Jodoh Pilihan Kakakku

Jodoh Pilihan Kakakku
malam pertama 1


__ADS_3

Nayla sedang membereskan bekas makan malam mereka, ia menumpuk piring dan gelas lalu membawanya ke wasfel cuci piring kemudian mencucinya, ia mulai menggosok gelas dengan spoons terlebih dulu kemudian beralih mengosok piring kotor satu persatu, tak berapa lama Dika datang masuk kedalam dapur, duduk di meja makan mengarahkan tubuh dan pandangannya ke arah adiknya yang berdiri mencuci piring.


"Nay"panggil Dika


"hemmm" Nayla fokus pada cucian piringnya


"Kakak mau bicara masalah obrolan kita kemarin malam" Ucap Dika langsung keinti masalah


" Ia...Nayla lagi mencobanya" Mulai membilas piring dibawa keran air yang mengalir.


"Kamu akan melakukannya malam ini Nay" Ucap Dika memberitahukan Nayla informasi yang mematikan.


Nayla tersentak mendengar kata-kata kakaknya tanpa terasa piring yang ia pegang terlepas dari tangannya lalu pecah jatuh kelantai, Dika berjalan dengan cepat menghampiri Nayla yang terpaku.


"Nay kamu ngak kenapa kenapakan?" Tanya Dika memegang tangan adiknya berdiri terdiam lalu merangkul bahu Nayla membawanya duduk dimeja makan.


"Nay besok kamu pulang kerumah Aska dan kakak ngak yakin kalian akan melakukannya disana, jadi kalian akan melakukannya malam ini" Jelas Dika lembut


"Kakak bukankah ini terlalu cepat Nayla belum siap" Ujar Nayla lirih tertunduk.


"Kau harus melakukannya malam ini Nay ,kau sudah mengatakan ia kan" Ujar Dika memegang tangan adiknya.


Nayla terdiam jiwanya berkecamuk disatu sisi ia masih muda, ia tak ingin kehilangan mahkota kebangaanya sebagai wanita diusia yang masih muda belum lagi memikirkan jika dia hamil diusia muda, bayangan malam pertama untuknya sangat menakutkan ia akan memberikan tubuhnya pada orang yang dia anggap kakak, disisi lain penyerangan itu terus terniang-niang difikirannya ketakukan dirinya akan terjadi sesuatu pada Aska, ia tak ingin menyesal jika terjadi sesuatu pada Aska, ia belum bisa membalas kebaikan yang Aska beri kepada mereka. ia juga iba dengan cerita hidup Aska yang tak pernah merasakan kebahagian dan hidup dalam teror.


"Baiklah malam ini aku akan melakukannya" Ucap Nayla pelan.


"Pastikan kau membujuknya, melakukan itu, dia tidak boleh menolak"Ujar Dika.


"Kakak tenang saja" Ujar Nayla dengan wajah datar.


Aska yang mendengar pecah piring berjalan menuju dapur namun apa yang ia lihat kedua kakak-adik ini sedang berbincang, Aska terdiam di depan dapur ia mendengarkan percakapan kakak-adik itu ia mendengar bagaimana cara Dika membujuk adiknya, untuk menyerahkan dirinya padanya, mendengar jika Nayla belum siap melakukannya.


***


Nayla dan Aska telah berada di dalam kamar duduk berdua berdampingan dipinggir kasur kedua terdiam dengan fikiran masing-masing tapi satu yang mereka tahu mereka punya tugas yang sudah dijelaskan oleh Dika.


"Kak Aska sudah tahu dari kak Dika kan, apa yang harus kita lakukan malam ini?"Tanya Nayla memecah keheningan.


"hemm"masih berfikir


"Kak Aska kita akan melakukannya malam ini" Ucap Nayla lirih ia tertunduk


Aska menatap Nayla menarik sudut bibirnya.


"Tidurlah Nay, kita tak perlu melakukannya malam ini" Jelas Aska menaruh tangannya di puncak kepala Nayla.


"Tapi kita harus melakukannya" Ucap Nayla pelan mencengkram tangannya.


"Kakak tidak akan memaksamu melakukannya, jangan lakukan jika kau tak ingin, tidak ada yang memaksamu, tidurlah....besok kita pulang" Jelas Aska menatap Nayla teduh.


"Jika aku mengatakan menginginkannya, apa kakak akan melakukannya?" Tanya Nayla.

__ADS_1


"Tidak ......karena itu bukan keinginanmu, aku tahu kakakmu menekanmukan?" Tebak Aska.


"Kak Dika ingin aku memberikan apa yang menjadi hak kakak walaupun hanya sekali." Jelas Nayla.


"Aku tak akan melakukannya, aku akan menunggumu sampai kamu siap Nay, untuk melakukanya" Ujar Aska mencoba menyakinkan Nayla.


"Kak Aska kita harus melakukannya malam ini, lakukanlah Nayla sudah siap" Pinta Nayla suaranya naik.


Aska menatap Nayla tajam tersenyum remeh pada Nayla.


"Kau tidak akan sanggup Nay, kau tak akan mampu" Aska meremehkan dan meragukan tekad Nayla


"Aku sanggup" Ucapnya dengan percaya diri.


"Benarkah....jika memang kau sanggup cium kakak disini...." Aska menunjuk pipinya menantang Nayla lalu senyum menyeringai muncul diwajahnya.


Nayla membelalakan matanya mendengar permintaan Aska wajahnya memerah, ia mengcengkeram tangannya kuat terdiam, ia telah mencobanya kemarin malam saat Aska terlelap itupun dengan susah payah ia mendaratkan ciuman itu dipipinya, sekarang ia berhadapan langsung dengan Aska apa ia mampu, rasa malu menyelimuti hatinya.


Lama Aska menunggu pergerakan dari Nayla namun yang dia perintahkan belum dilakukan.


"Kamu ngak bisakan?" Aska tersenyum remeh pada Nayla" Jadi jangan lakukan jika kau tak bisa"Jelas Aska Meremehkannya.


"Bisa ..Aku akan melakukannya" Nayla memajukan wajahnya perlahan, dengan ragu-ragu ia memandang wajah Aska mata mereka bertemu saling bertatap, setelah lama menunggu bibir Nayla akhirya mendarat dipipi Aska. Aska tersenyum memerkan gigi putihnya saat Nayla masih menciumnya, Aska menarik tengkuk gadis itu lalu memeluk tubuhnya erat menyalurkan semua perasaannya yang selama ini dia tahan, rasa rindunya, cinta tak terbalasnya, lamanya ia menanti gadis ini, memeluk perempuan telah yang membuat detak jantungnya berirama kencang. Ia memeluk Nayla cukup lama merasakan aroma wangi dari tubuh istrinya yang menenangkan setelah merasa puas ia melepaskannya.


"Tidurlah......aku sudah memelukmu, aku sudah mengambil hakku sebagai suamimu, itu sudah cukup bagiku" Jelas Aska memandang Nayla dengan tatapan teduh.


"Tidak, itu tidak cukup" Tolak Nayla masih terus berusaha membantah, ia tak mau gagal.


"Kamu tenang saja, nanti aku akan mengatakan pada kakakmu jika kita sudah melakukannya" Jelas Aska menenangkan hati Nayla.


Aska terdiam berfikir sejenak seringai diwajahnya tatapannya berubah tajam kearah Nayla.


"baiklah jika kau memaksa menginginkannya kita akan melakukaknya malam ini" Ujar Aska


Nayla tersentak mendengar ucapan Aska.


Aska mendekatkan wajahnya berbisik ditelinga Nayla "Kau siap Nay"Nayla memalingkan pandangannya dan menutup matanya rapat wajahnya memerah seperti tomat ia merasakan panas seluruh tubuhnya. Nayla sangat tegang matanya tertutup rapat ia bergetar, cengkeraman tangan semakin kuat melihat Nayla yang ketakutan ia menjadi tak tega Aska memang tak berniat melakukannya ia hanya ingin melihat seberapa jauh kesiapan Nayla melakukan ini.


"Sudahlah Nay ....kita tak akan melakukannya" Aska menghentikan aktivitasnya lalu berdiri dari hadapan Nayla yang telah membatu, menutup matanya rapat.


"Aku akan keluar bicara dengan kakakmu masalah ini, tidurlah mumpung aku masih bisa menahan diri, jika aku kembali nanti kau belum tidur aku, tak tahu apa aku masih bisa menahan diri, jangan membuat pertahanku goyah, tidurlah....." Senyum seringai meninggalkan Nayla yang masih mematung.


Nayla menarik nafas lega ketika melihat Aska telah tak ada dikamar tubuhnya lemas serasa tak bertulang.


***


Aska memegang handle pintu keluar dari kamar untuk bicara dengan Dika namun saat ia membuka pintu kamar, Dika dan Endy berada pas tepat di depan pintu kamar mereka, ternyata berjaga untuk memastikan mereka melakukan malam pertamanya. Ia mengatur semuanya di depan kamar Nayla mengangkat meja kecil, di depan pintu kamar lalu menaruh minuman kaleng bersoda dan bermain kartu di depan kamar


"Kalian?......kenapa kalian disini?" Tanya Aska terkaget hampir saja ia menabrak mereka.


"Bagaimana sudah selesai?" Tanya Dika santai menatap kartu yang di hadapannya sambil berfikir tanpa merasa berdosa bahwa menguping itu tidak baik.

__ADS_1


"Kalian ini gila, kalian mau mengawasiku" Bentak Aska kesal lalu menoyor kepala kedua sahabatnya, namun bertambah kesal saat mereka tak perduli.


"Kami cuma memastikan kau melakukannya" Endy santai menurukan sebuah kartu ke meja tak melihat ke arah Aska


"Kalian ini ngak punya fikiran ...ini urusan rumah tangga kami" Teriak Aska kesal hampir gila melihat tingkah kedua sahabatnya.


"Sudah lakukan belum?" Tanya Endy wajah datar fokus melihat kartunya.


"Sudah" Jawab Aska singkat lalu duduk disamping mereka lalu meraih minuman kaleng bersoda lalu menenggaknya.


"Jangan bohong kami tak mendengar apapun tadi, kau ingin aku masuk dan melihatnya sendiri" Jawab Dika santai tanpa dosa menenggak minumannya sebelah tangannya masih memegang kartu.


Aska membelalakan matanya lalu tersedak dengan minumannya terbatuk-batuk.


"Kalian" Bentak Aska memukul meja geram pandangannya mengarah kedua sahabatnya lalu tertunduk ."Aku tak bisa memaksanya, aku tak tega melihatnya" Jelas Aska.


"Kau harus bisa melakukannya malam ini jangan menghindar" Tegas Dika.


"Aska jangan-jangan kau bukan lelaki normal, mangsa sudah didepan mata dan kau melepaskannya" Ejek Endy


"Sialan kau, kau ingin mendengar aku membuatnya merintih semalaman agar kau tahu aku lelaki normal" Aska kesal mendengar ejekan Endy, dia dari tadi dengan susah payah menahan diri saat ia memeluk Nayla.


"Dika ini urusan rumah tanggaku jangan campuri, aku melakukanya sekarang atau nanti terserah padaku, jika kuputuskan untuk menunggunya itu adalah pilihanku" Jelas Aska emosi masih memikirkan perasaan Nayla.


"Baiklah jika kau tak mau, pulanglah besok tapi jangan bawa Nayla ikut bersamu"Dika juga mulai kesal ia merapikan kartunya lalu meletakkan di meja.


"Kau .....dia istriku, dia harus ikut denganku "Jelas Aska mulai adu argumen dengan Dika.


"Istri...Kau lupa ya siapa istrimu itu?dia adikku dia di bawa kendaliku" Dika menyeringai licik" Apapun yang aku katakan dia kan selalu mendengar ucapanku, aku bisa membuatnya menikah denganmu, bahkan hal yang paling tidak diinginkannya dan mustahil bagimu menyerahkan dirinya padamu aku bisa menyuruhnya, apalagi hanya untuk mengatakan jangan ikut pulang denganmu, itu hal mudah dia pasti sangat berterima kasih padaku" Jelas Dika mengancam Aska.


"Kau...." Aska tak mampu berkata-kata ia kalah telak benar kata Dika sejauh ini Nayla selalu menuruti keinginan kakaknya.


"Aku menikahkannya denganmu agar kau memiliki anak, bukan hanya untuk mengikatnya dengan tali pernikahan, aku menghancurkan mimpinya bukan hanya ingin melihatnya hidup berdua denganmu, tapi saat kau memaksa memilihnya itu berarti dia punya tugas penting dalam pernikahan ini " Jelas Dika.


"Ayolah Aska apa jadinya kau pulang tanpa Nayla, kau tak mau pisah dengannya kan" Bujuk Endy.


"Kalian tidak mengerti, kau tak melihatnya dia sangat ketakutan, ia belum siap tubuhnya bergetar" Jelas Aska wajahnya berubah sedih.


"Hanya untuk malam ini, selanjutnya terserah padamu kau bisa menunggunya hingga kau puas, aku kasian padamu, ntar mati dan belum merasakan nikmatnya malam pertama .... bagaimana?...kasiankan......ingat ada banyak orang yang menunggu buleJerman itu" Jelas Dika ekor matanya mengarah ke Endy


Endy menaikkan alisnya tersenyum mengoda Aska.


"Sialan kalian" Aska menghambur kartu didepannya kesal


"Masuklah" Perintah Dika


"Semangat Aska, tunjukan kau lelaki normal" Ledek Endy.


Aska menghabiskan minumannya lalu menghentakkan kaleng kosong ke meja kemudian kembali ke kamar


"

__ADS_1


"


"Like,coment,vote ya.........


__ADS_2