
Nayla berbaring dikamar tubuhnya terasa lemas kepalanya terasa pusing sudah dua hari ia tak melihat Aska membuatnya merasa kehilangan sangat merindukan Aska ia terus terniang-niang wajah Aska.
Kakak dimana? Nay membutuhkanmu sekarang, Nay ingin menangis dalam pelukan kakak, kak Aska Nay sakit, Nay butuh perhatian kakak " Gumam Nayla dalam kesendirian ia betul-betul tak punya tempat berbagi sekarang. tak ada lagi perhatian yang ia dapat dari Aska.
Nayla termenung air matanya menetes, ia kembali mual, ia menutup mulutnya lalu berjalan sempoyongan kekamar mandi tubuhnya sudah tak punya tenaga entah sudah berapa kali ia bolak-balik kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.
Nayla kembali dari kamar mandi wajahnya pucat, ia sangat lemah kepalanya terasa berat.
dret.....dret.....getar telpon terdengar ditelingannya dengan cepat Nayla meraih handpone yang berada di nakas.
"Kak Aska " Gumam Nayla wajah senang.
Nayla memegang handphonenya melihat layar yang tertulis disana wajahnya yang tadinya senang berubah kecewa melihat nama yang berada dilayar handphonenya ia menekan ikon hijau.
"Kak Endy" Nayla
"Hallo Nay" Endy
"Kak Endy ada apa?" Tanya Nayla suaranya lemah.
"Kamu baik-baik ajakan, perasaan kakak ngak enak kepikiran kamu terus, kakak khawatir" Endy
" Khawatir" Nayla.
"Ia waktu kita jalan ke taman kamu ngak bisa makan kakak jadi khawatir. Gimana udah bisa makan?" Endy
"Belum kak, semua yang Nay makan, dimuntahin kembali" Nayla
"Kamu udah panggil dokter belum?" Endy
"Belum kak "
"Belum periksa? mana Aska kenapa dia ngak hubungi dokter untuk kamu" Suara Endy geram.
"Kak Aska ngak ada " Nayla
"Kenapa kemana dia?" Endy
"Nay bertengkar dengannya dan dia marah"Nayla
"Jadi dia ngak tahu kamu sakit, tunggu kakak, aku akan kesana aku akan mengantarmu ke dokter" Suara Endy panik.
__ADS_1
Nayla masih ingin bicara dengan Endy tapi lelaki ini langsung memutus teleponnya. Nayla menarik nafas panjang seperti masalah baru akan muncul kali ini karena setiap pertengkaran selalu karena Endy.
Beberapa saat kemudian Nayla menutup matanya, pintu kamar terbuka seorang pelayan masuk mendekati Nayla yang berbaring ditempat tidur.
"Nyonya ada tuan Endy datang menunggu anda dibawah" Ujar pelayan
Nay membuka matanya lalu bangun beranjak dari tempat tidur.
"Baiklah aku akan turun" Jawab Nayla dengan suara lemah.
Nayla meninggalkan kamar langkah kakinya terasa berat, kepalanya juga sangat berat namun ia harus kuat ia tak ingin seisi rumah khawatir jika melihat ia sakit .
Nayla telah berada dihadapan Endy
"Kak Endy" Sapa Nayla tersenyum matanya, mengercap matanya menahan rasa pusing dikepalanya
"Nay muka kamu pucat banget" Endy menarik tangan Nayla duduk disofa.
"Nay ngak apa-apa" Ujar Nayla lirih suaranya lemah tak ada wajah keceriaan yang tampak diwajahnya membuat Endy semakin khawatir
"Kamu sakit Nay, mana bibi May kakak akan menyuruhnya memanggil dokter untukmu?" Endy berdiri.
"Jangan kak, Nay ngak mau seisi rumah jadi panik, kak Aska masih marah sama Nay, Nay ngak enak merepotkan semua orang disini" Cegah Nayla ia menarik tangan Endy menyuruhnya duduk kembali.
"Pokoknya Nayla ngak mau orang rumah ini tahu, Nay mohon " Pinta Nay.
Ia sadar posisinya sekarang, ia telah meminta pisah dengan Aska ia sudah banyak merepotkan orang dirumah ini. Apalagi jika Aska tahu ia sakit Aska pasti memarahi semua pelayan karena menggap mereka tak becus menjaga Nayla dengan baik.
"Kalau begitu kakak antar kedokter, kita harus ke dokter, kakak khawatir kamu udah berhari-hari ngak makan"Endy membujuk Nayla.
"Tapi aku ngak boleh keluar rumah, setelah kejadian jalan-jalan kemarin pasti keamanan diperketat" Jelas Nayla wajahnya tak yakin
Endy bisa lagi membawanya pergi seperti kemarin.
"Nanti kakak izin dengan Aldy sebentar aja Nay cuma satu jam terus kita pulang. Aska ngak bakalan tahu" Ujar Endy dia sangat khawatir dengan jika terjadi sesuat pada Nayla.
Nayla terdiam belum ia mengiyakan Endy lalu menarik tangannya keluar dari rumah.
"Kak Endy jangan nanti kak Aska marah, jika kita keluar rumah lagi" Jelas Nayla tubuh lemahnya ditarik Endy membuatnya tak berdaya tak bisa menolak.
"Nanti kakak yang urus kamu tenang aja"
__ADS_1
Endy terus berjalan menghampiri Aldy yang berdiri didepan gerbang besar dengan banyak anak pengawal berjajar di belakangnya, Endy telah berhadapan dengan Aldy
"Aldy, aku dan Nayla akan keluar sebentar saja" Pinta Endy menatap Aldy dan memegang tangan Nayla.
Nayla berada didekat mereka memusatkan perhatiaan kepada dua orang ini, ia ingin lihat bagaimana cara Endy meminta izin pada Aldy karena saat jalan-jalan ke taman ia kagum dengan kemampuan Endy yang bisa mendapatkan izin dari Aldy dengan mudah.
"Maaf ,Tidak boleh, tuan Aska pasti marah jika kamu membawa nyonya lagi" Ucap Aldy berdiri tegak tatapannya lurus kedepan memperhatikan Endy sikapnya dingin.
"Sebentar saja kami akan kembali satu jam lagi Aska ngak bakalan tahu" Endy membujuk Aldy Nayla masih berdiri memegang kepalanya yang terasa pusing.
"Tidak boleh kemarin saja saat kau jalan ketaman berdua, kau membuat gaji kami dipotong, sekarang jika kau membawanya lagi mungkin ia sudah akan membunuhku" Jelas aldy nada bicaranya berubah menjadi santai pada Endy seperti seorang teman.
Masalah kemarin saja belum selesai, ia kan nyonya?" Menekan kata nyonya pada Nayla lalu tersenyum kecut.
Nayla hanya mengerutkan dahinya.
Endy terdiam lalu" Aldy kita sudah sahabatan dari kecil tolong ya, tolong sahabatmu ini" Mohon Endy merengek seperti anak kecil.
Nayla menutup mulutnya rapat pipinya mengembung ia ingin tertawa keras melihat Endy ternyata cara ini yang ia lakukan untuk mendapatkan izin dari Aldy hanya merengek.
"Endy jangan bawa persahabatan karena persahabatan, gajiku dipotong 60 persen kemarin" Emosi Aldy.
"Aku akan membayarmu dua kali lipat" Tawar Endy.
"Kau fikir aku gila uang, aku disini mengabdi pada Aska" Tolak Aldy ucapan Endy melukai harga dirinya.
"Ayolah sebentar saja kau boleh ikut mengawasi kami, Aska tidak akan tahu satu jam saja" Jelas Endy menaik-naikkan alisnya.
Aldy berfikir dengan keras sebenarnya Aska selalu cemburu dengan Endy, jika Nayla berada disamping Endy, disatu sisi ia tak tega dengan Endy ia juga tahu semua rahasia sahabatnya, Ia juga sangat tahu jika Endy menyukai Nayla dan ia tahu sahabatnya ini hanya ingin selalu memberikan kebahagiaan pada Nayla dan dia hanya lelaki bodoh yang mencintai wanita yang tak pernah bisa menjadi miliknya.
Aldy menarik nafas keras ia telah menemukan solusinya.
"Baiklah kami ikut tapi jangan berusaha kabur" Ujar Aldy kembali melunak untuk sahabatnya.
"Kau memang sahabat yang terbaik" Ujar Endy memeluk Aldy erat.
"Lepaskan aku kau menjatuhkan wibawaku didepan anak buahku" Teriak Aldy berontak
Nayla yang berada diantara mereka hanya terkekeh melihat tingkah kedua.
Endy dan Nayla telah berada di atas motor sport milik Endy. Endy menaikan gas motornya membuat suaranya terdengar bising, ia mengambil ancang-ancang lalu saat pintu gerbang terbuka Endy lalu memacu kendaraanya dengan kencang meninggalkan Aldy dan geng pemuda masa depan yang ingin mengikutinya tadi, sebenarnya Endy memang merencanakan untuk mengelabui Aldy, agar tak ada yang tahu ia kedokter berdua dengan Nayla, karena menurutnya Aska juga tidak akan tahu karena ia hanya kedokter lalu pulang.
__ADS_1
Aldy dan geng pemuda tanpa masa gelagapan dibuatnya, mereka mengikuti Endy dengan mobil namun karena Endy menggunakan motor dengan mudah ia bisa menyalip kendaraan lain yang ada dihadapannya hingga akhirnya mereka kehilangan jejak Endy. Ia tak bisa mengikuti laju kendaraan Endy.