
Nayla menemui Endy yang menunggunya didepan kantor, ia menarik sudut bibirnya ketika melihat lelaki yang berdiri menunggunya bersandar didepan mobil sport mewahnya ia lalu menghampirinya.
"Kak Endy" Sapa Nayla tersenyum ceria.
"Lama banget sih Nay, kakak nunggu dari tadi" Keluh Endy.
"Ia maaf... kakak tahukan kak Aska harus dirayu dulu" Alibi Nayla dan memang benar hanya untuk membuat suaminya itu tenang ia mengambil langkah pertamanya mencium Aska lebih dulu.
"Ayo" Ajak Endy.
Nayla terdiam sejenak memperhatikan wajah Endy yang terlihat berbeda.
"Wajah kakak pucat, kakak sakit ya?" Tanya Nayla khawatir pada lelaki yang sudah ia anggap kakak sendiri.
"Ngak Nay kepala kakak cuma sedikit pusing" Endy juga heran kenapa ia tiba-tiba pusing dan merasakan tak enak badan. apa ini karena doa Dika jomblo teraniaya yang batal kencan dan telah menyumpainya sakit, fikir Endy hingga ia tak merasa tubuhnya lemah.
"Ayo kita pergi" Ajak Endy membuka pintu mobil untuk Nayla. Namun baru saja ia masuk kedalam mobil telponnya berbunyi.
Dret...dret...dret Nayla merogoh tasnya meraih handphonenya ia kemudian menarik nafas menatap layar ponsel, kemudian menyetuhnya dan menaruhnya ditelingan.
" Ya Kak Aska"
"Kamu belum pulang sayang?" Aska
"Kak Aska sayang... Nay bahkan masih didepan kantor belum pergi" Nayla
"Kok lama banget Nay"
"Kak... Kita baru pisah 15 menit yang lalu, Nay bahkan belum ke mall, kakak udah bilang lama" Nayla.
"Rasanya udah lama banget kita pisah, jangan lama-lama ya disana, kakak udah kangen baget nih" Aska.
"Ia...cuma sebentar, Nay pergi dulu" Nayla.
Nayla memutuskan telponnya ia menarik nafas panjang sedangkan Endy hanya mengeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya. Nayla menebak seperti apa jalan malam jumat ini, tak akan jadi menyenangkan baru beberapa menit Aska sudah menelponnya pulang, ia akan diteror untuk pulang nanti.
Nayla dan Endy hendak menuju mall menghabiskan waktu sebagai kakak adik, sama seperti yang sering mereka lakukan.
Beberapa saat kemudian mereka telah sampai didepan mall namun sebelum mereka melangkahkan kakinya, Endy mengulurkan tangannya pada Nayla.
"Nay, ini kencan malam jumat kita yang terakhir, jadi kita akan melakukannya sebaik-baiknya, sama seperti dulu" Endy akan mengulang semua kenangannya dulu bersama Nayla untuk yang terakhir kalinya sebelum melangkah menuju jenjang pernikahan.
"Okey" Nayla menyambut uluran tangan orang yang dia anggap kakaknya sendiri, melakukan sama seperti dulu saat jalan berdua berpegangan tangan saat berada di mall dengan wajah penuh keceriaan.
Nayla dan Endy kemudian jalan berpegangan tangan mesuk kedalam Mall terus melangkahkan kakinya masuk.
"Kita mau kemana dulu kak?" Tanya Nayla tersenyum ceria.
"Temani kakak ke toko perhiasan," pinta Endy mengarahkan kakinya ke toko perhiasan sambil mengayun-ayukan tangan mereka yang bertaut.
Nayla mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Endy selama jalan-jalan berdua Endy tak penah mengajaknya ketoko perhiasan namun ia menurut saja tanpa bertanya.
"Nay ada hal penting yang yang ingin kakak bicarakan padamu" Berjalan sambil gandengan tangan menuju toko.
"Hal penting apa kak? serius banget," tanya Nayla penasaran.
Endy menghentikan langkahnya mengarahkan pandangannya pada Nayla.
"Nay kakak mau menikah, " ucap Endy dengan nada terendah sebenarnya ia belum yakin dengan keputusannya menikah.
"Benarkah, kakak akhirnya akan menikah, dengan siapa? siapa wanita yang tak beruntung itu, yang mau menikah dengan playboy seperti kakak," canda Nayla kemudian terkekeh sebenarnya ia sangat bahagia mendengar playboy ini akan menikah juga.
"Nay...ralat wanita beruntung tau yang nikah denganku, ganteng, kaya,sukses, menyenangkan. kakak ini pria dengan edisi terbatas jarang ada yang seperti kakak ini" Protes Endy kemudian membanggakan dirinya membuat Nayla semakin tertawa.
"Ya playboy edisi terbatas, yang kerjaanya cuma gantungin wanita ngak dipacarin."Canda Nayla.
"Nay" Protes Endy memasang wajah masam.
"Dengan siapa kakak menikah" Tanya Nayla kali ini ia serius. mendengar nama calon istri Endy.
"Dengan Serena, bagaimana menurut kamu" Tanya Endy memperhatikan wajah Nayla.
"Serena...hahahaha" Nayla tertawa keras mendengar nama calon Endy."Kakak udah mentok ya akhirnya memilih Serena juga, udah putus asa jadi jomblo dah capek gantungin wanita." Canda Nayla ia tahu jika Endy menikah dengan Serena itu berarti lelaki ini tak punya pilihan lain karena Nayla tahu Endy tak pernah menyukai serena.
"Nay...Bagaimana menurut kamu?" tanya Endy pada orang yang begitu penting dalam hidupnya sebelum mengambil keputusan ia akan bertanya pada Bule jermannya.
" Kak Serena gadis baik, cantik Nay sih sangat setuju, lagi pula kak Serena kan udah lama naksir kakak" Nayla sedikit tahu perasaan Serena pada Endy karena saat wanita itu kerumahnya ia akan curhat mengenai lelaki playboy ini yang selalu menolaknya.
"Benar kamu setuju kakak nikahi Serena?" Endy memastikkan.
"Tentu saja lagi pula usia kalian sangat pas untuk menikah kakak terlalu lama memilih dan bermain-main tahu-tahunya mentok juga dengan kak Serena coba aja dari dulu kakak pasti udah punya anak " Mereka kembali melangkahkan kakinya perlahan.
"Ia Nay jalan buntu akhirnya Serena juga" Endy tersenyum pelik.
"Kak Endy surah mau nikah, sedangkan kak Dika calon aja ngak punya, entah kapan dia menikah" Nayla tertunduk sedih melihat kakaknya yang belum move juga dari cinta pertamanya.
" Bentar lagi juga dia bakal nyusul Nay, kamu tahu Nay sebenarnya kami sedang taruhan" Jelas Endy membocorkan rahasia taruhannya bersama Dika. Karena lelaki ini paling tak bisa menyembunyikan apa pun pada bule Jermannya.
Nayla mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Endy kemudian menghentikkan langkahnya.
__ADS_1
"Taruhan apa?"
"Taruhan siapa lebih dulu menikah dia pemenangnya" Jelas Endy tak bersemangat karena taruhan itu kebahagian pernikahannya pun di pertaruhkan apa dia bisa mencintai Serena dan terjebak seumur hidup dalam pernikahan tanpa cinta namun di fikirannya yang penting ia menang, cinta urusan belakangan.
"Apa taruhannya" Tanya Nayla mengintrogasi ia tak senang mendengar mereka mempertaruhkan masa depan pernikahan mereka.
"Yang kalah menanggung semua biaya pernikahan yang menang" Jelas Endy tertunduk lesu.
"Kak masa nikah dibuat taruhan sih, ini masalah masa depan kalian dan perasaan jangan sampai kalian terjebak dengan pernikahan tanpa cinta lalu menyesali pernikahan kalian nanti" protes Nayla meningatkan dampak kehidupan mereka kelak.
"Ngak kok Nay, ini ada bagusnya juga kami ngak akan bermain-main lagi.
"Kok kak Dika mau aja sih taruhan begitu dia pasti kalahlah cewek aja ngak punya, apa lagi yang mau diajak nikah" Nayla tak bersemangat ia sama seperti yang lainnya jika kakaknya pasti kalah bahkan kalah sebelum berperang Endy bahkan sudah punya calon tinggal melamar lalu menentukkan hari sedangkan kakaknya menyedihkan.
"Ngak tahu kakak kamu tuh nekat, biarkan saja uang kakak kamu kan banyak, ngak bakalan habis hanya untuk menanggung pesta mewahku nanti, anggap aja lagi nikahin saudaranya" Jelas Endy.
"Ayo" Mereka Telah sampai didepan toko perhiasan dan Nayla mengikuti langkah Endy mereka kemudian masuk mulai memilih cincin lamaran untuk Serena. Akhirnya Endy menjatuhkan pilihannya pada wanita yang telah menunggunya lama yang sangat tahu segala sifat buruk Endy yang selalu dekat dengan banyak wanita namun dengan sabar ia menunggunya.
Setelah lama memilih dan membayar cincin yang cocok mereka pun pergi meniggalkan tempat itu.
"Endy kembali memegang tangan Nayla berjalan mengitari Mall.
"Aduh" Endy berhenti berjalan memegang kepalanya yang terasa berat.
"kakak kenapa?" Tanya Nayla memegang bahu Endy.
"Kepala kakak pusing banget Nay" Keluh Endy.
"Kakak demam" Nayla menaruh telapak tangan dikening Endy"Kakak banyak fikiran kali karena mau nikah." Goda Nayla.
"Memang beberapa hari ini kakak kurang tidur"
Akhir-akhir ini hatinya sangat bimbang memikirkan keputusannya melamar Serena yang dihatinya sama sekali tak ada nama wanita itu hanya karena ia iba melihat perjuangan Serena menunggunya akhirnya ia memutuskan untuk menikah.
"ini pasti doa jomblo yang teraniaya yang ada dirumah hingga aku pusing begini, kencan terakhir jadi kacau, sama seperti kencannya yang batal. Batin Endy yang telah kena tulah akibat kebohongan Dika yang mengatakan ia sakit sekarang ia benar-benar sakit.
"Kalau begitu kita pulang" Ajak Nayla mengakhiri jalan-jalannya.
"Ngak mau, ini kencan terakhir kita ngak boleh pulang" Tolak Endy masih berjalan mengenggam tangan Nayla. ia tahu betapa susahnya mendapatkan izin Aska untuk membawa Nayla.
"Kak Endy muka kakak pucat banget tuh pokoknya kita harus pulang dan istrirahat dirumah, jalan malam jumatnya ditunda dulu nanti kita jalan lagi, kakak tenang saja Nay tinggal merayu kak Aska untuk mengijinkanku, kita pasti jalan-jalan lagi, sekarang kita pulang ya" Paksa Nayla. Meyakinkan Endy jika ia dengan muda menaklukkan suaminya.
"Mana kunci mobilnya?"
"Kamu tahu nyetir Nay?"
"Ya ia lah bule Jerman inikan bisa segalanya, Nay juga udah punya sim"
***
Nayla dan Endy telah sampai dirumah merekaasij berada didalam mobil, bersitap didalam mobil ketika mereka melihat ada mobil lain yang terparkir didepan rumah.
"Kak Endy mobil siapa?" Tanya Nayla yang duduk dikursi kemudi. menatap lurus kedepan.
"Ngak tahu Nay" Endy mengendikkan bahunya kemudian membuka pintu turun dari mobil disusul Nayla juga turun.
Mereka kompak melangkahkan kaki masuk kedalam rumah dengan wajah penasaran mereka belum mengenali mobil itu, siapa gerangan yang berkunjung. mata mereka menyusuri seluruh ruangan mencari tamu itu.
Saat masuk ke dalam ruang tengah mereka disambut oleh seorang wanita cantik, Nayla menarik kedua sudut bibirnya melihat wanita itu lalu berhambur kepelukkannya.
"Kak Caren... Apa kabar?" Tanya Nayla memasang wajah ceria memeluk caren yang telah lama tak bertemu, semenjak kakaknya mengakhiri hubungannya denganwanita ini, ia sudah tak pernah bertemu lagi. Caren seolah menghindar dan sekarang ia kembali, Nayla dan Endy bertanya dalam hati apakah Caren kembali untuk Dika.
"Baik Nay" Membalas pelukkan Nayla.
"Hai Endy apa kabar" tanya Caren mengarahkan pandangannya pada Endy saat sambil memeluk Nayla.
"Baik" jawab Endy datar berlalu masuk ke dalam ruangan kepalanya sangat pusing. berniat istirahat ia melihat Dika juga duduk ia pun menghampirinya lalu duduk disebelahnya.
"Nay kakak pulang dulu ya?" Caren melepaskan pelukkannya.
"Kok pulang sih, cepat banget kita kan belum ngobrol" Nayla mengerucutkan bibirnya. Ia masih ingin bersama Caren.
"Ia kakak sibuk, kakak harus pulang, lain kali ya kita bicara" Caren kemudian berlalu dengan cepat meninggalkan rumah.
Nayla mematung merasa aneh dengan sikap Caren. kemudian tak ambil pusing ia masuk keruang tengah ia melihat Dika dan Endy duduk berdampingan Nayla ikut duduk disamping mereka hingga kini posisi Dika berada ditengah.
"Cie.....cie kak Dika yang habis ketemu mantan" Goda Nayla
Endy yang tadi duduk bersandar duduk tegak hendak mengejek sahabatnya.
"Kayaknya, kak Endy bakal kalah taruhan nih, gawat kakak kamu ngajak mantanya balikkan" Timpal Endy yang kompak dengan bule jerman.
Dika hanya diam menasang wajah tak bersemangat. mendengar ejekkan sahabat dan adiknya.
"Ia...kak Endy judulnya mantan minta balik" Semakin gencar mengganggu Dika.
"Diam kalian pergi sana jangan mengagangguku" Bentak Dika kesal.
"Kak Endy tinggal nyari tanggal tuh, terus nikah"
__ADS_1
"Ternyata kau sangat ingin sekali untuk menang hingga mengajak Caren balikkan lagi" Endy mendorong bahu Dika dengan bahunya.
"Aku bilang hentikan...cukup sudah" Bentak Dika suaranya meninggi membuat Nayla dan Endy tersentak. Wajah Dika dipenuhi amarah. ia bangun dari duduknya berdiri dihadapan dua orang berisik itu
"Aku tidak pernah memanggilnya kemari dia datang sendiri, dia datang kemari bukan untuk mengajakku balikkan, tapi dia kemari meminta izinku untuk mengihlaskannya bersamamu, dia akan mengerjarmu....puas kalian" Jelas Dika penuh Emosi perasaanya sangat sakit wanita yang sampai sekarang belum bisa ia lupakan datang meminta izin untuk mengejar sahabatnya hati siapa yang tak hancur.
Bak tersambar petir Endy dan Nayla mendengar ucapan Dika,mereka dengan cepat berdiri, mereka telah salah paham mengirah bahwa Caren mengajak Dika balikkan ternyata hanya untuk mengejar Endy cinta pertamanya.
Dika kemudian pergi meninggalkan mereka yang tiba-tiba membisu, ia masuk ke dalam kamarnya.
"Dika" Panggil Endy.
"Kak" Panggil Nayla mengikuti langkah kakaknya masuk ke dalam kamar. Nayla melihat kakaknya duduk dipinggir tempat tidur. kemudian ikut duduk.
"Kak"
"Keluar Nay kakak mau sendiri" pinta Dika.
"Kak sedih, kakak marah sama kak Endy?" Tanya Nayla.
"Ngak aku hanya kecewa semua yang kami lalui selama bertahun-tahun menjalani hubungan dengannya, ternyata semua ngak ada artinya baginya, kakak menyesal hanya membuang-buang waktu bersamanya" jelas Dika raut wajah kecewa, sedih bercampur menjadi satu.
"Sudahlah lupakan dia" Nayla memeluk tubuh kakak tersayangnya.
"Nay kamu tahu kakak menjalani hubungan dengannya hampir 8 tahun dan itu sama sekali ngak berarti baginya dan dia hanya mencintai Endy selama ini ....sahabat kakak" jelas Dika.
Caren Adalah cinta pertama Endy dan Caren juga mencintai Endy mereka dulu saling mencintai namun Dika hadir diantara mereka akhirnya atas dasar persahabat Endy merelakan cinta pertamannya ternyata itu adalah kesalahan terbesarnya sepasang kekasih ini tak bahagia dua duanya merasakan sakit bahkan Endy pun menderita ia berhasil menemukan cinta baru namun lagi-lagi terjebak dengan sahabatnya bahkan sampai sekarang ia belum bisa melupakkan cintanya.
"Sudahlah kak,dia bukan yang terbaik untuk kakak lupakkan dia" Saran Nayla
" Nay 8 tahun itu lama, ngak semudah itu"
"Kak Nay tahu kak Caren juga merasakan hal yang sama sakitnya, ia juga terjebak dalam percintaan kalian bertahun-tahun." Jelas Nayla.
"Sekarang kakak harus bangkit, kakak taruhan dengan Kak Endy kan, carilah gadis yang baik, lalu menikahlah"
"Nay kakak sudah berusaha, mencari tapi ngak ada yang bisa menggantikkannya, lagi pula teman wanita kakak anak club malam semua, kamu mana mau " jelas Dika yang memiliki adik cerewet dalam memilih pasangan untuknya
"Nanti Nay bantu carikan gadis untuk kakak"
"Cari.. gimana kamu aja ngak punya teman cewek, jangan bilang Hana dan Luna, Kak ngak mau"
"Kakak tenang aja, Nanti Nay bantu cari perepempuan yang baik kalau perlu kakak Nay daftarkan ikut kencan buta,hahahahha" Ledek Nayla
"tapi kalau ngak menemukan perempuan lain apa boleh buat kakak harus memilih teman Nay antara Hana atau Luna." Tawar Nayla sahabatnya yang sangat tergila-gila pada Dika
"Gadis berisik,ngak mau... kakak mending melajang seumur hidup dari pada menikah dengan mereka, kakak bisa gila." Tolak Dika.
Sejenak Dika melupakan kesedihan mendengar ocehan adiknya yang akan mencarikannya jodoh.
Diluar ruang tengah Endy duduk termenung kepalanya bertambah pusing dengan semua masalah yang ada baru saja mau melamar Serena sekarang cinta pertamanya muncul dan mengaku akan mengejar cintanya. Endy sibuk dengan lamunannya tak sadar jika disampingnya telah duduk sahabatnya Aska.
"Mana Nayla?" tanya Aska pada lelaki yang termenung disampingnya.ia sangat merindukkan istrinya tak memperdulikkan apa yang sedang difikirkan sahabatnya.
"Endy"
"Endy" Teriak Aska memukul keras bahu Endy.membuat lamunan lelaki itu buyar
"Dia berada dikamar Dika sedang bicara dengan kakaknya" Jelas Endy.
"Kenapa Dika?" Tanya Aska
"Tadi Caren kemari, menemui Dika lalu meminta izin padanya jika ia ingin bersamaku dan akan mengejarku," Jelas Endy menceritakan pada sahabatnya, mereka sangat terbuka tak ada satu hal pun yang mereka tutupi mereka sudah seperti saudara suka dan duka dibagi bersama.
Aska membuang nafas kasar.
"Dia juga tadi ke kantorku, meminta agar aku kembali menerimanya bekerja diperusahan" Jelas Aska.
"Lalu" Tanya Endy penasaran ingin tahu langkah apa yang diambil sahabatnya ini
"Aku menolaknya" Ucap Aska santai.
"Kenapa? kau kejam sekali ,ia kan hanya bekerja" hardik Endy
"Karena dia itu ngak baik untuk persahabatan kita, aku tidak mau kau berselisih paham dengan Dika masalah wanita, cukup satu perempuan saja yang membuat persahabatan kita kacau bule Jerman, aku tidak mau ada penggangu lagi jadi semua yang bisa mengacaukan hubungan kita aku akan menghidarikannya. dan lihatlah hari ini Dika pasti patah dan hubunganmu dengannya mungkin akan sedikit terganggu" Jelas Aska dengan lantang sekarang mereka ber4 telah bahagia dan belajar dari kesalahan dulu ia yang selalu bertengakar dengan Endy hanya karena Nayla dan ia tak ingin itu terulang pada Dika dan Endy bertengkar hanya karena wanita.
Endy terperanga mendengar penjelasan sahabatnya yang tak ingin persahabatannya kacau hanya karena wanita
" Baiklah....Kau memang yang terbaik brother" Endy merangkul pundak sahabatnya. penuh rasa bangga.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Like, coment, vote... ya..
"