
Aska dan Nayla berada dikantor setiap hari mereka akan menghabiskan waktunya di ruang kantor dan selalu bersama tak terpisahkan bahkan Nayla harus setiap hari ikut mendampingi suaminya hanya karena lelaki ini tak mau pisah lama dengannya.
Aska duduk disofa sedang menatap laptopnya dengan serius menyelesaikan laporan terkadang matanya sesekali menatap jauh kearah Nayla yang berada didepan rak buku sedang memilih diantara jejeran buku yang akan ia baca.
Dret....dret...dret...getar posel dimeja telihat Aska kemudian meraihnya dan menatap layarnya lalu menaruhnya ditelinga.
"Halo Endy ada apa?
"Aku ingin mengajak Nayla jalan-jalan" Endy.
"Kemana" Aska
"Ke Mall,ada hal penting yang inginku bicarakan padanya"Endy.
"Hal apa" Aska.
"Masalah calon istri, aku ingin bertanya pendapat bule Jermanku, apa ia merestuiku dengan wanita ini" Endy
"Kau sudah mendapatkan gadis yang akan kau nikahi siapa?" Aska
"Serena" Endy
"Akhirnya kau mentok juga udah jalan buntu ya.., hingga kau memilih Serena, kau serius dengan pernikahan dan taruhan ini" Aska
"Tentu saja, aku serius aku tidak akan kalah"Endy
"Kau tidak akan mengalah untuk Dika, kau benar-benar ingin menang?" Aska
"Tentu saja aku harus menang, ini masalah harga diri brother" Endy
"Endy kau mengalah saja, kasiahinilah kakak iparku, lagi pula biaya pernikahan Dika tak akan mahal, paling ia akan menikah secara sederhana" Aska
"Aku tidak peduli dengan kakak iparmu itu, aku harus menang, setidaknya kau bisa bantu kakak iparmu itu menanggung biaya pesta pernikahan mewahku nanti.hahahaha"
"Kau mengalah saja demi sahabatmu,dan kakak iparku"
"Sudahlah kita lihat saja nanti, ingat kau berhutang kencan malam jumat pada padaku hari ini aku menagihnya" Endy
"Ia pergi saja, aku tak akan melarangmu"Aska
"Nanti sore aku akan menjemputnya by...." Endy.
Panggilan telpon terputus, Aska menarik nafas pelan.
"Habislah kau kakak ipar, kau akan kalah, Endy sudah memiliki calon istri, dia akan menguras seluruh isi tabunganmu " batin Aska. kemudian menaruh ponselnya dimeja.
Nayla berjalan menghampiri Aska sebelah tangannya memegang sebuah buku. Aska lalu menarik tangan Nayla membawa tubuh istrinya duduk dipangkuannya, Aska suka sekali memangku tubuh mungil istrinya.
"Telpon dari siapa" Tanya Nayla yang melihat Aska menelpon tadi
"Dari Endy dia mengajakmu untuk kencan malam jum,at" Aska memutar bola mata malas
"Kencan malam jum'at malam ini?"
Nayla menarik garis bibirnya melengkungkan senyuman teringat kencan malam jumatnya dengan Endy yang dulu sangat menyenangkan sekarang ia akan melakukannya lagi.
"Kamu boleh pergi bersamanya"Wajah Aska terlihat tak iklas tapi ia memiliki janji pada Endy jika bule Jerman itu kembali padanya ia boleh berkencan malam jumat dengan Nayla. Ia bukannya cemburu pada Endy hanya saja ia tak mau berpisah dari Nayla walau hanya sebentar, tak melihat istrinya sebentar saja rasanya sudah seperti merasa sangat kehilangan dan kesepian.
"Benarkah, Nay boleh pergi" Tersenyum
"Ia sayang"
Hingga saat ini Nayla belum tahu perasaan Endy sesungguhnya pada dirinya, yang ia tahu Endy adalah kakak terbaik yang selalu mendukungnya dibarisan paling depan dan mendengarkan ceritanya. Karena itu, ia selalu bermanja dengan Endy layaknya seorang adik pada kakaknya.
***
__ADS_1
Endy dan Dika sedang berada dirumah mengabiskan waktunya dengan bersantai, mereka duduk berdampingan diruang tengah sibuk dengan ponsel masing-masing tak saling bicara. Sejak taruhan itu terjadi mereka sibuk menata kehidupan percintaan mereka. bersungguh-sungguh dalam mencari pasangan hidup. Dika yang dulu hanya diam sekarang gencar melakukan usahanya dengan menerima seluruh gadis yang mendekatinya, ia tak menjauhinya lagi. Mencoba memilih diantara yang terbaik walaupun ia tak yakin bisa memberikan hatinya pada gadis itu dan Endy ia telah menemukan satu gadis yang ia coba untuk menetapkan hatinya.
Dika menatap layar ponselnya sambil menarik kedua sudut bibirnya kemudian mengetik sesuatu dilayar ponselnya, setelah itu kembali tersenyum. Endy yang memperhatikan sahabatnya merasa aneh Dika yang jarang fokus dengan ponselnya sekarang senyum sendiri seperti sedang tergelitik. Endy menggeser tubuhnya hingga bahunya menempel mendekat pada sahabatnya lalu diam-diam ia melirik ponsel Dika yang ternyata sedang membalas pesan seseorang dan Endy membaca nama yang mengirim pesan pada Dika, ternyata seorang gadis bernama Sella, Endy tersenyum mengintip pesan Dika. Dika yang merasa badan Endy menempel sangat dekat padanya dengan cepat ia lalu mengarahkan pandangannya pada orang yang berada disampingnya hingga akhirnya Endy ketahuan.
"Kau mengintipku ya" Tuduh Dika menatap tajam pada Endy yang sekarang sebagai rivalnya karena taruhan itu.
"Ti..tidak" Sangkal Endy terbata dengan cepat kembali melihat handphonenya.
Dika dan Endy kembali pada ponselnya masing-masing cukup lama mereka terdiam akhirnya. Dika memasukan ponselnya disaku celanananya tersenyum senang.
"Kau kenapa?" tanya Endy melihat sahabatnya dari tadi tersenyum ia merasa ada yang aneh.
"Malam ini aku akan kencan dengan Sella," ucap Dika dengan penuh rasa bangga membuktikan pada sahabatnya jika ia juga akan mendapatkan gadis dengan mudah.
"Kau sudah jadian dengannya" Endy menaruh ponselnya tertarik dengan oborlan rivalnya ini.
"Belum baru pdkt," jelas Dika walaupun mereka bersaing namun tak ada satu rahasia pun yang mereka sembunyikan sebagai sahabat.
"Siapa tadi nama gadis itu?"
"Sella" Jawab Dika menaikkan alisnya.
"Sella anak club malam yang dj itu" Tanya Endy memastikan.
"Ia yang cantik, tinggi, putih dari dulu dia menyukaiku namun aku selalu menolakkanya" Pamer Dika baginya ia juga tak sulit mendapatkan gadis jika ia mau wajahnya yang blasteran kebulean membuat ia juga digilai kaum wanita.
"Kau yakin dengan sella" Tanya Endy memastikan wajahnya penuh keraguan.
Dika menggendikkan bahunya"Apa salahnya mencoba, kau bilang usaha aku sedang usaha"
"Ya sudahlah aku akan siap-siap dulu" Dika tersenyum bangga kemudian berdiri hendak melangkahkan kakinya ke kamar.
"Jika kau memang menikah dengannya sudah dipastikan dihari pernikahanmu, kau akan pergi menikah sendirian, kami tak akan datang ke pernikahannmu" Jelas Endy
Dika yang telah berjalan beberapa langkah tak meneruskan langkahnya, ia lalu berbalik kembali duduk didekat sahabatnya.
"Kau tahukan adikmu itu sangat anti dengan Dj dan semua yang berhubungan dengan club malam, ia tak akan merestuimu menikah dengannya, dan kau tahukan aku adalah pendukung bule Jerman yang nomor satu jika ia bilang tak akan merestuimu aku juga ikut" jelas Endy sangat tahu sifat bule Jermannya itu, ia mengganggap semua yang berhubungan dengan club malam hidupnya ngak normal dan berprilaku tidak baik.
Dika mendengus melipat tangannya didada" Ngak mungkin Nayla pasti setuju, dia juga pernah merasakan dunia dj dulu waktu kami pergi jauh" Sangkal Dika membela diri merasa yakin dengan pilihannya.
"Nayla menyukai musiknya, bukan kehidupannya, kau tahu kan adikmu itu memiliki kriteria wanita yang baik untuk menjadi kakak iparnya sedangkan sella gadis bebas sudah bisa ditebak seratus persen Nayla akan menolak" Jelas Endy.
"Bilang saja kau iri, aku akan kencan" Dika belum terima dengan penjelasan sahabatnya.
"iri..untuk apa, aku ingatkan sekali lagi, kita tidak boleh salah pilih wanita, kau tahu kan kita memiliki bule Jerman yang sangat cerewat dan aku juga akan meminta izinnya jika akan menikah nantinya, jika ia tak suka dengan calon istriku maka aku akan membatalkannya, aku ngak mau dia ngak setuju lalu tak datang dipernikahanku" Jelas Endy ia yang menggangap Nayla sebagai adiknya sendiri, dan wanita yang paling berharga seperti ibu yang selalu memberikan nasehat baik baginya.
"Dika terdiam memikirkan kata-kata Endy yang menurutnya sangat benar adiknya itu sangat cerewet bahkan mereka bertiga saja takluk dihadapan gadis kecil itu. caranya memandang hidup lebih dewasa dari usianya, seperti seorang ibu, ia pasti mengingikan kakak ipar yang bersikap keibuaan, pandai mengurus rumah, pandai segalanya sama sepertinya.
Dika menghembuskan nafas kasar" aah...kau menyebalakan sekali" umpat dika pada sahabatnya yang ucapannya benar namun ia kesal harus membatalkan kencannya. ia kemudian dengan tak bersemangat meraih Ponsel yang berada disaku celananya.
"Aku akan membatalkannya?" ucapnya pasrah. lalu mengeser layar poselnya kemudian menelpon teman yang berencana kencan dengannya.
" Hallo"
"Sella maaf kita ngak bisa bertemu malam ini" Dika terdiam mendengar suara diseberang sana.
"Kau tahu sahabatku Endy kan , ia sakit dan hampir sekarat karena sesak napas, asmanya sedang kambuh jadi aku harus mengantarnya ke dokter, maaf ya, lain kali saja.
"Endy bertahanlah..." Teriak Dika diponselnya untuk lebih meyakinkan alasannya jika Endy sedang sakit. kemudian memutuskan panggilannya.
Endy membulatkan matanya mendengar alasan Dika membatalkan kencannya dengan gadis itu, Dika membawa-bawa namanya sebagai alasan karena dia yang sekarat. ia pun memukul kepala sahabatnya dengan keras.
"Aduh" Dika mengaduh mengelus kepalanya.
"Sialan.. kau mengatakan aku sekarat dan kena asma" Bentak Endy, seketika menjadi kesal melihat ucapan gila sahabatnya.
__ADS_1
"Siapa suruh kau membuatku membatalkan kencanku, jadi aku harus punya alasan yang bagus untuk menolakknya" Dika memasang wajah datar.
"Kau apa kau tidak punya alasan lain, sama saja kau menyumpaiku sekarat, mana sakit asma lagi...ngak keren amat" Jelas Endy.
"Bagaimana denganmu kau juga memilih Serena bukannya dia juga Dj" Tanya Dika.
"Serena gadis berbeda Nayla mengenalnya lagi pula ia Serena menuruti semua kata-kataku, aku tinggal bilang berhenti jadi dj maka ia akan berhenti dan ingat Nayla hanya tidak menyukai pekerjaannya bukan orangnya" Jelas Endy.
"Baiklah aku juga akan kencan malam ini" Endy bangun dari duduknya.
"kencan dengan siapa?" Tanya Dika penasaran
"Bule Jerman, aku ingin curhat masalah Serena. Begitu ia setuju aku akan langsung melamarnya, ingat siapkan biaya pernikahanku...hahahaa...."
"Jangan senang dulu, sebelum kau mencatatakan pernikahan, taruhan ini belum berakhir dan masih tetap berjalan"
"Baiklah sahabat selamat berjuang, ingat jangan wanita club malam" Endy lalu masuk kedalam kamarnya meninggalkan Dika sendiri.
Dika mengerucutkan bibirnya masih kesal kencannya gagal, ia semakin frustasi saja, siapa lagi gadis yang akan ia dekati semua gadis yang ia kenal.berasal dari club malam dan adiknya pasti tak setuju, ia mengacak rambutnya, ini bukan masalah membayar biaya pernikahan tapi ini masalah harga dirinya ia tak ingin kalah.
****
Waktu sore endy bersiap untuk mengajak Nayla jalan-jalan, ia telah menunggu Nayla didepan gedung kantor, menjemput bule Jerman mengulang kenangan lama mereka setiap malam jumat dan sekaligus menjadi kencan malam jumat yang terakhir sebelum ia menikah dengan gadis pilihannya sebenarnya walaupun ia belum bisa melupakkan cintanya pada bule Jerman, ia akan tetap menikah. sebagai langkah awal ia akan bertanya pada Nayla bagaimana pendapat gadis itu jika ia menikah dengan Serena.
Aska memangku tubuh Nayla ia rasanya tak ikhlas istrinya meninggalkannya ia terus mencium pipi Nayla sebelum istrinya keluar dari ruangan.
"Sayang, Endy sudah menunggumu didepan kantor" Aska memasang wajah tak bersemangat.
Nayla melihat wajah masam suaminya ia tahu, Aska pasti tak ingin berpisah dengannya sekarang lelaki ini selalu ingin menempel padanya.
"Benar Nay boleh pergi" Tanya Nayla memastikkan.
"Ia, tapi jangan lama, kakak sepi ngak ada kamu" Pesan Aska lagi-lagi mencium pipi istrinya seakan ia pergi sangat jauh.
"Ia sebentar saja, setelah jalan-jalan, makan, nonton, belanja Nay pulang" Canda Nayla ia berniat membuat Aska semakin berwajah masam.
"Banyak banget Nay, itu lama loh, pokoknya habis bicara penting kamu pulang" Pinta Aska memeluk tubuh Nayla menaruh kepalanya dipunggung Nayla.
"Ia, sebentar aja" Nayla kemudian berdiri dari pangkuan Aska, disusul Aska yang juga berdiri.
"Nay pergi dulu" Nayla berjalan meninggalkan Aska.
Aska hanya diam saja memasang wajah tak bersemangat, tak rela Nayla pergi. Nayla terus berjalan keluar ruangan saat memegang handle pintu ia membalikkan pandangannya melihat Aska yang berdiri terdiam. ia menarik nafas dalam melihat tingkah Aska seperti anak kecil.
Nayla kembali lagi melangkahkan kakinya mendekat kearah Aska kemudian ia naik disofa berdiri agar tinggi badan mereka sama.
"Nay kamu mau apa turun nanti kamu jatuh" Aska yang melihat Nayla berdiri disofa kemudian memegang tangan Nayla mencegahnya agar tak jatuh.
Aska berhadapan dengan Nayla dengan posisi satu berdiri tegak dan satu lagi berdiri disofa agar tinggi badan mereka sama, Nayla menatap wajah yang murung itu kemudian ia mengalungkan tanganya dileher Aska. Ia hendak menggoda memberikan sesuatu yang membuatnya senang.
"Kak Aska sayang, Nay sangat mencintai kakak, cinta dan hati Nay ini cuma untuk kak Aska seorang tak ada yang lain" Ucap Nayla mencoba merayu suaminya, ia sangat jago jika berurusan dengan menyenangkan hati Aska benar saja. Aska tersipu wajahnya bersemu merah mendengar ucapan Nayla, gadis ini sangat berani menggodanya lalu Aska membulatkan matanya ketika kemudian dengan berani Nayla mengecup bibirnya lebih dulu ia mellumatnya dengan lembut membuat Aska berdiri mematung belum bisa mengusai rasa terkejutnya dengan serangan berani istrinya. ia bagai tersengat listrik jutaan volt ia tak bisa bergerak membalas ciuman Nayla, tubuhnya lemas. Nayla melepaskan tautannya kemudian dengan cepat turun dari sofa. ia tersenyum melihat wajah menggemaskan suaminya seperti biasa Aska akan mematung tak berdaya jika Nayla mengodanya.
"Kak Nay pergi dulu ya" Pamit Nayla ia melakukan ini semua agar hati Aska tenang dan jika sudah seperti itu apa pun permintaannya akan dituruti oleh Aska.
Nayla pergi meninggalkan Aska dan saat Nayla hampir keluar ruangan Aska tersadar.
"Sayang kamu menggodaku, kembali kamu harus tanggung jawab" Panggila Aska.
"Ia Nay akan tanggung jawab, nanti malam bagaimana?" Nayla mengedipkan sebelah matanya lalu keluar dari ruangan Aska.
Aska semakin tercengang melihat tingkah berani istrinya.
"Mati aku.... kenapa dia gadis kecil itu menggemaskan sekali, semakin membuatku tergila-gila saja padanya" Batin Aska memegang dadanya yang jantungnya seakan melompat keluar.
.
__ADS_1
.
.Like,coment, vote yang kencang....