Jodoh Pilihan Kakakku

Jodoh Pilihan Kakakku
malam


__ADS_3

Setelah mencatatkan pernikahannya Nayla mengajak Aulia pulang kerumah. Dirumah peninggalan orang tua inilah Aulia akan tinggal berdua dengan Dika menjalani hidup baru sebagai sepasang suami istri.


Mereka berkumpul diruang tengah Nayla dan Aulia mengobrol asik sesama wanita, sangat senang akhirnya ia punya teman sesama wanita yang bisa dia ajak cerita seru tidak bersama Endy lagi. Nayla terus berbincang berdua dengan Aulia hingga tak sadar bahwa malam telah menyambut.


"Nay ayo pulang," ajak Aska kondisinya telah membaik setelah berpisah dari pemuda gombal itu, ternyata benar ia muntah karena mendengar gombalan Adit.


Mereka duduk berjajar bertiga semenjak ada Aulia, Nayla tak memperhatikan 3 lelaki itu. Mendengar Aska yang mengajak Nayla pulang Aulia menatap heran kearah Nayla menanti jawaban dari adik iparnya.


"Nay ngak tinggal disini lagi, aku tinggal di dekat kantor," ucap Nayla yang lagi-lagi berbohong mengenai satusnya, ia belum siap memberi tahu Aulia jika semua mimpi masa mudanya telah kandas dikarenakan kakaknya menikahkannya diusia muda. Aulia tahu Nayla gadis yang pintar dengan banyak cita-cita dia pasti terkejut jika tahu Nayla menikah muda.


"Ya, Nay jadi kita ngak tinggal bersama dong" Aulia tertunduk sedih ternyata Adik iparnya tak bisa menemaninya.


"Ngak masalah, Nay akan sering-sering kemari, ingat kalau kakak Dika nyakitin hati kakak lapor aja biar Nay yang menghajarnya untuk kakak," jelas Nayla menatap tajam kearah Dika dan lelaki ini melengos melihat bule Jerman. Aulia hanya tersenyum melihat kakak-adik yang seingatnya dari dulu selalu berdebat.


"Ia kakak juga ikut pulang" Endy juga ingin pergi dari rumah ini, ia merasa sudah tak pantas lagi tinggal bersama Dika.


"Kenapa kau pergi? "Tanya Dika heran pada teman serumahnya selama bertahun berbagi suka dan duka bersama.


"Kau sudah menikah, kita ngak bisa tinggal bersama lagi, aku kan tinggal diapartenku" Endy menepuk bahu Dika, ia sangat sedih harus pergi meninggalkan rumah yang menyimpan begitu kenangan bersama, sebenaranya ia berat meninggal rumah dan Dika yang telah menjadi teman hidupnya selama bertahun-tahun apa daya sahabatnya ini sudah berkeluarga ia tak mungkin tinggal lagi bersama Dika itu hanya akan menjadi pengganggu.


"Apartemen yang mana?" tanya Dika.


"Yang sama dengan Aska, aku dilantai bawah"Jelas Endy


"Disana menang baik, jadi kita bisa tinggal berdekatan, tapi ingat jangan selalu berkunjung, jangan mengangguku dengan Nayla." canda Aska tersenyum pada sahabatnya. kali ini Endy yang lagi dekat dengannya.


"Kau ini bagus juga kalau kita tinggal berdekatan denganmu, biar Nayla bisa sedikit bebas dari pelukkanmu itu." ucap Endy yang melihat sifat manja berlebihan Aska pada Nayla.


"kau ini" Aska mencebikan bibirnya.


Entah akhir-akhir ia sangat manja pada Nayla, kepalanya pusing jika tak melihat istrinya.ia pun bingung dengan kondisi tubuhnya,


Mereka kompak berdiri, akan meninggalkan rumah Dika.Endy memeluk sahabatnya sekali lagi mengucapkan selamat menempuh hidup baru.


"Sekali lagi selamat atas pernikahanmu, brother malam pertama nih" bisik Endy.


"Sialan kau" Dika memukul lengan Endy.


"Kami jagain ngak" tanya Aska menggoda mengingat malam pertamanya yang juga dijaga oleh sahabatnya.


"Kalian pulang saja" usir Dika mulai kesal.


"Ayo Dika, lomba dengan Aska, siapa yang lebih dulu memberiku bule Jerman junior" Goda Endy. sudah tak sabar, menginginkan tangisan bayi memenuhi hari mereka.


"Sudahlah, pulang sana" usir Dika tak nyaman membahas masalah anak dan malam pertamanya.


"Baiklah kami pulang, jangan lupa bikin bule jerman junior," Pesan Endy.


Dika hanya mendengus kesal pada dua sahabatnya.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ

__ADS_1


"Malam semakin larut Nayla, Aska, Endy telah pulang, tinggal sepasang pengantin baru yang berada didalam rumah itu, sebelum Nayla pulang dia telah mengarahkan kakak iparnya masuk kedalam kamar Dika.


Dika melangkah masuk kedalam kamar dengan ragu-ragu ia melihat Aulia sedang duduk di pinggir tempat tidur. Malam ini adalah malam pertamanya namun tak ia tak ingin meminta haknya sebagai suami pada Aulia. Hatinya masih dipenuhi nama perempuan lain. ini tak adil bagi Aulia, itu akan menjadi duri dalam pernikahannya, ia tak ingin menyakiti hati Aulia. Ia hanya akan menyentuh istrinya saat ia sudah melenyapkan nama mantan di hatinya, ia sadar hati istri mana yang yang tak sakit jika tahu suaminya memiliki nama perempuan lain dihatinya.ini akan seperti penghiatan itu fikir Dika.


Dika berjalan ke tempat tidur lalu duduk disamping Aulia, Aulia yang melihat Dika berada disampingnya kembali mematung ia tak bisa mengendalikan detak jantungnya jika berdekatan dengan lelaki impian yang telah mejadi suaminya.


"Hai bisa kita bicara"Sapa Dika lembut ia akan bicara pada Aulia tentang perasaannya.


Aulia hanya diam tak membalas sapaan Dika.


"Bisa kita bicara sebentar?" ucap Dika lagi kali ini ia tak perlu mendapatkan jawaban dari gadis aneh ini ia mengerti jika gadis ini akan merubah jika berada didekatnya.


"Maaf membuatmu terjebak dalam pernikahan ini," Dika bicara pelan tak ingin menyinggung hati dan perasaan gadis ini Ia akan bicara.jika ia belum bisa menjadi suami seutuhnya.


"Aku tahu kamu mau menerima pernikahan ini karena dipaksa adikku kan?" Jelas Dika yang tak tahu perasaan Aulia yang sebenarnya ia mengira jika Aulia juga diteror oleh bule Jerman untuk menerima pernikahan ini sama sepertinya yang terpaksa.


"Karena kita sudah menikah aku ingin, walaupun diantara kita ngak ada cinta, tapi aku serius dengan pernikahan ini, sekarang kau adalah istriku, aku akan mencoba menjadi suami yang baik untukmu,akan selalu menjagamu, mencoba membahagiakanmu tapi aku ingin kita menjalani pernikahan ini perlahan-lahan,aku ingin kita saling mengenal, dan aku ingin untuk sementara ini kita menjadi kakak-adik dulu"Jelas Dika sebenarnya ia menutupi jika ia mencintai wanita lain, namun ia juga meminta waktu pada Aulia agar hatinya berubah.Ia akan berusaha mencintai istrinya.


"Bagaimana menurutmu" Tanya Dika namun gadis ini hanya terdiam.


" Hei..." Dika melambai-lambaikan tangannya diwajah istrinya membuat Aulia tersentak.


"Aku akan menuruti apa pun yang kamu inginkan, jika kamu hanya ingin kita kakak adik, ngak masalah, aku mengerti" Jelas Aulia tersenyum pelik sebenarnya hatinya sakit mendengar ucapan Dika namun ia memang telah tahu jika Dika tak mencintainya dan baginya mencintai diam-diam dan memiliki kesempatan hidup bersama dengan lelaki ini sudah cukup baginya, walaupun lelaki ini tak mencintainya tidak masalah, ia hanya akan menunggu dan memberi waktu berharap semoga Dika bisa membalas cinta yang telah ia pendam bertahun-tahun.


"Boleh aku tanya minta satu hal padamu"


"Apa?"


"Bisa kah jika kau melihatku biasa saja, jangan diam saat menatapku" Pinta Dika.


"Istirahatlah, jika kau butuh sesuatu katakan saja padaku, aku akan tidur dikamar sebelah" Jelas Dika kemudian keluar dari kamarnya yang sekarang ditempati Aulia dia berjalan menuju kamar adiknya dia akan tidur disana.


Dika menarik nafas lega istrinya itu mengerti dan menerima kondisinya yang tak siap dengan pernikahan tanpa cinta ini.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Apartemen Aska


Nayla dan Aska telah berada ditempat tidur, Aska mulai mengecup wajah istrinya malam ini ia akan menyalurkan hasratnya, entah mengapa ia selalu menginginkan penyatuhan jika sudah berduaan dengan istrinya.


"Sayang kamu mikirin apa sih" Aska membenamkan wajah diceruk leher Nayla memberikannya kecupan-kecupan kecil dileher putih mulus istrinya, namun Nayla hanya diam sibuk dengan fikiranya yang melayang-layang. sejenak Nayla menatap wajah Aska yang telah memerah sangat mengingikannya.


"Kak Dika, ini malam pengantinya, apa mereka akan melakukannya," Nayla mengelurakan isi dikirannya itu yang sedaru tadi selalu mengganjal dihatinya apakah kakaknya akan menyentuh Aulia dan menerima Aulia sebagai istrinya, meminta haknya walaupun kakaknya tak mencinta wanita itu.


"Kak Dika mau ngak ya menyentuh kak Aulia?"


"Sudah jangan fikirkan itu, kakak kamu itu udah dewasa dia tahu yang terbaik untuknya" Jelas Aska terus mengerayangi tubuh istrinya nafasnya mulai terdengar berat.


"Nay takut kak Dika menolak kak Aulia, trus membuatnya sedih"


"Ngak mungkin sayang... sudah itu urusan mereka itu malam pertama mereka, kita ngak perlu ikut campur sudah jangan fikirakan kakak kamu lagi"

__ADS_1


"Kalau kakak kamu ngak mau malam pertama, kita aja yang melakukannya" Gurau Aska.


"Ih kak ngak khawatir karena apa?" Nayla berdecak ia memikirkan nasib kakaknya, sedang suaminya hanya sibuk sendiri tak mau ambil pusing tentang sahabatnya.


" Ia kamu tahu kenapa kakak ngak khawatir?" Tanya Aska ia menghentikan aktivasnya untuk sementara dan disambut gelengan kepala oleh Nayla.


"Karena rumah kamu ngak punya balkon, jadi salah satu dari mereka ngak akan mungkin mengancam lompat, mengancam bunuh diri hanya untuk menolak malam pertama"Jelas Aska terkekeh menyindir Nayla mengunkit malam pengantinnya yang mengancam akan lompat dari balkon rumah jika Aska menyentuhnya.


"Ih..kakak" Nayla mencubit pinggang suaminya dengan keras lalu tersenyum saat ingat malam pengantinya yang akan mengancam lompat dari balkon ia merasa sangat lucu teringat betapa ia dulu tidak ingin hidup bersama Aska, ia lebih memilih mati dari pada bersentuhan dengan Aska tapi sekarang telah berubah ia seranjang dengan orang yang dulu sangat dibencinya.


"Aduh sayang sakit" Keluh Aska mengusap pingganganya.


"Kan memang benar sayang, kamu tahu betapa takutnya aku dulu, andai memang dulu kamu lompat dari balkon hanya untuk menghindari malam pernikahan kita" Aska memeluk erat tubuh istrinya mengecup puncak kepalanya berkali-kali, ia sangat bersyukur setelah perjuangan panjangnya akhinya ia memiliki hati orang yang begitu ia cintai.


"Ia Nay minta maaf, kakak sih maksa nikah sama aku, minimal kalau suka ajak pacaran dulu, nyatakan cinta dulu, jangan langsung ajak nikah, aku kan jadi bingung" Nayla mencium pipi Aska lembut.


"Kamu tahu, kakak sudah menggunggu kamu besar itu lama banget, kakak ngak mau menunggu lagi" Ucap Aska mencolek hidung Nayla.


"Sudah jangan fikirkan itu fikirkan tentang kita?" Aska kembali mencumbui Nayla melanjukan kembali pekerjaan panas yang tertunda.


"Tentang kita" Nayla mengernyitkan dahinya.


"Ia jangan sampai kita kalah dari kakak kamu" Aska menaikan alisnya.


"Kalah" Nayla masih tak megerti arah pembicaraan Aska.


" Ia kita ngak boleh kalah, jangan sampai Dika mendahuli kita, dan Dika lebih dulu punya bule Jerman junior" Jelas Aska.


"Itu aja dilombain,jangan-jangan kalian taruhan lagi siapa yang punya bule Jerman junior lebih dulu" Tebak Nayla.


Aska tersenyum pelik


"Ya ampun, punya istri taruhan sekarang punya anak pun taruhan"Nayla berdecak.


"Karena itu sayang malam ini kita akan berusaha lebih keras lagi, kita akan begadang" Jelas Aska tersenyum memperlihatkan senyum mesumnya.


"Begadang lagi" Aska mulai menindi tubuh Nayla mulai mengecup seluruh wajah istrinya, Kemudian berisik


"Kejar target sayang kita harus lembur, kita harus punya bule jerman junior tahun ini"


"Kak Aska, Nay ngak mau lembur" Aska membungkan bibir Nayla ia mengecup melummat bibir istrinya, Naylapun membalas ciuman Aska menyalurkan cinta mereka dalam penyatuhan berharap akan adanya bule Jerman junior.


Aska sangat mengingkan anak hadir dirumah tangganya menjadi pelengkap hidup mereka, sejak dulu Aska selalu menginginkan keluarga kecil yang bahagia dulu ia sudah memiliki kesempatan mewujudkannya namun saat penyerangan itu mimpinya kandas dan betapa hancur hatinya,sekarang ia ingin berusaha lagi memiliki anak.


.


.


.


.

__ADS_1


.Like, coment, vote....


"


__ADS_2