
Malam telah larut Aska dan Endy memutuskan untuk pulang ke apartemen mengistirahatkan tubuh mereka yang lelah karena telah bekerja keras seharian di kantor.
Aska dan Endy sedang berada di apartement Aska, duduk berdampingan dilantai berselonjoran meluruskan kaki, dihadapan mereka telah ada dua gelas dan botol-botol minuman beralkohol, sejak Nayla pergi Aska kembali menyentuh minuman beralkohol, Untukbmengaluhkan rasa sepinya, itu semau ia lakukan agar ia mabuk dan tak tak sadarkan diri kemudian sesaat bisa melupakan kerinduannya pada istrinya.
Endy mulai menuang minuman ke dalam dua gelas yang ada disampingnya namun belum meminumnya tiba-tiba handphone Endy berbunyi, Endy pun meraih handphonenya mengecek panggilan handphonennya.
Endy tersenyum lebar melihat panggilan dihandphonennya.
"Dika" Ucapnya Endy tersenyum memperlihatkan deretan giginya.
Aska yang mendengar nama Dika, lalu bergegas duduk merapat disamping Endy, mereka seakan tak percaya bisa menatap wajah sahabatnya, yang telah lama mereka rindukan, walaupun hanya melalui layar handphone. Endy mengeser layar handphonenya dengan telunjuknya.
"Apa kabar kalian" Tanya Dika melambaikan tangan.
"Kami baik-baik saja" Endy
"Bagaimana kabar kalian" timpali Aska sangat bersemangat.
"Kami baik" Ucap Dika tersenyum
"Nayla" Tanya Aska cepat.
"Dia baik-baik saja, dia telah kembali ceria seperti dulu" Dika
"Kenapa kalian tidak pulang, ini sudah lama sekali?" Keluh Aska sedikit kesal.
"Nayla tak ingin pulang, ia betah disini, ia suka dengan tempat ini, ia juga telah memiliki banyak teman disini." Alibi Dika.
"Mana dia?"Tanya Aska
"Dia dikamarnya, mungkin dia sudah tidur" Dika
"Aku ingin melihatnya" Pinta Aska
"Ia, kami sangat merindukannya, arahkan kameranya kepadanya," Pinta Endy
"Tunggu sebentar" Dika berjalan menuju kamar Nayla, tak beberapa lama ia pun sampai kemudian.
Dika mengarahkan kamera ponselnya pada wajah cantik Nayla yang sedang terlelap, dan akhirnya setelah sekian lama mereka bisa melihat kembali wajah yang begitu, mereka rindukan sangat menggenaskan, Aska dan Endy menikmati wajah wajah Nayla, hati mereka berdesir, membuat jantung dua pemuda itu bertetak dengan kencang karena rindu walaupun mereka melihat hanya lewat layar handphone, melihat wajah wajah Nayla bukan membuat rindu mereka berkurang namun semakin membuncah ingin rasanya memeluknya.
"Nay bangun, buka matamu" Dika mencoba membagunkan Nayla menepuk bahunya.
"Emmmm
"Nay buka matamu sebentar saja" Dika
"emmm kak Dika, Nay masih ngantuk, nanti aja loparan club malamnya" rancau Nayla menutup matanya, tak tahu kondisi sekitarnya.
"Nay bangun" Dika
"Jika ada Luna dan Hana Usir saja" Ucapnya sambil menutup mata kemudian membalikkan tubuhnya.
"sudahlah..." Dika putus asa
Aska dan Endy tersenyum mengembang melihat tingkah lucu Nayla dari layar handphone, mereka sangat bahagia ternyata benar Nayla telah kembali seperti dulu, Dika kemudiaan meninggalkan kamar Nayla.
__ADS_1
"Pulanglah" pinta Aska
"Nayla ngak mau pulang, ia menikmati hidup bebasnya." Dika
"Jika kalian tidak pulang bulan ini, aku akan menjemput kalian" Ancam Aska.
"Dika bujuk bule Jerman itu pulang" Endy
"Aku sudah membujuknya tapi itu sangat sulit, ia sangat menyukai kehidupannya disini." Dika
"Bujuk dia pulang, aku sangat merindukannya, aku akan memberikan apa pun padamu, jika kau berhasil membujuknya pulang" Tawar Aska.
"Apa pun" Dika
"Ia" Aska
"Jika investasi saham untuk pembukaan cabang baru club malam Naylaska, bagaimana?" Canda Dika
"oke, baiklah, aku setuju, aku akan investasikan untuk 3 pembukaan cabang baru club malam Naylaska." Janji Aska bukan lagi satu tapi Tiga.
"Benarkah kau serius" Tanya Dika tentang tawaran menggiurkan itu.
"Ia, yang penting ia pulang" Aska.
"Aku akan mengusahakan membujuknya lagi untuk pulang" Dika
Obrolan Video call berakhir, Aska dan Endy masih terdiam mengenang wajah Nayla yang tadi sejenak mereka lihat, ada sedikit rasa puas namun lebih besar rasa penasarannya mereka pada buleJerman. Aska dan Endy duduk berdampingan memulai obrolan.
Aska mengarahkan pandangannya pada sahabatnya, yang sedang menenggak minuman beralkohol.
" Endy bujuk bule Jerman mu itu pulang" pinta Aska pada sahabatnya, tangan Aska memegang gelas mengoyang-goyangka isi minumanannya
Aska menenggak minuman yang ada didalam gelas
"Ia pasti mau, cobalah ia pasti mendengarkanmu, kau sangat dekat dengan bule Jerman itu." Pinta Aska menyakinkan sahabatnya.
"Kenapa bukan kau saja, kau kan suaminya" Saran Endy.
"Dia pasti masih marah padaku, karena semua yang telah terjadi, aku penyebab ia menderita" Ucap Aska tertunduk sedih menarik kesimpulan, selama ini ia menyalahkan dirinya atas semua kesedihan yang terjadi pada Nayla.
"Kenapa kau berfikir seperti itu" Jelas Endy.
Aska hanya mengendikkan bahunya kemudian kembali meminum-minum digelasnya.
"Ayolah bujuk dia pulang, jika kau berhasil apa pun yang kau inginkan akan aku beri" Tawar Aska yang akan menukar apa pun demi Nayla pulang dan kembali ke sisinya.
Endy menatap wajah Aska kemudian menyeringai licik.
"Apa pun?" Menatap tajam wajah sahabatnya seperti menemukan sebuah ide besar.
"Ia, apa pun yang kau inginkan, rumah, mobil, apartement, uang atau apa pun" Tawar Aska dengan tawaran yang menggiurkan.
"Baiklah aku akan membujuknya tapi, aku tidak mau semua itu, aku juga sudah punya segalanya ,rumah, mobil, apartement, aku ingin yang lain" Tolak Endy yang telah memiliki semua kemewahan hanya saja ia masih betah tinggal dirumah Dika.
Aska menatap Endy mulai kesal dengan penolakkan sahabatnya.
__ADS_1
"Lalu kau mau apa?" Tanya Aska nada suaranya mulai meninggi.
Endy lalu memegang pelipisnya dengan telunjuk seolah berfikir,padahal ia telah tahu apa yang ia inginkan, ia hanya ingin membuat Aska penasaran dengan apa yang ingin ia katakan, kemudian dengan santai ia mengungkapkan keinginannya
"Aku ingin tiga kali kencan malam jumat dengan Nayla" Ucap Endy tersenyum tipis menaikkan tiga jarinya.
Aska mengernyitkan dahinya mendengar permintaan konyol Endy.
"Apa ...kau gila ya? Kenapa kau masih ingat dengan kencan malam jumatmu itu" Bentak Aska kesal dengan Agenda lama Endy bersama Nayla.
"Bagaimana kau setuju tidak?" Tanya Endy melipat tangannya didada kemudian tersenyum menyeringai, ia tahu permintaannya ini sulit untuk dikabulkan Aska.
"Tidak...kenapa kau harus minta itu, kenapa kau tidak ambil saja tiga mobilku, tiga rumahku, apa pun tapi jangan agenda konyol malam jumatmu itu" Tolak Aska dengan emosi memberikan tawaran yang lebih mengiurkan dari pada jalan malam jumatnya.
"Ya sudah kalau ngak mau" Ujar Endy santai membuat Aska semakin penasaran.
Aska terdiam sejenak memikirkan tawaran Endy yang tak ingin bergeming.
"baiklah, 3 kali kencan malam jumat, tapi aku ikut" Dengan berat hati ia mengiyakan permintaan Endy. Namun ia masih menenawar, ia ingin ikut kencan.
Endy mencebikkan bibirnya memutar bola mata malas
"Jika kau ikut itu bukan kencan namanya, tapi jalan-jalan." jelas Endy tak bersemangat.
"Baiklah jangan tiga kali, satu kali saja, aku tak akan ikut" Aska kembali menawar.
Endy menarik nafas panjang mendengar penawaran Aska.
"Ia baiklah" setuju Endy.
"Kau tenang saja, aku juga sangat merindukan buleJermanku, aku tak akan merebutnya darimu, anggap saja aku kakak yang sedang merindukan adiknya" Jelas Endy.
"Ia, aku mengerti perasaanmu, lagi pula aku siap bersaing denganmu, sekarang aku bebas mengatakan cintaku pada Nayla." Ucap Aska dengan bangga.
Endy sangat iba melihat keadaan Aska sekarang, sahabatnya ini benar-benar merindukan istrinya dan sahabatnya, Walaupun ia juga merindukan Nayla dan Dika, tapi tak sama seperti Aska yang mengila, ia masih dapat menahan diri, menjalankan kehidupnya yang sepi ia masih bergaul dengan banyak orang berteman sedangkan Aska yang tertutup dan tak pandai bergaul, dia tak punya teman lain selain dirinya, hidupnya hanya berputar untuk dua sahabatnya dan Nayla. Saat Nayla dan dika pergi ia begitu kehilangan,
"Ia, sekarang aku mengaku kalah padamu, mana bisa aku bersaing dengan presdir kaya, aku kalah jauh" Ucap Endy.
Endy tahu perasaan cinta Nayla pada Aska, Saat Nayla pulang nanti ia pasti kembali kesisi Aska, dan hidup bahagia bersama selayaknya suami istri, apa lagi Aska sudah bisa menunjukkan cintanya semua akan akan berakhir indah.
"Baiklah, bersulang untuk kita berdua yang mencintai bule Jerman bawel,berisik itu" Ucap Endy mengangkat gelasnya kemudian diikut Aska
"Ia ya ...kenapa kita berdua bisa jatuh pada bule Jerman cerewet, bawel, jutek" Rancau Aska mulai mabuk.
"Ia menyebalkan sekali bule Jerman itu, apalagi kalau Sedang marah," Keluh Endy juga mulai mabuk.
"Bule Jermanku yang menggemaskan" Ucap Aska, tersenyum simpul memerah.
"Tapi ia semakin cantik jika marah" Rancau Endy.
Akhirnya seperti biasa mereka menghabiskan malam mereka dalam keadaan mabuk, melupakan sejenak kerinduan mareka pada Nayla.
.
.
__ADS_1
.
.Like,coment,vote ya....