
Dika tetap kembali menjalankan rencana kepergiaanya, membawa Nayla pergi keluar dari kota ini menuju tempat yang tenang untuk Nayla. Upaya yang ia lakukan agar adiknya kembali seperti dulu, ia merahasiakan kemana ia akan membawa Nayla, agar Aska tak menyusulnya, ia benar-benar ingin menghilang tanpa jejak, ia mengganti nomor handphonenya agar tak terlacak.
Hari ini cuaca sangat bersahabat matahari telah naik Dika telah siap dengan dua kopernya, siap untuk pergi jauh walaupun Aska tidak setuju namun ia tetap akan pergi diam-diam tanpa memberitahukan Aska karena jika Aska tahu ia pasti tak akan jadi pergi, Aska pasti mati-matian mencegahnya. Karena itu dengan susah payah Endy mengatur kepergiaan Dika, saat ini Aska berada dikantor. Endy telah menyusun rencananya dengan rapi agar Aska tidak mengagalkan kepergian Dika.
Dika keluar kamar menuntun Nayla berjalan, mendudukkannya disofa ruang keluarga dengan hati-hati, sebelum ia pergi Dika berpamit pada Endy
Dika dan Endy berdiri dihadapan Nayla.
"Aku pergi .....Kalian baik-baik disini" Ucap Dika suaranya bergetar, memeluk erat sahabatnya dengan kesedihan baru kali ini ia terpisah dengan sahabatnya.
"Kau juga baik-baik disana, cepat pulang, jangan lupa kabari aku" Menepuk punggung Dika.
"Itu pasti" Mereka melepaskan pelukakkannya.
"Jaga Aska, tolong kau beri pengertian padanya" Pinta Dika wajahnya terlihat merasa bersalah pada Aska walau bagaimanapun Aska memiliki hak penuh untuk memutuskan hidup Nayla karena ia suaminya namun ia sebagai kakak juga ingin yang terbaik untuk adikknya.
"Kau tenang saja, aku akan mengurusnya, fokus saja pada Nayla" Endy tersenyum tipis menepuk sebelah bahu Dika
Endy berjalan menuju Nayla yang duduk mematung disofa ia bersimpuh dihadapan Nayla, menatap Nayla matanya mulai berkaca-kaca, ia menggengam tangan Nayla erat ia ingin mengucapkan kata perpisahan untuk gadis yang masih terpahat kuat namanya dihatinya.
"Nay kamu harus sembuh, cepat pulang ya, nanti saat kamu kembali kamu harus punya banyak cerita untuk kakak" Endy mengusap puncak kepala Nayla dengan lembut kemudian memeluk erat bule Jerman kesayangannya, ia sangat sedih Nayla adalah tempatnya untuk meluapkan keluh kesah melihatnya hidup seperti ini hatinya juga terasa sakit apalagi Nayla akan pergi jauh meninggalkannya.
"Aku pasti akan sangat merindukkanmu bule Jerman, jangan lama-lama disana, kami akan akan kesepian tanpamu, kami akan bersabar menunggumu pulang, aku akan menjaga suamimu untukmu" Endy melepaskan pelukkannya dari tubuh Nayla yang seperti patung kemudian tersenyum lembut pada Nayla.
"Baiklah kami pergi" Dika pamit lalu menarik koper keluar rumah.
Endy mengangguk perlahan kemudian berdiri menuntun Nayla keluar dari rumah lalu membantu Nayla masuk kedalam mobil, Endy tak mengantar sahabatnya kebandara ia tak sanggup melihat mereka pergi, ia sangat sedih dadanya terasa sesak, ikatannya dengan mereka sangat kuat melebihi saudara selama bertahun tahun mereka terus bersama berbagi kesedihan maupun kebahagiaan, tiba-tiba harus terpisah dan tak tahu kapan mereka akan kembali, sebenarnya ia juga sama seperti Aska tak setuju jika Nayla dan Dika pergi tapi ini demi kebaikan bersama dan ia juga ingin bule Jermannya ceria seperti dulu.
__ADS_1
"Aku pergi dulu" Dika menepuk bahu sahabatnya tak kuasa saling memandang dan memperlihatkan wajah yang penuh kesedihan.
"Ingat begitu Nayla sembuh cepat kembali" Endy kembali memeluk sahabatnya.
Dika tersenyum pelik masuk kedalam mobil Endy pun melambaikan tangannya tanda perpisahan, ia terus berdiri hingga mobil pergi dan tak terlihat lagi lalu kembali masuk kedalam rumah. Setetes air mata yang dari tadi ia coba bendung berhasil lolos dari matanya.
Ia menarik nafas panjang lalu masuk kedalam rumah memikirkan selanjutnya yang terjadi saat Aska datang dan tahu bahwa Dika dan Nayla telah pergi jauh, ia akan menjadi tempat luapan kemarahan Aska dan ia telah menyiapkan dirinya.
🌺🌺🌺
Sore hari seperti biasa sepulang dari kantor. Aska datang membawa sebuket bunga untuk Nayla ia masuk kedalam rumah dalam keadaan tersenyum, ia melihat Endy duduk sendiri diruang keluarga sambil mengutak-katik handphonenya. Aska menghampiri Endy lalu menghempaskan tubuh lelahnya disamping Endy.Endy hanya diam ia masih sibuk bermain game dengan handphonennya, melihat sahabatnya yang tidak menghiraukannya. Aska kemudian berdiri hendak menuju kamar Nayla, iapun melangkahkan kakinya sambil memegang bunga.
Endy menatap punggung Aska yang meninggalkannya menuju kamar Nayla, ia tahu saat Aska nanti keluar dari kamar Nayla dia pasti akan marah.
Aska membuka pintu kamar Nayla mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan yang hampir penuh dengan barang-barang pemberiaannya namun yang ia cari tak hadir dalam pandangannya, ia mengernyitkan dahinya kemana dia fikirnya, tak lama ia teringat ucapan dika yang akan pergi membawa nayla.
Aska berdiri dihadapan Endy
"Endy mana Nayla?" Tanya Aska dengan tatapan tajam suara mengintrogasi.
"Dia dan Dika telah pergi" Ucap Endy datar
"Pergi" Tubuh Aska seketika lemas, tak terasa bunga yang ia pegang terlepas dari tangannya.
"Kenapa kau membiarkannya pergi" Bentak Aska dengan amarah mulai naik mengcengkram kerah baju Endy.
"Karena ini yang terbaik untuk Nayla, apa kau tak ingin bule Jerman kita kembali seperti dulu, aku merindukkan keceriaanya dan kau tak boleh egois" Jelas Endy memberi pengertian pada sahabatnya.
__ADS_1
Aska melepaskan kerah baju Endy
"Kemana dia pergi" Tanya Aska namun Endy hanya terdiam.
Aska kemudian meraih handphone yang berada disaku celananya mencoba menghubungi Dika namun nomor itu telah tidak dapat dihubungi.
"Aaaa.......sial" Umpat Aska lalu kembali mengarahkan pandangannya pada Endy
"Kutanya sekali lagi dimana dia" Bentak Aska pada Endy
"Kau tidak perlu tahu, aku tidak akan memberitahumu dimana dia, biarkan dia fokus dengan kesembuhan Nayla, ia berjanji akan kembali saat semua telah menjadi baik.
"Kau tak ingin memberitahuku....." Kembali kesal pada sahabatnya.
"Baiklah jika kau tak mau memberi tahuku, aku akan mencari tahu sendiri" Aska tersenyum menyeringai mengancam Endy.
Tentu saja dengan semua yang Aska miliki dengan mudah ia akan tahu dimana keberadaan Dika namun disinilah tugas Endy mencoba memberi pengertian pada Aska agar tak mengagalkan rencana Dika dan menghalangi Aska mengetahui keberadaan Dika.
"Aska tunggulah dia bilang hanya tiga bulan" Ucap Endy menepuk sebelah bahu Aska
"Apa kau bilang 3 bulan ..? kenapa lama sekali, apa pernah kita berpisah dengan mereka lebih dari tiga hari dan kau bilang hanya tiga bulan!" Ucap Aska teriak frustasi
"Sabarlah dia pasti kembali untukmu, kalian akan bahagia nanti saat ia kembali" Endy menenangkan Aska, agar risau hatinya sedikit berkurang.
Tanpa kata lagi Aska pergi meninggalkan Endy dengan kekecewaan yang mendalam ia mengaggap kedua sahabatnya itu tega padanya, ia bahkan belum mengucapkan selamat tinggal untuk Nayla dan melihat wajah Nayla sampai puas.
Endy berdiri menatap Aska yang meninggalkannya.
__ADS_1
"Sabar Aska, saat semua kembali seperti semula Nayla akan kembali untukmu dan hidup bersamamu karena ia juga mencintaimu anggap saja ini adalah ujian terakhirmu, kau akan bahagia selamanya nanti bersamanya, aku yakin bule Jerman itu akan merindukkanmu juga" Batin Endy.