
Mobil terhenti didepan rumah Dika, dengan cepat Endy masuk ke dalam rumah melangkahkan kakinya, matanya menyusuri semua sudut ruangan, dia melihat Nayla dan Dika duduk diruang keluarga.
Endy menarik sudut bibirnya, kemudian mendekat, sejenak terdiam seakan tersihir, setahun tak melihat gadis ini ternyata banyak yang berubah ia bertambah semakin cantik, dan terlihat semakin dewasa.
"Bule Jerman..." Teriak Endy heboh melihat kembalinya gadis yang masih menempati nomor satu dihatinya, ia sangat merindukannya walaupun ia tidak menggila seperti Aska.
"Kak Endy..." Nayla berteriak tak kalah hebohnya berdiri kemudian Endy memeluknya, pertemuan Nayla dengan kakakknya yang selalu mendukungnya dan menjadi teman curhatnya.
"Aku sangat merindukanmu bule Jerman." Peluk Endy dengan erat. Tak menghiraukan Dika yang juga berada ditempat itu dan sedang duduk di sofa.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Endy melepaskan pelukkannya memperhatikan wajah Nayla yang semakin cantik, membuat jantungnya berdetak tak karuan didekat gadis ini, ia begitu terpesona.
"Nay baik-baik aja kakak, " Ucap Nayla matanya mengarah keluar mencari suaminya namun sedikit kecewa tak melihat ada yang memasuki rumah lagi selain Endy.
"Ehmm" Dika berdehem " Kau tidak merindukan aku?" Ucap Dika dengan wajah Datar.
Endy mengarahkan pandangannya pada sahabatnya, kemudian menghempaskan tubuhnya ke sofa duduk disamping Dika.
"Dika Sahabat terbaikku, apa kabarmu brother," Teriak endy heboh memeluknya erat membuat Dika berontak karena tak bisa bernafas karena pelukkan yang terlalu keras.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Endy antusias.
"Aku baik-baik saja" Membalas pelukan sahabatnya menepuk punggung Endy cukup lama.
"Kenapa kau tidak bilang lebih awal kami kan bisa menjemput kalian!" Melepaskan pelukkannya.
"Mana Aska?, aku sudah datang, dia tak menyambutku" Tanya Dika yang melihat Endy datang sendiri, Nayla juga ingin bertanya itu tapi terasa sangat malu, ia kemudian mencoba menyimak jawaban Endy.
"Aku meninggalkanya di kantor, perusahaan sedang mengadakan acara penting diantak bisa kemari tapi yakinlah ia pasti sangat ingin kemari namun pak Chan menahannya" Jelas Endy tersenyum membayangkan kekesalan Aska, ia pasti sedang memotong gaji orang-orang sekitarnya.
"Setelah kalian pergi suasana hatinya begitu buruk, ia kembali dingin dan suka marah mendengar kalian kembali baru kali ini aku melihanya tersenyum kembali" Jelas Endy keadaan menyedihkan Aska.
Mendengar ucap Endy, Nayla terdiam kemudian duduk bergabung dengan kedua kakaknya.
"Gimana tinggal disana seru? sampai kamu ngak ingat pulang" Tanya Endy.
"Ia kakak , Nay punya banyak teman disana,"
"Kakak kamu udah punya pacar belum?" Tanya Endy menunjuk Dika dengan ekor matanya.
"Hei...kau ini, kenapa jadi membahas aku, kau juga masih saja memberikan harapan palsu pada gadis-gadis bodoh itu" Protes Dika.
Dret....dret....getar ponsel yang terasa disaku Endy, membuatnya menghentikan obrolannya kemudian merogoh saku celananya melihat layar ponselnya lalu tersenyum tipis, menekan ikon hijau.
"Hallo pak Chan." Endy
"Endy bisakah anda? kemari tuan Aska tak bisa dikendalikan ia selalu ingin pulang padahal ini acara sangat penting" Pak Chan.
"Ia baiklah, aku akan kesana sekarang" Endy menarik Nafas dalam lalu kembali memasukkan handphonennya.
Nayla dan Dika kompak menatap Endy
"Aska gilanya kumat lagi, dia ingin kabur dari acara perusahaan, ia sangat ingin bertemu kamu tapi ditahan oleh pak Chan."
__ADS_1
Mereka terdiam sejenak lalu Endy mendapatkan sebuah ide mengarahkan pandangannya pada Nayla"
Nay, ikut kakak ya?" Ajak Endy.
"Kemana?" Tanya Nayla dengan penasaran.
"Ke kantor ketemu Aska dia sangat merindukanmu, jika kamu ikut dia pasti senang" Jelas Endy.
"Nayla terdiam sebenarnya ia belum siap bertemu Aska ia tak tahu apa yang akan ia lakukan jika bertemu lagi dengan Aska ia benar benar binggung
"Kak kepala Nay sedik pusing" Alibi Nayla yang belum siap bertemu kembali dengan suaminya walaupun rasa rindu menggunung namun rasa malunya lebih besar.
"Sebentar saja yang penting ia melihatmu walaupun dari jauh" Pinta Endy.
Nayla mengarahkan pandangannya pada kakaknya mengisayaratkan pendapat kakaknya dan Dika mengganguk sekali.
"Pergilah sebentar saja, yang penting dia tenang"Saran Dika.
"Ia, tapi sebentar saja" Nayla bangun dari duduknya akan bersiap-siap.
"Ganti pakaianmu, gunakan gaun yang indah dandan yang cantik untuknya, ini pertemuan pertama kalian" Saran Dika melihat adiknya masuk kedalam kamar.
Nayla berada didalam kamar bersiap-siap untuk bertemu dengan Aska, ia membuka lemari pakaiannya memilih diantara banyak gaun yang ia miliki, setelah menentukan pilihannya yang akan dipakai dan memakainya, ia kemudian duduk dimeja rias melihat kearah kaca mulai merias wajahnya dengan kepandaian make up yang ia miliki setelah belajar bersama teman-temannya setelah cukup dengan riasannya ia terdiam
aku akan bertemu dengan kak Aska lagi, rasanya kau tak sanggup, aku merasa bersalah telah meninggalkannya sendiri begitu lama, bagaimana aku menghadapinya." Batin Nayla terdiam didepan kaca, ia mencoba untuk mengumpulkan keberanian bertemu suaminya.
Nayla keluar kamar dengan siap untuk pergi.
"Ayo kakak" Ajak Nayla melihat Endy yang mengobrol dengan kakakknya.
"Hei..." Dika memukul lengan sahabatnya ia yang masih menatap kagum Nayla.
"A..yo" Endy terbata melihat Nayla begitu cantik dengan gaun berwarna Navy yang terlihat bersinar dikulit putihnya dengan rambut di ikat penuh namun masih menyisahkan sedikit pemanis didepan wajahnya seperti rumbai terlihat sangat mengagumkan.
Endy masih terpukau melihat bule Jermannya yang begitu cantik dan terlihat seperti gadis dewasa ternyata setahun banyak merubah Nayla. ia telah pandai memoles kecantikkannya sehingga wajahnya semakin bersinar.
"Kak Endy" Panggil Nayla di hadapan Endy lalu melambaikan tangannya diwajah lelaki itu.
"Hei.." Dika menepuk bahunya dengan keras agar sahabatnya itu tersadar.
"Aduh...." Keluh Endy mengaduh lalu berdiri dihadapan Nayla.
"Nay, Kamu cantik banget, beruntung banget Aska nikah sama kamu, pasti Aska juga akan terpesona"
Nayla tersenyum simpul mendapatkan pujian dari Endy.
"Ayo pergi" Nayla menarik tangan Endy keluar.
"Kami pergi dulu" pamit Endy pada sahabatnya.
" Hati-hati dijalan"
Endy dan Nayla akhirnya masuk kedalam mobil menuju kantor Aska, diperjalan Endy terus mencuri pandang melihat wajah Nayla, ia seperti tak pernah puas melihat wajah itu, sedangkan Nayla ia sangat gugup memikirkan pertemuan nanti akan seperti apa. hatinya tergelitik penasaran melihat wajah Aska lagi telah lama ia menahan rindunya pada suaminya itu.
__ADS_1
Nayla dan Endy telah sampai didepan gedung Dirgantara Mitra yang menjulang tinggi, telah banyak orang yang lalu lalang didalam gedung itu.
"Kau siap Nay" Ucap Endy tersenyum manis pada Nayla kemudian memberikkan lenganya untuk Nayla rangkul.
Nayla menarik napas dalam tersenyum simpul, mengangguk dengan yakin kemudian meraih tangan Endy.
Mereka pun melangkah masuk kedalam gedung dengan penuh percaya diri melangkahkan kaki mencari keberadaan Aska.
Pintu Ruangan terbuka Endy dan Nayla masuk kedalam ruangan yang terlihat begitu banyak orang didalamnya seluruh karyawan Dirgantara Mitra, relasi-relasi, petinggi perusahaan semua berkumpul.
Endy dan Nayla berjalan seperti yang biasannya mereka berdua lakukan dulu gandengan tanpa rasa canggung, Nayla menatap sekelilingnya ia merasa ada yang aneh dengan orang-orang itu, sorot mata mereka semua tertuju pada sepasang anak manusia yang berjalan gandengan dengan penuh percaya diri, Nayla heran semua orang melihat kearahnya.
"Kak Endy, kenapa semua orang itu melihat kita" Nayla berbicara pelan sambil tersenyum pelik melihat orang disekitarnya.
"Oh...karena kakak gantenglah, kakak kan idola mereka" Candanya dengan percaya diri kemudian terkekeh.
"ih...kakak...." Nayla mencubit lengan Endy, pelan terus berjalan.
"Ia, ampun itu karena kamu cantik banget Nay, mereka itu memperhatikanmu, kamu kan bule Jerman jadi mereka terpukau dengan kecantikan kamu" Jelas Endy mengunggungkap fakta. tersenyum dengan penuh bangga kerena menggandeng wanita yang begitu cantik dan menjadi pusat perhatian.
"Ih.. biasa aja kali kak, mereka itu memangnya ngak pernah lihat cewek bule" Keluh Nayla, matanya melihat orang yang berbisik sambil memperhatikan mereka.
***
Aska duduk diantara orang penting berbincang mengenai seputar bisnis, meskipun puncak acara telah berakhir, ia masih harus menemani relasi-relasinya, hatinya tak tenang fikirannya hanya tertuju pada Nayla, ia ingin segera pulang menjumpai istrinya itu, ditengah perbincangan tiba-tiba suara gaduh terdengar.
"Lihat pak Endy bersama wanita yang sangat cantik, apa itu pacarnya? beruntung banget Pak Endy punya pacar secantik wanita cantik itu"
"Apa gadis itu model, artis ya, cantik banget"
Terdengar suara dari kejauhan membuat Aska menarik napas panjang, mulai kesal lagi-lagi Endy membuat heboh acara dengan gadis bodohnya itu fikirnya, ia masih cuek tak menghiraukan, namun suasana semakin gaduh bahkan seluruh orang disekelilingnya ikut melihat ke arah Endy.
Aska mengarahkan pandangannya kearah sumber kegaduhan, ia melihat Endy berjalan dengan senyuman dan penuh percaya diri bangga menjadi pusat perhatian, Endy melihat kearah Aska dan mereka saling pandang Endy memanikan alisnya naik-turun mencoba menggoda sahabatnya dari kejauhan memamerkan gadis yang ia gandeng. Aska membalas dengan wajah kesal lalu menujukkan kepalan tangannya kearah Endy, tanda memberi peringatan, karena telah membuat kegaduhan diacara kantor dengan gadis bodohnya, ia hanya fokus pada Endy tak memperhatikan wajah gadis yang digandeng Endy.
Tak lama ia selesai dengan sahabatnya dan mulai memperluas pandangannya memperhatikan gadis yang merangkul lengan Endy, ia terdiam sejenak mencerna kecantikan wajah itu, kemudian matanya membulat sempurna, jantungnya memacu dengan kencang, seperti ada jutaan kembang api yang meledak dihatinya matanya tak berkedip sedikitpun memperhatikan Nayla berjalan anggun, sangat cantik dan mempesona. Ternyata wanita yang membuat semua orang terpukau akan kecantikannya adalah istrinya, wanita yang begitu ia rindukan hadir disini, ingin rasanya ia berlari kearahnya memeluknya melepaskan seluruh gejolak perasaan rindu dan cinta yang telah tertahan. Namun saat hendak bergerak pak Chan yang mengerti Aska tidak dapat menahan diri menahan pundak Aska, untuk tetap pada tempatnya, Aska menatap pak Chan yang menggeleng, ia pun mengerti dengan memasang wajah kesal, hadirnya Nayla adalah hadiah paling indah untuk rindunya yang membuncah saat ini, ia terus memperhatikan wajah istrinya dari jauh menikmati kecantikannya yang membuatnya tak ingin mengalihkan pandangan sedikitpun. rasa cintanya semakin dalam bertambah melihat perubahan istrinya yang kecantikan wajah bulenya semakin bersinar.
Nayla mengedarkan pandangannya pada orang yang ia lalui kemudian tersenyum dipaksakan merasa tak enak menjadi pusat perhatian.
"Nay itu Aska" Ucap Endy menunjuk arah Aska dengan matanya.
Nayla menghentikan senyumannya, mengarahkan pandangannya pada arah yang ditunjuk Endy. Nayla menatap ke depan matanya langsung tertuju pada sosok lelaki tampan yang telah menatapnya lebih dulu dari kejauhan, Nayla menghentikan langkahnya, kakinya bergetar ia tak sanggup lagi melangkah, terdiam saling menatap dalam dari kejauhan
saling melepas rindu, setelah setahun tak bertemu mereka membutuhkan pelukkan kasih sayang untuk melemburkan seluruh perasaan yang telah lama tertahan.
Cukup lama mereka bertatapan Aska tak melepaskan pandangannya sedetik pun, membuat Nayla merasa canggung, ia tertunduk mencoba menyembunyikan wajahnya dibelakang Endy, perasaanya campur aduk rasa canggung, malu-malu, semua jadi satu, ia tak tahu harus berbuat apa. Apalagi sekarang dihatinya telah tersemat cinta membuat jantungnya serasa ingin lompat keluar, sangking gugupnya, baru saling memandang saja, tubuhnya sudah serasa lemas semua, apalagi jika dekat dan bicara padanya.
Akhirnya setelah satu tahun hidup saling berjauhan dan menahan rasa rindu yang besar untuk pertama kalinya mereka bertemu kembali.
.
.
.
__ADS_1
.Tolong tinggalkan Like,Coment, Favorit,vote juga...ya.
Hay readers mau minta saran author lagi kurang inspirasi mau tanya ini biar greget Nayla sama Askanya maunya pertemuan ini lanjut bicaranya dikantor atau dirumah? minta sarannya.