Jodoh Pilihan Kakakku

Jodoh Pilihan Kakakku
rumah


__ADS_3

Nayla dan Aska masih dalam perjalanan menuju rumah Aska, tak ada pembicaraan antara mereka walaupun duduk berdampingan Nayla bersandar memalingkan wajahnya melihat keluar kaca mobil, melihat pemandangan apa saja yang dia lewati mengingat apakah dia tahu alamat rumah ini, mobil berbelok melewati plang yang bertulis kediaman Dirga kecepatan mobil mulai melambat seperti tujuan mereka sudah mulai dekat Nayla mulai melihat banyak orang berdiri tegak berseragam jas hitam kompak menundukkan kepalanya saat mobil melaluinya


"Sepertinya aku pernah melihat orang-orang itu dimana yah, wajah mereka tak asing " Gumam Nayla dalam hati


Mobil menyusuri jalan tak ada rumah setelah melewati plang itu. Nayla mengira Aska tinggal di kompleks perumahaan namun tak ada rumah yang terlihat hanya orang berdiri di pinggir jalan menundukkan kepala seperti pasukan keamanan, mobil semakin berjalan lambat Nayla mulai melihat ada bayangan rumah yang semakin dekat semakin jelas dan mulai terhenti sebentar di depan gerbang yang begitu besar dan tinggi saat gerbang itu terbuka Nayla membelalakan matanya mulutnya terbuka takjub dengan rumah yang dilihatnya .


"ini rumah atau istana, besar sekali "apa ini rumahnya?ngak mungkin..... ini mungkin rumah atasannya.....dia kan cuma kerja di perusahaan, tapi tadi kak Dika bilang dia punya rumah??" Gumam dalam hati fikirannya berlari kesana kemari tanpa dia sadari mobil sudah berhenti dan Aska sudah turun dari mobil.


"Ayo turun Nay" Ajak Aska membuyarkan fikiran Nayla.


Nayla turun dari mobil memandang sekelilingnya masih tak berhenti takjub dengan apa yang dilihatnya, dihadapannya sudah banyak lelaki berjas hitam berbaris sejajar seperti pagar lagi-lagi kompak menundukkan kepalanya, Nayla memperhatikan mereka dengan lekat mencoba mengingat dimana ia melihat wajah tak asing mereka, ia berjalan di belakang Aska mengikuti langkahnya, Aska tak mengiraukan semua lelaki itu hanya berlalu menuju rumah.


"Selamat datang tuan dan nyonya" Sapa dari salah satu laki-laki itu, namun tidak dihiraukan Aska ia hanya terdiam. Saat ia sudah hampir melalui laki-laki itu Nayla menghentikan langkahnya ia tersentak, ia sudah mulai mengingat mereka.


"Ha....aku ingat sekarang mereka.......Geng pemuda tanpa masa depan, mereka juga di sini" Batin Nayla.


Nayla mengerucut bibir melihat gerombolan yang sering menggangunya, setelah menikah ia mengira ia akan terbebas dari geng itu malah ia bertemu lagi di tempat ini.


"Selamat datang nyonya Nayla, selamat atas pernikahan anda" Sapa laki-laki itu tersenyum ramah menundukkan kepalanya dia adalah yang sering memetik gitar di rumah Nayla


Nayla merasa ngeri mendengarkan dia menyebut nama Nayla.


"Kenapa dia memanggilku nyonya biasanya dia memanggilku bule Jerman, kenapa dia berubah, biasanya dia mengejekku, menyinggungku.


Masih bicara dalam hati semuanya masih menjadi misteri, memang sangking sebalnya Nayla pada geng pemuda tanpa masa depan ia tak pernah ingin tahu maupun ingat dengan mereka.


Nayla kembali berjalan masuk kedalam rumah pintu terbuka lebar, didalamnya puluhan pelayan telah berdiri tegak menyambut mereka dengan seragam senada memberi hormat pada mereka berdua Nayla hanya tercengang takjub terkagum-kagum melihat pemandangan didepannya.


"Selamat datang nyonya Nayla" Sapa perempuan paruh baya yang dibalas Nayla dengan senyum ramah.

__ADS_1


"Ini bibi May, kepala pelayan dirumah ini, dia akan melayanimu, jika butuh bantuan beri tahu saja dia" Jelas Aska memperkenalkan wanita yang ada di hadapannya, Nayla tidak terlalu memperhatikannya, hanya mengedarkan pandangannya melihat isi di dalam rumah yang begitu megah penuh dengan kesan klasik, dominan berwarna emas, lampu gantung kristal besar dilangit langitnya dengan dihiasi banyak barang mewah yang antik dan kristal, tangga yang besar dan megah berada ditengah dan warna gold dimana-mana perpaduan yang semakin terlihat semakin mewah .


"Ayo Nay, ikut kakak" Ajak Aska, berjalan di depan Nayla yang hanya mengikuti langkah kakinya, masih bingung dan terkagum-kagum menikmati isi di dalam rumah yang dari tadi memberikannya hal hal tak terduga.


Aska berhenti di depan pintu lalu menekan tombol yang ada di dinding, lagi-lagi Nayla membulatkan matanya saat terdengar suara tring ....saat pintu terbuka.


"apa...rumah ini juga ada liftnya"


Aska masuk kedalam diikuti Nayla pintu lift tertutup Aska menekan angka dua Nayla melihat di dinding itu ada angka sampai lima .


Aska memegang gagang pintu lalu membuka pintu kamarnya mempersilahkan Nayla masuk lebih dulu, namun baru selangkah masuk Nayla membeku, mematung mimik wajah berupa menjadi ketakutan, bukan kagum lagi, di depan pintu dia melihat isi kamar itu, kamar yang luas yang lebih besar dari rumahnya sebenarnya luas dan desainnya Nayla sudah tidak terkejut itu wajar untuk rumah semewah ini, yang membuatnya berhenti mematung adalah hiasan di kamar itu .....


Kamar itu di hias seperti kamar pengantin dengan banyak kelopak bunga mawar merah bertaburan dimana-mana, bertebaran dilantai kamar, dilantai juga penuh dengan lilin kecil tersusun berjejer rapi membentuk jalan menuju ranjang pengantin, bahkan ada juga lilin yang di atur disusun membentuk love di dekat jendela, nyala lampu kerlap-kelip di dinding kamar dengan banyak balon merah berbentuk hati menempel , langit-langit kamar juga tak luput dari hiasan rangkain bunga mawar putih menjuntai menutupi pinggir kasur, ranjang pengantin yang besar, terlihat berwarna merah akibat kelopak bunga mawar yang banyak menutupi seprei yang berwarna putih terlihat begitu indah dan romantis


Aska terheran melihat Nayla yang tidak melanjutkan langkah kakinya dan melihat wajah Nayla yang seperti ketakutan melihat kamarnya.


"Kenapa Nay" Tegur Aska namun Nayla masih membeku, membuat Aska semakin heran lalu mencoba masuk.


"Kenapa jadi begini" Aska terkejut ia juga tak tahu mengapa kamarnya berubah menjadi kamar pengantin, wajahnya menjadi merah merona malu-malu, tingkahnya menjadi kikuk tersenyum kecut menggaruk kepala dengan telunjuknya.


"Aku pergi dulu, akan kupanggilkan pelayan untukmu" Berlalu cepat seperti berlari menghindari situasi itu dengan Perasaan malu .


Aska meninggalkan Nayla dan pelayannya menuju kebawa untuk bertemu bibi May kepala pelayanan yang bekerja dirumah Dirga puluhan tahun bahkan sebelum Aska lahir dan Aska sudah mengaggapnya seperti ibu. Dia menghampiri bibi May yang sedang mempersipakan hidangan untuk makan malam. Perempuan paruh baya itu berdiri memberikan instruksi dan mengawasi pelayan agar melakukan semuanya dengan baik.


"Tuan Aska ada apa kemari?" Tanya bibi May meninggalkan pekerjaannya.


Aska menarik nafas dan agak ragu bertanya


"Bibi May apa kau yang menyuruh pelayan menghias kamarku?" Tanya Aska tersipu malu agak tertuduk menutupi wajah tampan yang menjadi merah.

__ADS_1


"Ia tuan, ini malam penganting anda jadi saya menghiasnya untuk anda, anda terkesan?" Wajahnya tersenyum seperti sedang menggoda pengantin baru yang ada di depannya dan menikmati tingkah Aska malu-malu yang seperti anak kecil.


"Bibi May, itu memalukkan sekali, dia pasti tidak nyaman, bersihkan semua itu " Perintah Aska dengan suara lembut.


"Kenapa dia istri tuan dan ini malam pertama anda jadi saya hanya membuatnya seromantis mungkin dan berkesan untuk anda" Jelas bibi May yang puas menikmati wajah Aska yang lucu merona karena malu dan terkadang tertunduk


"Hentikan, bibi May, dia tidak mencintaiku, dia hanya menganggapku kakaknya, aku tidak akan melakukanya sampai dia siap dan kau telah membuatnya ketakutan." Wajahnya berubah menjadi sedih.


"Bereskan semua itu bibi May, aku tadi melihat wajahnya, ia seperti mau pingsan karena takut, dia pasti mengira aku akan menghabiskan malam pertama dengannya malam ini " Jelas Aska tegas.


"Baiklah tuan saya akan menyuruh pelayan membereskannya" Jawab bibi May tertunduk


bibi May juga seperti ibu bagi Aska dia tahu tentang kisah cinta tuannya yang banyak berkorban menunggu dan hanya bertepuk sebelah tangan dia sudah banyak tahu tentang Nayla dari Aska.


"Tuan, nyonya Nayla sangat cantik, pantas saja tuan rela menunggunya" bibi May tersenyum memuji istri tuannya.


"Aku tidak salah memilih istri kan bibi May? tak sia-sia aku menunggunya?" tersenyum bangga.


"Tentu saja tuan, dia wanita yang pantas untuk tuan, sempurna." Puji bibi May


"Terima kasih bibi May" Ucap Aska terus tersenyum


Aska berlalu meninggalkan bibi May kembali kekamarnya untuk melihat Nayla.


.


.


.

__ADS_1


.


..like,coment,vote ya.


__ADS_2