
1 TAHUN KEMUDIAN
Nayla dan Dika telah pergi meninggalkan Endy dan Aska, ketempat yang lebih tenang untuk Nayla, semua Dika lakukan agar Nayla kembali ceria seperti dulu.
Waktu demi waktu berlalu terasa begitu berat, waktu 3 bulan yang dikatakan Endy pada Aska tidak terbukti, Dika dan Nayla tak juga kunjung kembali hingga saat ini. Sudah 1 tahun penantian panjang itu namun kepergian mereka yang tak ada kabar berita dari Dika bagaimana keadaan Nayla dan kapan mereka pulang.
Kepergian Nayla membuat dampak yang sangat besar pada Aska, ia merasa sangat kehilangan, ia sangat merindukan istrinya. Untuk melupakan sejenak kerinduannya ia mengalihkan perhatiannya dengan bekerja, Aska menjadi gila kerja, waktu yang ia habiskan hanya untuk bekerja, menjadi bos yang arogant dan dan dingin. Meluapkan semua amarahnya dengan menindas bawahannya, sudah tak ada senyum di wajah tampannya, yang ada hanya tatapan membunuh yang siap menerkam karyawannya yang berbuat kesalahan. Sikap tegas dan kerja kerasnya membuat Dirgantara Mitra semakin kokoh dan berkembang menjadi perusahaan paling atas. Aska terkenal menjadi presdir kejam, tegas, dingin dan tak punya belas kasihan yang menindas karyawan kantornya dengan memberinya lembur, pekerjaan yang tak masuk akal, tak boleh ada kesalahan sedikit pun dan tak segan mengeluarkan ancaman bagi karyawannya dengan berupa ancaman pemecatan dan potong gaji. Semua itu adalah luapan kerinduan yang besar, keputusasaannya menunggu Nayla, yang harus di tanggung oleh semua orang terdekatnya.
Sedangkan Endy setelah kepergian Nayla dan Dika ia juga tak luput dari siksaan Aska. Endy diangkat menjadi asisten Aska, ia digaji yang besar hingga berlipat-lipat oleh perusahaan Dirgantara Mitra hanya untuk berada disamping Aska, tak ada yang bisa menggendalikan jika presdir ini sedang marah, kecuali Endy hanya ia yang bisa bicara dengan Aska yang selalu memaksakan keinginannya yang tidak masuk akal pada karyawannya, Endy diangkat langsung oleh pak Chan untuk bicara pada Aska, disinilah tugas Endy menggendalikan emosi sahabatnya, Endy pun terkadang kewalahan menghadapi Aska, bahkan terkadang ia pun harus terlibat baku hantam dengan Aska jika presdir ini sudah tidak bisa dikendalikan dan permintaannya sudah tidak dapat dikabulkan, terpaksa kekerasan adalah jalan keluarnya.
Tiap hari Endy dan pak Chan harus melihat pemandangan tubuh gemetar bawahannya ketika berhadapan dengannya, Aska memarahi karyawannya mengancamnya, bahkan Endy dan pak Chan pun tak luput dari kekejaman Aska.
"Laporan apa ini buat ulang, pak Chan potong gajinya 10 persen" Ucap Aska jika kesal pada sekertarisnya lalu membuang laporan di meja kerja, menatap dengan tatapan dingin dan tak ada senyuman.
"Aku mau berkas laporan ini selesai hari ini juga, jangan pulang jika belum selesai hari, kalau perlu menginap saja disini . Jika tidak selesai, pak Chan potong gajinya 20 persen." Bentak Aska ketika memaksa kehendakknyan pada karyawannya.
"Malam ini semua karyawan harus lembur, jika tidak ikut lembur, pak Chan potong gajinya 10 persen dan tak akan ada kenaikan gaji selama 1 tahun" Ucap Aska ketika ia sangat kesepian dan igin karyawannya merasakan deritannya.
"Aku mau kopi yang panas airnya 70 derajat celcius, pak Chan potong gajinya 5 persen" Ucap Aska kesal, pada oficce boy yang bertugas pun tak luput dari kekejamannya .
"Aska itu dia itu membuat kopi bukan susu bayi" bantah Endy memutar bola mata jengah, membela OB yang ada dihadapannya ia tersulut emosi jika Aska sudah terlewat batas
"Endy kau berani bicara saat aku sedang kesal, kupotong gajimu 20 persen" Ucap Aska kesal dengan tatapan dingin
"Kenapa bukan leher kami saja yang kau potong" Ucap Endy tak kalah kesalnya
__ADS_1
Itulah yang terjadi dikantor Dirgantara Mitra sejak kepergiaan Nayla dan Dika, yang ada hanya suasana mencekam dan menakutkan di kantor bergengsi dan ternama ini, dari luar karyawan bisa berbangga hati memamerkan kantor terbaik ini, namun sebenarnya yang ada suasana mencekam, tekanan dan aura potong gaji yang mereka lihat dari presdir mereka.
🌺🌺🌺
malam semakin larut dua anak manusia ini masih sibuk dengan pekerjaan mereka, Endy dan Aska duduk berselonjoran kaki dilantai ruang kantor sedang memeriksa berkas laporan. Aska sibuk menatap laptop yang ada dihadapannya sedangkan Endy matanya sudah hampir terpejam membaca banyak file, yang ada di meja dihadapannya. Malam ini ia kembali menemani Aska lembur, dari tadi ia merengek seperti anak kecil meminta untuk pulang mengistirahatkan tubuhnya yang lelah bekerja seharian, namun sahabatnya ini masih belum mengakhiri pekerjaannya, membuat Endy terheran melihat Aska yang tak pernah sedikit pun mengeluh dan lelah dalam bekerja tubuhnya seperti mati rasa ditinggal oleh Nayla.
"Aska ayo kita pulang" Ajak Endy yang dari tadi menguap menahan kantuk. Menatap Aska yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Nanti saja kita harus fokus pada produk baru yang akan launching sebentar lagi, akan ada acara perusahaan juga."Jelas Aska masih menatap laptopnya, tak menghiraukan Endy.
Endy melemparkan file ke meja lalu menaruh kepalanya di meja.
"Aku sudah sangat lelah, aku mengantuk." Keluh Endy matanya telah memerah karena menahan kantuk.
Aska menarik nafas dalam sejenak melihat tingkah sahabatnya.
Endy mendongakkan kepalanya, menatap Aska
"Tidur disini lagi" Ucap Endy.
"Aska kita sudah tidur dikantor, selama dua hari, kau ingin membuatku terkena serangan jantung karena kekelahan, aku belum menikah, lihatlah gadis-gadisku merindukanku, karena aku tak punya waktu untuk mereka" Keluh Endy menunjukan handphonenya yang dari tadi bergetar.
"Sudah jangan berisik, tidurlah jika kau mengantuk"
"Aku butuh tidur nyenyak, lihat kantung mata kita, wajah tampanku sudah terlihat seperti Zombie." Ucap Endy menujuk matanya kemudian kembali merebahkan kepalanya di meja.
__ADS_1
"kalau mau mati gantung diri saja sana sendiri, jangan menyiksa diri dengan bekerja sampai mati perlahan-lahan, tenaga apa sih yang dia pakai, ngak ada matinya, ngak pernah lelah sedikit pun, menyusahkan saja" Umpat Endy berbisik kesal menyembunyikan wajahnya di meja
"Apa kau bilang, Endy aku mendengar kau mengumpat dibalik meja!" Aska menatap tajam Endy.
"tidak, aku tidak bilang apa-apa" kilah Endy menegakkan tubuhnya.
"Aku mendengarnya tadi, kupotong gajimu 5 persen karena berani mengumpat presdir."
"Ia maaf, begitu saja pun potong gaji" oceh Endy mengerucutkan bibirnya, kembali menempelkan kepalanya dimeja.
Malam semakin larut, Endy telah terlelap dilantai ruangan dengan mendekap file di dadanya yang seharusnya dia baca, Aska melihat tubuh sahabatnya yang telah masuk dalam dunia mimpi, ia kemudian meregangkan tubuhnya, menutup laptopnya, matanya mulai lelah.
Aska beranjak dari duduknya menuju kursi kebesarannya, dia mendudukkan tubuhnya menarik laci meja meraih bingkai foto yang terlihat gambar istrinya tersenyum ceria, gambar yang memberinya semangat, menghapus seluruh lelahnya, Aska memperhatikan gambar itu lekat ia menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk senyuman.
"Apa kabarmu disana Nay, Aku sangat merindukanmu, apa tidak ada sedikit pun rindumu padaku, sama seperti yang aku rasakan, kenapa kau tidak pulang?" Wajah Aska berubah sedih, rindunya yang sangat besar, rasanya ia sudah hampir gila berpisah dengan Nayla begitu lama.
Aska terdiam sejenak kemudian mengelus gambar itu.
"Cukup Nay, sudah terlalu lama kamu pergi, aku tak tahan lagi, aku sudah membiarkanmu pergi meninggalkan aku terlalu lama, aku akan pergi menjemputmu."
Aska kembali melihat laci meja kerjanya lalu melihat amplop berwarna cokelat yang berada didalam laci kerjanya, telah lama ia menahan diri untuk tidak membuka amplop itu. Amplop yang berisi data di mana keberadaan istrinya, ia tak pernah membukannya karena ia sadar, jika ia tahu dimana keberadaan Nayla ia pasti tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menemui istrinya meluapkan segala kerinduannya.
Aska hendak meraih amplop itu saat ia hendak memegangnya, kemudian dia mengurungkan kembali niatnya dan menutup kembali laci meja itu.
"Aku akan memberikan waktu padamu lagi, jika dalam bulan ini kau belum pulang juga, aku akan menjemputmu" Ucap Aska.
__ADS_1
kembali menutup laci kerjanya lalu beranjak dari kursi kebesarannya dan kembali malam ini ia tidur dikantor dengan Endy.