
Aska menurunkan Nayla perlahan duduk disofa. setelah Nayla mandi dan berganti pakaian, walaupun selang infus telah terbuka tak lagi melekat ditanganya, Aska masih saja khawatir padanya setiap saat Aska selalu menggendong tubuh mungilnya hingga Nayla merasa sudah jarang berpijak dilantai, walaupun Nayla selalu protes, namun Aska tak terpengaruh. Apalagi saat dokter memeriksa kandungan Nayla memberi pesan yang tidak boleh dilakukan oleh ibu hamil, usia kandungannya yang rentan, karena usia yang masih sangat muda untuk mengandung membuatnya bertambah khawatir dan nayla semakin frustasi dengan sikap over protektif Aska.
Aska sangat menjaga kandungan Nayla semenjak Nayla hamil sebisa mungkin dia selalu berada disamping Nayla ia sudah tidak gila kerja lagi, ia jarang kekantor semua pekerjaan kantornya diselesaikan dirumah bahkan beberapa pekerja harus bolak-balik kerumah untuk memberi laporan terutama Pak Chan hampir tiap hari ia datang, Aska hanya meninggalkan Nayla jika ada pertemuan penting yang tak bisa ditangani Pak Chan.
Nayla dan Aska duduk disofa dihadapannya telah berjajar menu sarapan pagi, Aska meraih sarapan untuk Nayla yang berupa omellet daging ia lalu menyuapi Nayla .
"Nay bisa makan sendiri kak" Tolak Nayla lalu meraih piring yang dipegang Aska.
"Udah biar kakak aja, buka mulutnya. aaa....." Mengarahkan sendok didepan mulut Nayla, Nayla menuruti keinginan Aska ia benar-benar berubah jadi gadis yang manis dan penurut sekarang.
"Nah gitu dong..." Aska tersenyum mengusap kepala Nayla.
"Kakak ngak sarapan?"
"Ntar aja"
Nayla menyendok makanan yang berada dipangkuan Aska lalu bergantian dia yang menyuapi Aska karena ia tahu Aska sangat senang jika Nayla menyuapinya.
"Kak ....aa" Nayla mengarahkan sendok kemulut Aska.
Aska tak pernah menolak suapan dari Nayla ia tersenyum lalu membuka mulutnya jadilah mereka makan sepiring berdua dan saling suap. hingga makanan dipiring mereka tandas. Aska menyimpan piringnya dimeja lalu meraih susu ibu hamil yang telah disiapakan pelayan untuk Nayla.
"Minum dulu Nay" Aska memberikan gelas susu pada Nayla.
Nayla pun meminum susu ibu hamil beberapa teguk. Kemudian meletakkan gelasnya di meja. Baru beberapa menit Nayla mulai mual. Aska yang melihat gerak-gerik Nayla yang seperti biasa memegang mulutnya yang berarti ia akan memuntahkan semua isi perutnya. Dengan sigap Aska meraih tempat kecil seperti ember yang khusus ia siapkan untuk Nayla saat istrinya ingin memuntah isi perutnya, Aska memengang tempat itu lalu mengarahkan tempat kecil kehadapan Nayla.
Uwek...Uwek....Nayla mengarahkan wajahnya ketempat kecil yang disiapkan Aska agar ia tak perlu bolak balik kekamar mandi. Aska memegang tempat itu, sebelah tangan mengurut tengkuk Nayla, dengan sabar ia merawat Nayla tanpa bantuan pelayan. Ia ingin berbagi suka dan duka dengan istrinya.
Nayla mengeluarkan semua sarapan yang tadi ia santap, setelah selesai Nayla kembali mengangkat wajahnya yang pucat ia bersandar disofa tubuhnya terasa lemah, Aska meraih tissue yang berada diatas meja mengusap mulut istrinya dengan tissue kemudian Ia meraih sapu tangan dengan telaten ia melap keringat yang keluar dikening Nayla.
"Kayaknya Nay kena karma deh......" Ucap Nayla bersandar lemas disofa.
"Kenapa Nay" Aska masih melap keringat Nayla
"Dulu Nay suka sebel kalau kakak mabuk lalu muntah diteras rumah, sekarang benar-benar terbalik sekarang kakak yang ngurusin muntahan Nayla, kakak sekarang pasti sebalkan" Nayla mengerucutkan bibirnya.
"Sudah jangan fikirkan itu... Kak ngak merasa keberatan, itu adalah tugas kakak mengurus kamu, kakak ngak akan ngomel sama seperti yang kamu lakukan dulu" Aska terkekeh teringat Nayla yang suka mengomel ketika ia pulang dalam keadaaan mabuk.
"Kakak malahan merasa bersalah sama kamu karena kamu mengandung anak kita kamu jadi menderita seperti ini, makasih Nay atas kebahagian ini" Jelas Aska memegang tangan Nayla
__ADS_1
Dret.....Dret......getar handphone dimeja terdengar itu adalah panggilan yang kesekian kalinya pagi ini, namun tak dijawab oleh Aska, Nayla sudah mengerti itu pasti orang kantor yang menghubunginya .
"Kakak ngak kekantor lagi" Tanyanya mengarahkan pandangan pada Aska.
"Ngak, kak mau jagain kamu aja disini"
"Tapi jawab dulu telponnnya pasti penting, dari tadi handphone kakak bergetar, kakak jawab telponnya ayo.." Paksa Nayla
Atas perintah Nayla, Aska lalu meraih handphonenya yang berada dimeja melihat layarnya lalu menggeser ikon hijau kemudian menaruh ditelinganya.
"Aku tidak kekantor hari ini"
"Pak Chan urus semua, aku tak bisa meninggalkan rumah saat ini, wakilkan saja aku" Aska memutuskan telponnya sepihak
"Kakak pergilah itu pasti penting, Nay ngak apa disini, lagi pula disini ada bibi May, perawat yang akan menemaniku" Jelas Nayla ia sudah bisa menebak jika itu pasti telpon penting dan perusahaan sedang membutuhkannya sekarang
"Ngak apa-apa jangan risaukan itu, kakak cuma mau menemani kamu sekarang" Tolak Aska apalagi ia melihat Nayla lemas karena telah memuntahkan makanannya.
"Nay benar ngak apa-apa kak. Nay bisa belajar disini sambil menunggu kakak pulang" Nayla membujuk Aska mencoba bersikap ia baik-baik saja agar Aska tak cemas lalu pergi kekantor.
"Sudah jangan belajar lagi, kita akan punya anak biarkan anak kita yang akan belajar tentang perusahaan kamu ngak boleh banyak fikiran" Jelas Aska
"Kalau begitulah pergilah kekantor, kakak ada rapat pentingkan?" Paksa Nayla
"Kakak ngak tega meninggalkan kamu Nay" Beberapa hari terakhir perasaanya tak enak ia ingin selalu menghabiskan waktu dengan Nayla.
Aska terdiam menatap Nayla yang dari memaksannya kekantor namun ia tak sanggup. Perasaan tak enak hati ini, menyelimuti jiwa entah cemas apa yang ia fikirkan, namun Nayla memaksa untuk kekantor dan menganggap perhatiannya ini berlebihan.
"Kamu dan anak ini adalah harapan terbesarku, akhirnya setelah sekian lama aku punya keluarga, kamu tahukan kan? aku sendirian ngak punya orang tua ,saudara. kelak anak ini akan melengkapi semua dikehidupan kakak, kakak mau memastikan kau dan anak kita selalu dalam keadaan baik, aku akan menjaga kalian berdua, bantu kakak ya, jaga anak ini baik-baik kelak kakak percayakan anak ini padamu, rawat dan didik ia dengan baik,buat ia menjadi bule Jerman yang baik dan cerdas sama sepertimu" Pesan Aska panjang lebar terlihat sedih ia mengungakapkan alasan sikapnya berlebihannya dalam menjaga Nayla, kehamilan istrinya merupakan sumber kebahagiaan semua orang.
"Ia, Nay ingat pesan kakak,kita akan menjaga anak ini bersama" Nayla menenangkan Aska "pergi kekantor sana " Usir Nayla
"Baiklah kakak pergi" Aska bangun dari duduknya menuju ruang pakaian akhirnya setelah sekian lama ia mengalah juga dan akan kekantor karena memang ia punya rapat penting yang tak bisa ia wakilkan oleh Pak Chan.
Beberapa saat kemudian Aska keluar dari ruang ganti pakaian telah rapi tubuh tingginya telah terbalut dengan setelah jas ia terlihat sangat tampan, ia berjalan mendekat kearah Nayla ia duduk disamping istrinya ia belum sepenuhnya rela meninggalkan Nayla rasanya begitu berat perasaannya tak karuan.
"Nay kak ngak usah pergi ya, perasaan kakak ngak enak" Aska kembali berubah pikiran ia sudah bersiap melepaskan jas yang membalut tubuhnya namun dicegah oleh Nayla lalu memegang tangan Aska.
Nayla menarik nafas dalam sebenarnya ia juga tak tenang hatinya tak ingin Aska pergi, ia merasa jika Aska pergi ia tak akan berjumpa lagi dengannya,seperti ini adalah pertemuan terakhirnya.
__ADS_1
Nayla menyadarkan kepalanya didada Aska memeluk Aska entah mengapa ia juga tak rela berpisah dengan suaminya, ia membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya, Aska membalas pelukan Nayla dengat erat lalu mencium puncak kepala Nayla dengan cukup lembut, lama mereka resapi pelukan itu seakan tak ingin melepaskan satu sama lain.
Nayla melepaskan pelukannya ia kembali menatap wajah Aska dalam seperti tatapan untuk terakhir kalinya.
"Nay ngak apa apa kak jangan khawatir"
"Baiklah habis rapat kakak langsung pulang " Aska memegang bahu Nayla
Nayla memajukan kepalanya lalu dengan kilat ia mendaratkan ciuman dipipi Aska. Membuat Aska membulatkan matanya, jantungnya terasa ingin lompat keluar Aska memegang pipi bekas ciuman Nayla wajahnya memerah lalu tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya .
"Nay kakak ngak jadi pergi deh disini aja" Aska tersenyum ciuman Nayla yang niatnya sebagai penyengat kerja malah membuat Aska semakin tak ingin pergi darinya, ciuman itu malah akan membuatnya bertambah rindu dengan Nayla .
"Ih kakak sudah pergi" Nayla mulai gemas melihat tingkah Aska.
"Ia tapi pulang lanjut ya Nay,disini " Goda Aska mengangkat alisnya lalu menunjuk bibirnya dengan telunjuk
"Ia"ujar Nayla dengan malas.
"janji Nay" Aska mengangkat jari kelingkingnya.
"ia, apapun yang kakak inginkan" Nayla mengangkat jari kelingkingnya sambil tertunduk malu.
"Satu lagi permintaan kakak, guling pemisah yang terakhir dibuka ya?" Tersenyum manja lalu mengatupkan tangannya memohon pada Nayla
Nayla terdiam lama ia berfikir hingga akhirnya ia mengangguk perlahan entah kenapa ia ingin menjanjikan segalanya pada Aska agar suaminya itu pulang dan kembali padanya dengan cepat.
Aska sangat senang melihat anggukan Nayla. Aska mencium kening Nayla kali ini giliran Nayla yang membatu. Aska bangun dari duduknya
"Kakak pergi dulu"
Aska berjalan perlahan dengan keraguan kakinya berat melangkah, Nayla terus memperhatikan punggung Aska yang semakin menjauh darinya. Aska meraih gagang pintu ia menarik nafas dalam lalu berbalik melambaikan tangannya tersenyum.
"Tunggu kakak pulang ya Nay."
Nayla tersenyum pelik membalas lambaian tangan Aska entah mengapa perasaannya merasa bahwa saat Aska melewati pintu kamar ia merasa sudah tak bisa melihat suaminnya kembali lagi. Ia tertunduk tak bersemangat seperti itu adalah pertemuan dan kemesraan terakhir mereka.
.
.
__ADS_1
.like,coment,vote ya