
Apertemen Aska
Matahari telah terbit, sinar hangatnya masuk ke dalam melalui celah jendela. Nayla berada didapur menjalani aktivitas paginya seperti biasa menyiapakan sarapan untuk dirinya dan suami. saat ini Nayla dan Aska hidup berdua tanpa pelayan yang tinggal bersama, Nayla tak suka banyak pelayan sama seperti dulu saat ia tinggal dirumah utama, melihat pelayan yang segan berdekatan dengan, ia merasa tak nyaman, mereka hanya akan datang jika Aska membutuhkan untuk mengurus dan membersihkan rumah, Aska tak membiarkan istrinya untuk menggurus semua sendiri, ia tak ingin istri kesayangannya ini lelah. Nayla yang mandiri dan terbiasa mengerjakan semuanya. Selama ini dia selalu memasak sendiri dan hanya itu pekerjaan yang ia boleh lakukan, memasak untuk suami yang mengalami trauma makan dan hanya suka masaknnya.
Nayla berdiri disamping meja makan sambil menunggu Aska untuk sarapan bersama. Aska berjalan perlahan menghampiri Nayla tanpa kata ia melingkarkan tangan dipinggang istrinya kemudian mendaratkan kecupan pipi. membuat Nayla terjengkit kaget.
"Kak Aska bikin Nay kaget aja, Ayo sarapan" ajak Nayla meraih piring.
"Ngak mau kakak cuma mau peluk kamu" Aska masih memeluk mencium pipinya berkali-kali.
"Udah ayo makan dulu"
Aska melepaskan pelukkannya menarik kursi lalu duduk Nayla meraih piring mengisinya dengan makanan. duduk disamping Aska. Aska menggeser kursi lebih dekat hingga lengannya menempel.
"Sayang suap" Pinta Aska bermanja pada istrinya.
"Kakak manja banget sih." Nayla mulai mengambil piring dan menyendok makanan dipring lalu mulai menyuapi suami manjanya biasanya saat Nayla menyuapi Aska ia akan makan bersama, mereka akan makan sepiring berdua, namun entah mengapa Nayla hanya menyuapinya saja.
"Sayang kamu kok ngak makan?" Tanya Aska menatap wajah tak bersemangat istrinya.
"Ngak nafsu makan," ucapnya lemah menyerahkan sendok terisi makanan kehadapan Aska namun suaminya tak membuka mulut.
"Sayang kamu harus makan, kamu mau makan sesuatu,kakak suruh pelayan menyiapkan ya " Tawar Aska khawatir melihat istrinya, seketika ia juga tak ingin makan melihat Nayla tak ingin makan.
"Terus mau apa sayang" Aska mengusap puncak kepala Nayla dengan lembut.
"Nay mau makan dirumah, mau makan masakan kak Aulia, anterin aku ya, kita ke rumah kak Dika, kita makan disana" Rengek Nayla.
" Lagi" Aska mengernyitkan dahinya. semenjak Nayla memiliki ipar ia selalu kerumah Dika untuk menumpang makan dan berbincang.
"Jangan makan disana terus sayang malu sama ipar kamu ngerepotin" jelas Aska.
"Nay ngak bisa kalau bukan masakan kak Aulia antarin Nay ya," pinta Nayla.
"Sayang makan ditempat lain aja, ditempat yang lebih bagus"
"Ngak mau" Nayla mulai memasang wajah cemburut.
Aska yang melihat wajahnya mulai tak tega dan akhirnya ia mengiyakan permintaan istrinya, ia sangat menyayangi, Nayla apa pun permintaannya akan ia kubulkan.
"Ia baik sayang" Aska mencubit pipi istrinya.
Nayla menarik kedua sudut bibirnya tersenyum menatap Aska ia sangat beruntung memiliki Aska sebagai suaminya yang selalu memanjakan dan menuruti semua keinginanya.
"Ajak kak Endy juga ya"
"Ngak perlu sayang kita berdua aja, Endy pasti lagi tidur.
"Please ajak kak Endy juga biar rame" pinta Nayla.
"Baiklah" Pasrah menuruti Nayla dan kali ini Endy pun ikut terbawa dalam keinginan Nayla.
Aska menarik nafas panjang memikirkan mengajak Endy jalan dipagi hari itu berarti dia harus siap mendengar ocehan sahabatnya itu, karena lelaki itu pasti masih mengantuk namun ia tak berdaya untuk menolak permintaan istrinya.
🌺🌺🌺
Nayla, Endy dan Aska kini berada didalam mobil menuju rumah Dika, Endy menarik nafas dalam memasang wajah tak bersemangat pasangan ini sangat menyusahkannya, sudah berhari-hari ia ikut berasama Nayla dan Aska hanya untuk menemani bule Jerman ini makan dirumah Dika setelah itu pulang.
__ADS_1
"Kalian kenapa sih, ini itu akhir pekan waktunya santai" Keluh Endy yang duduk didepan menyenderkan kepalanya dikaca mobil, matanya tertutup sambil mengoceh.
"Entahlah, Nayla senang banget punya kakak ipar, dia mau menemui kakak iparnya lagi" Jelas Aska juga memasang wajah malas harusnya akhir pekan ia pakai untuk bermesraan berdua dengan istrinya, dan kali ini Aska memegang stir kemudi menggantikkan Endy yang yang mengantuk.
"Kak Endy, sebentar aja kok habis makan kita pulang"
" Nay kamu itu merusak semangat pagi kakak, harusnya aku tidur nyaman, aku sangat menantuk" Oceh Endy.
Aska sudah menebak sahabatnya ini pasti mengoceh lagi dimobil karena permintaan Nayla.
Beberapa saat kemudian mobil menepi mereka telah sampai didepan rumah Dika. Nayla turun dari mobil dengan langkah cepat masuk kedalam rumah .
Tok...tok...tok....Nayla mengetuk pintu dengan wajah ceria dibelakangnya telah berdiri dua orang lelaki tampan memasang wajah malas tertunduk tak berdaya dengan permintaan bule Jerman.
Krek..pintu terbuka.
"Kalian lagi," ucap Dika memutar bola mata jengah ia melipat tangan didada,ia tahu setiap datang selalu menumpang makan dirumah menikmati masakan istrinya.
"Kak Dika, kak Aulia mana?" tanya Nayla basa-basi tersenyum dengan niat terselubung.
"Kerumah bapaknya" Jelas Dika ia sudah tahu maksud dan tujuan adiknya ini. Hari ini akhir pekan Aulia akan pulang kerumah untuk mengurus orang tua dan adiknya.
"Oh...tapi Kak Lia udah masakkan, "tanya Nayla lalu menerobos masuk kedalam rumah menabrak tubuh kakaknya. ia sudah tak sabar menikmati masakan kakak iparnya
Merekapun masuk melangkahkan kakinya menuju dapur seperti biasanya mereka hanya akan duduk dimeja makan menemani Nayla menyantap masakan kakak iparnya. Dika melihat tingkah adiknya yang selalu bermanja dengan kakak iparnya, ia merasa tak enak pada Aulia setiap hari ia harus memasak khusus pesanan Nayla dan Auliapun selalu menuruti
permintaan adik iparnya, ia memperhatikan Nayla seperti adiknya sendiri bahkan perhatian Aulia mengalahkan Dika kakak kandungnya.
"Nay kamu ngapain sih makan disini mulu, ditempat kamu kan banyak pelayan" Protes Dika ketus melihat adiknya yang selalu merepotkan Aulia sebenarnya Dika kasihan melihat anak pak Samad itu bekerja keras mengurusi semua. Dini hari sudah bangun menyambutnya dari bekerja, menyiapakan dan melayani semua kebutuhannya, lalu pergi kekantor, pulang kerja kerumah bapaknya mengurus orang tua dan adiknya, Dika merasa tak pantas menyusahkan Aulia ia merasa hanya menjadikan beban istrinya ditambah lagi adiknya yang selalu meminta memasakkan sesuatu, membuat bebannya semakin bertambah, apalagi status mereka tak seperti pasangan rumah tangga lainnya, ia tak bisa memperlakukan Aulia selama ia tak menyentuhnya sebagai istri ia merasa Aulia hanya seperti asisten rumah tangga jika ia mengerjakan semuanya.
Aska hanya diam sibuk dengan ponselnya dan Endy tertuduk menempelkan wajahnya tertidur, ia sangat mengantuk dua sahabat ini tak kali ini mereka tidak memperdulikan, jika kakak adik ini akan berdebat semangat pagi mereka telah rusak hingga membuat mereka malas meladeni pertengkaran itu
Dika duduk berhadapan dengan Adiknya disebelahnya ada Endy yang tertidur.
"Nay tolong ngertiin dong, kakak ipar kamu itu, lelah mengurus rumah, pergi kantor,urus bapak dan adiknya, sekarang kamu lagi minta dimasakin macam-macam," keluh Dika mulai kesal adiknya selalu merepotkan dan bermanja dengan istri yang tidak dicintainya.Ia rasanya malu menjadi beban pada Aulia
"Ia kenapa sih, aku kan cuma numpang makan, masa ngak boleh, kak Aulia aja ngak masalah kok, kakak yang sewot sih banget sih" Jelas Nayla mencebikan bibirnya, mulai meninggikan suaranya. tak suka dengan sikap berlebihan kakaknya.
"Kamu ini ngeropitin Nay datang cuma bikin cucian piring bertumpuk" Jelas Dika mau tak kalah kali ini mereka kembali berdebat.
"Kakak ini ngapain sih, ngomel gini, kaya emak-emak tahu ngak" Nayla menghentikan makannya mulai meladeni kakaknya.
Aska dan Endy hanya diam sibuk dengan kegiatan masing-masing mereka telah biasa dengan kelakuan kakak adik ini.mereka malah akan heran jika kakak adik ini tidak bertengkar jika bertemu, hanya karena masalah kecil mungkin inilah cara mereka menunjukan kasih sayangnya.
"Kakak ini bukannya melarang kamu makan, tapi kalau makan itu selesai makan, cuci piringnya jangan SMP aja kamu" Bentak Dika memukul pelan meja berdecak kesal.
Endy yang terganggu dengan pertengkaran mereka mulai ikut emosi.
Prak.... Endy menggeprak meja dengan keras mendongakkan wajah menatap semua yang ada didekatnya. ia juga mulai kesal tidurnya terganggu oleh kakak adik yang berdebat ini. Semua kompak mengarahkan pandangan pada Endy.
"Kali ini bisa diam ngak sih kalian menggangu tidurku aku sangat mengantuk" Endy meninggikan suaranya. lalu kembali menyembunyikan wajahnya ditangan yang terlipat dimeja. tak lama mendongak lagi
"Dika SMP apaan sih?" Tanya Endy ketus menatap dika yang duduk disampingya ia sangat mengantuk dan memasang wajah datar sudah akan tidur masih teringat bertanya.
"SMP,sampai, makan,pulang, ngak tahu cuci piring" sindir Dika mengarahkan ekor matanya pada Nayla.
"Ooo" Endy mengangguk kembali membenamkan wajahnya. ia kembali tidur.setelah mendengar jawaban Dika.
__ADS_1
"Ya ampun kakak ini tega banget sih sama Nay, aku kan adik kakak" ucap Nayla tertunduk sedih ia tak menyangka kakaknya akan bicara seperti itu.
"Dan kau Aska, beritahu istrimu jangan menyusahkan kakak iparnya terus dengan meminta masakan ini dan itu" hardik Dika sekarang ia menyerang suami adiknya.
Aska menarik nafas dalam melihat Dika yang menurutnya berlebihan menghadapi adiknya. dengan datar ia menanggapi Dika
"Mau apa lagi. kau tahu kan aku ngak akan bisa menolak permintaanya, kau tahukan aku sangat menyayangi istriku" Aska membela istrinya.
"Kau...kau fikir hanya kau yang menyayangi istrimu aku juga sayang istriku, aku ngak mau melihat dia lelah" Jelas Dika ketus tak sadar mengucapkan sesuatu yang keluar dari lubuk hatinya.
Endy yang tertunduk dimeja dengan cepat mendongak, Aska dan Nayla pun kompak menatap Dika lalu tersenyum memainkan alisnya mereka tak meyangka kata yang keluar dari mulut Dika yang mengakui menyayangi istrinya. karena setahu mereka Dika masih menyimpan Caren dihatinya. Mereka mulai menyimpulkan sifat berlebihan Dika pada Nayla adalah bukti perhatian Dika yan tak mau istrinya bekerja keras dan ia mulai mengakui Aulia sebagai istri.
"Cie...cie...Yang sayang istri" Celetuk Endy tersenyum lalu kembali tertunduk menempelkan kepalanya dimeja.
"Kak Dika pantas aja marah-marah istrinya direpotin, udah sayang sama kak Aulia ya" Goda Nayla tersenyum puas melihat wajah Dika yang memerah. kali ini keadaan berbalik sekarang Nayla yang akan menyerang kakaknya.
"Bukan Begitu aku hanya kasian padanya ia mengurus semuanya sendiri" Elak Dika terbata melihat Aska dan Nayla terus menatapnya seperti terintimidasi.
"Kakak udah sayang sama kak Lia tuh, buktinya dulu sama aku,Nay ngak di gituin,kakak ngak pernah khawatir, Nay cape atau ngak, sekarang aja punya istri, takut banget istrinya lelah" Pancing Nayla terus tersenyum menikmati wajah malu-malu Dika.Nayla teringat bagaimana ia juga bekerja keras mengurus 3 lelaki yang suka mabuk-mabukkan namun kakaknya hanya diam menggangap itu latihan untuk mendidiknya menjadi wanita tangguh dan mandiri.
"Bukan begitu, kamu kan punya banyak pelayan.....ahhh sudahlah" Ucapnya salah tingkah.
Dika menyerah ia kalah ditangan bule jerman memang tak ada yang bisa mengajak Nayla berdebat. Tak ada yang bisa mengalahkan Nayla jika hanya berdebat dengannya. buktinya dua lelaki ini 3 lelaki ini takluk ditangannya.
"Pokoknya jangan menyusahkan anak pak Samad lagi, Aska beritahu bule Jerman itu" Dika kembali para Aska menyuruhnya memperingatkan adiknya padahal ia saja takluk ditangan Nayla apa lagi Aska yang yang menjadi budak cinta istrinya.
"Sudah aku bilang aku tak bisa menolak permintaanya" Ucap Aska meletakkan ponsel yang dimainkannya dari tadi, ia mulai kesal entah mengapa hati mereka semua panas dan hanya ingin berdebat.emosinya juga memburuk.
"Tapi dia merepotkan" alibi Dika menatap tajam pada Aska suaranya mulai meninggi.
Aska melipat tangannya didada. ia siap menghadapi kakak iparnya sekarang gilirannya maju digaris depan membela istrinya.
"Kau lupa siapa istrimu itu" Tanya Aska mulai serius. ia menatap tajam pada Sahabatnya.
Dika hanya mengernyitkan dahiya. tak mengerti arah ucapan Aska.
"Kau lupa siapa istrimu itu, dia bawahan di kantorku, apa kau ingin pekerjaan istrimu ku alihkan jadi asisiten istriku, apa perlu dia hanya kusuruh memasak untuk istriku dikantor"Ancam Aska mendengus lalu tersenyum remeh.
Dika membulatkan matanya terkejut mendengar ucapan Aska yang memberi ancaman mematikan, Aulia adalah bawahan Aska di Dirgantara mitra dan posisi Aulia hanya staf biasa dan baru saja diterima dikantor terbaik itu, karena itulah Aulia tak mengenali Aska sebagai presdir. Dengan kekuasaan yang dimiliki ia bisa melakukan apa pun pada Aulia.
"Kau mengerikan sampai menggunakan jabatan sebagain persedir hanya untuk istrimu cerewetmu itu, yang merepotkan" Hardik Dika padahal yang ia maksud itu adalah adiknya sendiri.
"Apa pun aku lakukan untuk istriku, jangankah makan disini, dia minta makan diseluruh dunia akan ku kabulkan,bahkan dia mau makan dijerman hari ini pun aku akan mengantarnya" ucap Aska tegas kelembutannya hanya untuk istrinya, Sekarang ia menjelma menjadi presdir yang kejam.Nayla tersenyum mendengar ucapan suaminya yang begitu mencintai dengan sangat besar, ia sangat beruntung memiliki suami seperti Aska yang akan melakukan apa pun untuknya.
"Aku akan melakukan apa pun untuk istriku dan kau apa kau juga akan melakukan hal yang sama sepertiku, melakukan apa pun demi istrimu" Ucap Aska memincingkan matanya.
Aska memancing Dika agar agar ia mengungkapkan kembali perasaannya sama seperti tadi.Namun Dika tak terpancing lagi ia tahu Aska ingin menjebaknya.
Aska dan Dika saling melemparkan tatapan tajam bagaikan sambaran kilat. Dua sahabat ini berdebat masalah istri lagi. baru kali ini Dika dan Aska berdebat sengit hanya masalah istri.
Endy lagi-lagi mendongakkan kepala ia mendegar perdebatan dua sahabatnya ini, ia melihat dua lelaki ini saling tatap. ia pun gemas melihatnya.
"Cie..cie....yang kelahi masalah istri, sayang istri nih" Goda Endy lalu kembali tertunduk.
Dika dan Aska melengos kompak saling membuan pandangannya.
Like, come, vote. ya.
__ADS_1