Jodoh Pilihan Kakakku

Jodoh Pilihan Kakakku
sebuah rasa


__ADS_3

Hari telah pagi Dika telah bersiap untuk mengantar Aulia kekantor melaksanakan perintah mertua untuk mengantar anak kesayangan. Dika tak berdaya ia telah menerima ancaman dari pak Samad apalagi mertuanya itu telah datang pagi-pagi sekali untuk hanya memperingatkannya. Dika tak bisa menolak walaupun Aulia mengerti keadaannya tapi bapaknya masih juga kekeh agar anaknya kekantor diantar oleh suaminya.


Dika telah berada didepan rumah duduk di atas motor dalam keadaan mata terperjam ia sangat mengantuk sejak semalan ia belum tertidur. Semalam ia pergi ke club malam bersama Endy lalu pulang dini hari. karena tugas dari mertua hingga saat ini ia belum tidur, rasanya ia sudah tak tahan untuk membaringkan tubuhnya.


"Kak Dika" Panggil Aulia berdiri disamping Dika melihat suaminya duduk melipat tangan distang motor menundukkan kepalanya. mendengar sapaan Aulia Dika mendonggak.


"Ayo kuantar" ajak Dika memenuhi tugas dari mertuannya.


"Ngak perlu, kamu istrirahat aja, biar lia pergi sendiri" tolak Aulia.


Aulia melihat Dika yang wajahnya sangat lelah ia merasa tak tega merepotkan. Ia tahu suaminya ini lelah dan biasanya sudah tertidur disaat jam seperti ini. Hidup bersama berhari-hari, Aulia sudah terbiasa melihat dunia suaminya yang terbalik siang menjadi malam, malam menjadi siang.


"Udah Naik biar aku antar," Paksa Dika dengan kantuk tertahan.


Karena lelaki ini kekeh memaksa akhirnya Aulia menuruti permintaan Dika.


"Udah siap, ayo naik" Tanya Dika memutar kunci kontak motor.


"Ia"Aulia pun menuruti perintah suaminya lagi pula ia akan terlambat ke kantor jika terus menolak. Aulia mengenakan helm lalu naik ke motor. Aulai sangat gugup jantungnya berdetak kencang saat ia duduk dibelakang orang yang dicintainya apalagi baru kali ini ia sedekat ini dengan Dika.


Saat Aulia siap Dika Memacu kendaraan meninggalkan rumah menuju kantor sepanjang perjalanan tak ada percakapan diantara mereka. Aulia yang jantungnya berdetak tak karuan sudah tak mampu berkata-kata duduk dibelakang suaminya, sedangakan Dika fokus menatap jalan sesekali matanya tertutup terpaan angin membuat kantuknya semakin menjadi.


Dika memacu motornya lambat terkadang tanpa sadar ia tertunduk kemudian tersadar kembali lalu fokus namun beberapa menit lagi-lagi kembali tetunduk.


"Kak Dika Awas!" Teriak Aulia yang melihat ada orang yang menyebrang dari kejauhan.


Dika tersentak kaget mendengar teriakan Aulia matanya terbuka, mulai fokus dan ternyata didepan ada orang yang sedang menyeberang, ia pun mengerem mendadak motornya dan terhenti. tubuh Aulia tersentak maju, terdorong dan menabrak punggung Dika. Sekarang Ia berada dalam posisi memeluk tubuh Dika dari belakang.


Motor terhenti Dika membalikkan kepala mengarahkan pandangannya pada Aulia yang duduk dibelakang memeriksa.


"Kamu ngak apa-apa"Tanya Dika khawatir. melihat Aulia melingkarkan tangan dipingganya.


Aulia lalu tersadar ia melepaskan pelukannya pada Dika yang menempel erat.


"Ngak apa-apa, kak Dika ngantuk ya? biar Lia aja yang bawa motornya, bahaya kalau kakak ngantuk lagi bawa motor ntar sama kejadian tadi," tawar Aulia mulai khawatir ia tahu memang lelaki ini mengantuk dan tak fokus mengendara, ia takut kejadian tadi terulang. ia masih menyanyangi nyawanya.


"Baiklah" tanpa pikir panjang Dika mengiyakan lalu dari motor membiarkan Aulia yang mengendarainya, ia juga sangat mengantuk bahaya bagi keselamatan mereka.


Pasangan ini bertukar tempat kali ini Dika duduk dibelakang Aulia, ia lelah difikiranya hanya ingin tidur.


Aulia mengendarai sepeda motor, ia membawanya dengan hati-hati pandanganya fokus, sedangkan Dika yang berada dibelakang mencoba melihat apa-pun yang mereka lalui agar rasa ingin tidurnya hilang namun apa daya semakin ia mencoba menahan matanya untuk tetap terbuka, tanpa sadar ia telah tertidur, Dika menepelkan kepalanya di punggung Aulia tangannya perlahan melingkar dipinggang istrinya, Aulia yang merasakan pergerakkan Dika tiba-tiba membatu jantungnya seakan akan lompat keluar saat suaminya memelukknya dari belakang kali ini dia yang tak fokus, menatap jalan, ia sulit bernafas tubuhnya lemas, ini pertama kali suaminya ini menyentuhnya.


Tubuh Aulia bergetar karena sudah tak fokus Aulia mengerem motor dengan mendadak hingga mereka tersentak dan tubuh Dika terdorong kedepan semakin menempel. sama seperti tadi saat Aulia memeluk Dika


Dika terbangun merasa aneh.


"Hei... Kenapa ada orang menyebrang lagi" tanya Dika dengan suara lemah masih memeluk Aulia dengan erat tak sadar dengan apa yang ia lakukan.


" Ti...dak" Aulia terbata. Ia sangat gugup.


"Oh...ayo jalan" Mata Dika kembali tertutup ia semakin memeluk Aulia aroma parfum yang mengeluar dari tubuh Aulia memberikan ketenangan dan kenyamanan.


Aulia kembali memutar gas distang motor dengan tubuh lemas, mencoba menenangkan diri membiarkan suaminya memeluk tubuhnya. Mata Dika terpejam namun merasa aneh dengan jantungnya, entah mengapa ia berdebar hingga mulai menggangu kantuknya, ia membuka mata perlahan ia melihat posisi duduknya sedang memeluk Aulia, dengan cepat ia melepaskan tanganya dan kembali duduk tegak, kini matanya bersinar tak mengantuk lagi setelah memeluk Aulia ia merasa aneh dengan detak jantungnya.


Sepanjang jalan Dika terus menatap punggung Aulia, menarik sudut bibirnya membentuk senyuman, lucu rasanya ia memeluk dan menyentuh istrinya untuk pertama kali dan hatinya terasa begitu damai.


Motor berhenti mereka telah sampai.


"Kenapa berhenti" tanya Dika memasang wajah heran.


"Sudah sampai kak" Jelas Aulia lalu turun dari motor.


" Sudah sampai" Dika melihat sekeliling, dia telah berada didepan gedung tinggi menjulang milik sahabatnya, ia merasa aneh kenapa ia bisa lupa jika mereka telah sampai depan gedung kantor.


Aulia turun dari motor melepaskan helm lalu memberikannya pada Dika.


"Nanti sore, aku akan jemputmu" ucap Dika

__ADS_1


"Ngak usah kak, Nanti Lia pulang sendiri" tolak Aulia tak ingin merepotkan.


"pokoknya nanti sore aku jemput" Kekeh Dika yang semangat berboncengan dengan istrinya.


"Kak Dika, makasih ya" Aulia tersenyum kearah Dika. entah mengapa senyuman Aulia kali ini membuat hatinya berdesir, ia sejenak terdiam menikmati wajah yang baru ia sadari ternyata sangat cantik dan membuatnya tak ingin berhenti menatap wajah cantik istrinya.


"Kak Dika...Kak Dika" Aulia melambai-lambaikan tangan diwajah tampan Dika, lalu tertunduk malu karena Dika yang terus menatapnya.


"Ha" Dika tersadar dari lamunanya lalu tersenyum kikuk dan menjadi salah tingkah dihadapan Aulia.


"Lia masuk dulu" pamit Aulia tertunduk menutupi wajahnya yang bersemu merah.


"I...a, ingat sore aku jemput" jelas Dika pelan juga bertingkah canggung.


Dika memperhatikkan Aulia yang berjalan masuk kedalam kantor kemudian menarik nafas lega saat Aulia menghilang dihadapannya. Ia memegang dadanya merasakan detak jantung yang berdebar. Sebuah debaran yang telah lama tak pernah rasakan.


"huff...Ia membuang Nafas tersenyum lalu menghidupkan mesin motor beralih pulang sepanjang perjalanan ia terus terbayang-bayang senyum istrinya. ia terus terkenang pengalaman pertamanya memeluk Aulia.


🌺🌺🌺


Sore hari Dika sudah berada didepan kantor Dirgantar Mitra menunggu Aulia pulang kerja, setelah kejadian tadi pagi ia merasa tak tenang tidurnya tak nyenyak, ia terus memikirkan anak pak Samad itu,tak sabar untuk dekat melihat wajah istrinya dan mengajak Aulia untuk pulang.


Dika terus menunggu menatap kearah gedung, setelah beberapa saat kedua sudut bibirnya terangkat melihat Aulia yang telah berjalan menghampirinya.


"Maaf... udah lama nunggu ya," Sapa lia.


"Baru aja"


" Ayo naik" Ajak Dika memberi helm.


" Udah ngak ngantuk lagi" Canda Aulia. tersenyum. lagi-lagi membuat Dika terpaku,.diam menatap wajah itu.sekarang berubah dialah yang menjadi aneh jika Aulia tersenyum.


"Kak Dika...Kak Dika" Aulia mengoyangkan lengan dika agar tersadar dari lamunanya.


"Ha, Ngantuk, udah ngak ngantuk" Dika tersadar kemudian menjawab pertanyaan Aulia, berbohong padahal seharian ia tak bisa tidur fikirannya terganggu terkenang senyum istrinya.


Dika menyalakan mesin motir, karena tak mengantuk lagi dialah yang membawa motor, mereka meninggalkan gedung kantor, diatas motor keduannya terdiam tak ada pembicaraan. tak ada obrolan Aulia memperhatikan seluruh yang ia lewati hingga saat di depan sebuah rumah makan Aulia tiba-tiba menepuk bahu Dika dengan keras, tak mau terlewat pada tempat tujuannya , ia ingin mampir kesuatu tempat.


Deg.... keduanya terpaku


Sejenak mereka terdiam menetralkan debaran jantung yang rasanya ingin melompat keluar, akibat pelukkan yang tak sengaja itu.tak beberapa tersadar kemudian saling salah tingkah.


"emm....Ada apa?" Tanya Dika pada Aulia pelan rasanya sangat canggung


"Lia mau mampir kesana dulu, Lia mau beliin bebek goreng kesukaan bapak" Aulia menunjuk warung sederhana lalu turun dari motor dengan cepat, rasanya ia sangat malu karena telah memeluk Dika.


Huff...Dika lagi-lagi membuang nafas pelan menenangkan detak jantungnya


kemudian menarik kedua sudut bibirnya ia senang Aulia memeluknya, walaupun tak sengaja.


Dika ikut turun dari motor menemani Aulia menunggu pesanan, rasanya ingin mengakrabkan diri, ia menghampiri Aulia yang duduk didalam tiba-tiba ia menjadi tegang melihat Dika menghampirinya.


"Kak Dika, kakak mau nyobain, makan disini" tanya Aulia untuk mencairkan suasana.


"Ngak usah, udah sore banget, kamu mau mampirkan kerumah bapak kamu"


"Ia"


Sambil menunggu pesanan datang mereka mengobrol ini pertama kalinya mereka berbincang akrab, ternyata tugas dari pak Samad telah membuat mereka akrab dan bicara selayaknya teman, sesekali Dika menatap wajah Aulia diam-diam, mencuri pandang melihat kecantikan yang membuat hatinya bergetar.


Tak beberapa lama pesanan telah siap pelayan, membawa bungkusan makanan. Dika mengelukan dompetnya yang terlihat, dari saku celana belakang. Dompet yang terlihat tebal namun saat ia membuka matanya membola, dompetnya kosong ia tak punya uang cash isinya hanya dipenuh oleh kartu bank, dan ini hanya warung sederhana yang tak bisa dibayar dengan kartu. dengan cepat ia memutupnya kembali.


" Mati aku, aku ngak punya cash" Batin Dika.


Aulia yang berada disampingnya melihat tingkah Dika, lalu dengan cepat menyodorkan uang yang telah ia siapkan untuk membayar makanan pada pelayan warung, ia tak ingin Dika malu.


"Ini mas" Jelas Aulia menyodorkan uang pembayaran.

__ADS_1


"Makasih mbak"


"Ayo kakak"


Aulia berdiri keluar meninggalkan tempat makan itu disusul Dika yang begitu malu.


"Sial, malu banget, jatuh harga diriku, masa aku dibayari perempuan,mana didepan striku lagi, meyakinkan banget sih, kalau aku ini tukang ojek" Umpat Dika berdecak kesal dan malu ingin rasanya ia tenggelam didasar bumi paling dalam karena tak bisa membayar makanan yang tak seberapa itu.


Dika memang jarang memegang uang cash, ia hanya membayar menunggunakan kartu, kalaupun ia membutuhkan uang cash ia akan meminta pada adiknya yang ia beri kartu untuk mengurus keuangannya, atau Endy yang akan membayar karena playboy itu selalu memegang uang untuk menyenangkan wanita.


Dika keluar mengekori Aulia dengan langkah berat ia merasa benar-benar terlihat payah didepan istrinya. Ia naik kembali ke motor melanjutkan tujuan mereka ke rumah pak Samad.


Beberapa saat kemudian mereka telah sampai dirumah pak Samad, Aulia turun dari motor.


"Ayo kak turun" Ajak Aulia.


"Kamu masuk aja dulu, nanti aku masuk" Dika tak ikut masuk ia akan pergi ke suatu tempat.


Dika memacu kendaraannya menuju atm terdekat ia tak mau kejadian tadi terulang lagi ia akan mengantongi uang mulai dari sekarang.


Setelah beberapa saat kemudian Dika kembali dari atm lalu masuk kedalam rumah mertuannya untuk menjemput Lia pulang.


Saat masuk Dika melihat adik iparnya siraja gombal duduk di sofa sedang bermain game dengan ponselnya.


"Kak Dika, apa kabar kak?" Sapa Adit menyimpan handphonenya dimeja kemudian mengobrol dengan kakak iparnya.


"Baik" Dika ikut duduk disebelah adik iparnya mengakrabkan diri sebenarnya ia muda akbar dengan Adit karena sifat pemuda ini yang gampang berbaur.


"Kak Nay apa kabar? Nay itu udah punya pacar belum? Tanya Aditnya penasaran.


"Udah punya,dan ia cinta banget sama cowoknya, cinta mati malahan" Jawab Dika mengiyakan, Dika tahu adik iparnya ini tergila-gila pada bule Jerman karena itu ia menjawab dengan meyakinkan adit bahwa Nayla sudah memiliki belahan jiwa dan Adiknya sangat mencintai pasangannya.


Dika juga ikut menyembunyikan status adiknya yang telah menikah, ia ingin adiknya hidup normal seperti gadis yang lain karena jika terbongkar ia sudah menikah dan menjadi istri presdir dirgantara mitra ia tak akan bebas lagi orang akan segan padanya.


"Boleh...ya Adit tikung? kan masih pacarnya, belum nikah juga"


Dika tersenyum pelik melihat adik iparnya yang terobsesi pada bule Jerman yang menurutnya cerewet itu. Dika tak habis fikir kenapa setiap lelaki yang melihat adik selalu terobsesi memilikinya, bahkan lupa diri Aska yang rela menunggunya, Endy yang hingga kini belum bisa move on darinya dan sekarang Adit bahkan tak perduli bule jerman itu punya pasangan.


"Kakak saranin jangan dekati Nayla, atau kamu hanya akan patah hati" Saran Dika sebelum Adit semakin jatuh cinta lebih dalam dan sulit melupakkan Nayla yang telah memiliki suami. seperti kasus Endy.


"Ngak bisa, habis adik kakak cantik banget sih" Jelas Adit


"sudah jangan bahas Nayla lagi"


Dika kemudian menarik dompet dari saku celana belakang, mengeluarkan beberapa lembar uang kemudian memberikannya pada Adit, sekarang Adit adalah tanggunganya dan menjadi telah adik.


"Ini uang jajan buat kamu, tapi ingat seperti biasa jangan beritahu kakakmu" Titah Dika ingin meringankan beban Aulia. Dika sering memberikan Adit uang jajan.


Adit menerima dengan mata berbinar namun sedikit heran.


"Banyak banget kak, memang untuk kak lia ada?"


"udah ada"jelas Dika.


"ini hasil ngojek kan kak?" tanya Adit merasa aneh


"Emm"Dika hanya berdehem.


"tapi ... uang ngojek kakak ko, ngak lecek" Adit memperhatikan lembaran uang itu lekat.


"Udah terima aja, kalau kamu butuh sesuatu beri tahu kakak, bayar kuliah, biaya tugas, minta aja, mulai sekarang kamu itu tanggungan aku" Jelas Dika yang akan membiayai kuliah kedokteran adik iparnya hingga selesai, baginya muda untuk menyekolahkan Adit, apalagi ia tak mengkuliah kan adiknya sekarang sebagai gantinya Aditlah yang ia tanggung pendidikanya.


"Makasih ya kak, beruntung banget sih aku udah punya kakak ipar baik, adik cantik lagi" Jelas Adit.


Dika tersenyum melihat adik ipar gombalnya, sekaligus rival sahabatnya.


.

__ADS_1


.


Like,coment,vote....ya...


__ADS_2