
Sore ini sesuai janji Aska pada Nayla yang telah berhasil menggodanya, mereka akan pergi jalan-jalan ke mall namun sebelum mereka pergi Aska akan memberi tahu Aldy terlebih dulu. Aska meminjam handphone Dika untuk menelpon Aldy. Handphone Aska telah rusak akibat Nalya menggodanya tadi, harga yang mahal yang harus dia tanggung karena godaan Nayla, ia harus mengganti dengan handphone baru dan juga nyawanya yang menjadi taruhannya.
"Aldy ini aku" Ucap Aska
"Halo tuan," Balas Aldy.
"Dimana kau berada sekarang?" Tanya Aska.
"Saya berada tak jauh dari kediaman nyonya Nayla tuan, masih mengawasi mereka" Aldy
"Aku akan pergi jalan-jalan" Jelas Aska
"Tapi tuan situasinya sedang tidak aman" Aldy
"Aku tahu ,tapi aku sudah janji pada Nayla"Aska
"Itu akan membahayakan nyawa anda tuan jangan mengambil resiko"Aldy.
"Aku tahu awasi saja mereka tambahkan jumlah pengamanan kirim beberapa pengawal lagi jangan menyerangnya jika bukan mereka yang memulainya"Aska.
"Baik tuan"Aldy.
Aska memutus sambungan teleponnya memberikan handphone kembali pada Dika yang berada disamping.
"Ingat kita lakukan seperti biasa, jangan sampai mereka curiga" Pesan Dika sebelum berangkat.
"Baiklah" Timpal Endy.
"Aska jaga jarak dengan Nayla, kendalikan dirimu" Pesan Dika yang dianggukan oleh Aska
Nayla telah berada di dalam mobil menunggu tiga kakaknya, sedang termenung dengan apa yang dilakukannya tadi, ia tak menyangka bisa berbuat serendah itu merayu orang yang tidak disukanya hanya untuk jalan-jalan, ia mengetuk kepalanya dengan tangan menyadari kebodohannya.
Tiga pemuda tampan itu akhirnya keluar dari rumah berjalan sejajar menuju tempat mobil terparkir.
Endy kali ini kau saja yang menyetir" Aska melempar kunci mobil ke arah Endy dan berhasil di tangkap Endy dengan kedua tangan mengatup.
"Kenapa aku, kau saja Dika seperti biasa"tolak Endy ia ingin duduk belakang berdampingan dengan Nayla .
Aska sudah mengerti keinginan Endy yaitu duduk berdekatan dengan Nayla, namun ia masuk lebih dulu ke dalam mobil duduk dekat Nayla mengalahkan Endy seperti perlombaan. Akhirnya dengan wajah masam Endy duduk di kursi kemudi dan Dika berada disampingnya ia memakai sabuk pengaman lalu menghidupkan mobil mulai mengemudi dengan kecepatan sedang.
__ADS_1
"Nay kita nonton yuk udah lama kita ngak nonton"Ajak Endy antusias fokus melihat kearah jalan memegang setir
"Ngak mau kak Endy, pokok hari ini Nayla cuma mau mutar-mutar lihat keramaian" Tolak Nayla,
Aska tersenyum mendengar penolakan Nayla nonton sudah bukan sesuatu yang menyenangakan bagi Nayla ia bisa sesukannya menonton di lantai 3.
"Kalau begitu kita belanja aja ya, nanti kakak belikan apapun yang kamu mau, kamu bisa belanja sepuasnya sesuka hatimu " Jelas Endy masih menyusun rencana dekat dengan Nayla ia tahu Nayla senang jika diajak belanja.
"Ngak kak Endy, sayangnya Nayla udah berubah, Nayla udah ngak matre seperti dulu lagi"Jelas Nayla .
Jawaban Nayla sukses membuat Aska dan Dika terkekeh mendengar ucap Nayla lagi-lagimenolak.
"Kenapa Nay? bukannya kamu senang kalau di ajak belanja." Dika heran adiknya sekarang telah banyak berubah.
"Kak Dika yang Nay butuhkan sekarang adalah kebebasan dan Nay akan menikmati kebebasan ini dengan sebaik-baiknya, entah kapan lagi bisa keluar dari kandang macan itu"Jelas Nayla mendramatisir
Dika dan Endy kembali tertawa mendengar kesepian Nayla.
Mereka sampai di mall setelah memarkirkan mobilnya mereka turun lalu berjalan menuju mall. Nayla sudah berada di dalam mall memandang takjub sekelilingnya seperti seorang yang baru keluar melihat dunia padahal dulu sebelum menikah ia bisa setiap minggu jalan bersama Endy walaupun hanya malam jumat, senyuman terus menghiasi wajahnya setelah beberapa bulan ia tak pernah keluar dari rumah Aska, ia memperhatikan orang-orang yang lalu lalang memakai baju warna-warni seperti keinginannya.
Mereka berjalan sejajar melangkah santai lalu Endy mendekati Nayla
"Ayo Nay kita kelilingi mall ini seperti keinginanmu" Ajak Endy menarik mengenggam tangan Nayla lalu mereka berjalan lebih dulu meninggalkan Aska dan Dika
Aska membulatkan matanya melihat Endy menggenggam tangan Nayla dan mulai kesal.
"Kurang ajar Endy, berani-beraninya dia mengenggam tangan Nayla seperti itu" Umpat Aska kesal menatap tajam memperhatikan gerak-gerik keduanya dari belakang.
"Biarkan saja mereka berdua" Timpal Dika santai memperhatikan sekitarnya mengawasi keadaan.
"Dia seenaknya saja memegang tangan Nayla, aku saja suaminya harus meminta izin jika harus memegang tangannya." Ujar Aska masih kesal.
"ha..izin" Dika menghentikan langkahnya berhenti melihat sekelilingnya, sekarang ia menatap wajah Aska tak percaya memasang wajah datar.
"Kau memang payah berurusan dengan wanita ,lihat Endy bagaimana dia bisa membuat Nayla begitu nyaman didekatnya"Dika melanjutkan langkahnya melihat punggung Nayla dan Endy terlihat mereka tertawa riang mengayun-ayunkan tangan mereka yang tergenggam erat.
"Sudah lama kau menikah dengan Nayla mengapa kau tak melakukan tugasmu" Tanya Dika menuju ke masalah rumah tangga mereka
"Maksudmu" Tanya Aska tak mengerti matanya hanya fokus pada Nayla.
__ADS_1
"Jangan bohong Aska, kau belum pernah menyentuhnya kan?" Langsung pada intinya.
"Dari mana kau tahu?Nayla memberi tahumukan?"Aska agak kikuk tersenyum kecut.
"Melihat hubungan kalian semua orang juga bisa menebak Nayla sangat dingin padamu"Jelas Dika
Aska menarik nafas panjang "ia aku menghargainya, aku tidak akan menyentuhnya sebelum ia menerimaku dan ia mengingankannya"Jelas Aska kembali menatap tajam targetnya.
"Bodoh ....sampai kapan kau menunggunya? kau tidak punya banyak waktu kau harus memiliki pewaris, aku tahu kau sudah memiliki Nayla tapi itu tak cukup kuat kau harus punya anak" Jelas Dika yang sarannya tak terlalu diperhatikan oleh Aska.
"Ia sabarlah kakak ipar, aku juga sudah berusaha membuka hatinya" Jelas Aska diselingin candaan terus mengawasi Nayla.
"Aku khawatir adik ipar kau mati belum memberiku keponakan, aku sangat ingin menjadi paman, jika kau lambat bergerak, Endy akan menggantikan posisimu dan aku akan mendapatkan keponakan dari endy" Jelas Dika menjawab candaan Aska seperti sedang bermain drama membuatnya mendapat sikutan diperut.
"Aw.... Aska ingat aku ini kakak iparmu" Memegang perutnya
"Kau kakak ipar kejam, kau mau menggantikanku dengan Endy jika aku mati nanti" Wajah Aska bertambah kesal.
"Baiklah aku bercanda tapi fikirkan kata-kataku tadi ya"Ujar Dika
Aska dan Dika kembali dengan memperhatikan Endy.
"Dika hentikan Endy, ayo ikuti mereka?" Aska mempercepat langkahnya.
"Tidak perlu, itu bagus untuk kita semua, jika Nayla dan Endy terlihat dekat, orang-orang yang mengikuti kita tidak perlu mencurigai hubunganmu dengan Nayla"Jelas Dika menghentikan langkah Aska.
"Tapi ia bebas menyentuhnya sekarang?"Protes Aska.
"Aska lihatlah kearah sana dari tadi aku melihat ada orang yang mengikuti kita, jadi bersikaplah seperti biasa" Ujar Dika menunjuk dengan ekor matanya sebelah kanan
Aska melirik hati-hati melihat segerombolan orang yang mengawasi gerak-geriknya dan dari jauh pula ia melihat ada Aldy dan geng pemuda tanpa masa depan mengawasinya memastikan keadaannya aman. Aska dan Dika berjalan beriringan dan berpisah dari Nayla dan Endy yang entah telah dimana keberadaannya sedangkan Dika dan Aska memutuskan untuk pergi membeli handphone baru setelah, ia tak sengaja menjatuhkannya saat Nayla menggodanya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Like,coment, vote ya.......