
Aska dan Nayla berada di dalam mobil menuju kantor. Nayla mengiyakan untuk ikut bersama suaminya dari pada ia harus berada sendirian di apartemen, itu lebih baik dari ia pada terus terkurung, setidaknya ia bisa melihat bagaimana suasana kantor suaminya.
Sepanjang perjalanan Aska terus memeluknya, membuat Nayla hanya tersenyum melihat tingkah suaminya, dirinya semakin tersadar setiap pelukan dan ciuman yang ia terima, ia tahu betapa lelaki ini begitu mencintainya, andai dari dulu ia membuka hatinya, mungkin pria ini tak akan perlu lama menderita karena menunggunya. sekarang Aska terus memeluknya menikmati hasil perjuangaannya mendapatkan cinta Nayla.
Mobil pun terhenti mereka telah sampai didepan gedung perkantoran yang menjulang tinggi, Nayla dan Aska keluar dari mobil, Aska merangkul bahu istrinya masuk ke dalam kantor.
"Kak Aska... lepaskan orang-orang pada lihatin kita semua" Nayla merasa tak nyaman ketika Aska merangkulnya dan lagi-lagi perhatian tertuju pada mereka.
"Biarkan saja" Aska berjalan dengan wajah datar tak memperdulikan sekitarnya, beginilah Aska tak pernah menghiraukan apa pun, sikapnya yang sangat acuh pada orang lain, ia tak pernah peduli pada betapa banyak orang yang selalu menatapnya dengan penuh kekaguman.
"Ini bukan contoh yang baik untuk bawahan kakak" protes Nayla.
"Sudah jangan pedulikan orang-orang" terus merangkul Nayla menuju ruangannya.
"Kak" Nayla menghentikan langkahnya memperhatikan setiap karyawannya yang menundukkan kepala memberi hormat.
"Ada apa lagi sayang"
"Ada yang aneh dengan karyawan kakak" Mata Nayla menyelidik.
"Aneh" Aska menatap Nayla.
"Ia aneh, coba lihat mereka!, kenapa rambut perempuan disini warnanya seperti rambut Nay" Nayla mengernyitkan dahinya padahal saat pertama kesini semua biasa saja sekarang kenapa berubah.
"Ha..." Aska mengedarkan pandangannya memperhatikan karyawan yang mereka lalui.
"Kenapa kamu ngak suka rambut mereka sama denganmu?, kakak akan melarangnya"
"Tidak hanya lucu saja, mereka seperti bule" Nayla menarik kedua sudut bibirnya. kemudian terkekeh lalu kembali melangkahkan kakinya.
Bawahan di kantor masih berjuang untuk mendapatkan perhatian Aska bahkan sejak tahu tipe wanita yang disukai presdirnya seorang gadis bule, beberapa wanita mulai mewarnai rambutnya sama seperti Nayla. Siapa wanita yang tak menginginkan Aska sosok pria yang sempurna kaya raya dan tampan.
Nayla dan Aska masuk ke dalam ruangan, sebelum mereka masuk pak Chan telah berada di depan pintu ruangan memberi salam.
Aska dan Nayla kini berada dalam ruangan kerja Aska mengarahkan tubuh istrinya untuk duduk dikursi kerjanya. kemudian jongkok dihadapannya menatap wajah cantik itu.
"Sayang kamu tunggu disini ya, kakak akan memimpin rapat dan kakak akan kembali lagi." Memegang tangan Nayla.
"Baiklah Nay tunggu disini"
"Atau kamu mau ikut ke ruang rapat?, sekalian kakak perkenalkan kamu secara resmi sebagai istriku" Aska masih tak tega meninggalkan istrinya sendiri diruangan kantor.
"Ngak perlu, Nay belum siap, kakak pergi aja" Nayla memberikan senyuman termanisnya untuk menunjukkan jika dia baik-baik saja. Lagi pula perhatian suaminya bisa pecah jika ia ikut bersamanya.
"Kakak usahakan, sebentar saja rapatnya, jika kamu butuh sesuatu beritahu staf yang ada didepan ruangan ini" Aska mengelus puncak kepala Nayla kemudian mencium keningnya.
Aska keluar dari ruangan meninggalkan istrinya sendirian didalam ruangan. Nayla bangun dari duduknya melangkahkan kakinya melihat seluruh isi yang berada didalam ruangan ini, ia memeriksa setiap sudut untuk menghilangkan kebosanannya, ia melihat ada rak buku besar yang begitu banyak buku berjajar tersusun dengan rapi, ia takjub dengan begitu banyak buku yang ada diruang suaminya. Disebelah rak buku ada sebuah pintu ia menjadi penasaran untuk melihat apa isi dibalik pintu itu, dengan perlahan mencoba membuka pintu misterius. Ia memegang handle pintu kemudian membukanya. Matanya terbelalak melihat isi dibalik pintu sebuah kamar dengan ranjang besar didalamnya, ia mulai direlungi kecemasan.
"Gawat ternyata diruangan ini juga ada tempat tidurnya, aku mengira dikantor akan aman ternyata sama saja" Batin Nayla.
Terkurung tiga hari dikamar membuatnya sedikit cemas jika melihat tempat tidur. Suaminya itu tak berhenti menyerangnya, namun ia memahaminya itu adalah bukti cinta Aska padanya, setelah sekian lama merindukkannya dan menahan diri akhinya ia meluapkan semuanya.
Nayla kembali menutup pintu kamar itu, kemudian mengambil satu buah buku dirak kemudian melangkahkan kakinya menuju sofa untuk membaca buku yang ia ambil. Baru saja ia medudukkan tubuhnya, ponselnya bergetar.
"Dret......dret....dret.....Getar ponsel berbunyi ia pun merogoh tas yang masih terselempang dipundaknya lalu meraih melihat nama dilayar dan menaruhnya ditelinganya.
"Ya kak Dika" Nayla.
"Nay kamu masih dikantor Aska"Dika
" Ia kak, ada apa?" Nayla.
"Kamu pulang sebentar ya,masakin kakak, kakk rindu masakan kamu" Dika.
"Ia nanti Nay mampir ,setelah pulang dari kantor"Nayla.
"Makasih adikku sayang,"Dika
__ADS_1
Panggilan telpon terputus,Nayla meletakkan tas dan ponselnya dimeja. Kembali membaca buku untuk mengusir kejenuhannya menunggu Aska, baru beberapa lembar buku yang ia baca kantuk mulai menderanya, ini semua efek bergadang tubuhnya terasa lelah. ia memutuskan untuk tidur sejenak
Beberapa jam kemudian rapat telah berakhir Aska masuk ke dalam ruangan melihat istrinya, ia hendak mengajaknya untuk pulang, Aska menarik sudut bibirnya ketika melihat istrinya tertidur disofa dengan buku yang menutupi wajahnya, Aska kemudian menghampirinya lalu jongkok didepan Nayla meraih buku yang ada diwajah Nayla kemudian menaruhnya dimeja ia menatap wajah cantik istrinya mengecup keningnya, ia hendak menggendong tubuh Nayla masuk kedalam kamar ia tak ingin badan Nayla sakit jika tidur disofa.
Aska menggendong tubuh itu, Nayla yang tertidur merasa ada yang aneh dengan dirinya seperti melayang dengan perlahan ia membuka matanya ia telah berada dalam gendongan Aska.
"Kak Aska, turunkan aku," Nayla mengalungkan tangannya didada Aska
"Kamu sudah bangun... kakak baru aja mau bawa kamu ke tempat tidur biar tidur kamu nyaman" Masih menggendong Nayla ke kamar.
"Tempat tidur... Turunkan aku," Nayla berontak memaksa turun. fikirannya mulai liar padahal suaminya ini hanya memberikan perhatian padanya
"Kamu masih mau tidur, " Aska tersenyum melihat wajah istrinya ia menebak jika Nayla pasti memikirkan macam-macam tentangnya.
"Ngak... Nay udah ngak ngantuk" Aska masih menggendong Nayla lalu membungkan bibir Nayla dengan bibir lembut kemudian saling berpunggut sebelum Aska menurunkan Nayla dari tangannya.
"Kalau begitu ayo kita pulang, pekerjaan kakak sudah selesai"
Aska menarik tangan istrinya untuk keluar ruangan.
"Kamu mau kita pulang atau kita jalan-jalan? Tanya Aska mengayun-ayunkan tangan Nayla.
Nayla mengernyitkan dahinya sejak kapan ia boleh jalan-jalan, dulu ia harus bekerja keras menggodanya, menjatuhkan harga dirinya hanya meminta izin untuk jalan-jalan sekarang Aska yang menawarkannya.
"Tumben... memang kita bisa jalan-jalan" Tanya Nayla heran.
Aska menghentikan langkah kakinya.
"Tentu saja sayang semua telah berubah sekarang ,kamu mau kemana pun boleh" Jelas Aska sekarang ia tak perlu khawatir lagi jika Nayla keluar rumah.
"Kamu mau kemana Mall, taman, ke keliling dunia juga, kakak siap" Aska mengerlingkan sebelah matanya menggodanya, kemudian merangkul tubuh mungil istrinya, membuat wajah Nayla memerah.
"Nay mau pulang ke rumah. Kak Dika minta dimasakin" Pinta Nayla
"Baiklah kita makan malam disana"
****
Nayla dan Aska telah berada dirumah Dika. Nayla langsung menuju dapur untuk memasak makan malam untuk mereka. Seperti biasa jika Nayla memasak maka kakaknya akan duduk dimeja makan menunggu adiknya ini selesai dengan masakannya sambil mengajaknya berbincang.
"Cepat dong Nay... kakak udah laper banget nih" Keluh Dika yang dari tadi duduk menunggu adiknya menghidangkan masakan. ia sudah tak sabar menunggu lebih lama lagi dari tadi ia merasa kelaparan.
" Ia sebentar lagi, " Nayla masih sibuk dengan masakan yang ada dipenggorengannya.
"Makanya kakak nikah dong, biar ada yang urusin, lagi pula usia kakak itu sudah cukup untuk berkeluarga" saran Nayla mulai menasehati kakakknya dengan ceramah masa depannya sama seperti yang dulu ia sering lakukan.
"Nay...kakak ini cuma kangen sama kamu dan masakan kamu, kok merembet ke nikah sih" Protes Dika memasang wajah tak bersemangat kenapa adiknya ini selalu membahas pernikahan.
Melihat wajah kakanya murung Nayla kemudian menghampiri kakaknya.
"Kak, aku ngak mau memaksakan kakak nikah, hanya saja kakak jangan larut dalam kesedihan, jangan diam saja, Nay khawatir cobalah dekat dengan beberapa gadis siapa tahu hati kakak sedikit terbuka ada banyak perempuan lupakkan Caren" Pinta Nayla membujuk kakaknya untuk move on.
"Ia kakak akan coba, cepat masak sana" Dika memberikan senyumannya pada adiknya. Akhir-akhir ini adiknya ini selalu membahas pernikahan.
"Ia ...sedikit lagi, nanti Nay carikan asisten rumah tangga untuk mengurusi rumah ini." Nayla kembali dengan masakannya.
Jenuh menunggu Nayla, Dika keluar dari dapur ikut bergabung dengan sahabatnya yang berada di ruang tengah sibuk dengan ponsel masing-masing. Dika duduk menggeser tubuh Aska, hingga saat ini posisi Aska berada ditengah.
"Endy sudah seharian ini kau meladeni gadis-gadis itu, kau tidak punya pekerjaan lagi" Dika memasang wajah jengah agak kesal melihat sahabatnya itu hanya membuang-buang waktu dengan bermain handphone menghubungi para gadis.
"Sirik aja yang jomblo" ucap Endy datar, masih menatap handphonenya.
"Kau...berhenti memberikan harapan palsu pada wanita, kasian gadis-gadis itu" Saran Dika. Aska yang ada berada ditengah tak menghiraukan perdebatan sahabatnya.
"Namanya juga usaha siapa tahu aku bisa menyusul Aska dan Nayla" Ucapnya dengan semangat
"Usaha" Dika mendengus.
__ADS_1
"Dari pada kamu, hanya diam memangnya kamu usaha, selama ini ngak kan?" Endy mendongak menata Dikabyang terhalang oleh tubuh Aska.
"Aku tidak ingin menyakiti hati wanita." Alibi Dika
"Bilang saja kamu belum bisa move on dari Caren. ngak perlu bohong"
"Sialan, memangnya kau sudah ngelupain bule Jerman"
Perdebatan semakin sengit hingga membongkar kehidupan percintaan masing-masing. Aska yang duduk ditengah antara sahabatnya hanya diam saja tidak menjadi penengah ia hanya, menatap ponselnya tak menghiraukan urusan cinta sahabatnya, menurunya ia telah berada di zona aman untuk masalah percintaannya. Ia sudah tak merasakan kegalauan sama seperti sahabatnya.
"Baiklah kita berlomba move on, kita taruhan siapa yang duluan menikah," Tantang Endy
"Oke siapa yang lebih dulu menikah dia yang menang! apa taruhannya" Jawab Dika
"Siapa yang diantara kita yang akan menikah lebih dulu dia yang menang sebagai yang kalah semua biaya pernikahan yang menang akan ditanggung oleh yang kalah mulai pernikahan, resepsi, hingga bulan madu semua yang kalah yang bayar." Jelas Endy peraturan taruhannya.
"Taruhan apa itu, kalian ngak punya modal nikah sampai biaya nikah kalian pertaruhkan, yang menang pasti akan nikah gratis" Protes Aska santai masih menatap ponselnya yang berada ditengah.
"Jangan mau Dika kau pasti kalah" Aska tersenyum remeh melihat
ke arah Dika memperingatkan ia pasti kalah, teman wanita saya ia tak punya, kemudian kembali menatap handphonenya.
Dika yang merasa di remehkan mulai terpancing. tak peduli dengan peringatan Aska.
"Oke aku setuju" Dika menatap tajam kearah Endy bagaikan tatapan penuh kilatan dua sahabat ini kini berlomba.
"Bonus dariku aku akan memberikan rumah bagi yang menang" Ucap Aska santai, Aska kemudian mendapatkan pukulan dikepala oleh Dika.
"Aduh, kenapa kau memukulku" Aska mengaduh.
"Kau tadi protes dengan taruhan kami, sekarang malah nyumbang rumah" Dika meninggikan suaranya kesal melihat tingkah sahabatnya.
"Aku setuju, kita mulai dari sekarang" Endy memastikan taruhannya.
"Dika mulai ini kau menabung yang banyak, siap-siapkan saja uang untuk biaya pernikahannku, karena aku akan mengadakan pesta mewah kalau perlu resepsi 3 hari berturut-turut dan bulan madu keliling Eropa" ucap Endy dengan penuh keyakinan bahwa dia akan menang, ia tahu lawanya sangat payah.
"Jangan senang dulu, aku tidak akan kalah" Dika menyeringai.
Aska meletakkan ponselnya kemudian menaruh tangannya dipundak Dika"ck..ck..Kakak ipar aku khawatir padamu, kau pasti kalah, Kau butuh usaha yang sangat keras" Memberi semangat pada Dika seakan ia telah kalah.
"Memangnya kenapa?" Dika kesal semua meremehkannya.
"Endy itu mengenal banyak gadis bahkan dia mau menikah besok pun jadi, sedangkan kamu jangankan menikah bahkan gadis yang dekat denganmu pun kau tidak punya" Jelas Aska pada sahabatnya
"Sialan... kau meremehkanku" Umpat Dika.
"Tidak aku hanya mengingatkanmu pernikahan impian Endy bukan main-main loh, mahal... mungkin saja ia menikah dibeberapa negara" Jelas Aska.
"Aku ngak perduli, jika aku kalah, kita lihat saja nanti" Ucapnya penuh keyakinan padahal ia belum memiliki niat untuk menikah hanya karena taruhan ini dia harus mencari calon istri.
"Jika kau mau aku ada nomor kontak para gadis-gadis biar kamu bisa punya cewek, kau mau? biar kamu ngak kalah" Ucap Endy tersenyum remeh.
" Ngak... perlu banyak gadis juga yang tergila-gila padaku" Ucapnya ketus
"Endy dan Aska menyeringai melihat Dika bagi mereka bukan mudah untuk sahabatnya itu mencari pasangan, dia masih belum bisa membuka hatinya pada wanita lain bertahun-tahun membina hubungan dengan Caren tentu saja sangat sulit melupakan gadis itu.
Nayla keluar dari dapur memanggil ketiga sahabat itu untuk makan malam bersama. Suanana seketika mencair ketika mereka telah berkumpul, perdebatan tadi mereka lupakan sejenak kemudian tertawa bersama. Mulai malam ini Dika dan Endy mulai memikirkan masa depannya walaupun hanya taruhan mereka tak ingin menikah dengan sembarangan wanita. mereka akan memilih wanita yang terbaik bagi mereka.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Like, coment, Vote..ya