
hai bertemu lagi dengan author Adinda Adi mau ngasih pengumuman novel 3 udah selesai yuk ramaikan ..... yuk simak spoilernya di jamin bikin penasaran .....
"Putraku kecelakaan!" sentak Hasan seketika bangun dari duduknya membuat perhatian tertuju padanya.
Tubuh Arini bergetar hebat, wajah cerianya berubah menjadi tegang dan penuh kecemasan saat mendengar suami yang baru menikahinya seminggu mengalami kecelakan, pikiran buruk merasuk ke dalam hatinya. namun ia mencoba untuk tenang walau matanya sudah mulai berkaca-kaca.
"Ada apa ayah?" tanya Ana saat panggilan itu telah terputus tak kalah cemasnya.
"Andra kecelakaan. Aku harus berangkat sekarang melihat kondisi anak kita."
"Andra, ada apa dengan cucuku?" raung Nenek Nani meneteskan air mata akan keadaan cucu kesayangannya.
'Ibu tidak apa-apa kita berdoa saja, semoga Andra baik-baik saja." Hasan memeluk ibunya yang terlihat sangat sedih.
"Aku harus pergi melihat keadaannya, di kota itu."
"Aku ikut mas."
"Tidak perlu temani ibu dan Arini di sini, nanti aku akan memberi kabar untuk kalian. Berdoa saja semoga tidak terjadi sesuatu padanya." Hasan lalu bersiap untuk pergi.
"Arini, ibu aku pergi dulu, kali jangan khawatir Andra pasti baik-baik saja." pamit Hasan dengak kecemasan.
***
Hasan telah sampai di rumah sakit di mana keberadaan putranya namun ia belum mendengar kabar yang lengkap dari assistennya dan bagaimana kecelakaan itu terjadi.
"Apa yang terjadi?" tanyanya seraya melangkah cepat mengikuti langkah kaki aistennya yang berjalan lebih dulu di hadapannya.
"Mobil yang membawa Pak Andra kecelakaan dan masuk ke dalam jurang, hingga membuat supir dan putra anda meninggal di tempat." jelasnya.
Hasan tidak bisa merasakan kakinya saat mendengar kecelakan tragis itu telah membuat putranya kehilangan nyawanya. "Andra!" raung Hasan tubuhnya bergetar saat langkahnya terhenti di depan kamar mayat. Dunianya seolah berhenti berputar mendengar kepergian tragis putranya.
Dengan langkah perlahan ia mendekat pada jasad yang telah tertutup kain putih itu, derai air mata menetes tiada henti, dengan tangan gemetar, perlahan ia membuka kain penutup itu. Di relung hatinya masih berharap jika jasad itu bukan putranya namun tubuhnya bertambah lemah.
__ADS_1
"Andra!" teriak Hasan saat membuka kain itu melihat wajah putranya yang menutup mata rapat. dengan tubuh gemetar ia dekap tubuh putra yang telah dingin, sungguh ia tidak sanggup baru saja bayangan kebahagian menyelimuti keluargannya kini harus menjadi duka. Putra yang menjadi tumpuhan dan harapannya benar-benar telah pergi meninggalkannya.
"Andra kenapa kau pergi secepat ini nak," raung Hasan mendekap dan menatap wajah putra kesayangannya.
"Kau kesayangan kami, kamu harapan kami satu-satunya."
"Jangan pergi Nak, kamu baru saja menikah, apa yang harus ayah katakan pada Arini? Dia masih muda dan ia harus menyandang status janda karena kepergiaanmu. Bangun nak kamu harus membahagiakannya." Hasan semakin mendekap tubuh putranya ia tidak bisa membayangakan nasib menantunya yang harus menyandang status janda saat baru menikah seminggu.
"Ibumu pasti sangat sedih. Dan nenekmu pasti akan menyusulmu jika tahu kalau sudah tidak ada lagi di dunia ini." Derai air mata ia semakin deras memgalir begitu banyak beban yang akan ia tanggung akan kepergian putranya itu.
Asisten yang dari tadi hanya menatap dari kejauhan mulai mendekat menantap iba pada bosnya. "Sabar pak, ini takdir," ucap assisten yang bernama Rey menarik badan Hasan agar berhenti mendekap putranya.
"Apa yang harus aku lakukan." Hasan meraup wajahnya ia sangat putus asa.
Kilas balik kembali terniang akan pernikahan putranya, ia menikahkan Andra dengan gadis pilihannya. Arini gadis desa berusia 18 tahun yang baru saja selesai menyelesaikan pendidikannya di jenjang Sma. Hasan tahu tentang Arini adalah gadis yang baik karena itu dia memilihnya sejak dulu, memiliki Arini sebagai menantunya ada harapan seluruh keluargannya dan Andra pun tidak menolak di nikahkan dengan tetangga sekaligus teman masa kecilnya itu. Orang tua Arini pun memberikan putri kesayangannya untuk menjadi menjadi menantu Abraham dengan harapan membahagiakan putrinya.
Tepat seminggu yang lalu Arini menjadi menantunya membawa kecerian, raut wajah bahagia tersirat di wajah Andra. Kondisi ibunya yang sakit-sakitan berangsur membaik akan kehadiran Arini yang membawa keceriaan.
Hati Hasan kembali tersayat jika mengingat semuanya namun kebahagiaan itu telah sirna.
Hasan menatap wajah Asistennya."Rey atur pemakaman Andra di kota ini," jelasnya dengan nada dingin.
"Tapi pak, bagaimana dengan keluarga bapak? Apa mereka tidak melihat tubuh pak Andra untuk terakhir kalinya."
"Mereka tidak perlu tahu, rahasiakan kematian Andra, buat ini seolah menjadi kecelakaan biasa dan buat kabar jika putraku hanya menghilang dalam kecelakaan itu dan tubuhnya belum di temukan buat seakan ia masih memiliki harapan untuk kembali." Hasan akan membuat keluarga berharap jika Andra mereka masih hidup dan hidup dalam penantian semu.
"Pak," protes Rey.
"Jika aku tidak berbohong, aku akan mengurus dua pemakaman, pemakaman putraku dan ibuku," ucap Hasan dengan suara bergetar sungguh ia tidak ingin itu terjadi.
"Lakukan semua perintahku, ini demi keluargaku."
"Baiklah Pak saya akan merekayasa kejadian ini, saya akan mengatur semuanya, termaksud polisi dan para saksi."
__ADS_1
***
Rintik hujan mewarnai proses pemakaman pemuda yang baru saja seminggu bergelar suami itu. Hasan berdiri di gundukan makam putranya, air matanya tak henti menetes menyaksikan pemakaman putra kebanggaannya. Kebahagiaan, kecerian telah ikut terbawa dalam peristirahat terakhirnya. Andra adalah harapan keluarga sumber kebahagiaan keluarga. Namun harus pergi dalam keadaan tragis, keluarganya pasti hancur mengetahui kabar ini karena ia lebih baik menutupinya.
Jasad Andra telah tertutup tanah, tubuh Hasan terasa lemah tak bertulang, dengan lelehan air mata kesedihan ia memegang pusara putra kesayangannya, dadanya terasa sesak menyimpan rahasia kematian putranya.
"Andra maafkan Ayah, kamu harus di makamkan tanpa kehadiran ibu, nenekmu dan istri kamu. Ini demi kesehatan nenek kamu dan Ayah membutuhkan Arini untuk menghibur mereka, Mereka sangat menyayangi Arini, ayah janji saat waktu yang tepat ayah akan memberi tahukan mereka." Hasan mengusap pusara yang bertuliskan makam Andra Abraham.
Demi kedamainan keluarganya Hasan telah menyimpam rahasia besar dan menahan Arini untuk tetap menjadi menantu di rumah Abraham. Bagaimana nasib Arini? Dapatkan gadis malang itu mendapatkan kebahagiaannya? atau ia akan terus menunggu suaminya dalam penantian semu. Suami yang telah terkubur untuk selama dan tidak akan pernah lagi kembali padanya.
.
.
.
.
bagaimana cerita selanjutanya kepoin yuk!!! itu baru episode pertama udah cetar menegangkan! mengharu biru. kasian ya Ariini.
Arini yang malang pun terus menunggu kepulangan suami yang ternyata telah tiada, dan kematiannya tertutupi rapat! dan ia terus hidup dalam penantian semu, menuggu suaminya pulang selama bertahun-tahun.
hingga takdir menuntunya untuk menikah yang ke dua kalinya dengan pemuda pilihan mertuanya yang sama sekali tak ia kenal begitu pun pemuda itu tak mengenal Arini.. bahagiakah mereka? dapatkah pemuda itu menerima statusnya yang notabene adalah seorang janda? Siapakah sosok suami ke dua Arini? eng ...ing ...eng...
bagaimana reaksi Arini jika tahu ternyata yang ia jalani adalah kesia-siaan. suaminya telah terkubur.
cusss cekidot
SUAMI KEDUAKU ARTIS IDOLA
ini udah end loh jadi ngak perlu lagi ngerasain nyesaknya menunggu .....
ceritanya ada manis-manisnya gitu .....
__ADS_1
oke jangan lupa mampir aku tunggu ....