Jodoh Pilihan Kakakku

Jodoh Pilihan Kakakku
jangan sentuh


__ADS_3

Setelah mandi dan membersihkan diri. Nayla berdiri di balkon kamar melihat kondisi rumah dari atas, pemandangan yang dinikmatinya tak berhentinya membuatnya takjub. Sebuah rumah besar berdiri kokoh sendiri ditengah tanah yang begitu luas terhampar, seperti melihat sebuah pulau yang di tengahnya rumah besar, tanpa ada rumah lain disebelahnya begitulah perumpamaan yang dilihat Nayla .


Ia menatap jauh barisan keamanan yang berlapis-lapis berberkumpul di sekeliling rumah begitu jelas terlihat dari balkon, orang-orang berjas hitam berdiri sigap berjaga. Jangankan manusia, lalat saja masuk pun terlihat dari sini tak akan ada celah untuk kabur, benar-benar penjagaan yang super ketat.


Nayla menikmati pemandangan di bawahnya kolam renang besar dan luas dengan air jernih berwarna biru mengkilap seperti kaca sangat takjub, disamping kolam berjajar kursi santai untuk berjemur didekatnya berdiri kokoh gasebo besar berwarna putih untuk bersantai benar-benar menakjubkan, agak jauh dari kolam renang ada lapangan basket yang besar, Nayla terus mengedarkan pandangannya kali ini dia tersenyum bahagia dengan apa yang dia lihat taman bunga yang begitu luas dengan banyak bunga berwarna-warni dengan air mancur besar di tengahnya sepertinya itu akan menjadi tempat favoritnya nanti.


Nayla membungkukan tubuhnya ke pagar melihat itu semua sambil bertanya-tanya dalam hati.


"Rumah siapa ini?siapa dia ?apa betul dia Aska yang menjagaku sejak kecil, setahuku dia hanya seorang kakak Dj pemabuk kenapa setelah menikah jadi penuh misteri, aku sudah mengenalnya bertahun-tahun kenapa aku tidak tahu apa pun tentangnya dan kalau memang ini rumahnya kenapa dia lebih suka tinggal dirumahku dari pada tempat ini.


Nayla kembali melihat barisan keamana berseragam hitam yang menjaga rumah .


"Geng pemuda tanpa masa depan untuk apa dia disini? dan kenapa mereka berubah padaku biasanya bersikap kurang ajar, sekarang terlihat sangat takut dan hormat padaku, bahkan tak berani menatapku, merubah nama panggilanku yang biasanya bule Jerman.gumam dalam hati


Lamunannya buyar ketika ia mendengar suara Aska memanggil namanya, ia panik, ketakutan terlintas difikirannya tentang kamar pengantin itu, yang begitu indah, ia telah menebak Aska pasti ingin meminta haknya malam ini sebagai istrinya dan dia tak ingin itu terjadi, dia belum siap.


"Aku lebih baik mati dari pada menyerahkan diriku padanya, aku hanya menganggapnya kakak, aku hanya akan melakukannya pada orang yang kucintai" Kata hati Nayla


Nayla memanjat pagar balkon seolah ingin terjun mengakhiri hidupnya saat suara Aska semakin mendekat.


"Nayla kau disini, apa yang lakukakan Nay"Ujar Aska akan menghampiri Nayla.


"Jangan mendekat" Nayla mengambil ancang-ancang untuk terjun dan membuat Aska menjadi panik.


"Nay apa yang kau lakukan kau bisa jatuh" Aska sangat terkejut, tiba-tiba panik melihat Nayla dan mulai melangkah maju perlahan.


"Berhenti disitu, jangan maju kalau kakak maju selangkah lagi aku akan lompat" Ujar Nayla mencondongkan tubuhnya semakin kebawah matanya mulai berkaca-kaca.


Aska menghentikan kakinya menuruti permintaan Nayla.


"Jangan Nay, turun Nay kenapa, ada apa denganmu, bicara pada kakak?" Bertanya dengan hati-hati raut wajahnya sangat cemas

__ADS_1


"Aku lebih baik mati dari pada harus menyerahkan diriku padamu" Jelas Nayla berteriak air matanya mulai menetes.


"Apa maksudmu Nay" Tanya Aska tak mengerti ucapan Nayla dan semakin khawatir.


"Kakak menghias kamar ini seperti kamar pengantin, itu berarti kakak berharap malam ini kita akan melakukan hubungan selayaknya suami istrikan? dan kau kira ini akan menjadi malam pengantin kita kan??" Teriak Nayla membentak masih mempertahankan posisinya di pagar balkon.


"Tidak Nay,...ini ulah bibi May,...bukan aku yang menyuruhnya... mereka yang melakukan itu, aku juga tidak tahu soal kamar itu" Jelas Aska menenangkan Nayla meyakinkannya, apapun dia upayakan membujuk Nayla lalu dengan berat hati ia berkata.


"Hubungan kita hanya kakak-adik, aku tidak akan menuntutmu soal itu, aku tidak akan memaksamu melakukannya"Terbata kepalanya tertunduk sedih apa pun dia lakukan demi upaya membujuk Nayla hingga kata-kata menyedihkan itu terucap mengartikan ucapan bahwa hubungannya dengan Nayla tidak akan berkembang jadi cinta karena hanya menggangapnya adik.


"Turunlah, aku tidak akan menyentuhmu" Maju perlahan sambil mengulur tangannya tubuhnya bergetar.


"Benarkah ?...Kakak tidak akan menyentuhku ?" Tanya Nayla mulai meluruskan badannya namun masih berdiri dipinggir pagar balkon.


"Ia kakak janji, turunlah" Jelas Aska wajah pucat sangat tertekan, ia baru saja memilikinya selama sehari dia tidak siap kehilangannya.


Nayla menurunkan kakinya kembali ke posisi sudah berdiri tegak di pinggir pagar


"Kakak mau kau tidak boleh keluar rumah, ngak boleh kemana-mana kalau bukan tanpa izin dari kakak, kau tak boleh keluar dan patuhi kata-kataku" Jelas Aska


Nayla terdiam sejenak dengan penawaran Aska berfikir dari pada harus terjadi sesuatu yang tidak di ingikan lebih baik mengiyakan.


"Baiklah aku akan menuruti kakak" Jawab Nayla.


"Jangan lakukan itu lagi, aku akan menyuruh pelayan membersihkan kamar ini" Aska menarik nafas panjang lega dia benar-benar ketakutan tubuhnya bergetar jika saja Nayla tadi benar-benar lompat dia pasti sudah menghancurkan kamar, ini bahkan lebih gila dia membakar kamar sialan itu


Aska keluar kamar beberapa pelayan menghampirinya memberi hormat


ia memasang wajah marah seperti ingin menghancurkan semuanya.


"Bersihkan semua kamar ini! kembalikan seperti semula!karena kalian menghiasnya aku hampir kehilangan dia" Aska membentak, wajah merah, kesal, tangannya terkepal pada pelayan itu gara-gara kamar itu dia hampir saja kehilangan orang yang paling berharga dalam hidupnya.

__ADS_1


Nayla dan Aska turun untuk makan malam. Selama pelayan membersihkan kamarnya, kejadian tadi sudah cukup menguras emosi mereka hingga tampak canggu dan kikuk yang terlihat. Hidangan menggugah selera telah terhidang di meja makan yang panjang dan lebar, Nayla duduk setelah pelayan menarik kursi untuknya, ia terheran dilayani seperti dia adalah orang yang begitu terhormat dan mereka makan berdua di kelilingi pelayan yang berdiri bak patung .


Aska sudah menyilang sendok dan garpu tanda ia sudah selesai dengan makan malamnya sedangkan Nayla masih menikmati makanan lezat di depannya, terheran dengan sikap Aska lagi-lagi ia melamun.


Dia makan sedikit sekali padahal ini makanan yang lezat, kenapa dia jadi berbeda tidak sama seperti dirumahku yang makan begitu lahap bisa menghabiskan satu panci nasi, bertiga dengan kak Dika dan kak Endy


Nayla masih dalam lamunannya sambil terus menyuapkan makanan kedalam mulutnya pandangannnya kosong tanpa dia sadari Aska di sebelah sedang menatap wajahnya menikmati kecantiknya yang tanpa bosan bagai candu yang ingin terus ia lihat, ada rasa tak percaya, wanita yang ada dihadapanya benar-benar telah menjadi miliknya. Hingga Nayla tersadar dari lamunan setelah makanan dipiringnya sudah habis lalu melihat kearah Aska yang langsung membuang pandangannya takut ketahuan sedang menatap Nayla.


Setelah selesai makan malam mereka menuju kamar untuk beristirahat, kamar itu sudah kembali normal walaupun aroma mawar masih sangat kuat tercium .


Sebelum tidur mereka masih berdebat tentang tidur.


"Kak Aska Nay akan tidur di sofa"Jelas Nayla mengangkat bantal.


"Ngak boleh, apa kata kakak kamu kalau dia tahu adiknya tidur disofa" Aska menarik bantal yang di pegang Nayla.


"Biar kakak aja yang tidur disofa" Ujar Aska.


"Tapi sofa ngak sepanjang badan kakak, kaki kakak terlalu panjang pasti akan gantung" Ujar Nayla seperti mengejek Aska.


"Kalau begitu, ranjang ini kan sangat besar bagaimana kalau kita tidur disini kita akan membagi ranjang ini lalu menaruh bantal ditengahnya" Ide tercetus dari Aska yang masih berharap pada Nayla kalau tidak bisa menyentuhnya setidaknya masih bisa menikmati wajah cantiknya saat tidur.


"Kamu tenang aja kita kan kakak-adik anggap saja kau tidur dengan kakakmu Dika"lagi-lagi menenangkan hati Nayla


Nayla masih berfikir lama akhirnya


"Baiklah, Nay setuju...." Jelas Nayla.


"Lagi pula ini kamar kak Aska, Nay cuma numpang jadi ngak boleh banyak tingkah" Ocehnya pelan memalingkan wajahnya mengerucutkan bibirnya


Akhirnya mereka terlelap di ranjang yang sama dengan menaruh guling disisi mereka, menumpuk dua guling berjajar pemisah dikaki mencegah mereka agar tak bersentuhan, dua guling lagi berjajar memisahkan tubuh mereka agar tak berpelukan dan satu guling menutupi wajah mereka agar tak saling bertatapan hingga total 5 guling di tengah membentuk benteng pemisah, tak ada celah untuk saling bersentuhan dan saling pandang.

__ADS_1


__ADS_2