Jodoh Pilihan Kakakku

Jodoh Pilihan Kakakku
terima


__ADS_3

Malam semakin larut namun Dika belum bisa memejamkan mata, ia sedang duduk santai diteras rumah menenangkan diri memikirkan pernikahannya dengan anak pak Samad. Bayangan Aulia yang memohon pada orang tuannya terus terniang di ingatan entah mengapa ia merasa gadis itu tulus padanya masih memilihnya walaupun orang tuanya sudah merendahkan pekerjaannya. perasaan bimbang saat melamar ia merasa gadis itu memang pantas diperjuangkan dia baik, sabar, menghadapi bapaknya, dan lemah lembut itulah sifat yang di tangkap Dika saat berkunjung kerumah Aulia, wajar saja jika Nayla berjuang mati-matian memilihnya untuk menjadikan Aulia kakak ipar. Meskipun orang tuanya tak menerima pernikahan ini. ia bingung haruskan ia memenuhi syarat pak Samad yang begitu mudah baginya, namun ia juga ragu bagaimana jika itu hanya alasan pak Samad, memang orang tua galak itu tak mau menikahkan Aulia dengannya.


Endy dan Aska keluar dari rumah dengan langkah ragu-ragu dan saling dorong mereka berdua telah membuat Dika kesal dengan lebih memilih bule Jerman dari pada sahabatnya sendiri. Mereka menghampiri Dika yang sedang termenung diteras semenjak Nayla menjodohkannya dengan anak pak Samad, raut sedih selalu tercetak diwajah balsteran itu. Aska dan Endy kemudian duduk disamping Dika kali ini Dika duduk di tengah.


"Kau belum tidur.' tanya Aska basa-basi seolah tidak terjadi sesuatu, kali ini ia kembali menginap dirumah kakak iparnya.


"Aku ngak bisa tidur, ini semua gara-gara kalian, seharunya aku sudah selamat dari pernikahan ini, kalian malah kompak mendukung bule Jerman itu" Dika kesal lalu menyikut perut dua sahabat yang duduk disampingnya.


"Aduh" Kompak mereka meringis kesakitan memegang perutnya.


Dika masih kesal pada sahabat yang tak membelanya.


"Ia maaf, kau tahukan bule Jerman itusangat pintar dan ia sangat tahu kelemahan kami" Jelas Endy tak berdaya menjadi pendukung bule Jerman nomor satu, apalagi setelah kejadiaan pernyerangaan yang hampir membuat gadis kecil itu kehilangan nyawa, ia telah bertekad akan terus mendukung Nayla apa-pun yang diinginkan akan ia kabulkan.


"Ia kau tahukan dia itu kesayangan kita semua, apa-pun untuknya" Timpal Aska yang dari dulu selalu mengabulkan permintaan Nayla, apalagi jika jurus andalan bule Jerman itu sudah terucap dari bibir mungil Nayla.


"Ia tapi kalian mengorbankan hidupku" Bentak Dika kesal belum terima dengan sikap penghianatan sahabat yang lebih memilih gadis kecil itu dari pada dirinya.


Endy memegang bahu Dika memberi semangat dan nasehat agar hati sahabatnya sedikit tenang ia tahu Dika saat ini berada dalam kebimbangan.


" Dika aku rasa benar kata Nayla terlepas keluargannya yang aneh, aku rasa dia gadis yang baik, kau lihat tadi dia juga tak setuju dengan permintaan orang tuannya" Jelas Endy.


"Ia aku rasa juga begitu, pilihan adikmu sudah benar, filingku mengatakan gadis itu jodohmu, benarkan brother" Aska memegang pundak Dika.


"Jangan panggil aku brother, pergi sana peluk istrimu" Dika melepaskan tangan Aska dari pundaknya ia sangat kesal. Harapan pada sahabat terbaik, satu-satunya tempat mengantung nasibnya ternyata lebih memilih istrinya dari pada dia.


"Sudahlah jangan marah, istriku kan adikmu juga, jangan fikirkan syarat pak Samad, biar aku akan memberikan rumah pada anak pak Samad itu." Bujuk Aska merangkul bahu sahabatnya.


"Ngak perlu, rumah dari aku aja, aku kan kalah taruhan denganmu, jadi biar aku yang menyiapkan semuanya."


Endy bersedia membiayai seluruh pernikahan Dika sesuai dengan janji taruhannya bersama, jika kalah ia akan menanggung semua biaya pernikahan Dika. Sebenarnya berapa pun yang akan dikeluarkan untuk pernikahan Dika tak masalah baginya, persahabatan mereka sangat kuat dan dekat sudah seperti saudara, apa-pun miliknya akan menjadi milik sahabatnya juga. Ia pun telah sukses dan memiliki segalnya lagipula jika bukan untuk sahabat dan bule Jermannya untuk siapa lagi semua itu, ia tak punya siapa-siapabhanya mereka keluarganya.


"Biar aku yang menyiapkan semuanya," Dika menolak tawaran kedua sahabatnya baginya itu hanya masalah kecil dan mudah untuk menyiapkan.


"Kenapa bukannya kau yang menang ?" Ucap Endy sebagai pihak yang kalah dalam taruhan dan berjanji, ia akan menyiapakan semua.


"Ini moment ku ,aku tidak mau dihari spesialku dibayarin, itu ngak akan berkesan" Jelas Dika walaupun hatinya ragu dengan pernikahan ini, tapi ia ingin menjadikan ini berkesan dan ia harap ini adalah moment sekali seumur hidupnya.


"Baiklah jika itu maumu, jika kau butuh sesuatu beri tahu saja dan jika pak Samad masih menolakmu, beri tahu aku, akan aku akan rebahkan pohon beringinnya" Ancam Aska memakai kekerasan dengan uang ia bisa menekan pak Samad.


"Sudahlah kalian pergi tidur sana, besok.bule Jerman itu akan menyeret kita lagi kerumah Pak Samad" Dika menyuruh sahabatnya pergi ia masih ingin duduk sendiri merenung.


Mendengar ikut ke rumah pak Samad lagi Aska dan Endy saling tatap lalu tersenyum kaku, dibelakang Dika mereka telah berdiskusi untuk tidak ikut kerumah pak Samad lagi, mereka tak sanggup menghadapi orang tua galak itu. Kejadian tadi sudah cukup bagi mereka bagaimana ngerinya mengahadapi bapak gadis itu apalagi hiasan dinding samurai yang terpajang membuat mereka selalu jantungan andai pak Samad marah lalu mencabut samurai bagaimana nasib mereka itu fikirnya.


"Maaf Dika, aku tak bisa ikut brother, dirumah pak Samad membuat kakiku gemetaran, kau saja pergi, aku masih ingin hidup, aku masih penasaran siapa jodohku" ucap Endy menolak untuk pergi mendampingi Dika.


"Ia besok aku juga akan ke kantor" Alibi Aska.


"Kalian harus tanggung jawab karena mendukung bule Jerman, sekarang kalian malah ingin lari" Bentak Dika emosi karena pilihan sahabatnya ia harus memenuhi syarat pak Samad sekarang mereka bahkan tak mau mendampingi.


"Ngak masalah brother,kan sebentar aja tinggal beri permintaan pak Samad lalu pulang, sebentar aja kan" Jelas Endy


"Jangan panggil aku brother, kalian bukan brother kalian hanya cari aman" Dika meninggikan suaranya kesal namun memaklumi sebenarnya ia juga malas ke rumah pak Samad.


"Baiklah, aku ngak masalah tapi bagaimana kalian menjelaskan pada bule Jerman itu, ingat dia itu bukan gadis bodoh sebaiknya kalian punya alasan yang tepat untuk menghindarinya" Dika tersenyum remeh bukan mudah lolos dari bule Jerman cerewat.


"Kau tenang saja kan ada Aska" Jelas Endy melirik kearah Aska


"Kenapa aku, aku saja belum tentu bisa selamat,dari bule Jerman itu "


"Diakan istrimu bujuk dia"


"Jangan berharap padanya dia itu suami yang takut pada istri" ejek Dika yang mendapat toyoran dikepalanya oleh Aska dia tak setuju dengan ucapan istrinya.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Hari telah pagi Nayla siap meyambut pagi dengan ceria karena hari ini mereka akan kembali ke rumah pak Samad menyerahkan semua syarat yang diminta pak Samad. Dari pagi Nayla telah sibuk mempersiapkan semuanya ia membangunkan 3 lelaki itu untuk bersiap. dan saat ini mereka telah berkumpul dimeja makan dengan wajah tak bersemangat.


Aska merangkul lengan Nayla meyenderkan kepalanya dipundak istrinya bermanja seperti anak kecil.


"Nay suap" pinta Aska bermanja pada Aska tak peduli ada Endy dan Dika dihadapan mereka yang memasang wajah jengah melihat sifat manja.

__ADS_1


"Kak Aska lepas dulu, Ia Nay suap" Protes Nayla merasa tak nyaman Aska bergelayut manja.


"Ngak bisa sayang, ngak mau, kakak suka wangi kamu, kakak ngak bisa jauh dari kamu" Aska mengendus tubuh istrinya lalu beralih mengecup pipi istrinya. Seketika wajah Nayla memerah mendapatkan ciuman dari Aska ia sangat malu dilihat oleh dua lelaki yang ada didepannya terutama kakaknya.


"Bucin" Umpat Dika lalu melengos membuang pandangannya mood paginya semakin rusak melihat pasangan ini.


"Dasar pamer" umpat Endy yang juga melengos tak sanggup melihat kemesraan mereka jujur hatinya masih terasa sakit melihat orang yang sampai sekarang masih memenuhi ruang hatinya bermesraan dengan sahabatnya namun ia mencoba tegar melihat pemandangan itu setiap saat, itu tidaklah mudah dan rasanya menyesakkan dada.


"Makan cepat kita harus pergi kerumah pak Samad lagi, agar pernikahn ini dipercepat " Ucap Nayla antusias sambil menyuapi Aska.


"Endy dan Aska saling tatap sesuai dengan kesepakatan mereka berdua menolak ikut.


"Sayang kakak ngak bisa, kakak harus ke kantor" tolak Aska mencari Alasan agar tak ikut dengan Nayla.


"Kakak juga Nay, kakak ada kencan dengan Serena" Timpal Endy.


"Jadi kami hanya pergi berdua saja"Nayla menatap Dika yang hanya diam tak bersemangat.


"Ia, tapi kalian lagi ngak menghindari pak Samad kan" seringai diwajah Nayla dia tahu lelaki ini coba menipunya.


"Ya ngak lah sayang ini rapat penting loh" Jelas Aska gugup


"Kakak juga, kamu mau kakak cepat menikah m? jadi kakak akan melakukan pendekatan."Alibi Endy.


Aska dan Endy kompak berdiri akan meninggalkan meja makan.


"Kak Aska kantor mana yang buka hari ini, ini hari libur tanggal merah" Jelas Nayla. Menatap tajam pada lelaki ini. Aska membulatkan matanya ia lupa dengan tanggal hari ini.


"Kak Endy kencan dimana sepagi ini?" Nayla memberi pertanyaan menyelidik pada dua lelaki aneh ini.


"Nay,ini rapat penting darurat" ucap Aska cepat mencium kening Nayla lalu berlari keluar."Love you"


"Nay,kakak mau ke pasar dengan Serena" Ucap Endy Asal menyebut pasar hanya itu yang ramai dipagi hari lalu berlari juga keluar meningalkan kakak adik itu.


Aska dan Endy kompak berlari meninggalkan meja makan menghindari Nayla menyeret mereka untuk pergi ke rumah pak Samad kejadian kemarin sudah cukup membuat jantung mereka seakan lepas.


"Dasar bilang saja takut pada pak Samad" celoteh Nayla kemudian melihat kakaknya yag hanya dia menyantap makanannya.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Nayla dan Dika telah berada dirumah pak Samad kali ini hanya kakak-adik ini yang akan yang akan menghadapi kegalakan pak Samad, Nayla telah berada didalam rumah Aulia, menunggu bapak gadis itu untuk keluar untuk membahas masalah lamaran Dika. Dika dan Nayla terdiam dengan fikiran masing-masing hingga beberapa saat kemudian yang mereka tunggu akhirnya keluar juga bersama dengan anak gadis kesayangannya yang telah menyambut tadi. Pak Samad berjalan dengan wajah tak bersahabat menemui mereka lalu duduk.


"Bagaimana?"Tanya pak Samad suaranya menggelegar langsung ke inti masalah.


Nayla dan Dika saling pandang dengan pelan lalu Nayla mengeluarkan semua surat penting dari tasnya kemudian menyerahkannya pada kakaknya.


"Kami sudah mempersiapkan permintaan bapak, Ini surat tanah, rumah mewah, rekening bank dan ini kunci rumahnya yang bapak inginkan" Dika menyerahkan beberapa lembar surat yang bertumpuk serta kunci rumah yang ada di atasnya menyodorkan ke meja.


"Dapat dari mana kamu?" bentak pak Samad menyelidik ia tak mempercayai pemuda dihadapannya sanggup memenuhi syarat yang ia berikan, ia juga tak mau semua yang dibawah Dika adalah palsu atau hasil tak jelas.


"Warisan orang tua pak" Jelas Dika tertunduk hormat pada orang yang lebih tua.


"Benarkah warisan, kamu tidak bohong" Pak Samad melihat semua barang-barang itu dimeja tanpa memeganganya.


"Ia pak orang tua kami meninggalkan warisan yang lumayan untuk kami" Jelas Dika terpaksa berbohong.


Pak Samad menatap tajam kearah dua anak manusia yang ada di depannya, melihat dua wajah blasteran luar negeri orangtua mereka pasti bukan orang sembarangan.


"Baiklah simpan kembali semuanya" Bentak pak Samad membuat Nayla dan Dika saling tertatapan.


"Bukankah ini yang bapak minta" Dika memingatkan pak Samad, sikap pak Samad membuat Dika semakin yakin jika lelaki tua ini hanya mengada-gada untuk menolak dari awal lelaki tak mau menikahkan anaknyq dengannya.


"Bukan itu yang saya mau, tapi kepalamu" Bentak pak Samad mengancam membuat orang dihadapannya cicit ketakutan. Dika menelan salivanya dengan susah payah wajahnya telah berubah pucat, dia sudah memenuhi semua syarat pak Samad sekarang lelaki galak itu pasti murka dia bisa memenuhi syaratnya.


"Nay kamu liat kan dia menang ngak mau menikahkan anaknya dengan kakak walaupun syaratnya kita kabulkan dan sekarang kita telah membuatnya marah, habis kita Nay,dicincang" Bisik Dika pada adiknya.


"Untung kalian ngak ikut brother, kita akan mati bersama, setidaknya di antara kita masih ada yang hidup,"Batin Dika


"Kakak tenang dulu," bisik Nayla.


"Pak" Protes Aulia memegang lengan bapaknya melihat dua orang didepan bergetar ketakutan.

__ADS_1


"Biar saja Lia itu yang bapak inginkan kepalanya, jadi taruhannya jika ia tak bisa membahagiakan kamu" Jelas pak Samad bicara pada anaknya.


"Hai anak muda saya merestui hubungan kalian, karena kamu pilihan anak saya" Jelas pak Samad yang ternyata tak menolak lamaran Dika dan memberikan restunya pada Dika.


Dika tercengang mendengar ucapan pak Samad diluar dugaanya yang ternyata tak menolak dirinya, .


"Benarkah pak" Dika terbata tubuhnya bergetar hebat namun ia tak menyangka lelaki tua ini tak memandangan apa pekerjaannya.


Dika terheran pak Samad sama sekali tak menerima semua yang syarat yang ia ajuhkan dia tak menerima, ternyata Dikalah yang salah orang tua galak ini sama sekali tak menilai orang dari materi ia hanya melakukan semua itu hanya untuk melihat kesungguhannya dan melindungi anak kesayangannya.


" Tapi ingat jika kau menyakiti anak kesayangan saya kepalamu yang menjadi taruhannya" Ancam pak Samad menatap tajam pada calon menantunya.


"Saya janji pak akan menjaga anak bapak sebaik-baiknya" Ucap Dika menatap Aulia yang lagi-lagi membatu melihat Dika, ia mantap walaupun ia tak mencintai Aulia tapi ia akan menjaga sebaik-baiknya gadis ini, berusaha untuk membahagiakannya walau tanpa ancaman bapaknya ia pasti mencoba membahagiakannya nanti. menggambil tangung jawab besar menjaga anak kesayangan pak Samad.


"Dan satu syarat lagi" Pak Samad mengankat jari telunjuknya.


Dika mengenyitkan dahinya ia merasa begitu banyak permintan lelaki ini hanya untuk melindungi anak kesayangannya.


"Syarat apa pak?" Tanya Dika penasaran.


"Saya ingin pernikahan ini dirahasiakan, kalian hanya akan menikah diam-diam" Jelas pak Samad.


Dika dan Nayla merasa aneh dengan syarat pak Samad bukankah Aulia itu anak kesayangannya dia harusnya menyiapkan pesta mewah untuk anak gadis satu-satunya.


"Saya ngak mau rumah tangga kalian akan terganggu karena begitu banyak yang mengingikan anak saya, orang besar dan berkuasa semua menginginkan anak saya, jangan sampai mereka mengganggu pernikahan kalian" Jelas pak Samad yang begitu melindungi anak kesayangannya. ia tak ingin sesuatu terjadi pada Aulia.


"Baiklah pak saya setuju" Dika menarik nafas baginya tak masalah menutupi pernikahan ini lagipula identitasnya sebagai tukang ojek akan tertutupi dan entah apa yang akan terjadi padanya jika ia tahu bahwa hubungan ini terjalin dengan awal kebohongan tentang pekerjaannya. masalah baru akan mulai bisa-bisa pak Samad mengambil anak gadisnya kembali.


"Saya percayakan anak kesayangan saya padamu, jaga dia, bahagiakan dia, jika kau membuatnya menangis, ini samurai asli dari jepang sangat tajam, kau akan merasakannya jika kau tidak bisa membahagiakan" Ancam pak Samad menunjuk didinding salah satu koleksi samurainya.


"Baiklah pak saya janji"Dika mengangguk mantap.


"Pulanglah, minggu depan kalian akan menikah" Usir pak Samad.


"Baiklah, pak kami permisi dulu"


Dika pamit berdiri ia sudah tak tahan untuk keluar dari kandang macan ini, kakinya telah bergetar. Dika mengarahkan pandangannya pada Nayla yang masih duduk tersenyum pada pak Samad.tak mau bangun dari duduknya


"Pak samad boleh minta mangganya ngak?" Pinta Nayla dengan lembut memasang wajah manja, membuat Dika membulatkan matanya tak habis fikir dengan permintaan adiknya kakinya telah gemetar menghadapi pak Samad dan dia malah meminta mangga pada orang galak ini. Dika menatap wajah datar pak Samad.


"Tentu saja gadis cantik," Pak Samad tersenyum pada Nayla.


"Gila pak Samad juga takluk dengan bule Jerman" Batin Dika tercengang melihar senyum diwajah pak Samad untuk Nayla.


"Bapak juga ingin melihat bagaimana calon menantuku ini memanjat pohon mangga, apa dia bisa, atau dia juga payah hanya menunggu Lia untuk membukuskannya" Jelas pak Samad menyeringai ternyata ingat kejadian lama Dika dan Aulia. ketika Aulia malah memberinya mangga tanpa usaha untuk memanjat.


"Nay kamu ini apa-apa sih, kenapa harus minta mangga pak Samad, diluar juga banyak dijual" Dika kembali duduk lalu berBisikpelan pada adiknya ia sudah sangat ingin pergi dari rumah ini.tubuhnya telah terasa lemah tak bertulang


" Ngak pak, adik saya cuma bercanda"Dika tersenyum menggelengkan kepalanya.


" Ngak kok kak, Nay mau mangga disini" kekeh Nayla.


"Nay, mati kita nanti kakak belikan sekeranjang untukmu"


"Kakak Nay, cuma mau punya pak Samad mumpung gratis"


"Sudah panjat sana" titah pak Samad tersenyum pada manis pada bule Jerman lalu mengajaknya mengobrol ia seperti menggap Nayla anak gadisnya.ternyata pak Samad tak segalak yang mereka bayangkan ia bersikap hangat pada bule Jerman.


Dika keluar menyeret kakinya dari rumah menghadapi tantangan dari pak Samad untuk memetik mangga.


"Dasar bule Jerman menyusahkan saja, senang banget gratisan,padahal diakan istri presdir" Umpat Dika.


.


.


.


.


.Like,coment,vote ya...

__ADS_1


__ADS_2