Jodoh Pilihan Kakakku

Jodoh Pilihan Kakakku
hamil


__ADS_3

Aska membaringkan tubuh Nayla di atas tempat tidur terus memanggil nama Nayla mencoba membuatnya membuka mata namun tak ada reaksi dari gadis yang wajahnya pucat itu .


Aska bergegas turun dari ranjang meraih telepon rumah wajahnya panik.


"Hallo ada apa tuan" Bibi May


"Bibi May, cepat panggil dokter kemari, Nayla tak sadarkan diri" Teriak Aska suaranya panik lalu membanting gagang telepon ketempat semula.


Ia kembali ketempat tidur mendekati tubuh Nayla


"Nay bangun .....buka matamu...jangan membuatku takut" Menepuk pipi Nayla pelan, menggoyang-goyangkan tubuhnya dan mulai frustasi karena semua upaya yang ia lakukan tak membuat Nayla membuka matanya.


"Nay kamu kenapa....Maafkan aku.....kakak ngak tahu kalau kamu lagi sakit " Ujar Aska lirih yang ia lakukan sekarang mengangkat bagian atas tubuh Nayla lalu memeluknya ia sangat ketakutan melihat istrinya tak bereaksi sedikitpun.


"Coba saja aku tak menghindarinya ini semua tidak akan terjadi" Aska menyalahkan dirinya ia menyesali sikapnya tidak menemui Nayla selama dua hari.


Suara pintu kamar terbuka membuat pandangan Aska menuju kearah pintu, bibi May berjalan masuk dengan wajah cemas saat mendengar telpon Aska ia bergegas menelpon dokter lalu menemui aska dikamarnya. Bibi May melangkah menuju tempat tidur.


"Bibi May dia pingsan " Jelas Aska sekarang ia meletakkan tubuh Nayla terlentang lalu menggosok tangan Nayla


"Kenapa dia bisa sakit? apa kalian tidak menjaganya dengan baik" Suara Aska meninggi kecemasannya membuatnya kehilangan kendali atas dirinya, emosi menguasainya hingga ia terlupa siapa yang menjadi lawan bicaranya perempuan paruh baya yang begitu dia hormati.


"Maafkan saya tuan saya benar-benar tidak tahu jika nyonya sakit" Wajah bibi May menjadi Pias ia merasa bersalah karena ia tak menjaga nyonya dengan baik.


Melihat wajah bibi May, Aska terdiam ia merasa bersalah tak seharusnya, menyalahkan bibi May namun apa daya kecemasan membuatnya ingin meledak.


"Mana dokternya?...Kenapa lama sekali ?" Aska mengalihkan pembicaraan.


Bibi May mengambil minyak kayu putih lalu naik ke atas tempat tidur mencoba membantu Aska menyadarkan Nayla, agar aska sedikit tenang


"Saya sudah menelponnya tuan, dokter Heru akan segera datang" Bibi May mendekati tubuh Nayla membuka botol minyak lalu meletak di depan hidungnya agar Nayla menghirup baunya, kemudian menggosok minyak itu ke tubuh Nayla agar tubuhnya terasa hangat.


"Nay bangun......buka matamu ...."Masih memegang tangan Nayla melihat bibi May menaruh minyak di hidungnya dan semakin bertambah panik melihat upaya bibi May pun gagal.


"Nay...aku mohon buka matamu" Teriak Aska


" Tenanglah tuan, semoga nyonya tidak apa-apa" Bibi May menenangkan tuannya padahal ia juga cemas dengan kondisi Nayla


"Bibi May aku mengenalnya sejak kecil hingga sekarang ia tak pernah seperti ini, ini pertama kalinya ia tak sadarkan diri" Jelas Aska dia sangat tahu kondisi Nayla dari kecil gadis ini tumbuh dalam penjagaannya. Bertahun-tahun selalu bersamanya namun baru kali ini ia menghadapi kondisi seperti ini membuatnya sangat takut.


Di tengah kepanikan Aska dan rasa cemas bibi May, dokter keluarga Dirga datang masuk kedalam kamar ditemani oleh Aldy yang berada disampingnya dia adalah Dokter Heru, dokter keluarga Dirga. Aska yang melihat dokter bergegas turun dari tempat tidur mendekatinya.


"Anda sakit tuan? " Sapa dokter Heru yang telah menjadi dokter keluaga Dirga selama bertahun-tahun.


"Dokter istriku sakit" Aska berhadapan dengan dokter dengan wajah cemas, yang dari tadi tak pernah hilang di wajahnya.


"Istri" Dokter mengernyitkan alisnya wajah berubah heran, ia hanya tahu keluar Dirga hanya tersisa Aska yang ada dirumah ini sejak kapan pemuda Dirga ini menikah. Pertanyaan muncul dihatinya namun itu tidak penting sekarang


"Cepat periksa dia dokter" Aska memberikan jalan pada dokter mempersilahkannya memeriksa kondisi Nayla, lalu dokter berjalan menuju tempat tidur sejenak melihat Nayla yang terbaring tak sadarkan diri ia memperhatikan tubuh mungil Nayla melihat wajah istri keluarga Dirga.wanita yang sangat beruntung itu fikirnya.


Dokter lalu duduk di kursi yang telah di sediakan bibi May di pinggir tempat tidur, dokter Heru meraih peralatannya yang ada di dalam tasnya kemudian ,ia memasang stetoskop mulai memeriksa tubuh Nayla .


Aska memperhatikan dokter memeriksa Nayla wajahnya khawatir, ia memasukkan tangannya di saku celananya mondar-mandir menunggu analisa dokter, bibi May yang melihat tuannya sangat khawatir mencoba menenangkannya ia mengerti Nayla adalah segalanya baginya, kebahagiaan dihidupnya adalah Nayla. ia pasti takut sesuatu buruk terjadi pada Nayla


"Tenanglah tuan, jangan khawatir dokter juga sudah ada disini, nyonya tidak apa-apa, dia pasti baik-baik saja" Bibi May menengangkan Aska agar cemasnya sedikit berkurang.


Aska meraih tangan bibi May "aku sangat takut bibi May, aku gagal menjaganya, apa yang akan ku katakan pada kakaknya, jika terjadi sesuatu padanya, aku menyesal karena tidak menemuinya, aku tak bisa menjaganya" Aska menyalahkan dirinya menyesal karena telah menghindarinya.


Dokter membuka stetoskop yang ada diteligannya mengalungkannya dileher mengakhiri pemeriksaan dia menghadapkan tubuhnya ke arah Aska pemeriksaan sudah cukup tinggal mencari keterangan agar ia bisa menyimpulkan.

__ADS_1


"Tuan di punggung tangan istri anda ada tanda bekas infusan, ia sepertinya sudah mendapatkan perawatan" Jelas dokter memegang tangan Nayla menunjukan punggung tangan.


"Maksud dokter?" Aska mengernyitkan alisnya lalu mendekat ke arah Nayla ia melihat punggung tangan Nayla sedikit bengkak dan membiru.


"Ini adalah tanda bekas infusan yang baru saja terbuka" Jelas dokter


Aska semakin tak mengerti penjelas dokter kapan Nayla dirawat, ia merasa Nayla tak pernah berobat, perlahan ia teringat kejadian hari ini seharian Nayla menghilang dari rumah, ia mulai mencerna semua kejadian yang telah terjadi seharian.


"Jangan-jangan dia kerumah sakit bersama Endy, pantas saja Aldy tidak menemukan keberadaan mereka, ternyata mereka di rumah sakit ...ah sial..... dia pasti sedang sakit, tapi tak mau memberi tahuku, karena aku tak muncul dihadapannya ia meminta Endy untuk menemaninya ke dokter......ah bodohnya aku, jika saja aku tak menghindarinya ini mungkin tak akan terjadi" Guman Aska dalam hati bertambah merasa bersalah


"Apa akhir-akhir ini dia makan dengan baik, apa dia sering memuntahkan makanannya " Tanya dokter mengarahkan pandangannya pada Aska


Namun Aska malah mengarahkahkan pandangannya pada bibi May karena ia tak tahu jawaban apa yang harus di berikan pada dokter karena ia tak bertemu Nayla selama dua hari dan terakhir bertemu Nayla ia baik-baik saja bahkan tenaganya sangat kuat bertengkar dengannya.


"Nyonya Nayla makan dengan teratur dokter namun akhir-akhir ini, ia sering tidak menghabiskan makananya, jika ia memuntahkan makanannya saya tidak tahu " Jelas bibi May ia tahu Aska pasti tidak suka mendengar jawaban bibi May.


"Bibi May kenapa tidak memberitahuku, jika ia tak menghabiskan makanannya," Aska teringat beberapa hari yang lalu ketika Nayla menyuapinya ia berkata lagi tak selera makan.


"Maafkan saya tuan saya mengira itu masih normal" Jelas bibi May


"Bibi May aku bilang katakan semuanya padaku aku menelponmu bertanya kabarnya setiap malam....sudahlah ...." Aska tak mau membahas laporan bibi May"


"Bagaimana keadaanya dokter, dia sakit apa?" Aska penasaran hasil pemeriksaan dokter


"Anda tidak perlu khawatir tuan" Tersenyum ramah


"Dokter ini pertama kalinya ia tak sadarkan diri, kenapa ia tak membuka matanya cobalah untuk membuatnya sadar dokter " Aska terus mengoceh tak membiarkan dokter bicara.


"Kita harus melanjutkan perawatannya tuan tubuhnya lemah karena dia kehilangan nafsu makan, kemungkinan ia selalu memuntahkan makanannya, karena itulah ia menjadi lemah, usianya masih terlalu muda untuk menjalani kehamilan ini jadi karena itulah kondisinya menjadi memburuk dan pingsan ." Jelas dokter panjang lebar


Bibi langsung menyambar perkataan dokter


"Tuan Aska istri anda hamil" Jelas dokter


"Ha ........Aska tercengang membulatkan matanya mendengar kata-kata dokter tubuhnya membatu seketika terus menatap wajah dokter. Ia bagaikan terkena sengatan listrik jutaan volt tubuhnya lemas kakinya bergetar serasa jutaan kembang api meledak dihatinya ia sangat bahagia. hingga ia tak bisa merasakan tubuhnya, bibi May yang mendengar analisa dokter lalu memeluk tubuh Aska erat tertawa bahagia


"Ha....Ha...Ha....selamat tuan " Peluk bibi May namun pelukkannya tak terbalas, cukup lama bibi May memeluknya namun Aska tak bergerak.


"Tuan ....tuan.....tuan...." Suara bibi May meninggi di panggilan terakhirnya menggoyang-goyangkan tubuh tinggi Aska


Aska tersentak mendengar panggilan dari bibi May kembali tersadar lalu memegang tangan bibi May.


"Bibi may tampar aku, ini bukan mimpikan " Ujar Aska pelan masih tak percaya dengan kabar yang di dengar, ia tak membayangkan bisa memiliki anak dengan Nayla, secepat ini. Apa lagi ia hanya melakukannya dimalam pertamanya.


Bibi May tersenyum gemas melihat reaksi Aska


"Tuan ini bukan mimpi anda akan segera menjadi ayah" Bibi May menjelaskan dengan antusias.


"Selamat tuan"Menepuk punggung tangan Aska


"Bibi May!" Suaranya terdengar berat Aska lalu memeluk bibi May menenggelamkan wajahnya dipundak bibi May, ia meneteskan air mata haru "bibi May aku akan menjadi ayah, aku punya pewaris untuk keluarga Dirga " Aska menyembunyikan wajahnya ia tak ingin terlihat menangis ia tak bisa menjelaskan perasaannya dengan kata-kata, ia hanya terharu namun bibi May merasa baju yang ia kenakan basah karena air mata Aska.


"Tuan jangan menangis anda seperti anak kecil, anda harus lebih dewasa sekarang anda akan memilik anak...anda tidak malu menagis" Goda bibi May


"Sekali lagi selamat tuan" Bibi May melepaskan pelukkannnya


Aska mengusap matanya dengan punggung tangan kembali memusatkan perhatiannya pada dokter Heru dengan senyum terus mengembang diwajahnya sekarang rasa cemas telah sedikit berkurang .


"Tuan istri anda harus kembali menerima perawatan ia harus kembali diinfus agar ia tak dehidrasi " Saran dokter

__ADS_1


"Lakukan yang terbaik untuk istriku dokter" Aska melihat ke arah Nayla kembali sedih melihatnya.


Aska memaggil Aldy untuk membantu dokter Heru menyiapkan semua peratan yang dibutuhkan dokter untuk melakukan perawatan dirumah untuk Nayla .


Sementara dokter sibuk memasang infus untuk nayla Aska dan bibi May berdiri membiarkan dokter melakukan tugasnya, mereka hanya memperhatikan agak jauh Aska merangkul bahu wanita paruh bayah yang dia anggapnya sebagai ibunya.


"Bibi May aku sangat bahagia, kehamilan Nayla akan membuat hubungan kami semakin kuat, ia tak akan meninggalkanku aku punya alasan kuat untuk membuatnya bertahan terus disisiku" Aska mempererat rangkulannya berbicara penuh semangat.


"Saya sangat senang tuan, tak lama lagi rumah ini akan terdengar suara tangisan anak bayi" Menarik sudut bibirnya membayangkan saja sudah membuat bahagia.


Aska melepaskan rangkulan tangan pada bibi May lalu berbalik ke arah Aldy yang ada di belakang mereka, ia masih memasang wajah penasaran ada apa dengan Nayla namun tak berani bertanya karena ia melakukan kesalahannya tadi.


"Aldy, Nayla hamil ,tak lama lagi kau akan menjadi paman" Ujar Aska berbicara pada aldy sebagai sahabat bukan sebagai tuan Aska yang terhormat senyum mengembang sangat bangga pada dirinya sendiri.


Aldy tersenyum menghampiri Aska memberikan pelukan "Wah....selamat tuan" Ujar Aldy dengan semangat ia sangat bahagia untuk Aska, dia sangat tahu kisah cinta rumit Aska, karena punya anak dari wanita yang paling ia cintai adalah mimpi indah yang sulit terwujud apalagi sikap dingin Nayla padanya, ia tahu perasaan Aska dia pasti sangat bahagia sekarang.


"Aku akan mengampunin kalian, karena masalah hari ini" Aska melepaskan pelukannya.


"Aku tidak akan memotong gaji kalian kali ini, karena aku sangat bahagia aku akan memberikan kalian bonus gaji 2x lipat....tidak tidak ..3xlipat bagaimana" Ucap Aska mengangkat tiga jarinya dihadapan Aldy.


Aldy tersenyum memamerkan giginya


"Terima kasih tuan, kami akan lebih menjaga rumah ini dan nyonya Nayla dengan baik." Janji Aldy.


Aska mengarahkan pandangannya ke bibi May" Bibi May beritahu semua pelayan aku memberikan bonus gaji tiga kali lipat juga untuk mereka bulan ini agar mereka semakin bersemangat untuk melayani dan menjaga Nayla "Jelas Aska terus tersenyum bahagia.


"Baiklah tuan saya akan menyampaikan pada semua pelayan dirumah ini"


Beberapa saat kemudian semua telah selesai selang infus telah terpasang dipunggung tangan Nayla yang tak sadarkan diri.


"Tuan saya telah selesai melakukan pemasangan infus mungkin besok istri anda akan sadar, biarkan istri anda beristirahat, anda harus menjaga kandungannya dengan baik karena tubuhnya sangat lemah, usianya juga masih rentan untuk menjalani kehamilan ia tidak boleh banyak fikiran, ia tidak boleh lelah, harus istirahat yang cukup, ia harus makan dengan baik" Saran dokter Heru tersenyum ramah


"baiklah dokter saya akan mengikuti saran dokter" Ujar Aska


"Saya permisi dulu tuan " Dokter Heru pamit menundukkan kepalanya ia menjinjing tasnya melangkah keluar.


"Tunggu dulu dokter" Cegah Aska membuat langkah kaki dokter Heru terhenti lalu berbalik melihat Aska yang berjalan menuju lemari kecil meraih sesuatu lalu memberikan kepada dokter.


"ini hadiah untuk dokter karena telah memberikan kabar yang membahagiakan untukku" Aska menyodorkan kunci mobil untuk dokter Heru ia menghadiahkan salah satu koleksi mobil mewahnya.


Dokter Heru menerima kunci yang diberikan Aska dengan senyum mengembang menerima hadiah mobil dari Aska "terima kasih tuan atas kemurahan hati tuan, semoga kehamilan istri tuan selalu baik-baik saja, saya permisi" Ujar dokter Heru ia sangat senang, rasanya melebihi mendapatkan jackpot ia tak menyangka mendapatkan hadiah berupa sebuah mobil dari Presdir Dirgantara Mitra tentunya itu bukanlah mobil biasa itu pasti mobil mewah dengan harga milyaran.


"Aldy antar dokter Heru, perlihatkan mobil hadiahnya" Perintah aska


Aldy tertunduk mendampingi dokter Heru keluar kamar tak lama bibi May juga permisi meninggalkan Aska .


Aska mendekati tubuh Nayla ia naik ketempat tidur matanya berkaca-kaca melihat tubuh Nayla yang tergolek lemah ia tak tega orang yang ia cintai dalam keadaan seperti ini.


"Maafkan aku Nay aku tidak tahu jika kamu sakit, aku janji ini tak akan terulang lagi aku akan selalu menjagamu" Aska mengecup kening Nayla


"Terima kasih kau telah memberikan kebahagiaan padaku, kita akan memiliki keluarga kecil yang bahagia, ikatanku padamu semakin kuat, kau akan terus berada disisiku, walau bukan demi cintamu tapi demi anak kita" Aska menempelkan kepalanya dikening Nayla meneteskan air mata harunya.


.


.


.


.like,coment,vote .ya

__ADS_1


__ADS_2