Jodoh Pilihan Kakakku

Jodoh Pilihan Kakakku
harapan hidup


__ADS_3

Aska, Dika, Endy berada dirumah sakit mereka menunggu penuh harap, didepan ruangan dengan wajah penuh kecemasan, Dika duduk dikursi tertunduk mencoba menyembunyikan wajahnya yang terus dibasahi oleh air mata, tubuhnya penuh darah, disamping pintu ruangan berdiri Endy melipat tangannya didada sambil bersandar di dinding menatap Dika lekat. Selama ia bersahabat belum pernah ia melihat Dika seperti itu ia terlihat kacau air mata, ketakutan, itu semua tak pernah ia lihat dari Dika namun saat adiknya tersakiti kekuatan dan keberanian itu hilang, ia terlihat sangat tak berdaya, sedangkan Aska mondar-mandir menaruh tangannya disaku celana tak tenang wajahnya basah sesekali mencengkram kepalanya frustasi dan menedang udara, hanya satu gurat wajah yang terlihat dari tiga lelaki ini yaitu cemas


Sudah berjam-jam mereka menatap pintu yang tertutup rapat belum ada tanda-tanda akan terbuka,hingga akhirnya


Kreek.....


Suara pintu ruangan terbuka perlahan terlihat dokter keluar dengan wajah lesu Aska, Endy, Dika kompak berjalan menghampiri dokter.


"Bagaimana keadaan istriku dokter" Tanya Aska dengan sangat cemas.


Dokter melihat tiga lekaki yang berada disekelilingnya ia menarik nafas dengan berat, karena kabar yang akan disampaikan adalah kabar buruk, apa lagi kabar itu akan ia samapaikan pada pemilik rumah sakit.


"Istri anda mengalami pendarahan, janin yang ada dalam kandungannya tidak dapat di pertahankan" Jelas dokter tak bersemangat memberi kabar buruk untuk Aska


"Anakku" Ucap Aska lirih dengan suara terendah ia benar-benar terpukul mendengar penjelasan dokter, ia mengcengkram kepalanya kuat dengan sebelah tangannya. Hatinya hancur rasanya ia tak bisa bernafas, anak harapannya yang menjadi pelengkap untuk memiliki keluarga kecil dan bahagia kandas.


"Queen"ucap Endy pelan, hatinya juga ikut sakit mendengar ucapan dokter. Nama itu adalah nama yang akan ia berikan pada anak Aska, Endy terkenang betapa bahagianya mereka mendengar Nayla hamil berhari-hari ia dan Dika selalu bertengkar untuk mencari nama untuk anak itu ternyata nama itu tak bisa diberikan lagi.


Dika terdiam menutup mulutnya dengan telapak tangannya menahan tangis rasanya ia ingin berteriak sekuat kuatnya, mendengarkan ia batal menjadi paman. Calon keponakannya tak jadi hadir kedunia padahal mereka sudah berlomba mempersiapakan semua nama, baju, perlengkapan bayi, semua usahanya sia-sia.


"Tapi istriku baik-baik sajakan dokter?" Tanya Aska penuh harap memegang tangan dokter kali ini ia tak mau mendengar kabar buruk lagi.


Dokter terdiam sejenak kembali menarik nafas dalam


"Istri anda kritis, tubuhnya sangat lemah, dia kehilangan banyak darah, sebaiknya banyak-banyak berdoa saja dan tetap berada disisinya harapannya hidupnya tipis" Dokter menjelaskan.


Dika ,Endy, Aska bagai tersambar petir, tubuh mereka bergetar kompak meneteskan air mata untuk satu gadis yang paling berharga untuk mereka.


"Apa kau bilang dokter" Aska memasang wajah marah rahangnya mengeras ia mengcengkram kerah baju dokter dengan sebelah tangannya dan tangan satunya menggantung siap melayangkan pukulan ke kewajah dokter

__ADS_1


"Kalian tidak merawatnya dengan baik, kalian semua tidak becus, kalian tidak berguna" Hardik Aska emosi


Endy yang melihat amarah Aska mendekat kearah sahabatnya itu.


"Tahan Aska, tenang jangan membuat keributan disini" Endy menahan tubuh Aska sedangkan Dika tak perduli biasanya ia yang bijak menahan amarah Aska sekarang tidak lagi.


"Aku akan membawanya, kerumah sakit yang terbaik, aku akan membawanya keluar negeri" Ucap Aska penuh harap.


"Maaf tuan, kami telah melakukan semua yang terbaik dan istri anda juga di tangani dokter terbaik, membawanya keluar negeri akan sama saja yang bisa kita lakukan hanya berdoa, agar semangat hidupnya kembali, karena sepertinya istri anda tidak punya semangat untuk berjuang kondisinya terus menurun." Jelas dokter tak menutupi kenyataan.


Dika mundur beberapa langkah, kakinya lemas ia terduduk dikursi, kakinya terasa mati rasa dengan tatapan kosong


"Semangat hidup" Batin Dika


Sejenak ia berfikir apa adiknya memiliki semangat hidup, sekarang ia memikirkan semua tilas balik kehidupan adiknya yang begitu menyedihkan, adiknya telah yatim piatu diusia usia enam tahun saat anak-anak masih membutuhkan kasih sayang orang tua, ia kehilangan kasih sayang dari kedua orang tua. Impian tingginya untuk kuliah di Jerman kandas, saat gadis seusuainya sibuk mengejar mimpi-mimpi ia malah dipaksa menikah, sekarang saat ia menjalanin pernikahan ia kembali menerima kenyataan pahit ia dalam keadaan sekarat bahkan kehilangan calon anak dalam kandungannya, apa lagi yang diharapakan sungguh semuanya menyakitkan baginya. Apa dia punya harapan hidup setelah menjalani semua itu.


"Aaaaahhhhhggggg" Teriak Dika menyesal semua yang terjadi pada adiknya ia putus asa


Aska duduk disamping Dika, Endy kemudian berdiri di hadapan sahabatnya memasang wajah marah, ia sudah tak dapat menahan perasaan.


"Puas kalian, kalian selalu mengatur hidupnya dan kebebasanya" Ucap Endy memperkeruh suasana padahal ia seharusnya menjadi penengah untuk kakak dan suami Nayla namun disini ia berada di posisi orang yang menyayangi Nayla dan selalu membela Nayla.


Aska dan Dika hanya terdiam mendengar ucapan Endy tak bisa menyangkal.


"Dika katakan sesuatu jangan diam saja, marahlah padaku, pukul aku, bunuh aku" Ucap Aska merasa bersalah.


"Kau berjanji menjaganyakan" Bentak Dika


"Lihat sekarang apa kau bisa berjanji agar adikku tidak pergi meniggalkanku" Ucap Dika terbata

__ADS_1


"Apa adikku masih punya semangat hidup setelah semua yang telah aku lakukan padanya"


"aku merusak mimpi-mimpinya, aku menghancurkan adikku sendiri, aku mengira dia akan bahagia menikah denganmu ternyata aku salah, percaya masa depan adikku padamu" Ucap Dika penuh emosi dia sudah tak bisa berfikir dengan jernih ia tak sadar bahwa orang yang dihadapannya sama sedihnya dengan dirinya .


🌺🌺🌺


Aska, Dika, Endy masuk kedalam ruangan perawatan melihat Nayla berbaring diranjang rumah sakit dengan wajah pucat dan penuh luka, membuat hati mereka teriris, mata mereka kembali berkaca-kaca karena Nayla dulu hanya terkena demam saja mereka akan begitu khawatir tak ada satupun yang bisa melukai bule Jerman mereka, ketiga lelaki ini akan pasang badan untuknya sekarang sungguh miris gadis kesayangan mereka dengan luka memar dan tergolek lemah, sungguh sangat miris wajah bule Jerman yang selalu ceria dan manja pada mereka sekarang hanya diam dengan semangat hidup menipis.


Dika mendekati tubuh adiknya ia menggenggam sebelah tangan Nayla tangan erat ia menaruh tangan adiknya dipipinya


"Kau adikku yang baikkankan, kau selalu dengar kata-kata kakak, jangan pergi ya, tetap disini temani kakak" Ucap Dika pelan nada suaranya seperti membujuk.


Aska memegang sebelah tangan Nayla lagi yang terpasang selang infus.Aska mengusap


puncak kepala Nayla.


"Bertahanlah sayang " Aska mencium punggung tangan Nayla


"Tunggu kakak, aku akan membalas semuanya untukmu, tunggu kakak, jangan pergi" Aska mengelus pipi Nayla yang memar lalu mengecup kening Nayla lama hingga keningnya basah oleh air mata.


Aska melepaskan genggaman tangannya lalu berjalan keluar ruangan


"Jaga dia aku akan membuat perhitungan " Ucap Aska memegang handel pintu namun langkahnya terhenti saat Dika memanggilnya ia, menoleh ke Dika.


"Aska tunggu, aku akan ikut bersamamu" Dika menjauh dari ranjang rumah sakit menyusul Aska, ia tahu Aska akan bertemu pamannya.


"Endy jaga Nayla" Ujar Dika.


"Baikklah aku akan menunggu disini, jangan ampuni dia" Ujar Endy kesal.

__ADS_1


Aska dan Dika akhirnya meninggalkan rumah sakit untuk membalas semuanya .


. like,dan coment ya ,vote juga.


__ADS_2