
Siang ini setelah melaksanakan tesnya, Nayla bersiap dengan hadiahnya menurut janji Aska mereka akan pergi menonton dan kencan. Ia menyiapkan dirinya duduk di depan meja rias sambil menyisir rambutnya akhirnya setelah sekian lama ia akan keluar rumah juga fikirnya.
"Nay kamu udah siap belum" Tanya Aska
"Udah kak" Nayla bergegas menyelempangkan tasnya lalu menghampiri Aska.
"Ayo kita pergi" Aska berjalan di depan Nayla lalu menekan tanda yang ada di dinding.
Tring....Mereka masuk kedalam lift, pintu tertutup Nayla melihat Aska menekan angka melihat itu Nayla menjadi protes.
"Kak Aska bukankah kita harusnya turun bukan naik ke lantai tiga" Tanya Nayla ragu
"Oh....kita akan kencan di lantai tiga" Jawab Aska santai.
"Apa kencan di lantai tiga?" Nayla tersentak mendengar jawaban Aska.
Pintu lift terbuka sampailah mereka dilantai tiga sebuah ruangan luas dengan banyak fasilitas di dalamnya
"Ayo Nay" Aska menarik tangan Nayla yang enggan keluar dari lift.
"Kak Aska, kau membohongiku, kakak bilang kita akan nonton dan kencan? kenapa kita ke lantai tiga?." Suaranya mulai meninggi.
"Siapa yang bohong kakak bilang kita akan nonton dan kencan, itu tempat kita nonton nanti" Menunjuk ke arah ruangan yang tertutup.
"Coba kamu ingat lagi memang kakak bilang kita akan keluar dari rumah ini" Jawab Aska santai melipat tangannya di dada.
Nayla menjadi kesal dengan lelaki di hadapannya ia merasa tertipu.
"Nayla itu mau keluar, maunya lihat keramaian, ini sepi"
"Ayolah Nay, sudah terima saja, kita akan kencan di sini dan karena ini kencan bolehkah aku memegang tanganmu?" Aska menjulurkan telapak tangannya.
"Nayla ngak mau" Ketus masih kecewa.
"Berusahalah Nay untuk hubungan kita ini. Cobalah menerima pernikahan ini, kita akan lakukan ini sebagai pasangan" Suara Aska berat memasang wajah memelas tangannya masih terjulur ke hadapan Nayla berharap Nayla menyambutnya.
Nayla terdiam berfikir sejenak, menarik nafas dan menyambut tangan Aska dengan ragu akhirnya Nayla menggengam tangan itu Aska lalu mengunci jari itu garis bibirnya naik ia sangat senang.
"Makasih Nay" Mengangkat tangan yang digengamnya erat, lalu mengayun-ayunkannya sambil berjalan berdampingan dengan senyum mengembang berjalan menuju ruangan tempat menonton, ternyata bioskop yang ada di dalam rumah layar yang besar dengan kursi berjejar didepannya" Ucap Aska.
"Rumah presdir tempat seperti ini pun dia punya dan kenapa genggaman tangan ini ngak bisa di lepas" Gumam Nayla melihat tangannya masih di pegang erat.
Mereka pun duduk dengan tangan masih tergengenggam
"Gimana Nay asik kan tempatnya, sama aja kan?" Tanya Aska
"Asik gimana sepi begini, cuma kita berdua" Nayla tak bersemangat.
"Bagus dong jadi kita ngak perlu jadi pusat perhatian, mendengar cibiran orang kalau kita kakak-adik sempurna" Aska teringat saat kencan pertamanya dulu betapa ia dan Nayla terlihat tidak serasi sebagai pasangan .
Setelah memilih film yang mereka ingin tonton mereka memusatkan perhatian mereka ke layar dengan terus berpegangan tangan. Nayla mulai tak nyaman ia sudah merasa telapak tangannya berkeringat ia sudah mencoba menarik tangan itu tapi semakin dia menarikknya semakin kuat genggaman itu, hingga ia tidak menghiraukannya lagi kembali pada tontonannya .
film pun selesai Nayla menggerakan kepalanya melihat ke samping ternyata lelaki yang disebelahnya sedang tertidur, ia melihat genggaman tangan itu ada di dada Aska, karena fokus ke film ia sudah tak sadar ke mana sebelah tangannya ia melihat wajah itu memperhatikan dengan jelas.
"Ini kah wajah suamiku? ternyata sangat tampan untuk ukuran pasangan ini termaksud keberuntungan punya suami setampan dia, tapi kami ini cuma kakak-adik" Batin Nayla.
Tangan Nayla mulai lelah menunggu Aska yang telah lama tertidur namun ia memakluminya ia sudah tahu Aska suka tertidur jika menonton ini kebiasaan yang telah lama, sebenarnya ia agak kesal tapi mengingat kerja keras Aska dalam bekerja dan hari ini hari liburnya jadi dia memakluminnya .
"Kenapa aku merasa sikapnya berubah setelah aku tinggal dirumah ini, ternyata dia bukan lelaki yang dingin dia lebih banyak bicara dari pada aku dia bahkan memuji kecantikanku panjang lebar tadi pagi, sekarang ia meminta menggandeng tanganku memangnya ada apa dengan dia, kenapa dia berubah jadi hangat seperti ini ?" Batin Nayla.
Aska mulai membuka matanya ia menegakkan badannya terkaget karena layar didepannya telah mati ia melihat ke samping.
"Nay aku ketiduran" Agak panik.
"Ngak, biasa aja emang begini akhirnya kalau kencan dengan kakak" Ucap Nayla berpura-pura kesal.
"Ayo kita keluar dari sini" Aska menarik genggaman tangannya
"Kak Aska udah bisa lepas tangan ngak, tangan Nay uda pegal nih"
"Ngak boleh tangan ini ngak bisa lepas sebelum kencan ini berakhir" Jawab Aska.
"Apa, udah berjam-jam kita seperti ini emang kakak ngak cape apa." Protes Nayla.
"Ngak masalah dua hari juga kakak siap" Goda Aska.
Mereka pun berkeliling dilantai tiga mulai keruang game di sana banyak permainan yang terlengkap dan terbaru, tercanggih mereka bermain bersama tanpa sadar Nayla larut dalam tawa bermain dengan tangan hanya sebelah.
Setelah puas tertawa di ruang game Aska mengajak Nayla melihat ruangan favorit Aska, ruangan musik yang banyak peralatan Dj yang lengkap dan canggih serta banyak alat musik di sana didekatnya ada bar mini .
"Nay ini tempat kami bertiga berkumpul disini, jadi ruangan ini kami buat senyaman mungkin" Jelas Aska.
"Kak Dika dan kak Endy sering main kesini" Tanya Nayla yang di balas anggukan oleh Aska.
__ADS_1
Nayla berjalan melihat ruangan dan langkahnya terhenti melihat sebuah gitar ia memperhatikan gitar itu lalu teringat oleh geng pemuda tanpa masa depan.
"Kak Aska boleh Nayla minta sesuatu "
"Kamu mau apa? bilang aja" Timpal Aska.
"Kakak... boleh kakak suruh geng pemuda tanpa masa depan yang ada di bawah menyanyi disini?" Pinta Nayla.
Aska mengernyitkan dahinya.
"Gerombolan itu bukannya kamu ngak suka sama mereka karena mereka berisik" Jawab Aska.
"Itu dulu, Nay kangen rumah Nay, siapa tahu jika mereka bernyanyi kangennya sedikit berkurang." jelas Nayla.
"Baiklah kalau begitu kakak akan memanggilnya kemari dari menyanyi untukmu" Aska mengambil handphonenya dengan susah payah karena gengaman tangannya.
Beberapa saat setelah menelpon gerombolan itu datang.
"Maaf tuan ada apa memanggil kami" Tanya salah satu dari mereka dia adalah Aldy.
"Nayla ingin kalian menyanyi untuknya, karena ia sedang merindukan rumahnya" Jelas Aska berdiri disamping Nayla masih terus menggengam tangannya.
"Tapi tuan kami ini bukan penyanyi, kami hanya menyanyi asal-asalan dirumahnya dulu lagi pula itu hanya potongan lagu" Jelas Aldy pemuda yang memetik gitar dulu.
"Menyanyilah dengan baik untuknya, jika kalian menyanyi asal-asalan, jika kalian tidak menyanyi dengan baik aku akan memotong gaji kalian." Aska berbisik pada Aldy tak mau Nayla mendengarkan ucapannya.
"Lagu apa tuan" Tanya Aldy.
"Terserah kalau bisa yang mewakili perasaan cintaku" Bisik Aska pelan
Aska dan Nayla bergandengan tangan meninggalkan mereka lalu duduk sebagai penonton menaruh genggaman tangannya diatas meja siap menikmati pertunjukan.
Di hadapan mereka gerombolan itu terlihat kasak kusuk berdiskusi.
"Lagu apa ini tanya mereka" bingung akan menyanyi lagu apa.
"Nyonya Nayla ingin lagu apa?" Tanya Aldy pada mereka.
"Terserah kalian saja" Jawab Nayla
Aldy mulai memetik gitarnya, paduan suara sudah siap menyanyi dibelakangnya.
"Apa kurangnya aku didalam hidupmu
sekarang bahwa kau tak bahagia
aku punya ragamu tapi tidak hatimu kau........"
Armada asal kau bahagia.
Mereka menghentikan lagunya karena dihadapannya Aska sedang membulatkan matanya memasang wajah kesal.
"dasar mereka mau bilang bahwa aku cuma memiliki Nayla bukan hatinya awas kalian, aku menyuruhnya mengungkap perasaanku bukan caraku memilikinya dengan paksa, awas kalian, aku potong gaji kalian "gumam Aska dalam hati.
Aska memundurkan kepalanya agar tak terlihat oleh Nayla lalu menggibaskan sebelah tangannya ke leher melihat pemuda tanpa masa depan lalu menggangkat dua jarinya.
Geng pemuda tanpa masa depan yang melihat kode itu menjadi panik, ia sangat mengerti kode itu artinya gajinyanya di potong 20 persen kemudian dengan cepat menghentikan lagunya, kembali saling berdiskusi.
"bagaimana ini gaji kita telah dipotong 20 persen, Aldy ini semua salahmu kenapa kau memilih lagu itu tuan jadi tersinggung "Ucap salah satu gerombolan yang ada di belakang Aldy.
"Mana aku tahu kalau dia tak suka dengan lagu itu dia menyuruh kita tentang kisah cintanya memang itu kenyataan dari kisah cintanya" Jelas Aldy.
"Kenapa kalian diam lanjutkan lagu kalian" Perintah Nayla.
"Baiklah nyonya lagu tadi tidak bagus jadi kami akan ganti " Jelas Aldy.
kembali memetik gitar
Pujaan hati apa kabarmu
kuharapkau baik-baik saja
pujaan hati anda kau tahu kusangat
mencintai dirimu.
Aska mulai tersenyum mendengar lagu itu namun ketika di reff.
mengapa kau tak membalas cintaku
mengapa engkau abaikan rasaku
ataukah...kangen band pujaan hati
__ADS_1
Aska kembali membulatkan matanya mendengar pertengahan lagu itu.
"Kali ini kau menyinggung kalau cintaku bertepuk sebelah tangan"gumam Aska dalam hati.
Aska kembali menggibaskan tangannya ke leher kembali mengangkat tiga jarinya .
Mereka kembali menghentikan lagunya.
"Ya Aldy tiga jari lagi itu artinya sudah 50 persen, gaji kita terpotong, ini semua gara-gara kau yang tak tahu memilih lagu " Ujar salah satu dari mereka.
"Mau lagu apa lagi memangnya? kita ini bukan penyanyi, lagi pula mereka itu bukan pasangan, tuan itu hanya lelaki yang cintanyanya penuh perjuangan lalu malu mengakui jika bertepuk sebelah tangan" Aldy membela diri dia tak mau terus disalahkan.
"Kenapa diam lagi lanjut, menyanyilah yang banyak" Pinta Nayla tersenyum.
"Kalau tahu serumit ini mungkin dulu aku lebih baik menyamar jadi kang somay di depan rumah Nayla dari pada harus menyamar jadi pemuda tanpa masa depan yang menyanyi didepan teras rumahnya" Ujar Aldy.
"Ia, aku juga lebih memilih menyamar jadi tukang sayur langganan Nayla" Ujar pemuda di belakang.
"Aku lebih baik jadi tukang kredit panci keliling" Ujar lagi dari belakang.
Aku akan jadi kang bakso keliling yang mangkal di depan dirumahnya" Timpal lelaki di belakang.
Obrolan mereka menyesali penyamarannya
"Apa yang kalian fiikirkan lagi, lanjutkan lagu kalian" Ucap Aska.
waktu pertama kali kulihat dirimu
hadir rasa hati ini inginkan dirimu
terimah lagu ini dari orang biasa tapi
cintaku padamu luar biasa
aku tak punya bunga aku tak punya harta
"Lagu apa lagi itu, itu lagu orang susah, aku ini bergelimang harta" Gumam Aska.
Aska kembali menggelengkan kepalanya pelan kembali menggibaskan tangannya, kali ini dua jari terangkat.
Artis yang di hapadan mereka mereka kembali menghentikan lagunya bertambah takut.
"Aldy gaji tinggal 30 persen habislah sudah dari tadi tak ada lagu yang dia suka, mana banyak cicilan lagi" Suara orang di belakang.
"Mana aku tahu memangnya kita ini penyanyi, kita ini hanya penjaga keamaan yang iseng menyanyi dari dulu tak ada yang suka kita menyanyi Nayla, Endy semua akan tersinggung jika menyanyi sekarang tuan Aska pun sama" Jelas Aldy dari tadi merasa terpojokan.
"Baiklah karena tinggal 30 persen kita habiskan saja sekalian, ini adalah lagu yang pas untuk mereka "mulai emosi.
"Tuan dan nyonya kami akan menyanyi untuk kalian, lagu ini mewakili perasaan kalian masing-masing" Dengan suara lembut namun Aldy mulai nekat kupingnya panas mendengarkan ocehan temannya dari tadi menyalahkannya lalu memetik gitarnya.
Aku telah lelah megikuti semua langkah kakimu dan berharap bisa memiliku
berbagaicara telah aku lakukan
demi hidupmu hingga aku
mengobarkan hidupku
buka hatimu...bukalah sedikit
untukku sehingga diriku
bisa memilikimu.
armada buka hatimu
Aska terlonjak mendengar lagu gerombolan itu benar-benar mewakili perasannya dan keinginannya.
"Ayo kita pergi dari sini Nay, kakak lapar ..."Menarik tangan Nayla pergi meninggalkan geng pemuda tanpa masa depan yang masih menyanyi.
"Aku akan menghukum kalian, nanti kalian terang-terang menggungkapkan isi hatiku, bagaimana jika aku ketahuan menyukainya" Batin Aska .
Akhirnya kencan lantai tiga itu berakhir genggaman tangan itu telah lepas ada rasa kesedihan melepaskan tangan itu.
.
.
.
.
.
__ADS_1