Jodoh Pilihan Kakakku

Jodoh Pilihan Kakakku
kehilangan


__ADS_3

Waktu menunjukkan pagi dini hari. Seperti biasa Dika pulang dari club malam. Ia membuka pintu rumah, pandangannya mengarah pada seluruh isi rumah kemudian tertunduk lemah. Rasanya sangat sepi, biasanya saat ia membuka pintu Aulia akan berdiri menyambutnya dengan senyuman. Senyuman tulus yang mampu membuat rasa lelah hilang, seketika Dika menghempaskan tubuhnya disofa meregangkan tubuhnya yang penat. Ia terus terkenang masa bersama istrinya. ia sangat merindu perasaanya sangat kehilangan, ia mulai bergantung pada perhatian Aulia menjadi istri yang baik menyiapkan seluruh kebutuhannya. ia mulai sadar ia sangat mencintainya.


Aulia telah pergi meninggalkannya, Pak Samad sangat marah akan kebohoga. Sebenarnya pak Samad bukan tak memaafkan kebohongan tapi ia sangat kecewa saat tahu ternyata Dika tak mencintai anaknya, Saat mereka menikah padahal pak Samad menerima pernikahan ini karena mengira mereka saling mencintai ternyata orang tua itu salah, hanya anaknya mencintai lelaki itu dia seperti tak bisa menerima anaknya tak mendapatkan cinta suaminya.


Sudah berkali-kali Dika berjuang untuk mendapatkan Aulia kembali namun sangat sulit, ia sudah berusaha menemui menjelaskan seluruh perasaannya tapi ia tak diberi kesempatan, pak Samad selalu mengusirnya tak mau mendengarkan penjelasaannya.


***


Hari telah sore Endy sedang berkunjung dirumah Dika membuka pintu rumah yang tak terkunci dilihatnya Dika tertidur disofa masih mengenakan semua perlengkapan yang mereka pakai saat ke club malam, Endy menuju sofa kemudian membungkuk membangunkan Dika.


"Dika ....Dika," panggil Endy menggoyangkan-goyangkan badan sahabatnya menyuruhnya untuk bangun.


" Hei bangun... kita akan kerumah Aska" terus membangunkan Dika.


Dika menggeliat perlahan mulai menggumpulkan kesadarannya saat ia membuka mata hanya Endy yang ia lihat bukan wanita yang ia rindukan.


"Endy ada apa?" protes karena telah mengganggu tidur nyeyaknya.


"Hari ini ayo kita kerumah Aska," ajak Endy mencoba menghibur sahabatnya, semenjak Aulia pergi meninggalkannya. lelaki ini selalu murung, tak bersemangat biasanya selalu menimpali perkataannya sekarang hanya lebih banyak diam.


"Kenapa kita kerumah Aska?" dengan wajah datar dan rambut acak-acakan khas bangun tidur.


"Aku ingin melihat bule Jerman, apa keponakanku baik-baik saja" jelas Endy tak sabar menanti kelahiran Nayla dan mereka selalu datang berkunjung untuk mengecek kandungan kesayangan mereka.


"Lagi pula mereka telah pindah dari apartemen dan pindah kerumah yang lebih luas"


"Memangnya kenapa lagi mereka pindah" karena sedihanya tak tahu apa pun mengenai adiknya.


"Karena bule Jerman lagi hamil, jadi Aska menugaskan banyak pelayan untuk menjaganya"


Dika hanya diam tak menimpali lagi, lalu berdiri akan membersihkan diri kemudian mengunjungi adiknya dan sahabatnya.


***


Rumah Aska.


Mereka telah berada didalam rumah Aska, duduk berkumpul diruangan santai setelah menikmati makan malam bersama. Selama Nayla hamil ia tak bisa beraktivitas Aska benar-benar menjaganya hingga untuk bergerak saja susah dan diatur. Pengalaman dulu saat mereka kehilangan janin mereka tak boleh terjadi lagi kerena itu semua telah diatur oleh Aska.


"Nay, gimana kandungan kamu" tanya Endy Antusia duduk disamping Nayla. di sampingnya ada Aska sibuk dengan laptopnya.


" Baik kak Endy" Nayla tersenyum disini ada Endy setidaknya mereka bisa berbincang.


"Udah gerak belum?" tanya Endy penasaran tak seperti biasa jika ia bertanya aneh-aneh dika akan menimpalinya.


"Ya belum dong kak, kan baru janin" jelas Nayla.


Hanya Endy yang bersemangat bertanya sedangkan Dika hanya diam, Aska hanya menatap laptopnya Semenjak Nayla hamil Aska jarang kekantor ia menghabiskan waktunya hanya untuk menjaga kandungan istrinya. Ia akan berusaha lebih baik dari sebelumnya.


"Nay,coba lihat kakak bawa buku nama bayi" jelas Endy mengeluarkan buku yang sengaja ia persiapkan.


"Emmm" Aska berdehem menatap Endy tak mau membahas masalah nama sama seperti dulu mereka menyiapkan semuanya namun berakhir kecewa.


Endy tersenyum pelik.


" Ia, ngak deh" Lalu menyimpan buku itu.


Nayla dan Endy terus menggobrol tentang masalah kehamilan sedikit. curhat tentang perhatian Aska yang berlebihan.


"Kak Endy" menjunjuk Dika dengan ekor matanya. yang diam.


"Ia Nay, patah hati, baru aja move on, patah hati lagi" jelas endy berbisik heboh dengan Nayla.


"Lambat sih nyadarnya, udah dikasi tahu juga kalau dia mulai suka, eh gengsinya gede banget ngak mau mengakui" jelas Nayla tersenyum gemas melihat sikap cuek kakaknya, sekarang ia ditinggal istrinya. Sebenarnya bule Jerman ini bisa saja membujuk Pak Samad untuk meminta Aulia kembali, tapi apa ada, jangankan kerumah pak Samad berjalan kekamar mandi saja ia digendong oleh suami protektifnya. ia menerima perawatan seperti orang lumpuh yang tak boleh bekerja apa pun.


"Ia, kamu tahukan kakak kamu memang seperti itu, malu tapi mau, kasian dia Nay jadi duren, mana belum malam pertama lagi" ucap endy yang kompak cekikikan tertawa berdua.


"Ia kak, duda kembang dong dia" Nayla menimpali lalu kembali terkekeh bersama memang jika kedua orang ini sudah bicara hanya tampak seperti ibu-ibu rempong yang lagi ngegosip. Hanya suara Nayla dan Endy dalam ruangan.


Aska menutup laptonya menatap jam ditangannya.

__ADS_1


"Sayang waktunya tidur" ucap Aska bahkan waktu tidur pun diatur olehnya.


"Nay, belum mengantuk, aku masih mau disini" tolak Nayla. masih ingin berbincang dengan Endy. mengetawai nasib kakaknya.


"Ini waktu tidur sayang, kamu harus banyak istrirahat, kamu ngak boleh lelah"


"Lelah dari mana, Nay ngak lelah, gimana mau lelah jalan digendong, makan disuapi," protes Nayla pelan memasang wajah cemberut.


"Udah kamu tidur sana" Endy kali ini tak membela bule Jerman dia juga menjaga kandungan itu dengan baik.


Nayla mengerucutkan bibirnya ketika Aska mengangkat tubuh mungilnya kekamar meninggalkan, kumpulan lelaki itu.


***


Aska dan Endy masih berada diruang tengah tak ada pembahasan dari mereka, semua Sibuk dengan urusan masing-masing. Endy dengan ponselnya, Aska dengan laptopnya dan Dika hanya terdiam dengan lamunannya.Suasana hening. Dika hanya terus terniang-niang wajah Aulia ia sangat merindukkannya dan ia ingin kembali bersama istrinya. Ia telah jatuh cinta. Nama sang mantan telah hilang dengan mudah dalam hatinya berganti gadis cantik anak pak Samad.


Dika memperhatikan dua sahabatnya kali ini ia telah mengakui jika ia menyukai gadis aneh anak pak Samad itu dan ia ingin memberitahukan pada sahabatnya tentang persaannya yang dalam pada istrinya.


Dika menegakkan tubuhnya yang bersandar disofa lalu mencoba membagi bebannya pada sahabat, agar kesedihannya sedikit berkurang dan sahabatnya pasti senang medengar pengakuan yang mencintai Aulia karena itu yang sahabatnya tunggu ia mengakui jika telah menyukai anak pak Samad. dan beberpa kali 2 lelaki ini memancingnya untuk mengakui perasaannya namun ia selalu menyangakal menutup hati.


Dika menatap Endy dan Aska yang sibuk dengan kegiatan masing-masing.


"Emm" Dika berdeham agar perhatian dua sahabatnya teralihkan padanya namun mereka tak ada yang memperhatikannya.


"Hei ada sesuatu penting yang ingin aku katakan pada kalian" jelas Dika akan memberitahu isi hatinya.


Aska dan Endy kompak mengarahkan pandangannya pada Dika sejenak lalu kembali menatap laptop dan ponsel.


"Hei kalian, aku akan bicara serius dan penting" Dika mulai kesal mereka tak menghiraukan.


Dika tak peduli mereka memperhatikan atau tidak kali ini ia akan memberitahukan pada sahabatnya dan Dika yakin mereka akan terkejut mendengar ini, karena pengakuan inilah yang ingin mereka dengar.


"Hei kalian dengar dulu" ucapnya kesal pada dua lelaki ini tak menatapnya sedikitpun.


"Aku ....Aku..."ucapnya terbata sangat susah untuk mengakui perasaanya.


" Aku mencintai anak pak Samad" ungkapnya dengan susah payah ia akhinya mengakui telah mencinta pada gadis aneh itu.


"O..." kompak mereka lalu kembali pada kesibukkannya pada ponsel da laptop ,Dika membelalakan matanya melihat sahabatnya tak terkejut dengan pengakuannya. membuatnya mulai kesal. Ia sudah galau namun dua lelaki ini sama sekali tak menghiraukan kegelisannya.


"Hei kalian, aku serius" Dika kesal lalu melempar bantal sofa kewajah sahabatnya yang hanya diam.


"Aduh...." kompak Endy dan Aska.


"Kenapa kau melempar kami bantal," protes Endy bedecak kesal.


"Kau kenapa sih" Aska juga kesal menerima lemparan bantal.


"Karena Kalian aku mengakui, mencintai anak pak Samad dan kalian hanya diam saja" Dika juga kesal emosinya tak terkendali sekarang hanya ingin mencari lawan untuk melampiaskan kekesalanya.


"Kau tidak perlu marah juga, karena kami sudah tahu" Endy.


"Pengakuaanmu itu sudah terlambat ngak ada gunanya." Aska


"Kalian tahu" tanya Dika.


"Emmm" Aska melipat tangan didada menutup laptopnya.


"Hei Dika, lelaki ngak peka dan cuek, Kita ini bersahabat selama bertahun-tahun, isi kepala kalian itu, semua aku tahu, tanpa kau beritahu" jelas Endy.


"Benar hanya dari tatapan saja aku bisa melihat apa masalah kalian" Aska membenarkan ucapan Endy.


Mereka telah bersahabat lama sudah seperti saudara kandungan ikatan mereka lebih kuat dari ikatan persaudaran.


"Contoh seperti Aska ini" Endy mengarahkan telunjuknya pada Aska. lalu menjelaskan masalah yang mengganjal dihati sahabat itu.


"Aska kau pasti sedang resah memikirkan karena Nayla hamil jatah malammu dari istrimu berkurang juga kan?" jelas Endy. menjelaskan dengan yakin masalah Aska.


Aska mengangguk dengan memasang wajah sedih.

__ADS_1


"Kau benar bother" membuat mimik wajah seperti ingin menangis membenarkan ucapan Endy dan sekarang ia giliran Aska yang mengungkapkan keresahan Endy.


"Dan kau juga, kau kesepiankan karena Nayla telah hamil, Dika telah jatuh cinta lagi sedangkan kau masih menjadi seorang jomblo" jelas Aska mengungkapkan keresahanan Endy.


"Kau benar sekali brother, aku takut menjadi jomblo abadi" Giliran Endy memasang wajah sedih yang dibuat buat-buat.


"Kau dengar itu, jadi jika hanya untuk melihatmu jatuh cinta pada anak pak Samad, kami tahu, lebih dulu" jelas Aska.Pada Dika yang sekarang hanya terdiam ternyata ia benar terlambat menyadari perasaanya.


" Dan kau tahu kapan kau mulai mencintai istrimu itu, hari ke 7 pernikahanmu, kau jatuh cinta kerana ia selalu menyambutmu pulang dari club malam dan menyukai sifatnya yang seperti Nayla" Jelas Endy rinci.


" Dan saat kau bedebat dengan Nayla itu adalah pengakuanmu." jelas Endy lagi.


Dika mendengus lalu tersenyum remeh bagaimana Edny dan Aska begitu tahu isi hatinya yang ia pun terlambat tahu.


"Lalu apa yang harus kulakukan untuk kembali bersamanya" Dika meminta saran pada sahabatnya ,ia telah putus asa dengan semua masalah ini, entah bagaimana lagi meyakinkan pak Samad.


"Temui dia dan katakan perasaanmu, minta maaf lalu minta ia kembali padamu" saran Aska.


"Itu tidak mungkin, aku sudah mencobanya tapi tak bisa, bapaknya selalu menghalangi dan mengusirku, bahkan ia menunggu didepan kantor" jelas Dika tertunduk.


"Kamu mengendap-endap saja kerumahnya diam-diam," jelas Endy santai menatap ponsel ucapan yang menurutnya bercanda. hanya menggoda Dika karena ia tahu Dika ini tak akan mau melakukan itu.


" Hei Endy, saranmu itu kalau ketahuan habis dia, dikeroyok satu kampung, tapi lucu juga jika digrebek." jelas Aska tersenyum menatap laptopnya.


"Ngak apa-apa dong, dia mengendap-endap kerumah pak Samad, apa lagi kalau dia hamilin anak pak Samad. Pak samad pasti akan merestui merestui, nah anaknya udah bunting duluan" jelas Endy terkekeh dengan ide gilanya diikuti oleh Aska yang juga tertawa lalu saling tos mempertemukan tanganya. Namun siapa sangkang lelaki didepannya menyeringai menatap mereka. menganggap serius ide gila itu. isi kepala Dika telah dipenuhi oleh Aulia dan dengan gila ia mengiyakan saran yang hanya lelucon itu.


"Oke, Aku setuju, kalian akan menemaniku" jelas Dika menyeringai menatap sahabatnya.


Aska dan Endy kompak mengarahkan pandanganya pada Dika lalu mereka menelan ludah dengan susah payah, ia hanya berniat bercanda tadi tapi kenapa sahabatnya yang bijak ini setuju dengan sarannya.


"Dika aku hanya bercanda, aku tidak serius, hahahha, ia kan Aska" tolak Endy tertawa dipaksakan dan tiba-tiba wajahnya pias kerumah pak Samad di malam hari sama saja mengantarkan kepalanya dengan suka rela.


"Ia,..hahaha...Aku juga, masa kita pergi kerumah pak Samad malam-malam" Aska juga tertawa paksa lalu menjawab dengan terbata.


"Aku tidak mau tahu temani aku kerumah pak Samad, aku ingin bertemu istriku" pinta Dika sekarang telah berdiri hendak menyeret dua sahabatnya.melihat Dika yang tak bercanda merekapub berubah serius.


"Kau gila ya, ngak-ngak, aku ini presedir masa malam-malam aku mengendap ngendap kerumah pak Samad kalau ke tahuan aku bisa malu, ajak Endy aja" tolak Aska.


"Kok aku, Aska aja, aku takut kuntilak pak Samad" Endy menjelaskan rumah pak Samad yang memiliki pohon beringin angker.


"Aku juga ngak bisa, aku harus menjaga Nayla yang hamil kasian dia" Alibi Aska.melambaikan tanganya tanda menolak.


Dika menarik nafas dalam melihat dua sahabatnya menolak untuk berjuang untuk mendapatkan kembali istrinya.


" Hanya mengantar saja, kita kan sahabat, tolong aku brother" Pinta Dika.memohon wajahnya penuh harap.


"Tidak" kompak Endy dan Aska menolak.


"oh begitu, apa aku harus memanggil bule Jerman itu untuk menyuruh kalian, apa lagi jika aku mengatakan jika, menemani bertemu kakak ipar tersayangnya" Ancam Dika ia tahu jika bule Jerman akan mendukungnya dan 2 lelaki ini tak berdaya dengan perintah gadis kecil itu.


Endy dan Aska menelan salivanya dengan susuh payah. mendengar ancaman Dika yag akan membawa bule jerman dalam masalah ini.


"Hei Dika fikir lagi, istriku sedang mengandung, jika ketahuan kita akan mati kasian adikmu akan menjadi janda , bawa Endy aja yang tak punya tanggungan. " jelas Aska memohon.ia sangat tak ingin pergi.


"Kau" kesal Endy mendengar ucapan Aska yang malah mendorongnya ikut lalu ikut berdiri.


"Baiklah kami akan ikut, demi sahabat ayo.." Endy berdiri menarik tangan Aska namun Aska menolak.


"Aku tidak mau, aku ini presdir, aku punya nama baik, nama aku akan tercemar jika ketahuan" teriak Aska mencengkram kuat sandaran sofa tak ingin ikut namun kedua sahabatnya ini malah menarik paksa kedua kakinya.


" Endy ini semua ide gilamu" teriak Aska.


.


.


.


..

__ADS_1


.Like,coment, vote.....


"


__ADS_2