
Sementara Aska sibuk dengan ke khawatirannya dengan Nayla dirumah Dika disana juga sudah siap dengan perdebatan.
Dika duduk diteras rumah memasang raut wajah cemas, pandangannya selalu menuju pagar rumah menunggu kepulangan Endy ia terus memperhatikan layar handphonenya, ia lalu berdiri kembali mondar-mandir namun beberapa saat ia mulai mendengar suara motor samar samar ditelingan. ia bergegas berjalan menuju pagar rumah ternyata yang ia tunggu-tunggu datang juga Endy datang memarkirkan kendaraanya di depan teras rumah, ia masih dia atas motor dika kemudian melemparkan pertanyaan padanya.
"Dari mana saja kau seharian?" Tanya Dika wajahnya cemas berdiri disamping motor Endy
Endy membuka helmnya, menarunya di stang motor, turun dari kendaraaannya, ia menarik nafas panjang ia tahu ini pasti tidak akan berlalu dengan mudah apa lagi baru kali ini setelah salah pahamannya dengan Caren ia bicara pada Dika.
"Aku dari jalan-jalan dengan Nayla"Jawab Endy dengan wajah tak bersemangat ia sangat lelah saat ini ia tahu apa yang ingin Dika bicarakan padanya namun ia ingin menghindar takut rahasia dengan Nayla terbongkar ia berjalan melalui Dika
"Endy tunggu" Dika memegang bahu Endy.
"Ada apa lagi" Endy membalikkkan badannya suaranya ketus.
"Kau dari mana saja, kemana kau membawa nayla" Tanya Dika mulai kesal dari tadi mengintrogasi Endy namun ia tak dapat jawabannya yang memuaskan .
"Jalan-jalan"Jawab santai
Endy melanjutkan langkah kakinya masuk kedalam rumah namun Dika terus mengikutinya dari belakang ia tidak akan puas sebelum mendapat jawaban dari Endy ia sangat tahu sahabatnya ini sedang berbohong.
Endy telah berada di dapur ia melangkahkan kakinya kearah kulkas, membuka pintu kulkas lalu meraih botol minuman ia menutup kembali berjalan menuju meja makan yang disana telah ada Dika duduk tenang menuggunya dengan tatapan tajam, ia meraih gelas yang tertata dimeja makan lalu menuangkannya ke gelas kemudian menengakknya. Dika terus memperhatikan gerak gerik Endy .
"Dari tadi aku bertanya jawab yang jujur, jangan bohong" Bentak Dika.
"Aku sudah mengatakan dengan jujur, aku ke mall dengan Nayla tapi karena keasikan kami kemalaman"
Endy berbohong untuk menutupi rahasia Nayla meletakkan gelasnya lalu duduk di kursi berhadapan dengan Dika meja sebagai penghalang mereka.
"Jangan lakukan itu lagi kau harus sadar dimana posisimu, jaga batasanmu ,Nayla itu sudah menjadi istri Aska kau tak boleh seenaknya membawanya sesusakamu kemanapun kau mau, apalagi kau tahu Aska seperti apa jika hal itu menyangkut Nayla" Dika memberi peringatan ke Endy .
Endy hanya diam mendengar dengan baik agar semua berakhir dan ia bisa pergi kekamar
"Ia aku minta maaf, ini tidak akan terjadi lagi, ini salahku" Endy berdiri hendak meninggalkan dapur namun Dika juga berdiri masih ingin membahas masalah ini. Dia tidak mau menghindar lagi karena Dika selalu mengikutinya ia kembali duduk memasang wajah malas.
Tidakkkah kau tahu berapa cemasnya aska dia menelponku setiap saat menanyakan kau dan Nayla dia sangat khawatir" Jelas Dika.
"Ia ini semua salahku" Suara Endy datar kembali berdiri namun lagi-lagi ia tertahan saat Dika juga ikut berdiri.
"Kau sudah menghancurkan hubunganku dengan Caren jangan sampai kau juga menghancurkan hubungan Aska dan Nayla" Suara Dika meninggi ia mengeluarkan isi hatinya mungkin ini yang dari tadi ia lakukan mencari tempat untuk menumpahkan kekesalannya. Hingga masalah Nayla dan Aska terseret masuk. ia hanya sebagai pelampiasan.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" Endy masih berdiri melipat tangannya.
"Hubunganku dengan Caren telah berakhir ternyata kami hanya membuang waktu bertahun-tahun menjalani hubungan ini dan aku tak ingin Aska juga mengalami hal seperti ini" Jelas Dika menatap tajam ke Endy.
Endy mendengus tersenyum remeh " Aska tidak akan berakhir sama sepertimu karena ia selalu berjuang untuk Nayla sedangkan kau menyerah dengan mudah" Endy meremehkan Dika.
"Bagaimana kami berjuang kau selalu menjadi pengacau dalam hubungan kami, kau selalu menjadi orang ketiga "Dika kesal.
"Aku bukan penggangu ataupun orang ketiga" Sangkal Endy geram mengepalkan tangannya.
"Lalu apa? hubunganku dengan Caren berakhir dan sekarang Aska dan Nayla pasti bertengkar karena kau, bahkan Nayla telah memintah pisah dari Aska " Teriak Dika berdiri amarahnya telah memuncak.
Melihat wajah marah Dika, Endy mengalah"ya maaf....aku tak berniat membuat semua ini terjadi" Tertunduk merasa bersalah ia masih menghormati sahabatnya.
"Semua tidak selesai dengan kata maaf, kau berhentilah menjadi penggangu" Bentak Dika
Prak...... Endy berdiri mengeprak keras meja dihadapannya dengan kedua tangan membuat Dika tersentak.
"Aku bukan penggangu atau orang ketiga dalam hubungan ini " Sangkal Endy.
"Kenyataaannya adalah kita selalu jatuh cinta dengan orang yang sama " Endy mengungkap fakta sebernarnya tentang dirinya, ia menjadi kesal selalu disalahkan.
"Ia apa kau tahu Caren adalah cinta pertamaku aku menyukainya sejak lama, bahkan jauh lebih dulu darimu namun aku tak pernah mengungkapkannya, karena aku tahu kau juga menyukainya, karena itu lah aku mundur merelakakannya untukmu dan mulai menyukai adikmu dan ternyata Aska juga menyukainya dan aku merelakan juga untukknya" Jelas Endy ia meluruskan kesalapahaman yang selalu terjadi padanya ia terus di salahkan.
Dika menghampiri Endy memegang kerah baju Endy dengan kedua tangannya" Kenapa kau melakukan itu, aku tak butuh pengorbananmu" Bentak Dika
"Ini semua demi persahabatan kita aku rela mengorbankan apapun demi kalian, demi persahabat ini aska berkorban dengan hartanya, kau mengorbankan masa depan adik kesayanganmu demi persahabatan ini. sedangkan aku tidak punya harta ,tidak punya saudara sepertimu jadi aku mengorbankan 2 cintaku pada kalian " Ujar Endy pasrah dengan apa pun tindakan Dika padanya.
Dika terdiam sejenak lalu melepaskan cengkramannya di baju Endy " Endy maafkan aku tak seharusnya kita bertengkar untuk masalah ini"Dika merasa bersalah dan kasian pada sahabatnya.
Endy merapihkan bajunya lalu" Tidak apa-apa berjuanglah untuk Caren, jangan lepaskan dia aku tidak mungkin bersamanya, aku tak punya perasaan apapun padanya, tak ada lagi namanya dihatiku" Endy memegang bahu Dika.
"Berjuanglah dengan keras jangan pernah menyerah sama seperti yang Aska lakukan dan sekarang ia mulai mendapat tempat dihati Nayla aku sudah melihat cinta Nayla untuk Aska.itu hanya masalah waktu "
Endy menyemangati Dika ia tahu perasaan Dika pasti campur aduk ia tahu sahabatnya lagi merasakan hal yang sama dengannya yaitu patah hati.
"Benarkah itu terjadi" Wajah Dika berubah senang
"Ia walaupun bule jerman itu belum mengakui perasaannya "Jelas Endy.
__ADS_1
Endy pergi meninggalkan dapur disusul Dika dibelakangnya menuju ruang keluarga, Endy menghempaskan tubuhnya disofa mengurut pangkal hidungnya. Dika duduk disebelahnya memengang remot tv hendak menyalakan tv namun ia urungkan karena Endy mengarahkan tubuhnya kearahnya.
Endy berniat memberitahu Dika masalah rahasia Nayla agar tak menjadi kesalapahan dan menimbulkan kekacauaan, ia tak sanggup menyimpan kebahagian ini sendiri, ia ingin membaginya agar hati Dika senang dan sejenak melupakan patah hatinya.
"Dika sebenarnya aku dan Nayla kerumah sakit tadi" Ucap Endy pelan
"Nayla sakit?dika mulai panik " Sakit apa adikku, kenapa bukan Aska yang mengantarnya? " Dika mencengkram bahu Endy.
"Dia tidak apa-apa.... kata dokter dia ....."
"HAMIL" Ujar Endy berteriak semangat kembali senang
"Apa kau bilang hamil.....ha...ha...Nayla hamil"Dika tertawa keras sangat bahagia
"Itu berarti kita akan menjadi paman, seorang anak kecil akan hadir diantara kita berempat, keluarga kita bertambah " Ujar Dika senang membayangakan keseruan akan hadir anak kecil diantara mereka.
"Ia dia hamil namun ia belum memberitahukan Aska" Endy tertunduk.
"Ayo kita kesana, aku ingin bertemu adikku"Dika bangun dari duduknya namun Endy menarik tangannya mencegah sahabatnya namun Dika masih terus berjalan membuatnya ikut tertarik lalu berdiri memegang bahu Dika
"Dika ini sudah larut malam " Endy menghadang Dika dengan tubuhnya.
"Minggir ....tapi aku ingin bertemu adikku, Adikku sedang hamil aku ingin berbagi kebahagian dengannya" Ucap Dika
"Besok saja kita pergi, ini sudah larut Nayla pasti sudah tidur, kau hanya mengagetkan pelayan Aska " Jelas Endy menghalangi jalan Dika
Dika mengurungkan niatnya lalu kembali tersenyum berteriak " Endy kita akan jadi paman suaranya mengudara tertawa bahagia.
Endy membungkam mulut Dika dengan tangan "diam ini sudah larut suaramu terdengar tetangga.
"Kita akan menjadi paman Endy" Dika melepaskan tangan Endy mengenggam sebelah telapak Endy lalu tangan .Dika merentangkannya sebelah tangan Endy lalu memutar tubuhnya di bawah tangan Endy, seperti orang berdansa dan di balas oleh Endy kini giliran Endy yang merentangkan sebelah tangannya berputar dibawah lengan Dika mereka menari bahagia, mereka akan mendapatkan satu boneka kesayangan yang akan mereka curahkan kasih sayang dan perhatiaannya sama saat Nayla masih bersama dengan mereka.
.
.
.
.like, coment ,vote juga dong....
__ADS_1