
Mereka duduk terdiam suasana hening setelah perdebatan mengenai sayang istri. Dika membela istrinya, ia merasa tak enak pada Aulia jika mengerjakan semua pekerjaan rumah termaksud mengurus permintaan aneh adiknya yang berbagai macam. Aska juga tak kalah membela istrinya apa pun akan ia lakukan demi membuat Nayla senang walaupun harus menggunakan kekuasaan dan berdebat dengan melewati sahabatnya.
Tok...tok....tok.Suara ketukan pintu terdengar dari dapur Dika berfikir itu adalah pasti Aulia. Dika berjalan keluar untuk membuka pintu.
Saat ini Dika berada didepan pintu memegang handle pintu membuka perlahan lalu mengintip dari balik pintu yang masih terbuka kecil, matanya membulat melihat siapa yang datang dengan cepat dan hati-hati ia menutup pintu lalu kembali berlari kedapur menemui adik dan sahabatnya.
"Gawat mertuaku datang, bubar kalian semua dari sini" Usir Dika dengan napas terengah-engah tak mau mertuanya melihat biang ini rusuh datang pagi-pagi dan merepotkan anaknya.
" Ha.. pak Samad datang" Ucap Aska kemudian ikut panik, mereka tak ingin bertemu dengan lelaki galak itu. mendengar suaranya saja ia ngeri.
"Pergi kalian" Saran Dika.
"Ngak sempat" Ucap Nayla juga ikut panik padahal pak samad sangat menyukainya.
"Sembunyi aja"
Nayla dan Aska keluar dari dapur hendak bersembunyi dikamar Nayla, mereka meninggalkan dapur dengan panik hingga terlupa Endy yang masih tertidur menempelkan wajah di meja, akhirnya ia tertidur setelah terus menggoda dua sahabat yang berdebat dengan cie..cienya itu.
Dika menarik nafas panjang, ia tahu ini berlalu pasti ngak mudah,lalu mebuka pintu.
Krek ...
"Bapak" Sapa Dika tersenyum manis pada mertua galaknya.
"Kok lama banget buka pintunya" Pak Samad memasang wajah datar.
"Masuk pak." Dika mempersilahkan mertuanya masuk. "Bapak sendirian" tanya Dika basa-basi.
"Bapak jalan-jalan kemari, Lia nanti nyusul" Pak samad mengarahkan pandangan pada seluruh sudut ruangan memperhatikan rumah yang menjadi tempat tinggal putrinya. Pak Samad hanya diam terus melangkah melihat rumah menantunya, Dika mengekori dari belakang ini pertama kalinya pak Samad datang berkunjung. lelaki tua ini menghentikan langkah saat telah berada dalam dapur, Dika mengintip dari punggung pak Samad. Dika tercengang matanya membola melihat Endy masih berada didapur menunduk terduduk di kursi menempelkan wajahnya di meja. Seketika Dika berjalan mendahului pak Samad mencoba membangunkan sahabatnya.
"Endy, Endy" Dika mengoyang-goyangkan tubuh Endy agar ia bangun lalu pergi dari rumah ini.
"Endy bangun" Dika berdiri disamping Endy membangunkan Endy dan pak Samad telah duduk dikursi berhadapan dengan pria yang tertidur pulas.
"Dika diam aku sangat mengantuk" Keluh Endy hanya menggeliat.
"Endy"
"Dika aku ngak perduli masalah kalian berdebat istri, jangan ganggu aku, aku mau tidur" mendengar perdebatan 2 sahabat, ia mengira sahabatnya sekarang sedang meminta saran seperti biasa.
Dika tersenyum kecut pada pak Samad yang menatap heran pada Ucapan Endy.
"Endy"Bentak Dika.
"Ih....prak" Endy menggeprak meja dengan keras sangat kesal tidurnya terganggu membuat pak Samad terjengkit kaget.
"Udah ngak boleh makan dirumah kamu, masa tidur juga ngak sih" Oceh Endy kesal pada orang yang di hadapannya.
Mata Endy membelalak kali ini dialah yang terkejut melihat orang tua yang ada didepannya.
"Kamu mau bikin bapak jantungan," ucap pak Samad
"Cie....cie.."Ucapnya tanpa sadar terkejut karena melihat pak Samad. lalu dengan cepat ia menutup mulutnya dengan telapak tangan sangat syok dengan apa yang keluar dari mulutnya, ia masih terbawa suasana cie..cienya.
Dika yang berada disampingnya tersenyum pelik, sorot matanya terlihat jelas menyiratkan habislah kau karena telah mengagetkan pak samad.
kemana bule Jerman itu, kenapa mereka meninggalkan aku, awas kalian" Umpat Endy dalam hati sangat kesal karena mereka melarikan diri dari pak Samad tanpa mengajaknya.
"Maaf pak, saya ngak tahu bapak datang" Wajahnya berharap pengampunan dari orang tua yang menurutnya menyeramkan ini.
"Bapak apa kabar? Bapak sehat" Tanya Endy basa-basi
"Emmm" Pak Samad memasang wajah datar.
Dika duduk ikut bergabung bersama dengan mertua dan sahabat. Mencoba mengobrol. Nayla dan Aska keluar dari kamar mengintip Endy dan Dika menghadapi pak Samad.
"Sayang, kasian banget Endy" Ucap Aska prihatin
" Ia, kakak sih, masa lupa narik kak Endy"
"Habis kakak panik, jadi lupa deh" Nayla dan Aska penasaran melihat interaksi mereka bersama pak Samad.
__ADS_1
"Nama kamu siapa?" tanya pak Samad dengan tatapan menyelidik .
Dengan ragu-ragu dan tertunduk." Endy pak"
"Mobil diluar itu milik majikan kamu ya? tanya pak Samad yang melihat mobil mewah terparkir didepan rumah menantunya. Ia mengira itu bukan milik Endy secara menantunya saja tukang ojek ngak tak mungkin memiliki pergaulan dengan orang kaya.
Pipi Dika menggembung menahan tawa mendengar pak Samad yang menggangap Endy memiliki pekerjaan sebagai supir. Aska dan Nayla yang berada diluar terkekeh pelan. Aska memang memarkirkan mobil sport mewahnya didepan rumah Dika seperti biasa, ia lupa jika sahabatnya sedang menutupi identitas.
"Ia pak" Endy menendang kaki Dika yang seperti mengejeknya, ia terpaksa mengaku juga sebagai supir setelah Dika mengaku sebagai tukang ojek.
" Wah hebat kamu" pak Samad tersenyum bangga pada Endy, membuat Dika dan Endy kompak saling memandang.
"Sudah berapa lama menjadi supir?" tanya pak Samad.
Endy menatap Dika wajahnya telah memerah menahan tawa, lalu kembali menendang kakinya.
"Udah lama pak bertahun-tahun" Dika mendengar jawaban Endy rasanya sudah tak bisa menahan tawa, ingin rasanya ia membalas Endy dengan cie..cie.
"Ada lowongan ngak, jadi supir mobil mewah lagi?" tanya pak Samad tertarik dengan pembicaraan dengan Endy.
"Lowongan pak, untuk siapa?" Endy menatap heran
" Ya untuk menantu bapak" Pak Samad melirik licik kearah pada Dika kini gilaran Endy yang ingin tertawa pipinya menggembung, Dika menendang kaki Endy dari bawah meja, kali ini Dika di daftarkan oleh mertuannya menjadi supir.
"Dika kan kerja pak" ucap Endy
" Ia tapi cuma ngojek"
Dika masih menyembunyikan identitas pekerjaan pada istri dan mertuanya karena menurutnya dengan pekerjaan itu ia bebas keluar rumah pergi malam pulang pagi dan ia juga tak ingin mereka berfikir negatif tentang pekerjaan orang bekerja di club malam.
"Tapi sayakan juga cuma supir pak" Jelas Endy yang mengatakan pekerjaanya juga tak lebih baik dari Dika sama saja tak berpenghasilan banyak.
"Ia walaupun supir, tapi kalau mobilnya mewah begitu kan bagus setidaknya, terlihat berkelas" jelas pak Samad tak masalah supir akan terlihat keren jika mobil mewah yang dikendarai.
Nayla dan Aska terkekeh diluar melihat pak Samad dan Endy berbincang.
"Kasian pak supir dan kang ojek lagi menerima nasehat pak Samad" celetuk Aska.
"Sayang" protes Aska.
Kembali pada pak Samad.
"Ngak seperti Dika tukang ojek, mana nariknya cuma malam hari lagi" Keluh pak Samad.
"Emang kenapa pak?" Endy terus mengobrol dengan pak Samad ia merasa mulai nyambung bicara dengan pak Samad yang ternyata tak semenyeramkan yang ia fikir, ia hanya melindungi anaknya.
"Kasian anak bapak, ditinggal sendiri dirumah" keluh pak Samad yang khawatir pada anak kesayangannya.
Aulia adalah anak gadis kesayangan pak Samad dan ia khawatir jika anaknya tinggal dirumah suaminya sendiri dimalam hari, ketika Dika pergi meniggalkannya untuk mencari nafka.
"Kamu juga Dika harusnya kamu itu jangan pulang malam cari kerja yang siang aja" saran pak Samad. ia tak memandang rendah pekerjaan menantunya ia hanya tak ingin anaknya ditinggal sendiri saat malam hari.
Dika hanya tersenyum pelik menyadari ternyata benar kata Nayla, akan ada baiknya juga ia mengatakan jika pekerjaannya tukang ojek.
"Ia pak, saja usahakan untuk mememani Aulia.
"Dan kamu juga jangan nganteri penumpang aja, anterin tuh Istri kamu kekantor" titah pak Samad.
Dika mengernyitkan dahinya selama menikah, ia tak pernah melihat istrinya, ketika pergi kekantor, pekerjaannya diclub malam yang menghabiskan waktu semalaman membuatnya hanya ingin tertidur jika telah pulang kerumah, hingga tak pernah melihat Aulia bekerja, dika hanya melihatnya saat pulang dari kantor, sore hari istri itu pun diantar oleh Adit adiknya.
"Mulai besok, kamu akan antar jemput lia dari kantor, jangan penumpang aja yang diantar, mentang-mentang ngantarin istri gratis,jadi malas nganterinnya"
" Ia pak" Dika tertunduk menerima tugas baru dari pak Samad Endy yang mendengar nasehat pak Samad menahan tawa apalagi melihat Dika yang galak mati kutu didepan mertuanya.
Nayla yang ada diluar juga terkekeh melihat Dika hanya tertunduk penuh hormat pada pak Samad.
"Rasain ngak peka sih, masa istri ngak diantar kekantor, hajar aja dia pak, emang tuh, cuek banget jadi orang" ucapnya gemas, Nayla tersenyum puas melihat kakaknya yang sangat hebat jika berdebat dengannya hanya diam tanpa kata.
" Hebat pak Samad, kakak kamu ngak berkutik dibuatnya"
Nayla dan Aska masih mengintip dari balik dinding terus terkekeh berbisik pelan melihat ketiga lelaki itu mereka sangat asik hingga tanpa mereka sadari dibelakang ada sepesang mata yang memperhatikan tingkah mereka.
__ADS_1
"Nay kamu ngapain?" Aulia menyapa Nayla membuat Aska dan Nayla, yang asik mengintip terjengkit kaget, lalu kompak memegang dadanya.
" Kak Lia, ngagetin aja" Ucap Nayla.
"Kamu liat apa sih" Aulia masuk kearah dapur melihat apa yang membuat Nayla dan Aska mengintip.
" Tuh ada bapak, masuk sana" Aulia berjalan menarik tangan Nayla menuju dapur, ia pun pasrah tertarik masuk ikut bersama Aulia.
Pak Samad mengarahkan pandangannya pada dua wanita yang baru saja masuk, sudut bibirnya tertarik melihat dua perempuan berjalan mendekatnya.
"Hei cantik" Sapa pak Samad tersenyum melihat Nayla seketika membatalkan keinginanya untuk pulang, Endy memincingkan mata pada bule Jerman masih tak terima, mereka kabur dari pak Samad tidak mengajak dan membangunkannya, sedangkan Dika memutar bola mata jengah melihat adiknya mendapatkan perhatian dan sangat akrab dengan pak Samad.
"Bapak apa kabar?" Nayla menarik kursi lalu duduk disamping pak Samad.
"Baik cantik, kenapa ngak pernah main kerumah bapak sih, bapak sudah simpankan buah mangga yang paling tinggi untuk kamu, belum bapak petik,sengaja bapak siapkan untuk kamu" Pak Samad sangat menyukai Nayla ia telah mengaggapnya sebagai anaknya sendiri.
Mendengar pohon mangga tiba-tiba Dika melototkan mata pada adiknya, mengancam adiknya melalui sorot mata agar tak menerima tawaran pak Samad karena nanti dialah yang ditugaskan memanjat pohon.
"Benarkah pak, banyak? Nayla antusias
" Ia cantik, banyak banget, pokoknya yang paling tinggi" pak Samad bersemangat. memberi penekanan pada kata paling tinggi. lalu melihat Dika.
"Ia pak tapi, saya lagi ngak pengen mangga" Nayla menolak setelah melihat sorot mata kakaknya. Sejenak Dika bernafas lega mendengar penolakkan Nayla, namun saat ia telah tenang kembali hatinya hancur karena ulah sahabatnya.
"Saya mau pak," Sambar Aska yang langsung masuk kedalam dapur mendengar kata mangga, tadi ia masih berdiri menguping, tawaran pak Samad sangat mengiurkan untuknya.dulu ketika mangga yang dibawah Nayla, ia yang menghabiskan entah mengapa ia menjadi suka sekali mangga muda apa lagi punya pak Samad.
"Boleh... kerumah aja, nanti Dika yang panjatkan" Pak samad mengarahkan pandangannya pada Dika yang telah memaksakan senyuman ingin rasanya ia menangis mendengar perintah mertuanya. Ia akan kembali memanjat mangga, dulu ia pernah terjatuh karena keinginan Nayla, sekarang ia akan memanjat untuk sahabat yang menyebalkan ini.
Dika merasa heran pak Samad bisa hangat pada adik dan sahabatnya sedangkan padanya seakan melihat sebagai musuh.
" kalian semua kerumah bapak ya" Ajak pak Samad.
Aulia datang membawa nampan yang diatasnya berjajar cangkir kopi untuk mereka yang sedang berkumpul.
"Lia" pak Samad mengajak anaknya bicara. sambil menata cangkir kopi didepan seluruh lelaki yang berkumpul.
"Ya pak"
"Besok Dika akan mengantar kamu kekantor, jadi bukan Adit lagi" jelas pak Samad.
"pak, kak Dika sibuk " Aulia menolak ia mengerti kesibukkan Dika
Aulia menolak permintaan bapaknya, ia telah hidup berhari-hari bersama Dika melihat suaminya yang dunianya terbalik malamnya menjadi siang-siangnya menjadi malam, saat pergi kentor Dika telah tidur beristirahat setelah semalaman bekerja, ia tak mau merepotkan suaminya.
"Ngak apa-apa lia, diakan suami kamu"
"Ia kak Lia, mau aja, ngak apa-apa, kalau perlu, kalau kakak mau jalan-jalan, kepasar minta antar aja sama kak Dika" ucap Nayla mendukung pak Samad ia ingin melihat wajah kesal Dika padanya dan benar aja Dika menatap geram padanya memperlihatkan kepalan tangannya.
"Setujukan kan cantik"
"Ia dong pak, kan sayang istri? Gimana kakak Dika"
Dika memaksakan senyuman" Awas kamu, bule Jerman," Batin Dika.
"Besok bapak kesini kalau dia ngak nganterin kamu, awas dia" Ancam pak Samad.
Endy dan Nayla saling pandang tersenyum puas melihat Dika yang tak berdaya dengan ancaman pak Samad.
"Ia pak, masa penumpang aja yang diantarin, hati-hati pak ntar dia pasang tarif lagi" tambah Endy ikut merecoki sahabatnya hingga ia mendapatkan tendangan.
"Pak mangganya jadikan?" Celetuk Aska dengan tema pembicaran lain namun sama menjengkelkannya untuk Dika,Aska tak memperdulikan pembahasan mereka, ia hanya ingin memakan mangga pak Samad.
Dika menghela nafas,wajahnya tak bersemangat kenapa hari ini semua orang menyerangnya membuatnya jengkel saja, belum selesai masalah mengantar anak pak Samad sekarang ia harus sibuk karena permintaan mangga Sahabatnya.
"Jadi dong, Dika pergi kerumah manjat sana, kami menunggu disini," Titah pak Samad yang tak bisa terbantahkan Dika kemudian beridiri mengertakan giginya melihat Aska si biang kerok, kali ini ia kembali memanjat mangga.
.
..
.Like, coment, vote...ya yang kencang....
__ADS_1