Jodoh Pilihan Kakakku

Jodoh Pilihan Kakakku
keputusan


__ADS_3

Malam semakin larut mereka masih berada dirumah pak Samad menunggu hasil keputusan apakah lamaran ini diterima atau tidak, sudah lewat sejam Aulia dan pak Samad masuk kedalam ruangan lain namun hingga saat ini belum juga keluar, entah apa yang akan mereka putuskan nanti, pasti saat ini Aulia sedang berjuang meyakinkan orang tuanya untuk menerima Dika, apalagi pengakuan Nayla mengenai pekerjaan kakaknya semakin memperumit situasi untuk mendapatkan restu apalagi, ia adalah gadis istimewa begitu banyak yang menginginkan yang jauh lebih baik dari Dika.


Aska telah jenuh menunggu hatinya terasa panas melihat dua calon ipar ini mulai mengobrol akrab selayak teman sebaya. Sesekali Adit menyelipkan rayuan gombal diselah pembicaaraanya. Aska memasang wajah masam melihat rival baru yang semakin gencar merayu. Ingin rasanya ia menarik tangan Nayla untuk pulang namun Endy terus menenangkan dan menyuruh untuk selalu bersabar.


"Endy aku akan mendukung Dika jika ia tidak setuju dengan pernikahan ini, Dika bisa gila jika dalam dengan keluar pak Samad, belum lagi pemuda ini akan terus akan menggangu Nayla" Bisik Aska terus menatap kearah Nayla, sesekali diselingi melihat raut wajah galau Dika.


"kau ini sabar kenapa sih, lucu tahu lihat anak muda lagi ngegombal, berasa ikut muda lagi " Endy tersenyum memperhatikan cara Adit merayu Nayla sesama perayu dan suka bermain dengan para gadis ia seperti mendapatkan ilmu dari Adit.


"Kau ini"Aska kesal


"Aska aku rasa ipar Dika ini ancaman untukmu gombalannya maut bikin meleleh, hati-hati Nayla itu masih abg labil, siapa tahu terus tercekoki rayuan dia jadi baper" Canda Endy memperingatkan lalu Aska cekikikan sendiri.


"Awas saja jika itu terjadi aku ratakakan pohon beringinnya, giliranku yang akan mengejar anak pak Samad dengan samurai kalau perlu sama bapaknya sekalian" Ancam Aska tak kalah bengisnya.Nayla adalah hidupnya ia akan melakukan apa pun untuk menjaga Nayla.


Setelah lama menunggu pak Samad pun keluar dari dalam ruangan bersama dengan Aulia, raut wajah keduanya tak bisa ditebak apakah mereka menerima lamaran Dika atau tidak. Sebenarnya jika melihat seluruh kejadian unik dirumah ini mereka tidak akan kecewa jika telah ditolak. Aska yang tadinya mendukung Nayla mulai meragukan keputusan istrinya memilih anak pak Samad, apalagi calon adik ipar Dika juga merupakan ancaman baginya. Perasaan Dika pun pasti semakin yakin untuk menolak pernikahan ini.


Pak Samad keluar dari dalam didampingi Aulia, melihat lelaki ini berjalan, mereka kembali fokus menarik napas panjang kembali menyiapkan mental dan kekuatan untuk menghadapi pak Samad.


Pak samad dan Aulia kembali duduk ditempat semula memasang wajah dingin. Aulia tak ada kabar baik yang tersirat dari wajahnya. Pak samad mengarahkan pandangan mematikan pada Dika.


"Kamu benar serius dengan anak saya?" tanya pak Samad meninggikan suara membuat lawan bicaranya cicit.


"Ia pak" Tanya jawaban Dika tertunduk ia berasa seperti tersangka yang sedang dihakimi.


"Kalau begitu, untuk kebahagian anak gadis saya, saya punya Syarat? Jelas pak Samad memberikan syarat untuk Dika bahwa tidak mudah untuk mendapatkan anaknya ada banyak rintangan yang harus ia lalui untuk memliki anak kesayangannya.


Dika menatap Aska dan Endy yang ada dihadapannya seperti bertanya apa ia harus menerima syarat itu dan dua orang itu kompak mengangguk perlahan.


"Syaratnya apa pak?" Tanya Dika dengan wajah penasaran ingin mengetahui apa yang di inginkan lelaki galak ini untuk memberikan anaknya.


"Pak" Protes Aulia memegang lengan bapaknya tak setuju dengan syarat yang akan diungkapkan orang tuanya, namun pak Samad tak mengiraukan masih menatap tajam pada Dika.


"Syaratnya yang pertama, kamu tahu kan anak saya ini tulang punggung keluarga, saya mau saat menikah denganmu bebannya berkurang, saya mau kamu membiayai kuliah Adiknya sampai selesai. Yang kedua saya ingin sebelum menikah kamu memberikan anak saya rumah mewah, sebidang tanah yang luas dan tabungan deposito ratusan juta" Jelas pak Samad suasana hening semua fokus menyimak syarat yang diucapkan pak samad saat lelaki tua itu selesai berucap.Endy lalu menyambar


"Apa....Prak...."Endy secara spontan mengemprak meja dengan keras terkejut mendengar syarat itu, membuat seluruh isi ruangan juga terjengkit, tersentak loncat tak terkecuali Pak Samad lalu menatap kearah Endy.seluruhnya kompak melihat Endy.


Endy memaksakan senyuman melihat pak wajah marah pak Samad karena telah membuatnya terkejut.


"Maaf...saya terbawa suasana, silahkan dilanjut" Endy tertunduk takut kerena telah membuat pak Samad terkejut.Aska yang juga terkejut dengan sikap Endy mulai bertanya.


"Endy kau kenapa, mengagetkan saja" Aska berbisik mendekatkan tubuhnya pada Endy.


"Kau lupa ya aku sedang taruhan dengan Dika dan aku yang kalah berarti semua syarat yang disebut pak Samad itu aku yang menyiapkannya."Bisik Endy mulai panik ia sengaja mengalah dari taruhan itu karena ia tahu Dika lelaki yang sederhana tak suka kemewahan ia pasti cuma ingin menikah secara sederhana tapi ternyata ia salah pak Samad meminta begitu banyak bahkan masih disaat lamaran.


"Habislah kau.." Bisik Aska.


"Bangkrut aku ...baru lamaran aja udah banyak permintaan, gimana jika dia minta pesta 7 hari 7 malam untuk anak kesayangannya itu dan bulan madu keliling dunia." Jelas Endy berbisik wajahnya lesu tak sesuai dengan harapannya.


"kau tenang saja aku akan membantumu, bunganya hanya 20 persen" Canda Aska.


Endy memukul lengan Aska mereka berdua sibuk berbisik susana sangat tegang dan mereka masih sempat bercanda untuk menghibur diri. Nayla membulatkan matanya menatap mereka berdua yang sibuk bercanda lalu semua terdiam.


Dika menarik kedua sudut bibirnya mendengar syarat pak Samad ia mengerti lamarannya telah ditolak, pak Samad tak ingin ia menikahi anaknya. Ia tahu pak Samad sengaja meminta begitu banyak karena mengirah ia tak sanggup untuk menyanggupi syarat karena pekerjaannya hanya tukang ojek, memang itu dia harapkan pak Samad menolaknya jadi ia terbebas dari seluruh keluarga aneh ini.


"Pak, kak Dika ngak bakalan sanggup dengan syarat itu, bapak minta terlalu banyak" Protes Aulia.


"terserah, jika tak sanggup silahkan mundur, jangan mimpi menikah dengan anak saya" Pak Samad berdiri,tersenyum remeh.Aulia pun ikut berdiri.


"Pak kak Dika orang yang baik, dia lelaki yang bertanggung jawab," Bujuk Aulia pada orang tuannya meyakinkan merengek.


Dika mengeryintkan dahinya melihat Aulia merengek meyakinkan orang tuanya, ia merasa aneh kenapa gadis ini begitu kekeh meyakinkan bapaknya untuk menerima pernikah ini padahal mereka tak saling kenal dan tak saling mencintai.harusnya ia senang tak jadi menikah dan bebas dari paksaan Nayla.


Adit yang juga duduk disamping Nayla kemudian ikut berdiri membantu kakaknya. Sedang mereka diam terpaku semua keputusan diserahkan pada Dika apa kah ia ingin menyanggupinya atau tidak, sedangangkan Aska dan Endy hanya menunggu pak Samad mengusir mereka lalu pulang dengan senang hati.


"Pak itu ngak baik sama saja bapak menjual kak Lia" Adit membantu Aulia membujuk bapaknya.


"Adit jangan ikut campur kamu itu masih kecil tahu apa kamu" bentak pak Samad.


"Ia pak, jangan itu tidak baik" Aulia menimpali.


"Tidak Lia itu pantas untuk gadis berharga seperti kamu, lagi pula bapak ngak yakin dengan pilihanmu ini apa kalian bisa bersama selamanya, bapak hanya memikirkan masa depan kamu, kemukinan terburuk kamu pisah dengannnya, kamu masih punya pegangan dan bapak ingin yang terbaik untukmu" Jelas pak Samad mengarahkan pandanganya pada 4 anak manusia yang ada didepannya.


"Pak itu ngak mungkin, mereka ini orang baik-baik" timpal Adit.


"Hanya itu syarat bapak jika kamu mau menikahi anak saya, siapkan syarat itu, pulanglah jika sudah siap kembali kemari," Usir pak Samad.


tersenyum remeh sengaja meminta syarat hanya untuk menolak Dika.


Endy dan Aska lalu berdiri dari tadi memang itu yang ia tunggu pak Samad mengusirnya. Nayla lagi-lagi membulatkan matanya melihat dua sahabat itu berdiri, kemudian kompak duduk kembali. Nayla memasang wajah kesal melihat dua sahabat ini bukannya membujuk pak Samad malah sibuk sendiri, sedangkan Ia tak bisa ikut bicara ia hanya terlihat seperti anak kecil dimata pak Samad sama seperti Adit


"Jangan seperti itu Pak tolong restui pernikahan ini, ini pilihan Lia" Aulia masih membujuk bapaknya.


Melihat Aulia meyakinkan orang tuanya membuat hati Dika sedikit tersentuh ternyata gadis itu juga ingin menikah dengannya, ia binggung hatinya sudah senang ditolak tadi, tapi melihat gadis itu membujuk orang tuanya kenapa rasanya ia juga ingin berjuang untuk pernikahan ini, hatinya sedikit terkeketuk ingin rasanya ia menyanggupi dan menerima gadis ini. Namun teringat lagi bapaknya yang galak membuat akal fikirannya kembali normal.


"Sudah Lia, kalian dengarkan, itu pintu keluarnya."Pak Samad menunjuk kearah pintu.

__ADS_1


"Baik pak kami permisi dulu" Aska kemudian berdiri disusul Endy.


Mereka semua berdiri meninggalkan ruangan dengan tertunduk dan tak bersemangat Dika dan Endy berjalan lebih dulu meninggalkan Aska dan Nayla yang masih bicara dengan Aulia didepan pintu sebelum mereka pergi disebelahnya ada Adit.


"Maaf kan bapak aku ya Nay, kakak akan terus mencoba untuk membujuk bapak," ucap Aulia yang juga sangat sedih dan merasa bersalah pada Nayla ia juga sangat kecewa dengan keputusan bapaknya mimpi untuk menikah dengan orang dicintainya terhalang oleh restu.


Nayla memberikan senyum termanisnya pada Aulia agar calon iparnya itu merasa tenang dan tak memikirkan masalah ini"Ngak apa-apa, kakak tenang saja Nay akan usahakan syarat itu, kami pulang dulu ya" Pamit Nayla yang dibelakangnya masih berdiri Aska menunggunya.


"Nay, ngak masalah kakak kita ngak berjodoh, biar kita aja nanti yang kepelaminan, aku akan mengejar kamu, soalnya orang tuaku bilang mimpi itu harus dikejar dan diperjuangkan " gombal Adit, masih melakukan usahanya mendekati Nayla.


"Jangan mimpi," timpal Aska ketus,emosi ingin rasanya ia mengahajar pemuda yang dari tadi merayu istrinya.


"Kami pergi dulu" Nayla berbalik akan meninggalkan tempat itu.


"Maaf Nay aku ngak bisa antar kamu pulang soalnya aku ngak tahu dimana khayangan." Adit kembali menggoda Nayla.


Aska maju ingin sekali ia menghajar bocah ingusan ini namun Nayla menahan tubuh Suaminya.


"Kak Aska" Tahan Nayla berbisik pelan


"Sekali aja Nay, kakak tendang kakinya" Bisik Aska sudah sangat gemas melayangkan tendangan ke Arah saingan barunya.


Nayla menarik tangan Aska meninggalkan rumah pak Samad menuju mobil. Nayla masuk kedalam mobil kemudian disusul Aska. baru saja duduk Aska lalu mengoceh.


"Gila mereka itu keluarga apa sih, semua otaknya gesrek," umpat Aska kesal masih gemas dengan Adit.


"Entahlah ... bisa-bisanya ia menjodohkanku dengan keluarga unik seperti" Timpal Dika. memutar bola mata jengah.


"aku berasa masuk dalam wahana yang memacu andrenalin untung aja ngak copot ini jantung," Endy ikut membahas ketegagan dirumah pak Samad.


"Kakak mau kan menuruti permintaan pak Samad?" tanya Nayla penuh harap ia tahu itu syarat yang mudah bagi kakaknya.


"Ngak mau, kakak ngak akan mau menuruti permintaan mereka dan kakak ngak akan mau menikah dengan perempuan itu," ucap Dika tegas.


"Tapi kakak" Nayla membantah


"Nay kamu ngak fikir dia itu menolak secara halus, dia tahu kita ngak akan mampu, dia itu meremehkan kita" Jelas Dika.


Kakak adik ini terus berdebat didalam mobil tak mengiraukan Endy dan Aska seperti biasa, tak akan ada yang mau mengalah


"Kakak bisakan menuruti permintaan itu, itu permintaan kecil untuk kakak," saran Nayla.


"Ia itu memang syarat yang mudah bagiku, tapi kamu ingatkan kamu bilang tadi pekerjaan kakak apa?" Dika coba mengingatkan adik tersayangnya ini, bahwa jika perkerjaannya tukang ojek yang tak memiliki uang sebanyak itu.


"Nay kakak ini cuma tukang ojek mana punya uang sebanyak itu, itu cuma mengada-ada untuk menolak kita." jelas Dika suaranya meninggi sangat kesal.


"Cie....cie ...yang udah mendalami peran jadi tukang ojek, udah ngaku dia tukang ojek" Timpal Endy terkekeh lucu.


"Diam kau" bentak Dika.


"Kakak ayolah turuti permintaan pak Samad" bujuk Nayla.


" ngak mau memang dia siapa anak raja, anak sultan, kenapa ia tak minta saja dibuatkan candi dalam satu malam, atau membuat danau" Ucap Dika kesal melihat adiknya terus memaksanya.


"Kok jadi kaya dongeng sih, ntar dikutuk lagi jadi batu" kembali Endy terkekeh.


"aku bilang diam kau" bentak Dika.


"Kakak pak Samad itu hanya memikirkan kebahagian anaknya, wajar ia meminta syarat seperti itu, apalagi begitu banyak yang menginkan anaknya" jelas Nayla masih kekeh.


Aska yang dari tadi melihat perdebatan seru kakak-adik ini mulai pusing mendengar pertedebatan tanpa henti.ia pun ikut memberi pendapatnya.


"Nay sudahlah, kakak juga ngak setuju dengan keluarga pak Samad itu, seluruh keluarganya ngak beres jangan sampai kakak kamu ikut gila," saran Aska kali ini dia membela sahabat karena menurutnya anak lelaki pak Samad merupakan ancaman baginya.


"Pokoknya aku ngak akan nikah dengannya" Bentak Dika tak mau dibantah lagi.


Mobil telah menepi mereka telah sampai didepan rumah, mereka semua turun dari mobil Dika membanting pintu tanda protesnya lalu berjalan cepat masuk kedalam rumah ingin menghindari adiknya.


"Kak ayolah terima syarat pak Samad" Nayla terus mengikuti kakaknya dari belakang, Endy dan Aska juga ikut mempercepat langkahnya kali ini tak akan tinggal dia melihat perdebatan kakak adik ini mereka akan menjadi penengah karena ini akan menjadi pertengakaran yang tak berujung nanti.


"Ngak mau, kakak ngak akan masuk dalam keluarga itu" Dika menghentikan langkahnya sekarang mereka berdiri berempat berkumpul beradu argumen.


"Nay, kakak juga ngak setuju" Endy ikut membela Dika ia memaklumi sahabatnya menolak pernikahan ini setelah melihat keluarga itu.


"Nay cari gadis lain saja" Saran Aska ikut membela Dika. ia menghidari Nayla menjadi ipar pemuda gombal itu.


"Nay ngak mau dia yang terbaik untuk kak Dika" Kekeh Nayla semangatnya tak gentar walau 3 pemuda ini menolak pilihannya, ia yang jago berdebat yakin bisa menaklukkan lelaki ini.


"Nay lihat kan ngak ada yag mendukung kamu hanya kamu yang begitu meninginkan gadis itu, kamu sendirian sekarang" jelas Dika tersenyum bangga sahabatnya sedang membela lalu berdiri berjajar dengan sahabatnya. berhadapan dengan seorang gadis kecil yang ada dihadapannya. Dika tahu saat meraka membela dan tak berpihak dengan bule jerman maka hidupnya akan terbebas dari pernikahan ini.


"Baiklan kita akan mengambil suara terbanyak, jika kakak kalah, kakak harus menikah" Tantang Nayla padahal ia tahu sahabat Dika tak berpihak padanya namun ia akan mencobanya.


"Sudahlah mereka itu sahabat kakak ya mereka pasti memilih kakak, ia kan?" Dika melipat tangannya didada tersenyum remeh pada Nayla.


"Benar itu, Tentu saja kami memilih persahabatan kami" Kompak Aska dan Endy berdiri disamping Dika yang sekarang posisinya ditengah.

__ADS_1


"Baiklah kita mulai dari kak Endy"


Nayla mengarahkan padangannya pada Endy ia adalah paesarta pertama yang akan mendapatkan kesempatan memilih lebih dulu


"Kak Endy, pilih setuju kan dengan Nay" Bujuk Nayla menatap Endy penuh harap membuat mimik muka sememelas mungkin agar lelaki ini iba dan memilihnya.


"Endy kita sudah bersahabat bertahun-tahun, kau memilihku kan brother, kau pasti tak tega menjerumuskan sahabatmu kejurang pernikahan kan" Dika memegang pundak Endy wajahnya juga penuh harap.


" Tentu saja brother" meyakinkan Dika.


"Kak Endy pendukung bule Jerman nomor satu kan, kak Endy pasti memilih bule Jerman, kakak kan, kakak akan terima pernikah ini" Desak Nayla mencoba mempergaruhi Endy.


Endy terdiam ia mulai binggung memilih antara sahabatnya atau bule Jerman, lama ia terdiam mementukan pilihannya.mereka bertiga siap mendengat pilihan Endy.


"Endy sahabatkan" Desak Dika.


" Kak Endy bule Jermankan, kak setuju dengan pernikahan ini kan"


Endy menarik nafas dalam lalu memegang pundak Dika dengan mantap, menatap kearah Dika. yang wajahnya penuh harap dan mulai tersenyum karena sahabatnya memegang pundaknya.


"Dika Menurut aku jika kau harus menikah dengan anak pak samad, pilihanku... Aku sih yes" Jawab Endy tak penuh keyakinan.membela bule Jerman apa daya ia tak bisa menolak.


Nayla tersenyum puas sedangkan Aska mendengus kesal mendengar jawabanan Endy.


Dika membulatkan matanya melepaskan tangan Endy dengan kasar yang menggantung dipundakknya, lalu menendang kaki Endy dengan keras.


"Aduh" Endy meringis kesakitan


"Dasar penghianat, sahabat macam apa kau, menjerumuskan temanmu ke dalam jurang penderitaan" Bentak Dika Emosi karena sahabatnya tak memihaknya malah berpihak pada bule Jerman.


"Dasar tak kau tak setia kawan" Umpat Aska dengan keputusan Endy.


"Maaf Dika aku adalah pendukung bule Jerman garis keras, aku tak bisa tak mendukungnya, biar Aska saja yang menolongmu" Jelas Endy mengusap kaki yang ditendang oleh Dika.


Sekarang perhatian tertuju pada Aska suaranya yang akan menentukan hasil dari keputusan ini.


"Aska kau tidak seperti Endy kan, mau akan memilih sahabatmu kan" Dika melirik licik kearah Endy dengan senyum menyeringai.


" Tentu saja, aku bukan seperti Endy, bagiku sahabat adalah segala-galanya, dia selalu ada untuk ku" Jelas Aska penuh keyakinan ia tak akan membiarkan Dika masuk kedalam keluarga itu.


"Nay aku memilih sahabatku" Aska menepuk bahu Dika membuat Dika kembali berbangga ia tahu bagi Aska sahabat adalah segalanya.


" Tuh kan Aska memilih kakak"


Nayla menghela nafas panjang melipat tangannya didada.


"Kak Aska yakin memilih kak Dika?" Tanya Nayla dengan wajah malas suaminya tak mendukung keputusannya dan lebih memilihi persahabatan.


" Tentu saja, dia selalu ada dan kami selalu bersama" Aska menjawab mantap.


"Kakak ngak takut,kakak mau jurus Nay keluar nih,"Nayla tersenyum remeh bicara penuh nada seperti menggoda padahal ancaman yang mematikan terselip didalamnya." Kakak benar mau aku keluarin,Jika Nay mengeluarkannya lama loh ini, akan jadi sebulan," ancam Nayla pada Aska, jurusnya terbarunya ngak mau tidur bersama lagi.


Aska menelan salivannya, wajahnya berubah pucat mendengar ancaman dari istri kecilnya.


" Aska sahabatkan broteher, kau memilihkukan, ingat sahabat segalanya selalu ada " Tanya Dika penuh harap, meyakinkan Aska yang wajahnya sedang dalam kebimbangan.


" Kak Aska Nayla serius ini,ngak mau tidur lagi dengan kakak... satu...dua...." Ancam Nayl sebelum ia mengeluarkan jurusnya tak mau tidur dengan mu malam ini.


Aska menepuk pundak sahabatnya mengarahkan pandangannya ditatapnya penuh keyakinan jika pilihannya tak mungkin salah.


" Dika sahabat adalah segalanya, selalu ada disaat aku membutuhkan" Jelas Aska membuat Dika bangga dengan kata-kata sahabatnya " tapi sahabat ngak bisa menghangatkan ditempat tidur, maaf broteher aku memilih bule Jerman, mana musim hujan lagi."Jelas Aska mendekap mulutnya dengan sebelah tangannya miris rasanya ia ingin menangis, ia tak berdaya dari dulu ia selalu takluk dengan jurus bule Jerman.


"Dasar bucin, otakmu itu hanya bisa memikirkan hal mesum sekarang, kenapa kau jadi suami yang takut istri" Umpat Dika Kesal lalu menendang kaki Aska.


"Kalian ini kenapa sih sangat takut pada bule Jerman cerewet ini" Dika sangat kesal pada sahabatnya yang tak bisa menolong.Ingin saja ia mencengkram 3 orang yang ada dihapannya


"Sesuai perjanjian kakak kalah suara jadi kakak harus menuruti permintaan pak Samad dan menikah dengan anaknya" Jelas Nayla tersenyum bangga telah menaklukkan 3 lelaki ini.


Dika mendengus kesal rasanya tenagannya telah habis.


"Ia ...terserah kau saja, bule Jerman yang menyebalkan, kau maha benar,kau diatas segalanya," Umpat Dika pada adiknya lalu pergi meninggalkan kumpulan yang tak membelanya. Kali ini 3 lelaki itu kembali taklub pada gadis kecil mereka bule Jerman.


.


.


.


.


..


Like, coment, vote,.....


Maaf baru up lagi karena kesibukan didunia nyata.

__ADS_1


__ADS_2