
Malam telah berganti pagi, sinar matahari masuk kedalam kamar menyilaukan mata. Aska berbaring disamping Nayla, semalaman ia memeluk tubuh Nayla dan terus terjaga ia tak bisa memejamkan matanya sesaat pun. Perasaannya campur aduk ia sangat bahagia akan mejadi ayah, ia masih khawatir dengan kondisi Nayla yang belum juga sadarkan diri. Ia tak tenang sebelum melihat Nayla sadarkan diri.
Nayla mulai menggerakkan tubuhnya perlahan dalam pelukan Aska dan dengan cepat bangun dari tidurnya duduk melihat kondisi Nayla. Aska meraih tangan Nayla yang tak terinfus mengenggamnya.
"Nay" Panggil Aska dengan lembut.
Nayla mendengar suara Aska lalu membuka matanya perlahan, dihadapannya sudah ada wajah tampan Aska menyambut paginya.
"Nay syukurlah kamu sudah sadar, kakak sangat khawatir" Mengecup punggung tangan Nayla.
Nayla terdiam masih belum mengerti semua apa yang telah terjadi, mengapa Aska terlihat cemas dia mengarahkan pandangannya lalu tertuju pada selang infus yang menggantung, ia mengangkat tangannya dan memperhatikannya lekat mencoba mencerna semuannya, ia memegang kepalanya yang masih terasa berat. Ia mulai ingat semalam kepalanya sangat pusing, kemudian tak tahu apa lagi yang terjadi.
"Mana yang sakit Nay" Tanya Aska cemas melihat Nayla memegang kepalannya
" Kakak tahu?" Tebak Nayla pelan melihat selang infus terpasang ditangannya.
"Ia, Nay kamu hamil, kenapa kamu ngak memberitahu kakak" Terus mengenggam tangan Nayla menaruhnya dipipi.
"Karena kakak lagi marah denganku" Ucap Nayla lirih matanya mulai berkaca-kaca.
"Tidak Nay... kakak ngak marah, kakak hanya takut dengan kata perpisahan yang kamu ucapkan" Mengelus pipi Nayla dengan sebelah tangannya dan tatapan lembut.
Nayla meneteskan air mata " Jangan menjauhiku lagi, aku sangat sedih. Maafkan nay" Nayla terisak menyadari kesalahannya.
"Kakak yang minta maaf Nay, aku janji ini tidak akan terjadi lagi, aku yang salah tak seharusnya aku menghindarimu, seharusnya kakak orang yang pertama tahu kabar bahagia ini " Aska menangkup wajah Nayla menyeka air matanya.
"Sudah lupakan semua itu, kita mulai dari awal terima makasih Nay kau telah memberikan kebahagian untukku, kita akan menjadi orang tua, kita akan punya keluarga kecil lengkap kakak sangat senang " Aska tersenyum antusias mengecup punggung tangan Nayla.
Suara ketukan pintu kamar menghentikan percakapan mereka. Bibi May masuk mendekat kearah tempat tidur ia tersenyum melihat Nayla telah membuka matanya.
"Bagaimana kondisi anda sekarang nyonya "Bibi May duduk dipinggir tempat tidur memegang tangan Nayla wajahnya masih tersirat kecemasan.
"Aku baik-baik saja bibi May, Maaf telah membuat anda cemas" Suara Nayla pelan menarik sudut bibirnya keatas wajahnya masih terlihat pucat.
"Nyonya selamat atas kehamilan anda, tak lama lagi rumah ini akan diramaikan oleh suara tangisan anak bayi?" Bibi May sangat senang sudah tak sabar menunggu moment itu ia menjadi gemas sendiri membayangkan rumah ini .
"Bibi May tolong temani Nayla disini, aku mau mandi dulu"
Aska turun dari tempat tidur, berjalan menuju kamar mandi meninggalkan bibi may mengobrol berdua dengan Nayla
Beberapa saat kemudian Aska keluar dari ruang ganti pakaian memakai baju santai dan rambut telah tersisir rapi wangi tubuhnya menyeruak keseluruh ruangan. Ia lalu mendekat kearah tempat tidur.
"Anda tidak kekantor tuan?" Tanya Bibi May
"Tidak hari ini aku libur, aku ingin menemani Nayla"
__ADS_1
"Baikalah tuan saya permisi dulu, saya akan membawakan sarapan untuk kalian berdua" Bibi May pamit
Aska menghampiri Nayla duduk dipinggir tempat tidur, wajah tampannya selalu tersenyum bahagia, Nayla mengangkat tubuhnya mencoba bangun dari pembaringan.
"Nay kamu mau apa?" Aska membantu Mayla duduk ia menata bantal dibelakang punggung Nayla agar ia bersandar dengan nyaman.
Nayla duduk bersandar di ujung tempat tidur menatap selang infus yang menetes.
"Kak Aska apa ini sudah bisa dilepaskan" Nayla menunjukkan punggung tangannya
"Ngak bisa Nay, nanti kalau kamu udah sehat baru bisa dilepas" Jelas Aska tersenyum tipis terus mengarahkan pandangannya pada Nayla
Nayla mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban aska infusan itu menghambat pergerakkannya sekarang, karena infusan itu ia harus menghabiskan waktunya ditempat tidur.
"Kak, Nay mau mandi, Nay ngak tahan dengan bau badan Nay, Nay udah terbiasa mandi pagi" Nayla mengendus kerah piyamanya
"Aska mendekatka tubuhnya "Ngak kok kamu ngak bau" Tersenyum tipis terus menatap wajah Nayla membuat Nayla menjadi canggung.
"Ih...... Kak Aska, Nay mual, badan Nayla seperti ada bau aneh, ini bukan bau parfum, Nay mandi ya?" Pinta Nayla
"Aska semakin mendekat mengendus tubuh Nayla namun ia tak mencium bau apa yang ia maksud
"Ngak... ah... Nay dibilang dari tadi ngak bau, jangan banyak alasan nay kamu itu ngak boleh banyak gerak, kamu ngak boleh turun dari tempat tidur". Aska melipat tangannya didada, memutar mata jengah ia tahu gadis kecil dihadapannya ini hanya berpura-pura
"Kak benaran ini bau, coba kakak cium, seperti bau minyak angin, Nay mandi ya " Nayla memajukan kerah bajunya menyuruh mengendusnya Aska gemas melihat Nayla
"Ngak bau Nay" Aska kembali mengendus tubuh Nayla hinga ia sedikit kesal lalu membuktikan perkataan Nayla, setelah mengendus baju Nayla, aska lalu menangkup wajah Nayla mencium seluruh wajahnya, mulai dari pipi kiri berputar hingga pipi kanan membuat Nayla membulatkan matanya. Wajahnya bersemu merah jantungnya terasa ingin lompat keluar. Aska tersenyum puas namun menjadi kikuk dan salah tingkah ia mengaruk kepalanya yang tak gatal.
"kak aska, Nay bilang cium baju Nay, bukan wajahku" Nayla tertuduk tersipu malu tertunduk menyembunyikan wajahnya. Ia tak marah pada Aska, tidak seperti biasanya ia akan marah jika Aska menyentuhnya. Ia malah merasa ada taman bunga dihatinya.
"Itu bau minyak kayu putih Nay bibi May yang memberikannya ke tubuhnmu semalam agar kamu siuman " Ujar Aska pelan wajahnya juga memerah ia juga tak mengerti dengan apa yang ia lakukan entah keberanian dari mana dia bisa mencium Nayla. Biasanya ia berfikir berkali-kali untuk menyentuh nayla karena takut istrinya marah padanya.
Mendengar nama minyak itu perut Nayla terasa teraduk-aduk.
"Kak Aska, Nay ngak tahan, mual banget" Nayla mengibaskan selimut yang menutupi separuh tubuhnya menurunkan kedua kakinya meraba botol infusan yang tergantung. Aska dengan sigap berdiri membantu Nayla ia memberi botol infusan untuk Nayla lalu ia mengendong tubuh mungil Nayla ala pengantin menuju kamar mandi.
"Kak Aska turunkan aku" Nayla berontak.
"Diam Nay nanti kamu jatuh " Aska terus menggendong tubuh mungil istrinya.
Aska menurunkan Nayla dikamar mandi, menuju wastafel memuntahkan cairan bening.
Uwek....Uwek....Aska memegang botol infus sebelah tangannnya memegang tengkuk leher nayla
"Nay kamu kenapa?kakak panggil dokterya?jangan buat kakak takut kamu kenapa?" Tanya Aska panik wajahnya cemas.
__ADS_1
"Kak Aska keluarlah ini menjijikan... Nay ngak apa apa ini biasa.....uwek....uwek...
"Kakak ngak bakalan pergi, jadi kamu selalu muntah seperti ini selama kehamilan ini" Mata Aska berkaca-kaca ia merasa bersalah dimasa sulit Nayla ia tak ada untuknya.
Nayla mengalirkan air dari keran membasuh mulutnya dan wajahnya setelah selesai ia membalikkan tubuhnya ke Aska. wajahnya terlihat pucat, tubuhnya lemas Aska membawa tubuh Nayla masuk kepelukananya ia mencium puncak kepala Nayla
"maafkan kakak Nay" Sejenak Nayla terdiam menikmati pelukan Aska kenapa setiap sentuhan yang diberikan Aska terasa terasa begitu nyaman, mungkin bawaan hamil fikirnya.
"Kak tolong keluar Nay mau mandi, Nay mual cium bau minyak di badan Nayla" Pinta Nayla dalam pelukan Aska.
"Ngak.... biar kakak yang bantu kamu mandi" Ujar Aska santai mengeratkan pelukannya.
Nayla melepaskan pelukan aska
"Kak, aku bisa sendiri " Nayla mulai frustasi dengan sikap berlebihan Aska.
"Kenapa kamu malu, jangan malu Nay lagian kakak juga sudah melihat semuanya, walaupun cuma semalam tapi kakak udah hafal" Goda Aska membuat Nayla tertunduk malu ingin rasanya ia menghilang kedasar bumi, ia tak sanggup menghadapi perasaan gugupnya jantungnya yang selalu berdebar kencang didekat Aska.
"Kakak Nay ngak apa-apa, kalau kakak ngak percaya, suruh aja pelayan wanita kemari" Pinta Nayla merasa tak nyaman.
"Ngak ...Kamu itu istriku, aku ngak mau pelayan yang merawatmu dalam keadaan seperti ini, suka duka kita bagi berdua ini sudah tugas kakak sebagai suami kamu. Tujuan menikah itu saling mengasihi, dalam suka dan duka" Jelas Aska memainkan alisnya tersenyum tipis.
Nayla menarik nafas panjang, frustasi dengan sikap Aska.
"Baiklah tunggu disini jangan berbalik, tutup mata" Perintah Nayla.
"Baiklah " Aska memegang botol infus membelakangi Nayla
Nayla pun membuka bajunya dengan cepat, sambil melihat punggung Aska, dari mandi hingga berpakaian ia selalu menemani Nayla, berdiri membelakangi hingga semua selesai Aska kembali menggedong Nayla, kembali ketempat tidur membuat Nayla merasa berat hati. Ia merasa menjadi beban Aska.
"Kak Aska, Nayla ini cuma hamil bukan lumpuh, turunin aku" Protes Nayla.
"Nay kata dokter kamu ngak boleh banyak bergerak" Timpal Aska tersenyum menggendong Nayla.
"Kata dokter ngak boleh banyak gerak, bukan berarti ngak boleh gerak" Protes Nayla mengerucutkan bibirnya.
Sikap protektif Aska membuatnya merasa tak bebas namun disitulah ia melihat ketulasan Aska padanya, perhatiannya yang besar meluluhkan hatinya tanpa ia sadar Aska semakin masuk kedalam hati.
.
.
.
.
__ADS_1
like,coment,vote ya.....