat mereka. Namun turut bahagia setelah sekian lama mereka melihat pemandangan ini lagi.


Sambil makan sepiring berdua dan menyuapi Aska. Nayla sesekali mengedarkan pandangannya pada suasana diluar yang ramai hingga matanya tertuju pada sesosok perempuan tertawa yang menggendong anak bayi baru beberapa bulan begitu imut, ia kemudian tersenyum melihat pemandangan yang jauh disana ia berfikir betapa bahagia perempuan itu, seketika senyumannya pudar mengingat kegagalannya menjadi sesoarang ibu andai waktu itu ia tak kehilangan janinnya ia pasti sudah merasakan indahnya menjadi ibu, menggendong bayi lucu, tertawa bahagia. rasanya ia ingin menagis mengingat semua itu suasana hatinya menjadi buruk.


Nayla berhenti menyuapi Aska, meletakkan sendok kepiring dengan kasar. Kemudian dengan cepat berdiri.


"Nay ke toilet dulu" Pamit Nayla dengan mata berkaca-kaca mempercepat langkahnya.


Aska menjadi heran dengan sikap Nayla.


"Nay" Panggil Aska, namun gadis ini tidak berbalik semakin mempercepat langkahnya.


Endy dan Aska memasang wajah heran melihat sikap Nayla, mereka merasa ada yang aneh baru saja gadis ini tertawa ceria sekarang pergi, dengan wajah murung. Dika yang mengerti kenapa adiknya bersikap seperti itu memutar pandangannya mencari sesuatu dan ternyata tebakkannya benar, ia tahu mengapa adiknya tiba-tiba pergi, pasti adiknya sedang menangis saat ini.


"Kenapa dia?" tanya Aska heran menatap tajam kearah Dika.


"Seperti biasa, dia pasti sedih melihat seorang ibu yang menggendong anak kecil" Ucap Dika menunjuk keluar dengan ekor matanya.


Sejenak mereka mengarahkan pandangannya pada ibu yang membuat Nayla bersedih, Aska yang mendengar ucapan Dika kemudian berdiri dari duduknya hendak menyusul istrinya.


"Mau kemana?" Tanya Dika, santai seolah ia biasa melihat kejadian itu.


"Menyusulnya"


"Jangan.. itu tidak perlu dia akan semakin sedih jika kau melihatnya menangis, ia sudah berusaha terlihat kuat, tak ingin terlihat lemah." Cegah Dika.


"Tapi dia sedang membutuhkanku"


"Duduk saja nanti dia juga akan kembali tersenyum, beri dia waktu meluapkan kesedihannya." Jelas Dika


Aska kembali duduk memasang wajah cemas terus menatap kearah Nayla pergi.


"Kenapa kau sangat lambat bergerak" Dika menyudahi makannya, melihat Nayla bersedih selera makannya seketika hilang.kali ini Ia kembali mencoba menjadi jembatan untuk hubungan ini karena jika menunggu Aska, ini akan semakin lama karena sikap Aska yang terlalu lemah pada Nayla, yang penting gadis ini disisinya ia sudah puas.


"Apa maksudmu" Menatap tajam kearah Dika.


Aska mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Dika, berfikir mana mau Nayla pulang dengannya.


"Memangnya dia mau ikut bersamaku?" Tanya Aska wajahnya tak bersemangat.


Dika menarik napas panjang melipat tangannya didada sambil menggelengkan kepalanya pelan merasa heran dengan sahabatnya yang sama sekali tak peka dan selalu mementingkan perasaan Nayla dari pada dirinya.


"bodoh..dia itu kembali untukmu, kau tidak merasa dia berubah, jika dia tak suka padamu apa bisa kau menyentuhnya sekarang" Jelas Dika, Endy yang berada disebelahnya hanya menyimak pembicaraan dua sahabatnya, ia masih menikmati hidangan yang ada didepannya.


Aska mulai memikirkan rentetan kejadian perkembangan hubungannya dengan Nayla yang menurutnya berkembang sangat cepat, ia teringat kejadian didapur dan dikantornya, Nayla tak pernah menolak sentuhan yang ia berikannya bahkan gadis itu berani memeluknya, menciumnya lebih dulu. walaupun ia mengatakan akan mencoba memulai semuanya kembali tapi ia tak mengirah Nayla akan melakukan hal itu secapat ini. ia hanya meminta pada Nayla untuk mencoba mencintainya perlahan-lahan dan nanti hidup menjadi suami istri seperti dulu tanpa kontak fisik.


"Itu berarti Aska sudah bisa menikmati malam keduanya" Sambar Endy yang mulutnya penuh makanan. sangat antusias.


"Beri kami keponakan lagi," Ucap Dika menggoda adik iparnya menaikkan alisnya tersenyum penuh makna.


"Kalian bisa berusaha lagi membuat bule jerman junior" Goda Endy.


"Apa benar Nayla mau melakukannya?." Tanyanya kurang yakin dengan ucapan Dika.


"coba saja, ajak dia pulang nanti" Saran Dika santai.


"Jika memang dia mau pulang bersamaku" Aska berdiri meraih dompet disaku celananya kemudian membukannya meraih satu buah kartu, mengeluarkan dari dompetnya.


"Jika dia memang mau pulang bersamaku, gesek kartu ini sepuas kalian" Ucap Aska, masih tidak yakin dengan ucapan Dika, yang ia tahu Nayla tak akan menyerahkan dirinya dengan mudah namun jika itu benar terjadi ia akan sangat bahagia dan akan memberikan kartu itu sebagai hadiah.


"Baiklah" Dika menyeringai" Endy kita apakan kartu ini" menatap Endy


"Kita beli mobil baru, lumayan buat tambah koleksi lagi" Ucap Endy bersemangat.


"Aska kenapa kau tidak program bayi tabung saja" Saran Endy.


"Bayi tabung" Aska mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


"Ia kita ikut program bayi tabung, biar bisa kembar langsung 3" Ucap Endy santai.


"Kau gila.. ya, satu saja aku ngak tega melihatnya mengandung dengan susah payah, apa lagi tiga" Aska meninggikan suaranya kesal denga saran Endy ia teringat betapa menderitanya Nayla saat hamil tak bisa makan dan selalu mual.


"Biar langsung kita bagi, beri aku satu, dari pada kita rebutan nanti" Ucap Endy santai sangat gemas jika melihat anak kecil.


"Kalau mau bikin sendiri," ucapnya datar


"Sama siapa?, kau fikir dari adonan tepung" Ucap Endy tak bersemangat.


Nayla datang dengan mata sembab, tersenyum ceria namun matanya tak bisa berbohong. Kembali duduk disamping Aska.


"Maaf lama toiletnya penuh, lagi antri" Alibi Nayla yang lumayan lama menangis.bersikap ceria seolah tak terjadi apa-apa.


Aska menggenggam tangan tangan Nayla erat mencoba memberi kekuatan pada istrinya yang sangat sedih karena gagal menjadi ibu.


"Kok kalian, makannya udahan sih?" Nayla kembali memegang sendok.


"Kak Aska makan lagi ya.aaa" Pinta Nayla mengarahkan sendok kemulut Aska.


"Udah Nay, kakak uda kenyang" Tolak Aska.


"Lagi ..aaa" Paksa Nayla.


Aska hanya pasrah membuka mulutnya saat Nayla kembali menyuapinya.Dika dan Endy hanya tersenyum melihat Aska disuap seperti anak kecil oleh ibunya.


"Nay.... kak udah kenyang banget"


"ia deh." Nayla berhenti menyuapi Aska.


Dika mengarahkan pandangnya pada Aska menunjuk Nayla dengan Ekor matanya, menyuruh Aska mencobanya.


Aska menarik nafas dalam, wajahnya tak bersemangat ia merasa ini akan gagal, dengan ragu-ragu ia mencobanya.


"Nay..ikut pulang dengan kakak ya" Tawar Aska, menatap penuh harap kepada istrinya.


Nayla tersentak mendengar tawaran Aska, kemudian menatap Aska dalam, dia melihat wajah penuh harap dimatanya, Nayla kemudian beralih menatap kakaknya seperti meminta saran, dan kakaknya mengangguk perlahan dan dibarengi Endy pun menutup matanya sayu.


Nayla menganggukkan kepalanya" Ia aku mau, ikut pulang dengan kakak" Ucapnya dengan penuh keyakinan. Ia akan kembali pada Aska kalia ini ia akan memenuhi tugas dan tanggung jawab sebagai, istri dan akan hidup bahagia dengan suaminya.


Aska menarik sudut bibirnya ia sangat bahagia, ingin rasanya teriak memggambarkan kebahagiaanya, hatinya berbunga-bunga. Dika dan Endy tersenyum ikut bahagia kemudian menepuk telapak tangan dibawah meja tanda keberhasilannya.


"Ayo kita pulang, kami pulang dulu" Dika kemudian berdiri disusul dengan Endy.


"Ingat besok kita ke pantai kami akan menjemput kalian"


"Oke deh" Ucap Nayla masih duduk dikursi.


Sebelum pergi Dika membungkuk membisikkan sesuatu pada Aska


"Ingat cukup satu ronde saja, kita mau liburan nanti kalian lemas" Bisik Dika kemudian menepuk pundak sahabatnya membuat Aska membulatkan matanya. Dika bergeser sekarang giliran Endy.


"Jangan begadang sampai pagi, apa perlu kami menjaga malam kedua kalian" Goda Endy yang mengingat bagaimana Aska menjalani malam pertamanya dengan pengawasan mereka berdua.


"Gila kalian pergi sana" Usir Aska.


Nayla hanya terdiam melihat 3 sahabat itu saling berisik. Akhirnya Dika dan Endy pulang meninggalkan Nayla pada Aska yang akan pulang ke apartemen. Aska terus mikirkan kata-kata sahabatnya apa benar Nayla akan menyerahkan diri padanya dengan suka rela tanpa paksaan lagi, apa benar ia tak akan menerima penolakkan lagi dari istrinya memberikan haknya sebagai suaminya.


.


.


.


.


.


.Like, coment,favotit 💖, vote ....


yang udah like,coment, vote, terimah kasih banyak atas dukungan kalian

__ADS_1


.Sory baru up date, hujan deras, rumah author kebanjiran.


"


__ADS_2