
Dika dan Aulia telah selesai melakukan penyatuhan, melalui proses malam pertama yang penuh cinta keduanya berbaring dibalik selimut yang menutupi tubuh mereka yang polos tanpa sehelai benangpun.
"Lia besok aku akan bertemu bapak untuk meminta maaf dan meminta agar ia memberi restu agar kita bisa kembali bersama" ucap Dika menggecup puncak kepala Aulia berkali-kali dengan lembut rasanya ia ingin terus seperti ini tak ingin kebersaaman ini berakhir.
"Ia, Lia juga akan membantu kakak, untuk membujuk bapak" ucap Aulia melingkarkan tangannya pada pinggang suaminya.
"baiklah, kita akan berjuang bersama semoga saja masalah ini cepat selesai dan kita bisa kembali bersama." Dika memperat pelukkannya ia sangat bahagia saat ini bisa memeluk istrinya.
Dika hanyut oleh cinta hingga terlupa jika diluar ada sahabatnya Endy yang masih setia menunggunya, duduk memasang wajah masam berteman dengan nyamuk dan dinginnya angin malam.
"Dika ...Dika"panggil Endy pelan dari luar telah bosan menunggu terlalu lama ia juga ingin segera pulang.
"Mendengar suara Endy dari balik jendela, Dika membelalak ia terlupa jika meninggalkan 2 sahabatnya menunngu diluar, karena terlena oleh cinta hingga ia terlupa.
"Ya tuhan aku lupa, mereka ada disini" Dika menepuk keningnya lalu bergegas bangun meraih pakaiannya yang berserakkan dilantai. Aulia pun ikut bangun memakai kembali pakaiannya juga.
"Jadi mereka" wajah Aulia memerah seketika merasa malu menyadari ternyata malam pertamanya dijaga oleh sahabat suaminya.
Dika telah mengenakan pakaiannya lalu duduk disamping Aulia ia akan pamit untuk pulang.
"Aku harus pergi" pamit Dika sekali lagi ia memeluk tubuh istrinya lalu mengecup seluruh bagian wajah. rasanya ia masih sangat merindukan, sungguh berat untuk berpisah, rasanya waktu begitu cepat berlalu.
Dika membuka pintu jendela melihat Aulia yang berdiri dibelakang.
"Aku pergi dulu, aku mencintaimu" Pamit Dika lalu melompat keluar. Dilihatnya Endy berdiri dengan wajah masam karena menunggu terlalu lama.
"Kenapa kau lama sekali, ini sudah jam berapa," omel Endy yang tinggal menunggu sendirian karena Aska meninggalkannya untuk memaduh kasih juga dengan istrinya.
"Ia maaf"
Dika mengarahkan pandangannya keseluruh tempat mencari keberadaan Aska.
"Mana Aska?" tanya Dika.
"Dia sudah pulang duluan, habis permainanmu itu terlalu panas, bikin pengen aja" Goda Endy.
"kau ini" Dika memukul lengan Endy.
"Sudah ayo pergi dari sini" Ajak Dika berjalan didepan mengendap-endap. berjalan pelan jangan sampai langkah kakinya terdengar hingga ia ketahuan oleh pak Samad. mereka terus berjalan hingga tak lama kemudian mereka telah menjauh dari rumah pak Samad.
Mereka akhirnya menarik napas lega setelah menjauh dari rumah itu dan tersenyum bangga karena misi mereka berhasil, masuk kerumah orang tua galak itu tanpa ketahuan.
Mereka terus tersenyum mengenang tingkah konyol mereka tadi, namun seketika mata mereka membulat saat melihat mobil mereka hilang tak ada di tempat terakhir mereka memarkirkanya.
"Endy mana mobilnya?" tanya Dika pada Endy yang tadi mengantongi kunci mobil ia merogoh saku celananya yang ternyata kosong.
"Ahhh...sial mobil pasti dibawah oleh Aska," umpat Endy menyadari jika sahabatnya itu telah mengambil kunci mobil secara diam.
"Lalu bagaimana kita pulang? Kurang ajar, dia meninggalkan kita" Dika menjadi kesal binggung bagaimana caranya ia pulang, ia mengutuki sikap sahabatnya yang meninggalkanya.
"Ya terpaksa kita jalan kaki" Saran Endy lalu mulai jalan perlahan meninggalkan tempat itu.
"Masa kita jalan kaki, kan cape Ndy" protes Dika mengikuti kangkah Endy dari belakang, masih belum terima akan pulang dengan berjalan kaki.
"Sudah lah hitung-hitung olahraga" Endy berjalan dengan santai menaruh tanggan disaku celananya.
"Kau gila ya...aku sudah olahraga semalaman, sampai kaki ku lemas dan kita harus jalan kaki lagi" oceh Dika ia sudah tak punya tenaga untuk berjalan kaki semua tenaganya sudah habis dia pakai bertempur dimalam pertamannya.
"Mau apa lagi,"
"Dasar Aska, bisa-bisanya meniggalkan kita, sahabat macam apa itu" umpat Dika terus berjalan kali ini dia yang terus mengoceh sepanjang perjalan pulang.
"Gimana rasanya malam pertama brother" tanya Endy santai berbincang agar perjalanan mereka tak terasa berat sebenarnya jarak rumah Dika dan Aulia tidak terlalu jauh.
"Hebat ndy, bikin melayang" jelas Dika tersenyum mengenang malam pertamanya dengan Aulia yang penuh cinta.
Dika dan Endy terus berjalan menyusuri malam dengan berjalan kaki membahas tentang malam pertama Dika.Sesekali mengumpat dan mengutuki Aska.
***
Hari ini sesuai janji Dika ia akan kembali lagi kerumah pak Samad berjuang untuk mendapatkan kembali restu orang tua yang telah ia kecewakan hatinya, ia sadar jika ini tidaklah mudah sudah berhari-hari ia mencoba bicara namun hanya selalu mendapatkan usiran.
Dika memacu kendaraannya menuju rumah Aulia kali ini ia akan berjuang tanpa didampingi oleh sahabatnya lagi, ia akan membuktikan pada pak Samad jika ia telah mencintai anaknya dan tak ingin berpisah dari Aulia.
Dika telah berada didepan pintu rumah, menarik napas mengumpulkan kekuatan dan keberanian untuk bertemu pak Samad.
__ADS_1
tok....tok....Ia mengetuk pintu. berdiri sambil menunggu pintu terbuka.
"Krek...pintu terbuka kebetulan pak Samad yang membuka pintu seketika raut wajah marah tercetak saat melihat Dika berdiri dihadapanya menantu yang telah berani berbohong.
"Kamu, mau apalagi kamu kemari?"tanya pak Samad yang meninggikan suaranya mengkacak pinggang berdiri didepan pintu tak mempersilahkan lelaki ini untuk masuk kedalam rumah.
"Pak tolong maafkan saya" pinta Dika memasang wajah mengiba memohon pengampunan atas segala kesalahannya.
"Tidak, pulang sana, pergi kamu dari sini?" usir pak Samad lalu mencoba menutup pintu rumahnya namun Dika mencegah agar pintu tertutup dengan tanganya
"Saya mohon pak ijinkan saya membawa istri saya "
Pak Samad masih tetep pada pendiriannya untuk tidak menerima Dika, mereka pun saling mendorong pintu pak Samad tetap memaksa menutup pintu hingga akhrinya Dika mengalah ia menurunkan kekuatannya lalu pintupun tertutup. Dika berdiri menatap pintu dengan kecewa.
Dika membalikkan badannya tertunduk lemah melangkah pulang kerumah meninggalkan kediaman pak Samad tapi ia berjanji ia tak akan menyerah, ia akan terus berjuang demi Aulia gadis yang ia cintai.
***
Sudah berhari-hari Dika kerumah pak Samad untuk meminta agar Aulai kembali padanya tapi yang ia dapatkan hanya penolakkan dan amarah dari lelaki tua itu. Hari ini ia akan mencoba lagi
Tok...tok...
"Kamu lagi" Pak Samad mulai frustasi melihat lelaki ini terus hadir dirumahnya setiap hari.
"Ia pak, saya ngak akan menyerah, dan berhenti datang kemari sebelum bapak memaafkan saya dan memberi saya restu untuk membawa Aulia" jelas Dika.
Keinginanya untuk kembali bersama Aulia sangat kuat hingga ia nekat tak takut lagi menghadapi pak Samad demi Aulia apa pun akan dia lakukan agar bisa hidup bahagia menjadi suami istri.
"Pergi kamu saya tidak akan mengizinkan kamu membawa Aulia kamu cuma mau mempermainkan anak saya," kekeh pak Samad pada pendiriannya. ia tak mau anak kesayangannya itu disakiti, ia hanya mencoba melindungi anak gadisnya.
"Saya janji pak saya tidak akan menyia-nyiakan anak bapak, karena saya sangat mencintainya" Dika meyakinkan pak Samad yang berdiri didepan pintu.
"Pulang sana" usir pak Samad lalu akan menutup pintunya.
Seperti biasa pak Samad akan menutup pintunya tapi kali ini Dika tak akan mengalah lagi ia harus bicara serius dengan lelaki tua ini.
Dika menahan pintu dengan tubuhnya mencoba menerobos masuk kedalam rumah agar leluasa untuk bicara.
"Pak saya mencintai anak bapak" Tubuh Dika miring mendorong pintu.
"Tidak pak saya jujur,saya sungguh mencintai anak bapak" Dika menyakinkan hari ini ia harus berhasil.
"Saya ngak percaya pergi kamu dari sini" Bentak pak Samad suaranya menggelegar membuat Aulia keluar untuk melihat keributan apa yang ada, keributan apa yang ada diluar ia mengarahkan pandangannya pada bapaknya yang memaksa menutup pintu saat ia melihat lebih jelas ternyata itu adalah suaminya yang sedang berjuang untuknya agar kembali menjadi istrinya.
"Pak sudah hentikan maafkan kak Dika," pinta Aulia memohon pada orang tuanya. pak Samad tak menjadi menutup pintunya.
Aulia memcoba membujuk bapaknya, ia juga telah berhari-berhati membujuk orang tuannya namun ia juga gagal bapaknya sudah tak percaya padanya.
"Pak maafkan kak Dika, Dia sangat mencinta Lia" jelas Aulia meyakinkan bapaknya.
"Jangan percaya Lia dia itu penipu, jangan sampai kamu tertipu lagi" bentak pak Samad.
" Lia yakin, kak Dika tulus mencintai Lia" bela Aulia.
" Pergi kamu"
"Bapak Lia mencintai kak Dika Jangan pisahkan Lia dengan kak Dika" Aulia mengakui perasaan terdalamnya pada pada bapaknya.
"Ia pak, saya akan membahagiakan anak bapak" timpal Dika.
"Lia masuk kedalam" bentak pak Samad tangannya terulur menunjuk kedalam rumah, namun Aulia masih bertahan ditempatnya tak melangkah sedikitpun.
"Lia bapak bilang masuk kedalam" teriak pak Samad emosi.
"Pergi sana, saya sudah mengurus surat perpisahan kalian" ucap Pak Samad.
Mendengar surat perpisahan membuat wajah Dika seketika memucat, tubuhnya lemas mendengar kata perpisahan, ia tak ingin ini terjadi bukan perpisahan yang di ingikannya, ia sangat mencintai istrinya, ia tak bisa membayangkan jika harus berpisah dari wanita yang ia cintai.
"Pak Saya ngak mau pisah dengan anak bapak, beri saya kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya" mohon Dika dari lubuk hati yang paling dalam dalam ia sudah tak tahu harus berbuat apa lagi menyakinkan orang tua itu ia jika sangat mencintai anaknya.
"Pulang jangan tampakkan wajah kamu lagi"
Pak Samad lagi-lagi menutup pintu rumah untuk menantunya, Dika meraup wajahnya frustasi kali ini ia kembali gagal entah bagaimana lagi meluluhkan hati pak Samad yang keras bagaikan batu. Lelaki tua itu sama sekali tak bisa melihat kesungguhan dan ketulasan Dika untuk anaknya.
Dika pulang dengan langkah gontai rasanya ia tak bisa merasakan kakinya, mendengar pak Samad sedang mengurus surat perpisahanya, ia sangat sedih hatinya terasa hancur baru saja ia jatuh cinta kembali, kini ia harus kembali merasakan kepahitan cinta. Ia tak ingin berpisah dengan Aulia tapi jika bapaknya sudah mengurus surat perpisah ia bisa apa, ia benar-benar kehilangan harapan ia putus asa.
__ADS_1
****
Dika dan Endy pulang dari club malam setelah mendengar pak Samad akan mengurus surat perpisahan untuknya, dunia Dika seakan hancur ia menjadi pendiam, kembali melewati hari dengan patah hati tapi kali ini lebih sakit dari sebelumnya jika dulu ia masih bisa bersikap biasa sekarang tidak. Ia terus diam hingga Endy terus mendampingi sahabatnya ini, Endy kembali tinggal dirumah Dika untuk menjadi teman bicaranya agar lelaki ini cepat melupakkan patah hatinya.
Dika turun dari mobil meninggalkan Endy yang masih berada dibelakang ia berjalan dengan langkah tak bersemangat, tubuh dan fikirannya.terasa sangat lelah Dika membuka pintu rumah lalu masuk kedalam.
"Kakak sudah pulang" Sapa gadis itu tersenyum ceria berdiri menyambut kedatangan Dika.
Dika tercengang diam mematung melihat gadis cantik berdiri menyambutnya, cukup lama ia berdiri hingga Endy datang berdiri disampingnya sudut bibirnya tertarik melihat Aulia berdiri dihadapan mereka. Endy sangat senang melihat anak pak Samad ini telah kembali pada sahabatnya. Itu berarti semangat Dika telah kembali.
"Endy apa aku mimpi, atau aku sedang mabuk tapi aku tidak minum, dia ada dihadapanku," ucapnya lucu terus menatap tak berkedip pada Aulia yang tersenyum padanya.
"Kau tidak salah liat, dia benar datang ke" jelas Endy.
"Endy ini anak pak samad atau jelmaan kuntilanak pak Samad," bisik Dika di dekat sahabatnya.
"Ia benar, dia anak pak Samad, istrimu sudah kembali"jelas Endy pelan.
"Benarkah" ucapnya ragu ia tak yakin karena terakhir bapaknya ingin memisahkannya bagaimana istrinya bisa hadir didepannya sedang ia susah payah untuk membawanya pulang sekarang gadis itu datang sendiri kerumahnya.
"Lia ini kamu" Tanya Dika mendekat kearah istrinya memegang bahunya.
"Ia, kak Dika, Lia kembali, bapak sudah mengijinkan kita bersama" jelas Lia tersenyum.
Benarkan?"
Lia menangguk pelan tersenyum manis senyuman yang selalu dirindukan Dika saat ia pulang dari bekerja, ini yang ia rindukan gadis ini datang dan menyambutnya saat ia kembali.
"Syukurlah, aku sangat senang kamu kembali" Dika mengecup kening istrinya lembut lalu memeluknya erat ia sangat bahagia akhirnya istrinya kembali padanya.ia mencium puncak kepala Aulia berkali-kali.
Endy berdiri melipat tangan didada melihat pasangan itu kembali bertemu ia ikut senang melihat kebahagian sahabatnya.
Dika terus memeluk istrinya hingga tersadar bahwa Endy masih berdiri didepan pintu memperhatikannya. Dika kemudian melepaskan pelukkannya.
"Lia tunggu sebentar" Dika melepaskan pelukkannya lalu melangkahkan kakinya ke arah Endy.
" Endy pulang sama" Usir Dika.
"Kau mengusirku" Endy membulatkan matanya terbelalak tak percaya
"Ia pulang sana, istriku sudah kembali" Dika lalu membuka pintu lalu mendorong tubuh Endy keluar dari rumah.
"Dika teganya kau mengusirku"berontak Endy saat Dika terus mendorong tubuhnya keluar dari rumah
"Sudah pulang sana, kami ingin kangen-kangenan"jelas Dika berdiri didepan pintu.
"Setelah istrimu kembali kau mengusirku"
"Pulanglah brother ini malam kedua kami, aku akan malam kedua dengan istriku, jangan menggangu" pinta Dika memohon tersenyum menaik turunkan alisnya.
"Kau ini, otakmu mulai sama seperti Aska mesum..."
"Pulang sana, Aku akan membuatkan bule Jerman junior, bagaimana?" Dika lalu menutup pintu rumah dengan keras.belum mendengar jawabam Endy.
"Ah.....semenjak mereka menikah, mereka ngak asik lagi, semua tergila-gila pada istrinya" keluh Endy.
Endy berdiri didepan pintu rumah tersenyum melihat Dika akhirnya ia bisa bercanda lagi dengan sahabatnya.ia menarik nafas lega 2 sahabatnya telah bahagia dengan keluarga kecilnya entah kapan akan ia akan menyusul.
Dika berdiri didepan pintu, telah berhasil mengusir paksa sahabatnya. Ia melihat Aulia yang masih berdiri lalu melangkahkan kaki menuju istrinya,
Dika menatap lembut wajah Aulia yang tertunduk malu wajahnya merona lalu tak menunggu lama dan tanpa kata Dika lalu menggendong tubuh istrinya menuju kamar untuk melampiaskan rasa rindu yang telah tertahan. tangan Aulia mengalung dileher Dika
"Aku mencintaimu Aulia" ucap Dika sambil menggendong tubuh Aulia ala pengantin, menatap wajah cantik istrinya.
"Lia juga mencintai kak Dika," ucapnya malu-malu lalu menyembunyikan wajahnya didada suaminya, Dika menarik sudut bibirnya gemas melihat istrinya yang selalu saja malu-malu jika didekatnya.
Akhirnya mereka kembali hidup bersama menjadi sepasang suami istri sebenarnya
.
.
.
..
__ADS_1
Like, coment, vote....