
Matahari telah naik, hari ini Nayla tak ikut ke kantor bersama Aska ia lebih memilih untuk menghabiskan waktu menemani kakaknya dan merawat Endy yang masih sakit. Nayla sedang berada di dapur berkutat dengan peralatan masaknya saat ini dia sedang menyiapkan makan siang.
Dika dan Endy tidur bersama diruang tengah setelah semalam berdebat memperebutkan perhatian Nayla hingga akhirnya tertidur disofa.
Tok.....Tok...Tok...
Suara ketukan pintu terdengar samar-samar diteliga. Mereka kompak menggeliat merasa terganggu mendengar suara itu.
Tok....Tok....Tok....
Suara ketukan pintu semakin keras, terus terdengar hingga mengganggu tidur mereka yang baru saja terlelap. sedangkan Nayla yang berada didapur tak mendengar suara ketukan pintu itu karena posisinya yang berada jauh didalam.
"Siapa yang datang menggangu saja," Gerutu Dika lalu bangun beranjak dari sofa melangkahkan kakinya keluar hendak melihat siapa yang sedang mengganggu tidur nyenyaknya. Ia berjalan sempoyongan ke arah pintu dengan mata masih tertutup.
krek...pintu terbuka dengan wajah bangun tidur menampilan yang acak-acakan ia berdiri didepan pintu, ia membuka matanya perlahan dilihatnya gadis cantik terdiam mematung memegang rantang makanan.
"Ada apa? cari siapa?" Sapa Dika dengan suara khas bangun tidur, memasang wajah datar dan tak bersemangat pada gadis yang ada didepannya.
"Hei siapa, cari siapa?" Dika mulai fokus pada gadis yang mematung dihadapannya hanya diam menatapnya tak berkedip sedikit pun.
"Hallo, cari siapa" Dika melambai-lambaikan tangannya didepan gadis itu agar lamunannya buyar namun yang dihadapannya masih diam, Dika mulai merasa aneh ia menarik napas panjang mulai frustasi lalu berfikir mungkin gadis ini mencari Endy karena hanya Endy yang sering didatangi para gadis dan mungkin dia ini juga salah satu mereka itu fikirnya
"Endy....Endy....Ada cewek yang nyari kamu" panggil Dika terus memperhatikan gadis aneh yang ada didepanya.
Endy yang berbaring disofa menggeliatkan tubuhnya perlahan ketika mendengar suara teriakkan Dika yang memanggilnya dari depan pintu.
"Ia ...."Saut Endy kemudian keluar menemui Dika dengan langkah tak bersemangat ia masih merasa pusing.
"Endy dia temanmu?" Tanya Dika kini kedua lelaki itu berhadapan dengan gadis aneh yang memamatung didepan pintu.
"Bukan aku tak mengenalinya" Sangkal Endy.
"Endy dia bisu dan tuli dari tadi aku bertanya padanya dia hanya diam saja," Bisik Dika yang berdiri berjajar dengan Endy.
"Sayang sekali gadis secantik dia bisu dan tuli, padahal cantik banget" Bisik Endy
"Kau urus dia" Dika pergi meninggalkan Endy dan gadis yang menurutnya aneh ia menyerah lalu duduk disofa ruang tamu memperhatikkan dua orang yang berdiri berhadapan.
"Hei gadis cantik? Ada apa, cari siapa?" Tanya Endy bicara pelan dengan senyum menawannya. yang selalu dia pakai untuk menjerat kaum hawa. lalu mengerakan tangan dan tubuhnya memberi isyarat dengan heboh seperti bicara pada orang yang tak bisa bicara dan mendengar.
"Nayla" Ucap gadis itu singkat.
"Opppsss" Endy tersentak menutup mulutnya sangat terkejut mendengar gadis ini bisa bicara. Dika dan Endy bersitatap dari jauh ternyata gadis itu tak bisu dan tuli. Dika tercengang ternyata gadis itu bisa bicara dengan susah payah ia bertanya dari tadi dan gadis ini hanya diam.
"Maaf ya... temanku bilang kamu ngak bisa bicara" Endy melototkan matanya pada Dika.
"Kamu cari Nayla?"Tanya Endy.
"Ia" Mengangguk perlahan.
"Nay, ada yang cari kamu" Dika memanggil adiknya yang berada didapur untuk melihat gadis aneh yang telah mencarinya
"Masuklah" Tawar Endy Namun gadis itu masih berdiri termenung didepan pintu mengintip melihat kearah Dika.
Nayla yang mendengar Dika berteriak memanggilnya keluar meninggalkan dapur lalu melangkahkan kakinya ke depan pintu ia telah melihat Endy berdiri ia menggeser badan Endy melihat siapa yang membuat dua lelaki ini berkumpul.
Nayla lalu memeluk wanita yang berdiri didepan pintu dengan bahagia.
"Kak Aulia, kakak kemari..."Sapa Nayla dengan ceria sangat senang melihat gadis itu menginjakkan kakinya lagi ke rumahnya setelah hampir 5 tahun berlalu.
"Ia Nay, kakak cuma mau bawain makanan buat kamu" Aulia memperlihatkan rantang yang ia bawa.
"Makanan" Nayla mengembangkan senyuman.
Endy dan Dika duduk disofa memang wajah heran melihat dua gadis itu Nayla yang begitu bahagia dan gadis itu yang ternyata normal jika berbicara dengan Nayla. Mereka bertanya-tanya bagaimana bisa Nayla punya teman.
__ADS_1
"Ayo masuk kak" Nayla menarik tangan Aulia masuk kedalam rumah, melalui Dika dan Endy yang duduk menatap mereka aneh, Aulia tertunduk malu melewati dua lelaki itu.
"Nay kakak harus pulang" Tolak Aulia yang telah berada didalam rumah.
Nayla terus memaksa Aulia masuk kedalam rumahnya membawanya kedalam dapur untuk mengobrol.
"Duduk kak" Nayla mempersilahkan Aulia duduk sedangkan ia meraih piring untuk memindahkan isi rantang yang di bawa Aulia.
"Wah kelihatannya enak banget, kakakkan jago masak" Puji Nayla air liurnya mau menetes melihat makanan lezat yang ada didepannya.
"Bisa aja kamu Nay,"
"Kakak lagi masak banyak, ngerayain kakak diterima kerja di perusahan terbaik itu" Jelas Aulia tersenyum simpul.
"Benarkah, selamat ya kakak." Nayla ikut bahagia mendengar Aulia diterima diperusahaan suaminya padahal ialah yang menyuruh Aska untuk mengatur agar Aulia diterima kerja
Demi Aulia ia mengancam Aska dan mengeluarkan jurusnya tak akan tidur bersama jika tak menerima Aulia. Ia senang nanti saat dikantor setidaknya ia punya Aulia yang bisa menemaninya jika ia bosan menunggu suaminya bekerja.
"Nay ngak ada yang berubah dari rumah kamu" Aulia memperhatikan seluruh isi ruangan.
" Ia kakak, Karena ini kenang-kenangan dari orang tua kami jadi ngak boleh berubah sedikit pun" Jelas Nayla duduk disamping Aulia.
"Kakak kapan-kapan kita jalan-jalan yuk, kakak harus sering main kesini udah ngak ada lagi yang berkumpul dirumah ini, ngak ada yang larang kakak"Jelas Nayla.
"Boleh...kalau kakak ngak sibuk ngurus rumah, kakak akan datang kemari, membawa hasil masakan kakak lalu kita janjian kepasar,hahahaa" Kenang Aulia.
Nayla dan Aulia mengobrol seru didalam dapur mengenang masa-masa indah mereka dulu sebelum geng pemuda tanpa masa depan memisahkan pertemanannya. Berjam-jam Aulia mengobrol dan tertawa bersama hingga suara mereka terdengar keluar. Dika dan Endy yang mendengar terkejut ternyata gadis itu sangat riang, mereka telah salah sangkah. Mereka bercanda sambil membantu pekerjaan Nayla memasak, mencuci piring membersihkan dapur hingga akhirnya ia pamit untuk pulang.
Nayla mengantar Aulia hingga didepan pintu memperhatikan temannya pergi meninggalkan rumah. Setelah tak melihat punggung temannya lagi ia pun masuk menutup pintu. Nayla berjalan masuk kedalam rumah ia melihat ruang tengah masih ada Dika dan Endy duduk menghabiskan waktunya bermalas-malasan, ia pun menghampiri kedua lelaki itu lalu ikut bergabung duduk disampingnya kini posisis Dika berada di tengah.
"Siapa Nay" Tanya Endy penasaran. menatap Nayla yang terhalang tubuh Dika
" Teman "Jawabnya singkat
"Sejak kapan kamu punya teman" Endy tersenyum ia kenal bule Jerman ini ngak punya teman. Nayla hanya hidup dikelilingi mereka bertiga.
"Maksud kakak ngak beres gimana," Tanya Nayla agak kesal kakaknya mengatakan temannya tidak baik.
"Nay dulu teman kamu Luna dan Hana gadis berisik, abg labil yang penuh percaya diri, ini dapat teman lagi aneh seperti orang gaggu"Ucap Dika yang masih merasa kesal dengan Aulia yang ditanya selalu diam saja.
"Masa kakak lupa dia itu yang tinggal di ujung jalan ini, masih satu tempat dengan kita,dia dulu sering kemari anak pak Samad" Jelas Nayla meningatkan.
"Pak Samad" Dika mulai membuka kenangan pahit bersama pak Samad yang memalukkan.
"Pak samad yang dirumahnya dekat pohon beringin yang ada kuntilanaknya" Timpal Endy teringat dulu jika ia kencan malam jumat bersama, Nayla sangat takut jika pulang melalui depan rumah itu.
"Ia kak Endy, yang bapaknya pernah ngejar kak Dika pakai samurai hahaha" Tawa Nayla menggelegar menceritakkan masa lau kelam Dika yang menakutkan.
Dika membulatkan matanya mendengar adiknya membongkar rahasia lama yang begitu memalukan baginya.
"Apa Nay kakak kamu pernah dikejar pak Samad"Endy berdiri kemudian duduk bersila dibawah dihadapan Nayla dan Dika sangat penasaran mendengar cerita dari Nayla. Sedangkam Dika sudah memasang wajah tak bersahabat.
"Nay..." Dika melototkan matanya pada Nayla mengancam agar tak membongkar rahasia konyolnya.
"Ia kak Endy mau dengar ceritanya" seperti biasa jika Nayla dan Endy sudah bercerita semua menjadi seru dan heboh.
"Ia cerita dong Nay kakak penasaran nih," Endy antusias mendengar cerita Nayla.
"Nay jangan," tolak Dika.
"Ihhh kak Dika biar seru...." Nayla tersenyum " Kak Endy ....kak Dika itu dikejar samurai pak Samad gara-gara nyolong mangganya...hahahaha" jelas Nayla tertawa melihat wajah Dika yang telah merah karena malu.
"Nay"
"Biar aja ...ada hiburan"
__ADS_1
"Hahahaha.....ih Dika kamu nyolong mangga ,emang kamu ngak bisa beli, kamu kan juga punya pohon mangga" Endy tertawa tak menyangka ternyata Dika bisa juga bersikap konyol.
"Aku ngak nyuri...bukan gitu ceritanya." Sangkal Dika berwajah masam, Nayla telah membuka kartunya. ia pun menceritakkan kejadia sebenarnya.
"Dulu waktu kita belum bersama, aku bermain dengan anak-anak disini, dan dulu tolak ukur kehebatan, kejantan anak laki-laki sini itu diukur dari kejaran samurai pak Samad" Jelas Dika.
"Emang kenapa,"
"Biasa Anak laki-laki mau dibilang hebat, jago dan anak laki-laki yang sudah merasakan Kejaran samurai pak Samad itu adalah anak yang hebat, Kamu mau kelahi melawan ratusan anak-anak lain, atau menang tawuran kamu masih belum diakui jago kalau kamu belum ngerasai kejaran samurai pak Samad" Jelas Dika
"Jadi kau tertantang mau dibilang jagoan, jadi kau melakukannya"
"Tentu saja dari pada dibilang cupu, Akhirnya aku tertantang kamu tahukan aku ngak bisa ditantang" Ucap Dika yang juga nekat menerima tantangan taruhan dari Endy padahal ia tak mungkin menang.
"Lalu kamu mencuri mangga itu, mangga pak Samad"
"Ngak nyuri ... itu juga aku ngak ngerti, saat itu aku disuruh teman untuk memanjat pohon pak Samad lalu aku pergi. Saat mau manjat anak gadis pak Samad yang aneh tadi, keluar memberikan aku kantung plastik besar yang berisi mangga, aneh kan padahal semua orang dikejar jika ambil mangganya, aku malah dibungkusin sama anak gadisnya dengan suka rela" Jelas Dika heran dengan sikap Anak pak Samad dan semenjak itu dia mengganggap gadis itu aneh.
"Lalu apa yang terjadi"
"Saat aku ambil kantung itu, bapaknya keluar bawa samurai aku pun lari kencang ketakutan, di kejarlah ....namun saat aku berbalik pak Samad berhenti mengejarku anak aneh itu menahan pak Samad untuk berhenti" Jelas Dika mengingat memori lamanya.
"Ha " Endy dan Nayla merasa aneh dengan cerita Dika. sebenarnya Nayla juga ngak begitu tahu kejadian Dika, yang ia dengar kakaknya dikejar pak Samad karena nyolong mangga.
"Dia itu gadis yang aneh, dia tuh ngak pernah bicara padaku, kalau aku ajak bicara dia itu melongo, terdiam seperti orang kesambet terus melihat wajahku, seperti tadi kamu liat kan" Jelas Dika mengenal teman Nayla itu aneh.
"Dia takut kali padamu, kamu galak sih"
"Takut dari mana, bicara saja tak pernah"Dika menimpali.
"Kalau ngak takut berarti dia suka padamu" Celetuk Endy.
"Sembarangan kami itu ngak pernah dekat, suka dari mana"
"Sudah jangan bahas anak aneh itu,
"Suka" Nayla menimpali.
Suka... kak Aulia suka sama kak Dika karena itu dia bersikap seperti itu, bukan aneh tapi malu sama kakak Dika, boleh juga kalau kak Aulia jadi ipar aku, dia gadis baik, rajin, cantik, sempurna. lumayankan punya ipar rajin bisa bantu aku mengurus 3 lelaki itu minimal bisa nyantai dikit ada yang bantu masak. kenapa ngak dari dulu aku jodohi sih hidupku bakal santai punya ipar seperti kak Aulia. Tapi kakak Dika mau ngak ya?bapaknya kan galak. Apa salah mencoba, soal bapaknya ntar belakangan. batin Nayla.
Nayla menarik dua garis bibirnya tersenyum mendengar celetukan yang keluar dari mulut Endy, Nayla mulai berfikir untuk menjodohkan gadis itu dengan kakaknya, dari cerita Dika ia tahu jika Aulia menyukai kakaknya dari dulu dan gadis itu memang pernah cerita jika ia menyukai Dika dan mendengar tadi Aulia yang mematung di depan Dika ia menyimpulkan jika gadis itu masih menyukai kakaknya. Ia pun memiliki rencana untuk menjadikan gadis itu sebagai kakak iparnya lagi pula ia suka dengan Aulia, rajin, cantik dan pandai mengurus rumah itu adalah kriteria yang Nayla inginkan menjadi pendamping Dika nanti.
"Sudah jangan bahas itu pak Samad lagi, fikirkan taruhan kita, kapan kau akan menikah? " Tanya Dika.
"Kenapa?" Tanya Endy menatap wajah lesu sahabatnya seperti mengakui kekalahan
"Katakan padaku, jika kau sudah akan menikah aku akan menyiapkan semuanya" jelas Dika tertunduk tak bersemangat, ia memutuskan untuk meyerah saja ia tak akan bisa mendapatkan gadis yang pantas untuknya apa lagi ia sedang patah hati Caren melukai hatinya terlalu dalam.
"Kamu nyerah gitu aja, kamu bahkan belum memulai, ngak asik banget," ejek Endy.
"Tidak....tidak, kak Dika belum menyerah" Nayla menimpali dengan cepat mewakili kakaknya ia masih ingin berjuang untuk Dika dan ia memiliki rencana yang baik untuk kakaknya.
"Nay" Protes Dika yang telah pasrah.
"Kakak Dika ngak boleh nyerah.., Nay akan bantu kakak mencarikan kakak jodoh, kakak harus menikah dengan pilihan Nay" Ucap Nayla menatap kakaknya yang entah bisa memberikan cinta lagi.
"Ceritanya adik-kakak main keroyokan nih " Protes Endy yang melihat semangat Nayla untuk membantu kakaknya.
"Tenang kak Dika, kakak jangan putus asa dulu, serahkan semua pada bule Jeraman in" Nayla menepuk dadanya tersenyum bangga sedangkan kakaknya hanya mengendus tak bersemangat.
.
.
.
__ADS_1
.
.Like , ,coment, vote.... ya....