
Mereka telah sampai di rumah Dika. Mereka duduk berkumpul di ruang keluarga berbincang tentang penyerangan tadi dan memperhatikan tubuh mereka yang luka lebam terkena pukulan dari orang yang menyerang mereka diantara mereka bertiga luka Aska yang cukup banyak karena memang orang itu mengincar dan mencoba melukai .
Nayla keluar kamar membawa kotak p3k untuk mengobati luka mereka, Nayla duduk dia antara mereka. Aska dan Endy duduk selonjoran kaki di lantai beralaskan karpet sedangkan Dika duduk sendiri di sofa menaikan kakinya.
"Aska dulu Nay" Ucap Dika duduk disofa meringis tubuhnya seolah remuk.
Nayla duduk di hadapan Aska yang merubah posisi duduknya bersila menghadap Nayla dan ia memulai mengobati luka dari wajah Aska ia membersihkan lukanya dengan mengusap sudut bibirnya yang berdarah dan lebam dengan kapas setelah membersihkannya Nayla meraih obat merah dan meneteskannya di kapas lalu kembali mengusapnya, Aska terdiam menatap wajah Nayla saat mengusap sudut bibirnya dengan kapas, ia tak mampu berkata-kata ia menyesali penyerangan tadi ia sangat ketakutan fikirannya kacau bagaimana jika terjadi sesuatu pada Nayla. dia tak akan memaafkan dirinya jika Nayla terluka tadi itu fikirnya .Setelah wajah Nayla kemudian meraih tangan Aska buku-buku tangannya berdarah karena terlalu banyak melayangkan pukulan pada orang yang menyerangnya.
Nayla telah selesai dengan luka Aska sekarang beralih kehadapan kakaknya yang tangannya juga terluka sama seperti Aska. Nayla memulai mengobati Dika
"Aw....pelan pelan dong Nay, kasar banget sih......" Protes Dika saat Nayla mengusap luka ditanganya dengan kapas.
"Kakak ini udah pelan-pelan, tahan kenapa" Nayla santai fokus dengan tangan kakaknya yang selalu bergerak menariknya.
"Sakit tahu Nay"Dika meringis perih.
"Kakak cengeng banget sih, Kak Aska aja ngak protes, ngak ngeluh! seperti kakak" Ujar Nayla memegang erat tangan Dika.
Endy dan dan Aska menarik garis bibirnya melihat kakak beradik itu lalu kembali kelamunan masing-masing.
Yah bedalah jangankan obat merah kamu menabur garam aja dilukanya dia ngak akan meringis kesakitan, kan obatnya kamu, di sentuh sama kamu aja dia sudah senang ,coba yang mengobari lukaku Caren pasti sakitnya juga ngak berasa"Guman Dika dalam hati tak suka dibandingkan dengan Aska.
Nayla telah mengobati luka Aska dan Dika sementara Endy yang dari tadi duduk terdiam seribu bahasa tak ada satupun kata yang ditimpalinya.
"Kak Endy ada yang luka ngak" Tanya Nayla memperhatikan wajah Endy.
"Ngak ada Nay, kakak ngak terluka" Jawab Endy tak bersemangat.
Tubuhnya memang mulus tak ada luka namun hatinya sangat terluka, memikirkan perasaan Nayla yang mulai terbuka untuk Aska walaupun gadis polos itu tidak menyadarinya tapi kejadian tadi ia bisa membaca perasaan Nayla pada Aska benih-benih cinta mulai tumbuh dihatinya, ada rasa senang bercampur dengan sedih senang karena akhirnya perasaan sahabatnya terbalas, pengorbanan dan penantiaannya tidak sia-sia, namun disisi lain ia harus menepati janjinya untuk memberi jarak pada Nayla jika gadis itu mulai menyukai Aska, ia memikirkan betapa susahnya untuk menata hatinya ,melupakan Nayla sangat sulit untuknya.
__ADS_1
"Kak Endy ......kak Endy ......baik-baik sajakan" Nayla melambai-lambaikan tangannya di wajah Endy membuyarkan lamunannya.
"Ha....." Ia tersentak " Kakak ngak apa-apa Nay, kakak cuma lelah, kakak mau istirahat" Ujar endy datar lalu bangun dari duduknya berjalan menuju kamarnya.
Mereka bertiga saling bersitatap melihat Endy yang aneh tak biasanya Endy bersikap diam seperti itu biasanya ia selalu bicara apalagi jika ada jika ada Nayla didekatnya.
"Kenapa Dia?" Tanya Dika menatap Aska yang di jawab Aska dengan bahu terangkat tanda dia juga tidak tahu.
"Kak Endy aneh dia tak pernah diam seperti ini, apa dia terluka" Tanya Nayla khawatir dengan mengernyitkan dahinya.
"Sudah jangan hiraupakan dia mungkin dia benar-benar lelah, kalian juga pergilah tidur ini sudah larut, Nay bawa Aska ke kamarmu" Ujar Dika menatap kearah Nayla.
Nayla membulatkan matanya" Apa...... kamarku.......ngak, ngak"Protes Nayla berdiri tegak menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ya.. mau gimana lagi dia kan suamimu" Dika agak kesal menatap tajam kearah Nayla yang sudah berdiri mau meninggalkan mereka berdua.
"Ya ....diakan juga punya kamar sendiri dirumah ini, jadi biar dia tidur dikamarnya seperti biasa atau tidur dengan kakak Dika" Jawab Nayla menatap Aska tajam juga mulai kesal mendengar ide gila kakaknya tidur sekamar.
Dika menarik nafas panjang ia sepertinya akan berdebat lagi dengan adiknya.
"Dia akan suamimu Nay, ngak mungkin dia tidur dengan kakak.lagian kalian sudah suami-istri memangnya kenapa kalau tidur bersama" Jelas Dika suaranya naik satu oktaf.
"Kakak tempat tidur Nayla itu kecil ngak muat untuk dua orang" Nayla dengan kesal mengutarakan alibinya yang tak mungkin di terima kakaknya.
"Jangan banyak alasan Nay muat kok, kakak sama Endy aja pernah tidur bersama di tempat tidurmu itu, saat kami rindu padamu, jika rindu padamu kami akan tidur bersama dikamarmu." Jelas Dika membongkar rahasia konyolnya bersama Endy.
"Ih kakak....."Nayla bergidik ngeri mendengar ucapan kakaknya.
memang muat sih kalau tidur berdua berdekatan tapi ngak akan muat jika menaruh guling pemisah ditengahnya.batin nayla
__ADS_1
Aska yang melihat perdebatan mereka menarik sudut bibirnya sudah lama ia tak melihat pemandangan ini ketika dua kakak beradik ini selalu bertengkar.
Dika membulatkan matanya kearah Nayla sambil memegang bantal sofa tangannya telah terangkat siap melayangkannya pada Nayla ia mengancam akan melempar adiknya jika ia terus membantah. Nayla yang melihat kakaknya mulai emosi akhirnya kalah.
"Ya baiklah ..." Nayla memasang wajah masam dan memajukkan bibirnya.
"Kak Aska ayo kekamarku" Ajak Nayla berjalan menuju kamar diikuti Aska dari belakang.
Nayla dan Aska berada di kamar bersikap canggung satu sama lain di tepi tempat tidur. Aska naik ketempat tidur lebih dulu ia masuk kedalam selimut ia merebahkan tubuhnya yang terasa remuk ia berbaring terus menatap gadis yang dicintainya itu masih berdiri di pinggir kasur terpaku.
"Kamu ngak tidur Nay" Ucap Aska memecah kecanggungan.
Nayla terdiam memperhatikan kasurnya yang telah direbahi Aska diatasnya ia memperhatikan sisa ruang kosong disamping Aska itu, hanya tersisa tempat untuk tubuh mungilnya tak ada tempat untuk guling pemisah, ia menelan saliva dengan susuah payah membayangkan Aska bisa saja berbuat apapun ketika mereka tidur bersama.
tempat ini terlalu sempit untuk kami berdua nanti dia melakukan hal yang tidak-tidak padaku, usiaku baru 17 tahun, masih kecil untuk melakukan itu, kami tidak boleh tidur bersama ,aku akan tidur diluar saja berpura-pura menonton tv lalu tidur disana kalau kak Dika bertanya kenapa kami tidur terpisah tinggal bilang saja kami aku aku ketiduran.batin Nayla menemukan ide untuk menghindari Aska.
"Nay kamu kenapa?" Tanya Aska membuyarkan lamunanya
"Tidak, Kak Aska tidurlah dulu aku belum mengantuk aku mau menonton tv diluar" Jelas Nayla tanpa melihat Aska langsung berjalan cepat keluar kamar tanpa berbalik.
Aska tersenyum melihat tingkah Nayla ia sudah tahu gadis itu pasti menolak tidur bersama dengannya, walaupun ada sedikit rasa kecewa dihatinya padahal ia ingin sekali Nayla berada disisinya saat ini, setelah semua yang terjadi hari ini dia berharap hatinya yang gelisah, ketakutan, bisa berkurang jika Nayla tidur disampingnya tadi. Aska menarik selimut ke dada lalu menutup matanya mencoba terlelap, melewati hari yang begitu melelahkan.
..
.
.
..
__ADS_1
.Like,coment,favorit,vote........