Jodoh Pilihan Kakakku

Jodoh Pilihan Kakakku
Kantor


__ADS_3

Endy dan Dika duduk berdampingan diruang santai tengah berbincang seru seperti biasa. Nayla yang melihat kedua pria itu berkumpul kemudian ia menghampirinya, bergabung duduk diantara dua pria itu. Nayla menghempaska tubuhnya diantara kedua pemuda itu.


"Ih Nay" keluh Dika melihat tingkah Adiknya.kemudian menggeser tubuhnya.


Nayla menghadapkan tubuhnnya pada Endy,


"Kakak ngak ke kantor?" Tanya Nayla.


"Ngak Nay, cape banget loh ngantor, rasanya kakak mau gila ngantor selama setahun bareng Aska.? Keluh Endy yang merasa sangat frustasi menjalankan kehidupan kantor selama setahun yang peraturannya begitu ketat.


"Sepertinya kakak butuh liburan deh!" Ucapnya tak bersemangat menyandarkan kepalanya dipundak Nayla.


"Liburan!!" Seru Nayla seketika matanya berbinar mendengar kata liburan, ia yang selalu bersemangat jika hal itu menyangkut jalan-jalan.


"Ia, sepertinya seru tuh kalau kita liburan" Endy mulai bersemangat kembali melihat Nayla yang juga senang dengan rencana.


"Ide bagus tuh, udah lama kita ngak liburan, memangnya mau kemana? Tanya Dika yang biasanya memasang wajah datar jika mendengar obrolan heboh dua orang yang ada disampingnya. tapi kali ini ia juga tertarik dan setuju.


"Kak Endy kita kemana?" Tanyanya bersemangat senyum ceria dari tadi menyungging dibibirnya


"Kita kemana ya?" Endy berfikir.


"Yang dekat saja, aku harus kembali mengecek pekerjaanku" Saran Dika mengarahkan pandangannya pada dua orang yang memiliki expresi yang sama


"Bagaimana kalau kita kepantai saja" Usul Dika sepertinya ia lebih antusia dengan liburannya kali ini.


"Ia boleh juga, besok kita ke pantai" Ucap Endy telah memutuskan tempat liburannya.


"Asik liburan...." Teriak heboh Nayla "Nay akan memperiapkan semuanya"


"Ih...Nay sepertinya kita harus belanja deh, kakak harus menyiapkan sunblock biar kulit kakak ngak terbakar, Ntar ganteng kakak hilang.


"Nay juga mau siapkan makanan yang banyak"


"Nay kita juga butuh topi pantai"


"Ia bagus juga kalau kita pakai baju samaan"


"Nay kita ke mall yuk!" Ajak Endy.


"Boleh kita harus belanja untuk keperluan besok"


Dika mendengus, wajahnya kembali tak bersemangat mendengar persiapan heboh dua orang yang ada disampingnya.


Dret...dret...dret... Getar ponsel terdengar dari saku Nayla, ia teringat jika telah mengantongi ponsel Aska yang tertinggal di meja makan karena ia pergi buru-buru.


Nayla merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel Aska, Dika dan Endy melihat ponsel yang digenggaman Nayla.


"Tadi ponsel kak Aska tertinggal dimeja makan" Nayla menunjukkan ponsel itu.


" Ceroboh sekali dia" gerutu Dika


"Itu pasti telepon penting, banyak pekerjaan Aska dihandpone itu, kita harus mengantarkannya. " Saran Endy.


"Baiklah kita harus mengantarkan hp itu ke kantor lalu kita ke mall" Ajak Dika memberi saran.


"Bersiap lah, kita belanja"Dika berdiri.


Merekapun sepakat mengantarkan ponsel Aska lalu berbelanja dimall mempersiapkan keperluan liburan besok, mereka berhambur ke kamar masing-masing untuk bersiap.


🌺🌺🌺


Mobil telah terhenti didepan kantor Dirgantara Mitra hendak mengantarkan ponsel Aska yang tertinggal, 3 orang yang berada didalam mobil terdiam tak beranjak dari tempat duduknya.


"Apa yang kalian tunggu masuk sana," titah Dika yang duduk dikursi kemudi


"Kak Endy masuk sana, ini ponselnya" Nayla merogoh tasnya mengeluarkan ponsel itu lalu memberikannya pada Endy.


Endy tak mengambil barang itu, ia menolak


"Kamu aja yang masuk Nay, nanti gadis-gadis itu mengejar kakak," Tolak Endy Alibi dengan alibi itu.


"Kok Nay sih," Protes Nayla


"Nay, gadis yang pdkt sama kakak, pada ngambek semua karena aku gandeng kamu ke acara kantor kemarin, semua meminta penjelasan tentang hubungan kita" Jelas Endy sang playboy yang takut mengahadapi gadis di kantor sekarang.


"Hahahahah dasar playboy kena batunya kan?" Ejek Nayla.


"Makanya berhenti bermain-main dengan gadis-gadis itu," Timpal Dika ketus.


"Sudah kita harus cepat, kita masih harus belanja, kapan kita pergi jika kalian hanya berunding disini" Dika mulai bosan.


"Kau saja" tawar Endy pada Dika.


"Kau saja aku malas berhubungan dengan kantor" tolak Dika


"kamu"


"kamu"


Cukup lama mereka berunding tak ada yang bersiap masuk ke dalam sana,

__ADS_1


"Nay turun sana," Dika menyuruh adiknya.


"Tolong.., apa pun yang kamu ingin kan nanti kakak belikan" Tawar Endy .


Nayla mengerucutkan bibirnya ketika ia yang diberi tugas untuk masuk ke dalam, kantor yang ia tak tahu seluk beluknya, ia takut tersasar jika masuk kedalam.


"Dimana ruangannya?"


"Dilantai 27, kami tunggu disini, jangan lama-lama ya"


Nayla keluar dari mobil dengan wajah tak bersemangat.


"Nay titip saja pada sekertaris yang ada diluar ruangan, kamu juga ngak akan bisa ketemu Aska, sangat sulit menemuinya. kecuali...." Endy menggantung kalimatnya.


"Kecuali apa? Tanya dengan wajah penasaran


"Kecuali kamu mengaku istrinya.." Goda Endy.


Nayla melengos pergi meninggalkan dua pria yang kali ini menang lagi untuk merintahnya. Ia melangkahkan kakinya masuk kedalam kantor mengikuti petunjuk yang diberikan Endy, bola matanya memutar melihat betapa besar kantor milik suaminya seketika ada rasa bangga dihatinya pada suaminya. Ia terus berjalan ia melihat karyawan yang memperhatikan sama seperti acara kemarin


Kenapa sih mereka, mereka ini ngak pernah lihat gadis bule ya, emangnya aku ini artis dilihat seperti itu, karyawan kak Aska payah " batin Nayla. Ia tertunduk berjalan berlalu pergi.


Setelah mencari tak beberapa lama dengan mudah ia menemukan tempat yang dimaksud. Ia melihat beberapa wanita cantik duduk berjajar didepan meja kerja. tak jauh terlihat ruangan yang diatasnya tertulis ruangan presdir.


Nayla menghampiri wanita yang duduk dimeja kerja itu


"Selamat siang ada yang bisa saya bantu" Sapa wanita cantik didepan Nayla.


Sejenak Nayla teringat pesan Endy yang mengatakan betapa susahnya menemui Aska. Nayla kemudian membuka tas yang ia selempang kemudian merogoh ponsel Aska yang ada didalam tas.


"saya ingin mengantarkan ponsel ini pada kak Aska, emm, pada pak Aska" ralat Nayla


Wanita itu mengerutkan dahinya memasang wajah heran, berfikir keras mengapa gadis remaja, ini bisa memegang ponsel presdirnya.ia memperhatikan wajah Nayla lekat kemudian mengulurkan tangannya dan menerima ponsel itu.


"Kami akan memberikannya"


"Maaf nona nama Anda siapa?"


"Bilang saja dari bule Jerman" Nayla tersenyum manis kemudian pamit meninggalkan tempat itu. ia menarik nafas lega akhirnya urusan ponsel itu selesai juga.


Setelah kepergiaan Nayla wanita itu kemudian masuk kedalam ruang presdir untuk menyerahkan pknsel itu.


Aska duduk di kursi kebesarannya menatap layar laptopnya dengan serius,dihadapannya duduk pak Chan sedang memeriksa laporan, mereka tidak memperdulikan apa pun, ia bahkan tak menyadari ada orang yang masuk kedalam ruanganya,


"Permisi pak saya mengantar handphone bapak yang tertinggal dirumah," ucap wanita itu.


Aska mulai teringat jika ia melupakan ponselnya dimeja makan karena tadi mereka yang terus mengejeknya, tapi ia baru menyadarinya pantas saja ia merasa aneh ternyata handphonennya yang tertinggal, jika sudah bekerja ia terlalu fokus.


"Taruh saja disitu" Aska mesih sibuk dengan pekerjaannya.


"Kenapa kau tak menyuruh pak Endy masuk ke ruangan ini?" Tanya pak Chan, yang mencari Endy yang setahun ini telah menjadi patner, teman seperjuangan kerjanya, sama-sama sering merasakan amukan Aska.


"Maaf pak, bukan pak Endy yang mengantar ponsel itu"


Aska mendengar pengakuan wanita dihadapannya ini, menjadi penasaran sejenak Aska mengalihkan pandanganya dari laptop itu. menunggu jawaban bawahannya itu karena selain Endy tidak ada lagi yang akan menemuinya, hanya mengantarkan ponselnya.


"Lalu siapa?" Pak Chan penasaran


"Seorang gadis"


"gadis" pak Chan semakin heran


"Seorang gadis yang mengatakan namanya bule Jerman" Jelasnya singkat.


Aska tersentak kemudian berdiri dari kursi kebesarannya, ia tak menyangkah Nayla akan datang kekantornya. wanita yang ada dihadapannya itu seketika terkejut melihat reaksi Aska


"Lalu mana dia" Tanya Aska tak sabar mendengar jawaban wanita


"Pergi pak" Mulai ketakutan saat Aska menatap tajam dan mendekat padanya seperti sedang mengintrogasinya.


"Kenapa kau tak meyuruhnya, masuk menemuiku" Kesal Aska


"Maaf pak, saya kira bapak sibuk dan tak ingin diganggu dan ia tak memiliki janji untuk bertemu" Alibi wanita itu membela diri ia mengikuti semua sesuai prosedur.


"Ingat wajah gadis itu baik-baik, lain kali ia kemari ia tak perlu mengatur janji untuk bertemu denganku"


Aska kemudian berlari keluar ruangan mencari keberadaan istrinya, ia hendak mengejarnya.


Nayla berada dilobby langkah keluarnya tertahan ketika melihat, melihat handangan pria yang kemarin menggodanya.


"Aduh... kenapa harus bertemu buaya darat kantor, kenapa mereka disini, " Batin Nayla.


Nayla mencoba mererobos handangan pemuda yang masih penasaran padanya.


"Hai gadis bule kita berjumpa lagi, sepertinya kita berjodoh" Ucap mereka kompak.


"Kamu kesini mau daftar jadi model ya..." Tebak salah satu dari mereka yang melihat kecantikan Nayla layak setara dengan model papan atas padahal tinggi badan Nayla sama sekali tidak menggambarkan jika gadis ini model.


"Nama kamu siapa, Kenalan dong?" tanya mereka namun Nayla hanya diam.


"Minggir kalian, aku mau lewat" Ucap Nayla ketus tak memberikan sikap manis pada pemuda yang menggodanya.

__ADS_1


"Boleh minta nomer handphone kamu?" pinta salah satu pemuda itu.


"Kamu tinggal dimana aku antar ya" Tawar lagi pemuda yag berlomba mencuri perhatian Nayla.


"Jangan menggodaku atau kalian akan menyesal, menggangguku bisa membuat kalian ngak bisa membayar cicilan, kalian akan menjadi penggangguran jika mengganguku" Ucap Nayla dengan tangan terkepal ia sangat kesal pada pemuda yang ada dihadapannya,


"hahahaha lucu banget gadis bule" Kompak mereka tertawa


"Jangan mengangguku, aku sudah menikah" Ucap Nayla menyeringai agar pemuda yang didepannya berhenti menggodanya kemudian membebaskanya.


" Kamu sekolah dimana, ntar aku jemput kalau pulang" tak menghiraukan pernyataan yang keluar dari mulut Nayla mereka tak percaya gadis cantik semuda Nayla telah menikah.


Menyebalkan banget sih nih buaya darat kantor, kok bisa kak Aska punya bawahan gila kaya gini, bagaimana cara menghindarinya, aku bahkan sudah mengaku menikah mereka masih tak melepaskanku, aku kasian pada kalian kalau kak Aska tahu habis kalian" Batin Nayla.


Nayla berjalan hendak menerobos


"Nama dan nomor hp kamu dulu"


Nayla mulai kehilangan kesabaran menghadapi pemuda ini apa lagi ponselnya telah berbunyi berkali-kali itu pasti Endy dan Dika yang telah lama menunggunya.


Cukup lama ia tertahan, lalu tempat itu tiba-tiba seketika ramai ketika pemuda tinggi itu datang dan berdiri dibelakang Nayla.


"Apa yang kalian lakukan" Bentak Aska meninggikan suaranya melihat gadis yang ia cintai dari kemarin didekati oleh bawahannya.


"Pak presdir, Maaf pak" Kompak mereka tertunduk tubuh mereka seketika bergetar berhadapan dengan pemilik perusaahan ini.


"Kak Aska" ucap Nayla yang juga terkejut melihat pria itu dibelakangnya.


"Kenapa kalian menggangunya"


"Maaf pak, kami hanya ingin tahu namanya"


"Dari kemarin kalian sangat ingin tahu tentang gadis ini kan!"


"Biar aku yang akan memberitahu kalian, ingat namanya baik-baik ini sangat penting bagi kalian tahu" Ucapnya menyeringai, dengan tatapan tajam.


Namanya nyonya Kimberly Askara Dirga.


Sejenak mereka bingung dengan nama yang disebut oleh presdir ini namun kemudian sadar ada nama bosnya dibelakang nama gadis ini, kemudian mulai tercengang seketika tubuh mereka cicit, bergetar ketakutan, mereke menyadari telah melakukan kesalahan besar, menggoda istri bos.


"Gadis yang kalian goda dari kemarin itu istriku" Aska merangkul bahu Nayla dengan posesif menunjukkan jika gadis ini miliknya.


Nayla tercenggang sama kagetnya dengan pemuda yang ada dihadapannya,mendengat ucap yang Aska telah mengakuinya istri didepan bawahannya. perasaan campur aduk perasaan bahagia, namun juga takut orang akan menghormatinya. Ia merasa tidak nyaman.


"Pak Chan, seluruh karyawan yang berkumpul disini potong gajinya" Ucap Aska.


Tuh kalian, aku bilang juga apa, jangan mengganguku, kalian beruntung ngak babak belur dihajar olehnya. batin Nayla


"Apa yang kalian lihat, kembali ke tempat kaliaan" Bentak pak Chan.


Mereka pun pergi Nayla menarik nafas lega, kemudian ia juga mencoba melangkahkan kakinya.


"Kak Aska, Nay pamit dulu, udah ditunggu sama kak Dika didepan" Pamit Nayla dengan cepat melambaikan tangannya juga ingin keluar gedung.


Aska menarik tangan Nayla kembali merangkul bahunya.


"Mau kemana? kamu sudah disini, ayo ikut kakak" Aska merangkul tubuh mungil Nayla tersenyum menyeringai, ia tidak akan melepaskan dengan mudah pujaan hatinya yang sudah datang menemuinya.


Aska membawa Nayla masuk ke dalam ruangannya, Nayla pun melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan tersebut matanya berputar menyusuri ruangan itu, yang begitu besar dengan kemewahan didalamnya.


"Wah hebat ruangan kerja ini besar sekali, mewah banget. terlalu besar untuk jadi ruangan presdir, jika sendirian pasti sangat sepi.


Tunggu dulu.... apa yang ku ucap tadi, sepi...sepi"


Seketika ia tersadar ini adalah ruang besar yang sepi dan ia hanya berdua dengan suaminya didalam.


Nayla membalikkan kepalanya ke belakang dengan cepat dia melihat Aska berdiri melipat tangan didada, menatapnya lekat tersenyum penuh arti padanya, wajahnya seperti melihat mangsa yang siap ia terkam, seketika raut wajah Nayla berubah cemas ia kembali salah tingkah, tubuhnya memanas


Nayla membalikkan tubuhnya hendak keluar ruangan. ia tak sanggup menghadapi wajah tampan yang ada dihadapannya, detak jantungnya mulai tak bisa diajak bekerja sama serasa ingin lepas.


Kak Aska, Nay harus pergi, aku ada janji ke mall bareng kak Dika dan kak Endy" Alibi Nayla untuk menghindari lelaki yang membuatnya jantungnya berdetak karuan, lalu berjalan cepat hendak keluar namun Aska menahan tubuhnya kemudian mendudukkannya disofa.


"Disini saja, jangan kemana-mana" Ucap Aska tersenyum gemas, menatap wajah Nayla yang kembali merah dan malu-malu jika didekatnya.


Aska meraih handphone yang berada dimeja kemudian terlihat menggeser layarnya kemudian menaruhnya ditelingannya.


"Kalian pergilah, dia akan tinggal bersamaku," Ucap Aska singkat.


Deg......mendengar ucapan Aska ditelpon membuat tubuhnya seketika lemas seperti tak dialiri darah lagi, ia tertunduk mengcengkram kedua tangannya, ia seperti tak bisa bernafas, didalam ruangan itu,membayangkan ia akan berdua suaminya tanpa penggangu lagi, ia sudah tak punya alasan untuk menghidar lagi, fikiran liarnya mulai kemana-kemana.


"Ya...tuhan habislah aku" Batin Nayla.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.Jangan lupa tinggalkan jejak Like,coment,vote ya.....


terima kasih.....


__ADS_2