Jodoh Pilihan Kakakku

Jodoh Pilihan Kakakku
sedih


__ADS_3

Siang hari Nayla berada dikamar duduk disofa dengan buku dipangkuannya termenung memikirkan dimana keberadaan Aska setelah pertengkaran semalam ia belum juga melihat Aska, saat Nayla membuka matanya dipagi hari lelaki itu tak ada disampingnya, setelah pertengkarannya dengan Aska membuatnya marah Aska menghilang ia tak pernah kembali kekamar, membuat Nayla merasa bersalah telah meluapkan semuanya amarah dan isi hatinya.


Krek .....pintu kamar terbuka Nayla mengarahkan pandangannnya kearah pintu bergegas berdiri melihat siapa yang masuk.


"Kak Aska " Gumam Nayla pelan berbinar senang terus memperhatikan kearah pintu namun tebakannya salah ternyata perempuan paruh baya masuk dengan pelayan dibelakang membawa nampan ,tebakannya salah seketika wajahnya berubah menjadi tak besemangat


"Siang nyonya, saya membawakan makan siang untuk anda" Sapa bibi May berdiri disamping Nayla mengawasi pelayan menata makanan diatas meja.


"Bibi May tak perlu repot saya akan turun jika saya lapar" Nayla memasang wajah tak bersemangat menyingkirkan bukunya


"Waktu makan siang telah lewat dan anda belum juga turun"Jelas bibi May sedikit khawatir


"Aku sedang tidak nafsu makan bibi May" Nayla memasang wajah lesu lalu memandangi bibi May ingin bertanya perihal dimana keberadaan Aska


"Bibi May duduklah" Nayla menggeser tubuhnya mempersilahkan bibi May duduk disampingnya.


"Ada apa nyonya "Bibi May duduk disampingnya


"Bibi May dimana kak Aska? semalaman ia tak kembali kekamar?" Tanya Nayla dengan memasang wajah sedih.


Bibi May tersenyum tipis meraih tangan Nayla memengangnya.


"Apa anda bertengkar dengannnya" Tebak bibi May langsung keinti masalah, sangat tahu tuannya ia mengasuh Aska dari kecil jadi tahu semua yang terjadi pada Aska, bagaikan ibu bagi Aska dan juga sangat penting bagi Aska.


Nayla mengganguk perlahan tanda ia" Ia marah padaku bibi May, dia meninggalkan kamar semalam" Jelas Nayla wajahnya sangat sedih

__ADS_1


"Tuan tidak mungkin marah pada nyonya" Bibi May menepuk punggung tangan Nayla menenangkan Nayla yang dia anggap juga seperti anaknya sendiri.


"bibi May itu pertama kalinya ia semarah itu padaku, kemana ia semalam" Wajah Nayla berubah khawatir.


"Dia tidur dikamar lain nyonya lalu berangkat kekantor pagi-pagi sekali." Jelas bibi May.


Nayla terdiam tertunduk merasa bersalah, ia merasa Aska pasti menghindarinya dan itu hukuman untuknya.


"Jangan khawatir nyonya, jika suasana hatinya membaik ia juga pasti menemui anda, tersenyum tipis lalu bangun dari duduknya" Saatnya makan siang nyonya, anda tidak boleh telat makan karena jika anda sakit tuan Aska pasti sangat khawatir" Bibi May mempersilahkan Nayla lalu pamit keluar dari kamar.


Nayla meraih piring dan menyantap makan siang yang dibawa bibi May untuknya ia menarik garis bibirnya ketika teringat kenangan ia menyuap Aska seperti anak kecil, ia sangat rindu moment itu ketika Aska bermanja dengannya namun kembali bersedih saat teringat pertengkarannya semalam, matanya berkaca-kaca ia menyendok makanan kemulutnya dengan tatapan kosong fikirannya terus tertuju pada Aska.


kenapa aku bersedih,kenapa air mata ini selalu ingin menetes, tak melihatnya membuatku tersiksa, perasaan apa ini ...aku ingin dia kembali dan bermanja denganku" Guman Nayla dalam hati


Nayla terus menyendok makananan kemulutnya, air mata yang sejak tadi ia tahan lolos keluar membasahi pipinya ada perasaan lain dihatinya, sambil terus terisak ia menyendok makanannya, lalu tiba-tiba saja ia mual dan ia ingin muntah, ia mendorong piringnya bangun dari duduknya memenutup mulutnya lalu dengan cepat berlari menuju kamar mandi.


Nayla keluar kamar mandi dengan wajah pucat sudah berhari-hari ia seperti ini, tubuhnya menolak makanan apapun yang masuk ,tubuhnya terasa lemah ia menuju tempat tidur berbaring memikirkan aska membuat asam lambungnya naik fikir Nayla.


*****


Malam telah larut Nayla berdiri dibalkon kamar, sudah sejak lama ia berdiri dengan wajah resah sesekali ia mondar-mandir, kembali duduk dikursi, pandangannya selalu menatap gerbang besar rumah, ia sedang menunggu Aska pulang dari kantor sudah seharian hatinya tak tenang gelisah tak karuan diotaknya hanya ada Aska ,dia tak bisa tidur dan makan dengan baik karena memikirkannya, dingin angin malam yang berhembus merasuk hingga ketulang tak ia hiraukan demi melihat Aska pulang.


Nayla telah menunggu dibalkon berjam-jam namun gerbang besar didepan rumah masih saja tertutup rapat tak ada tanda akan terbuka, tubuhnya mulai bergetar kedingingan terkenan angin malam ia mengusap usap kedua tangannya agar rasa dinginnya berkurang


Kemana dia? aku tak bisa tenang jika belum melihatnya ...kenapa... aku tak bisa menutup mataku aku terus melihatnya, saat aku membuka mataku aku merindukannya aku sangat tersiksa jangan hukum aku seperti ini maafkan aku

__ADS_1


Setelah sekian lama menunggu namun gerbang tak juga kunjung terbuka akhirnya ia tak tahan lagi ia masuk meninggalkan balkon dengan perasaan kecewa dihati, ia berniat bertanya pada bibi May


Nayla menuju dapur untuk menemui bibi May ia sangat ingin tahu keberadaan Aska, baru sampai di dapur bibi May sudah menyapanya.


"Malam nyonya, anda butuh sesuatu" Tanya bibi May menghampiri Nayla


"Tidak bibi May, saya hanya ingin bertanya kenapa kak Aska belum pulang" Tanya Nayla penasaran


Wanita paruh baya itu menatap Nayla ia sangat tahu Nayla pasti lagi cemas, walaupun ia dingin padanya tapi Aska bagian dari hidupnya, bibi May tersenyum tipis melihat Nayla khawatir.


"Tuan Aska tidak pulang? malam ini nyonya " Jawab bibi May.


"Kenapa bibi May " Tanya Nayla penasaran.


"Ia lembur nyonya ia akan tidur dikantor" Jelas bibi May.


"Tidur di kantor" Nayla mengernyit dahinya.


"ia nyonya sebaikknya anda istirahatlah jangan menunggu tuan aska"saran bibi may


"baikklah bibi may " Nayla membalikkan badannya pergi meninggalkan dapur wajahnya tak bersemangat kakinya terasa berat melangkah kembali kekamar dengan perasaan lagi-lagi ia kecewa.


Nayla berada didalam kamar berbaring dikasur menangisi apa yang telah ia lakukan pada Aska ia menyesal mengatakan kata pisah padanya, baru sehari tak melihatnya ia sudah tak sanggup bagaimana membayangkan akan berpisah dengannya selamannya, ia menyadari tak bisa jauh dari Aska, ia mulai merindukan perhatiannya, sikap manja Aska terakhir kali telah membuka hatinya. Ia rindu duduk bedua dengannya ia terus terisak semalaman hingga tak terasa ia tertidur.


.

__ADS_1


.


.like, coment,vote Ya


__ADS_2