
Aska, Dika dan Endy berada disamping Nayla. Bercerita sesekali berdebat sama seperti yang mereka lakukan dulu ketika mereka berkumpul, suara bising mereka mulai membuat Nayla bereaksi Aska dan Endy yang menggenggam tangan Nayla mulai merasakan ada pergerakan dari Nayla, mereka bertiga kompak berdiri.
"Nay" Panggil mereka kompak, tersenyum tipis raut wajah bahagia tersirat diwajah mereka.
Nayla mulai membuka matanya perlahan, ia mengercap matanya dipandangan pertamanya dia melihat tiga laki-laki dihadapannya dengan senyum lembut.
"Nay kamu sudah sadar" Tanya Dika wajah sedihnya seketika hilang, melihat adik tersayangnya bangun rasanya ia sangat lega batu yang mengganjal dihatinya telah hilang .
Nayla hanya diam belum mengerti semua ingatannya belum pulih sepenuhnya matanya terus mengitari keadaan sekelilingnya.
Aska, Dika dan Endy telah siap menghadapi tangisan Nayla, mereka tahu saat Nayla mulai menginggat semuanya gadis ini pasti sangat terpukul, dia telah menghadapi serangan dan melihat Aldy meregang nyawa dihadapannya ditambah ia juga kehilangan anaknya benar-benar kenyataan begitu pahit.
"Nay kamu membuat kakak takut" Ucap Aska mencium punggung tangan Nayla lembut ia sangat sangat senang melihat Nayla membuka matanya.
"Mana yang sakit" Tanya Endy namun Nayla hanya diam membisu, ia masih memasang wajah datar lama ia terdiam bola matanya berputar seolah sedang mencerna sesuatu.
"Kak Aldy " Ucap Nayla lirih, ia mulai teringat kejadian diruang bawah tanah ketika ia dan Aldy senang menunggu maut datang menjemput
"Kak Aldy? mana kak aldy?" Tanya Nayla pelan berbaring mengarahkan pandangannya kesekitar, namun tak ada jawaban dari tiga lelaki itu mereka membisu, mata Nayla mulai membentuk anak sungai.
"Kak Aldy, udah melindungi Nay, mana dia?" Tanya Nayla lemah mencoba bangun untuk ia pun duduk dibantu oleh Dika.
"Nayla tenang sayang" Dika duduk diranjang berhadapan dengan nayla yang terduduk Dika memeluk adiknya erat.
"Dia udah tenang nay, dia tidak tertolong" Ucap Endy pelan memasang wajah sedih ekor matanya basah.
Nayla tersentak, diam sejenak lalu menangis histeris
__ADS_1
"Aahhhgggg"
"Kak Aldy ....Kak Aldy jangan tinggalkan aku, Nay ikut, bawa aku bersamamu" Ratap Nayla menyayat hati, ia sangat hancur Aldy tidak dapat diselamatkan, apalagi Aldy seperti itu karena mengorbankan nyawa untuknya, itu merupakan pukulan baginya.
"Nay tenang " Bujuk Aska mengusap rambut Nayla yang berada dalam pelukkan Dika.
"Dia mengorbankan nyawanya demi aku, dia seperti itu karena aku, kenapa kalian tidak menolongnya, kenapa aku bisa hidup sedangkan dia tidak" Bentak Nayla dalam pelukan Dika
"Kalian semua jahat .......Kalian tidak datang menolongnya" Bentak Nayla ia mengingat kala itu Aldy selalu mengatakan bahwa mereka akan datang untuknya namun hingga Aldy dan Nayla tekulai mereka tidak datang juga.
"Kalian tahu ia selalu menunggu kalian datang, namun kalian tidak datang" Ucap Nayla bajunya telah basah karena air mata.
"Maafkan kami Nay kami terlambat " Ujar Aska ekor matanya basah menyesali terlambatannya.
Mereka terlambat datang karena tak tahu dimana keberadaan mereka, seandainya dari awal ia tahu Nayla dan Aldy berada diruang bawah tanah, kejadiaan ini pasti tidak akan terjadi Aldy pasti masih hidup.
"Nay jangan bilang seperti itu sayang " Ucap Dika memenangkan adiknya.
Nayla kemudian terdiam Dika melepaskan pelukkkannya dan kembali menggingat sesuatu, Nayla kemudian memegang perutnya.
"Anakku " Tanya Nayla memegang perutnya.
Aska duduk dipinggir ranjang rumah sakit kali ini gilarannya menenangkan Nayla.
"Nay anak kita tidak bisa dipertahankannya" Aska memeluk tubuh Nayla erat mencegah istrinya berontak.
"Aku kehilangan anakku" Ucap Nayla hatinya kembali hancur tubuhnya lemas bagai tak bertulang
__ADS_1
"Anakku..Anakku..Hiks..Hiks.."
"Ibu kenapa kau tak membawaku pergi ...Ini yang ibu bilang bahagia...Aku ingin pergi bersamamu semuanya begitu sakit" Ratap Nayla yang hidupnya selalu dalam kesedihan saat kecil ia telah berpisah dengan orang tuanya, mengurus kakaknya, menikah diusia muda saat gadis seusianya mengejar cita citanya, ia menikah tanpa dasar cinta saat mulai menerima pernikahannya, ia melihat semua serangan didepan matanya, melihat orang yang rela berkorban nyawa untuknya meninggal karena dirinya, bahkan dia kehilangan anak, di usia masih sangat muda untuk merasakan beratnya beban hidup.
"Kenapa kalian menyelamatakanku, kenapa kalian tidak membunuhku saja, kenapa kalian membuat hidupku hancur " Ucap Nayla meronta dalam pelukan Aska memukul dada Aska.
"Tenang sayang, kita mulai lagi dari awal , Nay....Aku mencintaimu....Sangat mencintaimu, aku akan membahagiakanmu" Ujar Aska meneteskan air mata ia mengungkapkan cintanya yang ia tahan selama bertahun-tahun pada Nayla, ia juga sakit melihat Nayla seperti itu.
Nayla terdiam dalam pelukan Aska ungkapan cinta Aska sedikit membuatnya tenang ,memang alasan inilah membuatnya tetap hidup.
"Hidupku sudah hancur tak ada yang tersisa hiks....hiks...." Ratap Nayla menyembunyikan wajanya didada Aska memeluk suaminya.
"Kenapa semua yang aku inginkan selalu hanya meleleh menjadi air mata, kenapa saat aku menerima keadaan dan aku bermimpi menjadi ibu, aku kehilangan anakku lagi" Ucap Nayla lirih mengungkap bahwa dunia tak adil padanya takdirnya begitu kejam.
"Nay sudah sayang kali ini kita akan bahagia, sudah tak ada lagi kesedihan untukmu, semua telah berakhir jalanmu masih panjang masih banyak mimpi yang bisa kamu kejar" Ucap Dika memenangkan hati adiknya memeberikan semangat agar adikknya kuat menjalani semua ini.
"Kakak ......Anakku.....Aku hanya ingin menjadi ibu .....aku ingin anakku " Ratap Nayla dalam pelukan Aska air matanya terus mengalir hingga akhinya ia tak sadarkan diri.
"Nay.....Nay....Bangun sayang" Aska melepaskan pelukannya mengoyang-goyangkan tubuh Nayla. Dia sangat terpukul wajar saja ia tak terima kenyataan itu ia gagal menjadi ibu parahnya ia melihat Aldy meregang nyawa hanya untuk melindunguinya.
.
.
.
huy reders jangan lupa ,like ,coment dan vote .
__ADS_1