Jodoh Pilihan Kakakku

Jodoh Pilihan Kakakku
mangga


__ADS_3

Nayla dan Dika pulang meninggalkan rumah pak Samad, senyuman terus tercetak diwajah cantik gadis ini. Ia sangat bahagia lamaran kakaknya akhirnya diterima, tak lama lagi ia akan memiliki kakak ipar baik, sabar yang akan membantunya mengurus 3 lelaki itu, setidaknya ia bisa bernafas lega kakaknya akan hidup normal dan berkeluarga sama seperti yang ia harapkan selama ini. Kebahagiaan hari ini tak terlukiskan ditambah lagi ia mendapat bonus mangga gratis pemberian dari pak Samad semakin membuat suasana hatinya membaik, rasanya ia sudah tak sabar menyantap mangga pemberian pak Samad yang ia dapatkan dari perjuangan kakaknya.


Mobil menepi mereka telah sampai dirumah, Nayla turun dari mobil dengan senyum simpul menjinjing kantong plastik mangga yang ia bawa dari rumah pak Samad, kemudian masuk kedalam rumah dengan cepat tak memperdulikan Dika yang masih dibelakang. Nayla masuk melalui ruang tengah kemudian langkahnya terhenti saat melihat dua lelaki yang pagi tadi katanya sedang sibuk malah santai duduk disofa ruang tengah sambil menonton tv. Aska dan Endy tersenyum kaku melihat Nayla yang telah datang dengan memegang kantong plastik transparan terlihat jelas didalamnya banyak mangga.


"Kalian disini, kakak ngak ngantor?" tanya Nayla yang masih berdiri kemudian Aska menarik tangan Nayla membuat istrinya ini duduk dipangkuannya lalu melingkarkan tanganya diperut Nayla, gadis ini sedikit berontak merasa tak enak ada Endy yang melihat kemesraan mereka.


"Ngak sayang, kamu lupa ya inikan tanggal merah, masa sih kamu lupa kalau kantor tutup," ucap Aska santai menaruh wajahnya diceruk leher Nayla, ia kembali bermanja entah mengapa rasanya tak bisa berjauhan dengan istrinya, ia sangat suka mencium aroma tubuh yang yang mengeluar dari Nayla.


"Ih...kan tadi pagi Nayla juga bilang gitu," protes Nayla ia berdecak kesal lelaki ini memang menghindar saja untuk kerumah pak Samad. Nayla lalu mengarahkan pandangannya pada Endy.


Endy tersenyum pelik sorot mata bule Jerman telah memberikan pertanyaan menyelidik.


"Kak Endy ngak jadi kencan, Serena sangat sibuk dia ngak bisa hari ini," jelas Endy.


"Dasar kalian bilang aja menghindari pak Samad" Nayla berdecak mengerucutkan bibirnya melihat dua lelaki yang telah berbohong demi menghindari ke rumah pak Samad.


"Gimana lamarannya Nay, diterima ngak?" tanya Endy penasaran. Nayla akan menjawab namun lidahnya tercekat saat ia melihat kakaknya masuk.


Dika masuk ke dalam rumah dengan kaki pincang, celana yang sobek, luka ditangan. Aska dan Endy saling menatap heran, melihat sahabat yang wajahnya sangat kacau seperti telah mengalami luka penganiayaan. Nayla beranjak dari pangkuan Aska lalu melangkahkan kakinya tertunduk masuk ke dalam dapur ia tertawa kecil melihat keadaan kakaknya.Tanpa kata Dika duduk ditengah bergabung dengan sahabatnya yang wajahnya sudah penasaran mendengar cerita Dika.


"Gila pak Samad mematahkan kakimu" Aska bergidik ngeri melihat Dika yang penuh luka pulang dari rumah pak Samad.


"Aska untuk kita ngak ikut," timpal Endy mengelus dadanya tanda ia selamat dari amukan pak Samad.


"Diam kalian, ini semua gara-gara bule Jerman itu" Bentak Dika kesal dengan kelakuan adiknya.


"Bule Jerman." Kompak Aska dan Endy.


"Memangnya kenapa dia," tanya Aska.


"Sudah tahu galak masih saja berani minta mangga pak Samad." Keluh Dika sangat kesal pada adiknya karena Nayla ia menderita seperti ini. ingin rasanya ia mencubit gemas adiknya karena menyusahkan.


"Lalu apa hubungan kakimu dengan bule Jerman" Aska penasaran.


"Dia ingin makan mangga lalu dengan berani ia meminta mangga pak Samad"


"bule Jerman berani banget."


"Demi mangga gratis" Dika memasang wajah masam.


"Karena itu pak Samad menghajarmu, kau mau mengambil mangganya lagi" tanya Endy.


"Pak Samad memberi mangganya dengan suka rela, entah mantra apa yang dipakai bule Jerman itu pak Samad juga menyukainya dan menuruti semua keinginanya tanpa protes sedikitpun" kelau Dika kesal.


"Lalu"


"Aku memanjat mangganya namun saat berada diatas bule Jerman itu sangat cerewet sekali, ia mau mangga muda yang diambil dipohon paling tinggi lalu secara acak dia mulai menunjuk mangga mana yang ia mau, padalah semuanya kan sama ngak ada bedanya, ia menyuruhku dari ranting kiri, keranting kanan,lalu atas, bawah dan sialnya pak Samad juga menyetujui permintaan bule Jerman itu, itukan hanya mangga bukan kupon undian berhadiah yang dipilih" Dika berdecak sebal teringat bagaimana Nayla mengerjainya dan didukung oleh pak Samad yang selalu meneriakinya agar menuturuti permintaan Nayla yang sekarang dipanggil gadis cantik oleh pak Samad.


"Ini semua karena istrimu yang cerewet itu, aku jadi jatuh dari pohon mangga pak Samad untung saja kakiku ngak patah," hardik Dika.

__ADS_1


"Istriku kan, adikmu" sangkal Aska


"Hebat Bule jerman bisa menaklukkan pak Samad" Endy rasanya ingin bersujud dikaki Nayla entah magnet apa yang ia pakai hingga seluruh lelaki selalu takluk dihadapannya.


"Lalu bagaimana dengan lamaranya?" tanya Aska dengan wajah penasaran.


" Diterima, pak Samad mau menikah kan ku dengan anaknya, minggu depan pernikahannya," jelas Dika tak bersemangat,tak ada rona kebahagiaan diwajahnya.


"Wah selamat ya brother" Aska merangkul bahu sahabatnya turut bahagia Dika tak lama lagi akan menjadi seorang suami.


"Akhirnya kau akan menyusul Aska juga, tinggal aku dong" Endy ikut bahagia merangkul bahu sahabatnya.


"Ingat itu anak kesayangan pak Samad, kelar hidupmu jika kau menyakitinya" Endy mengingatkan.


"Kau ini memangnya aku lelaki brengsek sama sepertimu," bentak Dika, dia teringat jika sampai ia menyakiti anak pak Samad kepalanya jadi taruhanya.


"Belajarlah untuk mencintainya dia gadis yang baik jangan sakiti hatinya, mulailah hidup baru lupakan Caren dan kau Endy ingat aku ngak mau Caren masuk dalam hidup kita lagi dan menjadi masalah,jauhi dia" Jelas Aska ia menutup pintu untuk Caren.


"Ia aku juga tidak menyukainya, dia hanya bagian masa lalu,lagi pula dia terus yang mengejarku" Endy mencebikkan bibirnya, ia juga kesal dan tak nyaman dengan Caren yang akhir-akhir ini selalu mendekatinya diclub malam.


Nayla keluar membawa pisau, piring serta sekeranjang mangga muda, ia duduk dilantai meletakkan seluruh barang bawaannya.


Aska turun dari sofa lalu memeluk lengan Nayla menyenderkan kepalanya dipundak Nayla.


"Sayang sini aku peluk" Dika dan Endy kompak melengos melihat Aska yang selalu bergelayut manja pada istrinya.


"Kak berhenti Nay mau kupas mangga dulu" Jelas Nayla mendorong kepala Aska dengan menaikkan pundaknya sambil memegang pisau pekerjaannya terganggu ia tak bisa bergerak.


"Dasar" Endy pun ingin merasakan rasanya mangga pak Samad, ia merosotkan tubuhnya duduk dilantai berkarpet bersama Nayla dan Aska, kemudian mengambil satu buah mangga dan pisau mulai mengupas mangga.


"Gimana, pak Samad" Endy mengupas mangga muda sambil bertanya cerita seru yang ia lewatkan dirumah calon mertua Dika.


"Pak Samad baik banget loh, dia ngak mengambil satupun syarat yang ia minta, malah disuruh disimpan" Jawab Nayla.


"Ternyata dia ngak galak ia hanya melindungin anaknya, dia berarti sangat sayang sama anaknya" Endy mulai memotong-motong kecil mangga itu lalu menaruhnya dipiring sambil mengobrol dengan bule Jerman.


"Endy lagi, kenapa berhenti, kupas yang banyak" Aska menimpali obrolan Nayla ia hanya fokus pada mangga yang dikupas Endy.


"Trus Nay" Endy kembali meraih mangga dikeranjang lalu mengupasnya.


"Pak Samad maunya nikah diam-diam aja"


"Kenapa" tanya Endy penasaran, terus melakukan aktivitasnya sambil menatap Nayla berbincang seru jika sudah bersama, mereka bagaikan ibu-ibu yang sedang asik ngerumpi.


"Karena ia ingin melindungi anaknya, biar ngak ada yang ganggu pernikahan ini, karena banyak yang mau menikahi kak Aulia, jangan sampai mereka ngak terima lalu merusak pernikahan ini. Jelas Nayla.


"oh...Ngak dandan dong kita Nay, jadi kita ngak kondangan nih," ucap Endy yang selalu berbincang heboh dengan Nayla.


"Ia, kak Endy ngak seru, kita ngak bisa kesalon bareng, pesan baju seragaman, kan lucu kalau kita pakai baju yang samaan" ucap Nayla.

__ADS_1


"Endy kupas lagi yang banyak" pinta Aska terus mengunyah.


Endy memutar bola mata jengah ia sedang asik bicara dengan Nayla, Aska terus saja mengannggu.Endy meraba keranjang mangga yang telah habis ia kupas lalu menatap kearah piring yang masih kosong ia mengernyitkan dahinya ia dan Nayla saja belum makan tapi piring telah bersih.


"Kau ini, kau memakan semua mangga itu?" tanya Endy meninggikan suaranya.


"Ia rasanya sangat enak,segar" Aska tersenyum simpul


"Ia Enak, apa lagi gratis dan bertarung nyawa mengambilnya" Timpal Dika ketus menatap tajam pada Nayla ia masih kesal dengan adiknya.Nayla cicit tersenyum pelik.


"kau mengabiskan semuanya sendiri, kami bahkan belum makan sedikitpun , sejak kapan kau menyukai makanan asam" tanya Endy heran ia tahu sahabatnya ia punya trauma makan dan sangat pemilih dalam makanan.


"Ia, aku masih mau mangga itu lagi" pinta Aska menatap Dika.


"Kenapa melihatku seperti itu, kau mau menyuruhku manjat lagi, tidak akan" Dika masih kesal sekarang Aska malah meminta mangga lagi.


"Sudah kakak sudah menghabiskan sekantung mangga, ntar kakak sakit perut lagi" Nayla menasehati Aska.


"Ngak bisa Nay lidah kakak pahit, kakak mau yang asem-asem"jelas Aska bergelayut manja pada Nayla.


"Nay, kakak mau jeruk nipis kayanya segar nih, kamu punya ngak" Tanya Aska.


Nayla mengernyitkan dahinya sangat heran dengan perubahan sikap suaminya.


"Nay lihat banyak dikulkas"


" Benarkah kakak mau dong" Pinta Aska merengek seperti anak kecil.


Nayla beranjak dari duduknya lalu menuju dapur mengambil buah berwarna hijau yang rasanya sangat kecut itu.kemudian keluar kembali memberikan jeruk itu pada suaminya.


Mata Aska berbinar melihat jeruk nipis hijau ditangan Nayla.


" Sini sayang." Aska dengan cepat menggambil jeruk nipis dari tangan Nayla kemudian mengambil pisau yang berada di keranjang lalu memotong menjadi dua bagian kemudian mengarahkannya kemulutnya ia mengiisapnya air jeruk nipis seperti menikmati permen.


Nayla, Dika dan Endy kompak meringis air liur mereka serasa mau menetes melihat tingkah Aska yang mengisap sari buah jeruk hijau itu tanpa meringis merasakan merasa asam buah hijau itu.


"Kau ini kenapa sejak kapan kau suka, makan asam" Dika bergidik wajahnya yang ikut menjadi asam.


"Entahlah tapi, rasanya enak"


"Aska hentikan lidahku rasanya mati rasa melihatmu menghiisap jeruk itu" Endy mengeluarkan lidahnya, rasanya air liurnya mau jatuh.


Mereka kompak menggeleng melihat Aska, yang berubah aneh.


.


.


.

__ADS_1


.Like,coment,vote.....


__ADS_2