
Endy telah berhasil mengelabui Aldy dan kawan-kawannya, ia telah sampai di depan rumah sakit tanpa ada yang mengikuti, endy memarkirkan motornya. Nayla turun dari motor disusul dengan Endy, Nayla langsung menggandeng tangan Endy menyandarkan kepalanya dibahu Endy kepalanya terasa berat.
"Kamu ngak apa-apa Nay?"Endy memastikan kondisi Nayla sebelum masuk dalam rumah sakit ia melihat wajah Nayla yang pucat.
"Kepala Nay pusing banget" Keluh Nayla membuat Endy bertambah khawatir
"Ayo kita masuk" Ajak Endy merangkul bahu Nayla agar bisa bersandar ditubuhnya.
Mereka pun masuk ke dalam gedung rumah sakit melewati lorong-lorong rumah sakit dengan bau obat-obatan yang membuat Nayla bertambah mual. Mereka berjalan perlahan memperhatikan letak ruang periksa hingga sampailah ia disebuah ruangan yang telah banyak orang duduk berjajar menunggu panggilan pemeriksaan. Endy mendudukan Nayla dengan hati-hati di bangku rumah sakit lalu mendaftarkan nama Nayla lalu kembali menunggu, Nayla duduk di antara antrian orang yang menunggu pemeriksaan ia lagi-lagi menyederkan kepalanya dibahu Endy, ia tak tahan dengan berat kepalanya, Nayla dan Endy menatap pintu pemeriksaan ketika terdengar suara pintu terbuka dan pasien keluar. Setelah pasien keluar seorang wanita yang duduk di meja di samping pintu berdiri menunduk kearah buku yang ada di meja lalu memanggil nama pasien selanjutnya.
"Kimberly Nayla Sanders" Panggil perempuan itu.
Nayla mengernyitkan dahinya heran. Ia baru saja sampai mengapa namanya langsung dipanggil.
"Ayo Nay nama kamu udah dipanggil tuh" Ajak Endy masih duduk menunggu Nayla menggerakan kepalanya.
"Kak Endy kok kita duluan" Tanya Nayla heran lalu tersenyum kecut dengan para pasien yang lebih dulu datang berjajar menunggu antrian.
"Kakak menyogok peremuan itu Nay, pake pelicin biar urusan gampang" Ujar Endi tersenyum menaikan alisanya.
Iih ...Kak Endy" Nayla mencubit pinggang Endy
"Ngak kok......Nay rumah sakit ini milik Aska dan Kak juga donatur disini jadi kita bisa minta duluan, kita tinggal menjual nama Aska jangankan satu dokter, kamu mau seluruh dokter yang memeriksa kamu juga bisa "Jelas Endy terkekeh
"Kak Endy itu namanya curang, budayakan antri dong" Protes Nayla suaranya lirih
"Ayo masuk" Endy merangkul bahu Nayla masuk kedalam ruangan, didepan pintu ruangan seluruh antrian yang duduk dari tadi berdiri protes dengan perawat yang bertugas memanggil nama pasien, membuat suara diluar terdengar gaduh.
Nayla dan Endy disambut oleh dokter lelaki paruh baya terlihat jika dokter itu banyak memiliki berpengalaman dalam menangangani pasien, dan ia adalah dokter tebaik.
Nayla melalui proses pemeriksaan mulai tekanan darah, ia mengungkapkan keluhannya yang terjadi pada tumbuhnya, menjawab pertanyaan-pertanyaan dokter, hingga tibalah ia dari hasil pemeriksaan.
Nayla dan Endy duduk berdampingan Nayla menyadarkan tubuh lemahnya.
"Dia sakit apa dok?" Tanya Endy penasaran menatap dokter yang wajahnya datar melihat Nayla.
"Anda suaminya?" Tanya dokter menatap tajam seperti menemukan sebuah dosa.
Endy hanya tersenyum kecut tak menjawab pertanyaan dokter.
"Istri anda hamil" Ucap dokter yang paruh baya itu.
Endy dan Nayla kompak membelalakan matanya saling menatap.
"ha....hamil" Kompak Nayla dan Endy tersentak.
__ADS_1
Brak.....Endy berdiri menggeprak keras meja dokter lalu tersenyum.
"Apa dok dia hamil..aa...aa.....HAMIL........" Teriak Endy suaranya menggelegar lalu menggeprak lagi meja dengan keras membuat dokter di hadapannya tersentak, terkejut lalu memegang dadanya. Wajah dokter paruh bayah itu berubah pucat.
"Hamil ......Yes..." Teriak Endy senang suaranya begitu nyaring.
"Nay kamu hamil " Teriak Endy senang. Dia sangat bahagia untuk Aska. Suaranya terdengar memenuhi ruangan membuat pasien yang ada di luar lagi-lagi heboh, berdiri di depan ruangan pemeriksaan ingin mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam
"Yeh Nayla hamil ......hamil....hamil ." Bersenandung memegang tangan Nayla, mengayun ayunkannya lalu melompat lompa kegirangan seperti anak kecil.
Nayla terdiam membatu ia tak tahu apa yang harus ia lakukan apalagi melihat Endy yang seperti orang gila dan membuat dokter ketakutan.
"Kak Endy hentikan suara kakak membuat heboh rumah sakit ini" Nayla menarik tangan Endy untuk kembali duduk.
"Nay kamu hamil Aska pasti senang, kakak aja senang, apa lagi dia mungkin dia akan pingsan sangking bahagiannya" Ucap Endy menggebu memegang bahu Nayla. Kehamilan Nayla ada harapan mereka bertiga.
"Dia hamil dok" Endy mengangkat sebelah tangan Nayla keatas, dengan bangga pada dokter memamerkan kehamilan Nayla.
Endy fokus kembali melihat ke arah dokter yang hampir ia buat terkena serangan jantung, wajahnya pucat masih memegangi dadanya
"emmm bagaimana dokter tanya Endy" Kembali ke sikapnya tenang semula, ia mulai menguasai dirinya.
"Pak saya banyak melihat pasien yang senang istrinya hamil, tapi saya tak pernah lihat yang seseneng bapak hingga berteriak menggeprak meja " Ujar dokter wajahnya kesal ia masih terkejut dengan tingkah Endy, ia hampir kehilangan nyawanya karena Endy.
"Maaf dokter saya terbawa suasana" Jelas Endy masih tersenyum ia tak bisa menyembunyikan bahagiannya.
"Begini pak kondisi istri anda sangat lemah ia hamil muda, usia kandungannya baru sekitar 4 minggu, dan usia istri anda masih dalam usia rawan untuk hamil karena itu kami menyarankan agar istri anda menjalani perawatan"Jelas dokter
"Di rawat ..." Endy mengenyitkan dahinya ia hanya izin satu jam, wajahnya berubah tegang mana mungkin Nayla dirawat.
"Ia harus menerima infusan untuk mengembalikan keadaannya, ia sudah sangat lemah ia harus dirawat apalagi ia tidak makan sesuatu" Saran dokter
"Nay.." Endy menatap wajah Nayla.
"Aku ngak mau, aku ngak apa-apa kak Endy kita cuma izin satu jam pada Aldy jika kita pulang telat Aldy dalam masalah apalagi jika kak Aska tahu" Nayla sudah ketakutan membayangkan yang terjadi pada Aldy jika ia pulang telat.
"Sebentar saja Nay yang penting kamu di infus mendapatkan perawatan kita istirahat disini setelah itu kita pulang ini masih siangkan? aska pulang malam masih ada beberapa jam lagi nanti kakak jelasin ke Aldy." Jelas Endy meyakinkan Nayla.
***
Nayla dan Endy kini berada diruang perawatan rumah sakit setelah susah payah membujuk Nayla akhirnya ia mengalah dan menerima perawatan, Nayla terbaring dengan selang infus terpasang ditangan, Endy duduk menaruh kursi disamping ranjang rumah sakit setia menemani Nayla.
"Nay akhirnya kamu hamil, Aska dan Dika pasti senang, tahu kabar kamu hamil" Ucap Endy dari tadi ia selalu tersenyum bahagia sangat antusias seolah bayi dalam kandungan itu adalah anaknya.
"Entahlah apa dia bisa bahagia mendengar kabar ini, jangan beri tahu mereka dulu Nayla mohon " Pinta Nayla wajahnya datar.
__ADS_1
"Kenapa Nay" Tanya Endy.
"Kak Aska lagi marah, sudah dua hari ia tak pulang, Nay bertengkar dengannya karena jalan-jalan kita kemarin" Ujar Nayla ia tak menceritakan penyebab pertengkarannya karena Aska melarangnya berhubungan dengan Endy.
"Memang apa yang kamu katakan sampai ia semarah itu" Tanya Endy mengernyitkan dahinya ia sangat tahu sahabatnya tak akan pernah bisa marah pada Nayla.
"Nay emosi terus mengucapkan kata pisah" Nayla mengerucutkan bibirnya.
Endy menatap Nayla dengan tatapan lembut memegang tangannya memberi pengertian kepada Nayla.
"Pantas saja, Nay kamu boleh katakan padanya benci, marah, kesalmu padanya, protesmu. Tapi jangan lagi kamu ucapkan kata pisah padanya karena itu adalah hal yang paling tidak ingin dia dengar, ia bukan marah Nay, ia ketakukan sekarang" Jelas Endy ia memaklumi sahabatnya, sekarang ia berada diposisi membela Aska.
"Nay ngak pernah melihat ia semarah ini" Air mata Nayla menetes menyesali perbuatannya.
"Kau takut dengan kemarahannya?" Tanya Endy lembut.
"Tidak, Nay tidak takut dengan kemarahannya, tapi entah mengapa Nay sangat sedih, tak melihatnya selama dua hari membuatku merasa kehilangan. Nay selalu menangis jika mengingatnya dan lucunya lagi Nay sangat menyesal mengucapkan kata perpisahan aku takut berpisah dengannya, dada Nay terasa sesak saat jauh darinya, anehkah seharusnya Nay senang pisah denganya" Air matanya mengalir mengakui perasaaannya pada Endy.
Endy mendengar kata-kata Nayla dadanya juga terasa sesak dan sakit mendengar pengakuan Nayla, perasaan yang semakin kuat yang semakin menujukan cintanya kepada Aska, Nayla mulai merasakan siksanya mencintai .
"Kamu mencintainya Nay" Ujar Endy dengan tatapan lembut menjelaskan perasaan Nayla
"Cinta "Nayla mendengus.
"ngak mungkin aku cuma merasa bersalah karena telah membuatnya marah" Sangkal Nayla suaranya lirih.
Endy terus menatap wajah Nayla yang malu-malu saat Endy menyebut kata cinta.
"Kakak Endy Nay ngak cinta dengan kak Aska dia cuma Nay anggap sebagai kakak" Sangkal Nayla.
"Udah..ah ..Nay ngantuk!" Nayla mengalihkan pembicaraan.
"Tidurlah" Endy mengelus kepala Nayla.
"Kakak bangunin Nay satu jam lagi ya" Nayla memperingatkan Endy, ia tak mau pulang telat dan Aldy mendapatkan hukuman.
"Ia nanti kakak bangunin kamu " Jelas Endy menatap Nayla megelus kepalanya .
Nayla lalu menutup matanya tertidur sejenak untuk memulihkan tenaganya.
.
.
.
__ADS_1
.