
Siang telah berlalu malam, telah meyambut Nayla masih tertidur di ranjang rumah sakit Endy mengingkari janjinya untuk membangunkan Nayla, ia sengaja tak membangunkannya karena ingin Nayla beristirahat dan tak tega membangunkan gadis yang terlelap itu. Ia tak memikirkan bagaimana nanti nasib Aldy yang harus menerima amukan Aska. Ia lebih cemas dengan kondisi Nayla.
******
Di rumah Aska apa yang Nayla takutkan telah terjadi semua pelayan dan penjaga rumah telah menerima amukan Aska terutama Aldy wajahnya tertunduk ia tak berani menatap Aska ia menyesal dan merasa bersalah ia kehilangan jejak Endy, sedari tadi ia mencari Endy, ia telah menugaskan semua anak buahnya, mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mencari Keberadaan Endy diseluruh mall, taman, hotel hingga pelabuhan dan bandara tak luput dari pencariaannya, walaupun ia masih percaya pada sahabatnya tak akan membawa pergi Nayla, untuk memastikan ia mencari semua tempat namun tak terfikir sedikit pun di fikirannnya untuk mencari dirumah sakit ia benar .
"Bagaimana kalian bisa kehilangan dia?" Teriak Aska membentak seluruh penjaga rumahnya yang berjajar tertunduk tubuh mereka bergetar
"Maaf tuan, kami siap menerima hukuman" Ucap Aldy berwajah pias tak sanggup menatap Aska dihatinya hanya mengutuki kebodohananya.
"Apa yang dikatakan Endy" Bentak Aska memegang kerah baju Aldy
Dengan terbata dan tubuh bergetar ia menjawab pertanyaan Aska"dia bilang akan membawa nyonya pergi hanya satu jam saja" Jelas Aldy
"Bodoh .......kalian semua tidak berguna ...cari dia sampai dapat jangan tunjukan wajah kalian jika kalian belum mendapatkanya" Teriak Aska wajahnya memerah ia sudah tak tahu harus ia apakan lelaki didepannya ini, ingin rasanya ia menghajarnya, kemudian melepaskan cengkeramannya dari Aldy.
"Aku mau Nayla pulang cari semua disemua tempat" Teriak Aska.
"Keluar kalian semua dari sini......" Usir Aska menunjuk ke arah pintu keluar.
Aldy keluar tertunduk mungkin untuk saat ini ia menyesal punya sahabat seperti Endy, ia telah gagal menjalankan tugas membuatnya tak sanggup menghadapi Aska ia siap dengan semua kemungkinan yang terjadi termaksud dipecat.
Aska berteriak diruangan depan pintu masuk ia membanting dan melempar apapun yang ada dihadapannya vas bunga,guci semua tak luput dari lemparannya membuat pecahannya bertebaran dilantai.
"Tuan hentikan" Bibi May datang dan memeluk Aska agar lelaki ini menghentikan aksinya.
Aska lalu terkulai lemas dipelukan bibi May yang sudah dia anggap sebagai ibunya sendiri dan Aska merasa tenang dipelukan wanita itu.
"Dia meninggalkanku bibi May" Ujar Aska lirih mengeratkan pelukkannya.
"Tidak tuan dia akan kembali" Nibi May menepuk punggung Aska menangkannya.
"Saat kami bertengkar ia mengucapkan kata pisah, ia ingin berpisah dariku bibi May ia tak bahagia bersamaku" Ucap Aska ucapannya menyayat hati yang mendengarkannya. Membuat bibi May meneteskan air mata untuk tuannya
"Tidak tuan dia tidak mungkin pergi seperti ini" Bibi May melepaskan pelukkannya menangkup wajah Aska memberikan kepercayaan bahwa Nayla akan kembali
"Tenanglah tuan anda harus tetap berfikir posifif tunggu sebentar lagi ia akan pulang"Memberikan harapan pada Aska
*****
Rumah Sakit
Nayla membuka matanya perlahan, ia melihat Endy masih duduk di samping ranjang, ia menarik nafas memegang kepalanya yang masih pusing kemudian ia mengarahkan pandangannya di dinding matanya terbelalak ia bergegas duduk ah.......Nayla memegang kepalanya ia mengerjap menahan sakit.
"Nay kamu sudah bangun" Endy berdiri mendekati Nayla.
__ADS_1
"Kak Endy ini sudah larut kenapa kakak ngak bangunin aku" Ujar Nayla suaranya lemah memegang kepalanya agak panik.
"Kakak ngak tega Nay bangunin kamu, Nay kamu masih pucat" Wajah Endy khawatir.
"Gimana kalau kak Aska sudah pulang dan ia ngak lihat Nayla dirumah ia pasti marah lagi, ayo kak kita pulang kasian Aldy" Pinta Nayla ia panik, cemas takut semua menjadi satu.
"Aku udah ngak apa-apa ayo kita pulang" Ajak Nayla melihat selang infus masih melekat dipunggung tangannya.
"Baiklah kita buka dulu infusannya " Endy menekan tombol di dinding memanggil suster
"Sambil menunggu suster, kamu makan dulu ya dari tadi kamu ngak makan" Bujuk Endy yang sudah memegang piring terisi makanan.
"Nay ngak mau makan, aku mau pulang, kak Endy singkirkan itu Nay mual, nanti aja makan dirumah" Nayla menutup hidungnya.
Endy dan Nayla telah bersiap untuk pulang selang infus telah terbuka, Nayla turun dari ranjang rumah sakit dengan lemah, ia hampir jatuh tak bisa merasakan kakinya akibat lemas. Endy merangkul bahu Nayla lalu berjalan keluar dari gedung rumah sakit menuju tempat motornya terparkir, Endy melepaskan jaketnya memakaikannya untuk Nayla lalu mereka naik ke motor. Nayla memeluk pinggang Endy menyederkan kepalanya yang pusing dipunggung Endy .
Aska berada di depan pintu rumah mondar-mandir memegang handphonenya dengan gelisa, ia sangat cemas hingga saat ini ia belum mendapatkan kabar tentang Nayla dan Endy. Saat ia menelpon Aldy hasilnya mengecewakan, puluhan kali ia menghubungi nomor Endy namun handphone itu pun tak aktif, Dika pun tak luput dari telpon paniknya, tiap saat ia bertanya apa Nayla ada disana. Fikirannya sangat kacau ia takut Nayla kabur atau diculik oleh pamannya banyak lagi, fikiran negatif di otakknya.
"Dret....Dret...." Getar handphone ditangan Aska pria ini langsung menaruhnya di telingannya.
"Bagaimana? kalian menemukannya?" Tanya Aska penasaran.
"Kami melihat motor Endy sedang menuju pulang tuan tak lama lagi mereka sampai disana. Aska menutup telponnya berjalan keluar, berdiri di gerbang besar dirumahnya menunggu mereka berdua, beberapa saat cahaya lampu motor Endy menyilaukan Aska mata .
"Dari mana kalian?" Suara Aska meninggi membuat Nayla yang tertidur di motor membuka matanya dan membulatkan matanya melihat Aska sudah berada dihadapannya.
"Kak Aska" Nayla turun dari motor dengan sempoyongan ia berusaha untuk kuat wajah marah Aska memberikannya kekuatan untuk berdiri
"Masuk" Bentak Aska memerintahkan Nayla, wajahnya sangat menakutkan membuat Nayla langsung menurut.
Endy turun dari motor berdiri di hadapan Aska memperhatikan langkah Nayla yang lemah meninggalkannya tanpa satu katapun
"Aska aku yang membawanya, jangan marah padanya "Ujar Endy menatap sahabatnya.
Aska memegang kerah baju Endy "aku bilang jauhi dia, beraninya kau membawanya pergi " Bentak Aska amaranya telah meledak ia mengepalkan sebelah tangannya ia mengarahkan tinjunya kewajah Endy, namun dia bisa ia masih menghargai sahabatnya, menahan emosinya.
Endy siap menerima semua perlakuan Aska padanya ia yang telah membuat semua kekacauan ini, Aaska masih menahan amarahanya pada Endy. Endy adalah laki-laki yang tak akan dia hajar walaupun ia mendekati Nayla bagaimana pun marah dan cemburunya, tidak seperti laki-laki lain, yang semua mengenaskan dia tangan Aska karena ia tahu pengorbanan cinta sahabatnya, yang selalu memberikan orang yang ia cintai untuk sahabatnya.
"Pergilah" Aska melepaskan cengkeramannya dari tubuh Endy.
Aska membalikkan badannya masuk meninggalkan Endy.
"Aska jangan marah lagi padanya" Teriak Endy memberi saran
"Apa kau fikir aku bisa marah padanya" Mendengus
__ADS_1
Aska masuk meninggalkan Endy yang masih berdiri didepan gerbang ia bergegas ingin bertemu Nayla.
*****
Aska masuk ke dalam kamar mengedarkan pandangannya mencari dimana keberadaan Nayla namun ia tak ada, ia mendengar gemercik air dari kamar mandi ia kembali ketempat tidur menunggu Nayla.
Nayla telah keluar dengan piyama siap untuk tidur, ia sudah tak bisa menahan berat kepalanya walaupun ia sudah beristirahat dirumah sakit itu masih kurang, ia belum makan apa pun dan masih muntah dikamar mandi, wajahnya pucat, langkah kakinya terasa berat saat ini yang ia butuhkan hanya berbaring.
"Nay, kamu dari mana saja? " Tanya Aska kesal tubuh tingginya menghadang Nayla
"Kak Aska, aku lelah, biar aku berbaring, besok saja kita bahas" Ucap Nayla pandangannya mengarah ketempat tidur ia sudah tak bisa menahan tubuhnya.
"Nay jangan menghindar, kamu dari mana? kamu ngak tahu aku sangat mencemaskanmu" Teriak Aska memegang tangan Nayla erat.
"Kak Aska lepaskan" Nayla mengayunkan tangannya matanya menutup kuat menahan pusingnya.
"Kenapa kamu ngak suka jika aku yang memegang tanganmu, aku suamimu aku berhak atas dirimu" Bentak Aska
"kamu lebih nyaman jika Endy yang menyentuhmu "Jelas Aska kesal.
"Kak Aska, Nayla lelah lepaskan tanganku" Pinta Nayla lirih suaranya pelan.
"Kenapa kamu selalu menolakku, kenapa aku harus memiliki alasan untuk menyentuhmu, kenapa aku harus izin hanya untuk memengang tanganmu, sedangkan Endy dia bebas menyentuhnya kau bahkan memeluknya tadi" Suara Aska meninggi karena cemburu.
"Karena detak jantung selalu tak karuan jika berdekatan denganmu" Gumam Nayla dalam hati
Aska menarik tangan Nayla membuat tubuh Nayla yang lemas dengan mudah masuk dalam pelukanya sejenak Nayla berontak.
"Nay, kakak cemburu, kakak takut kau meninggalkanku, nay" Ujar Aska melembutkan suaranya mengeratkan pelukanya.
Nayla yang berada dalam pelukan Aska tiba-tiba penglihatannya menjadi buram, gelap lalu tak sadarkan dirinya.
"Nay jangan tinggal aku, aku mencintaimu, tetaplah bersamaku selamanya " Aska akhirnya mengungkapkan isi hatinya yang telah ia pendam bertahun-tahun namun ia merasa ada yang aneh dengan tubuh yang ia peluk, tak ada pergerakan, Askapun melepaskan pelukannya tangannya memegang bahu Nayla ia melihat Nayla terkulai matanya tertutup.
Nay......Nay.....Nayla....." Teriak Aska memanggil nama Nayla, mulai panik ia menggoyang-goyangkan tubuh Nayla namun tak reaksi.
"Nay bangun ...Buka matamu" Aska menggendong tubuh Nayla ketempat tidur menepuk nepuk perlahan wajah halus nayla, wajahnya cemas ,ia ketakukan melihat Nayla yang tak membuka matanya.
Nayla tak sadarkan, diri ia tak sempat mendengar pernyataan cinta dari Aska.
.
.
like,coment, vote ya.
__ADS_1