
Dika dan Nayla telah siap untuk kembali ke kehidupan awal, mereka akan pulang hari ini, pergi meninggalkan tempat yang selama setahun ini, memberikan kesan yang luar biasa untuk mereka terutama Nayla.
Nayla berdiri di depan rumah menatap pemandangan sekelilingnya, untuk terakhir kalinya sebelum ia meninggalkan tempat itu, perasaannya sangat sedih entah kapan lagi dia bisa kembali ke rumah ini.
"Nay, ayo cepat" Panggil Dika, yang telah berdiri disamping mobil.
Nayla berbalik mengarahkan pandangannya pada pada Dika.
"Ia" Nayla berlari kecil ke arah kakaknya.
Saat Dika dan Nayla telah ingin memasuki kedalam mobil tiba-tiba dua gadis datang menghampirinya.
"Nay" Panggil dua gadis yang baru saja datang lalu memeluk Nayla yang masih berdiri bersama Dika disamping mobil.
Wajah Dika seketika berubah ia menarik nafas yang panjang dan dalam memasang wajah malas, melihat sahabat gila adiknya Luna dan Hana datang, ia sudah bisa menebak jika dua gadis ini ada keadaan pasti menjadi kacau.
"Nay, Kamu jadi pergi" Tanya Luna wajahnya sedih ekor matanya basah.
"Jangan pergi Nay, kalau kamu pergi ngak seru lagi, kalau kamu pergi ngak ada lagi yang mengerjakan tugas kuliah kami, jalan-jalan ngak asik lagi" Hana tertunduk sedih harus menerima kepergian sahabatnya.
"Maaf, tapi akau harus pergi, kami akan pulang" Ucap Nayla yang juga sama sedihnya.
"Kamu akan kembali kan Nay, kamu hanya sebentar saja kan?" Tanya Luna.
"Aku juga ngak tahu" Ucapnya pelan, ia juga tidak tahu apa ia bisa kembali lagi ke kota ini, karena jika ia bersama Aska langkahnya sekarang diatur oleh suaminya.
Hiks...hiks...
"Nay kami pasti merindukanmu" Peluk Hana dan Luna memeluk tubuh Nayla, menangis sesugukkan seperti anak kecil, karena kehilangan sahabat terbaiknya.
"Dika menyandarkan tubuhnya dimobil, melipat tangannya didada hanya memutar bola mata jengah melihat melihat drama tangis perpisahan 3 sahabat itu, yang menurutnya berlebihan.
Setelah puas mereka melepaskan pelukannya lalu kedua gadis itu kompak mengarahkan pandangannya pada Dika, Dika yang melihat dirinya menjadi pusat perhatian dua gadis itu mulai bersiap menghadapi kegilaan mereka yang begitu menyebalkan dan selalu membuatnya kesal, gadis penuh percaya diri yang tanpa malu selalu mengungkapkan perasaannya pada Dika.
Luna dan Hana mulai mendekat kearah Dika, yang menunjukkan wajah dingin tak bersahabat.
"Kak Dika, kakak pasti kembalikan? Kakak ngak akan lamakan?" Tanya Luna meneteskan air matanya namun lelaki yang dihadapannya masih memasang wajah dingin.
"Ia kak Dika pulangnya kemana sih? biar kami susul" Tanya Hana gadis culun berkaca mata.
"Kalian tidak perlu tahu" Ucap Dika ketus tidak memberikan sikap manis pada gadis yang ada dihadapannya meskipun itu adalah perpisahan terakhir mereka.
Dika dan Nayla ingin membuka lembaran baru ditempat semula, ia tak ingin memberi tahu siapapun dari mana asal mereka karena ia tak ingin ada yang mencari mereka nanti, apalagi disini begitu banyak pemuda yang tergila-gila pada Nayla dan siap mengejarnya kemanapun, Dika takut para pemuda itu nekat mencari Nayla dan merusak hubungan adiknya dengan Aska dan tentunya Aska pasti tak suka ada pemuda yang mendekati Nayla dan sebelum kekacauan itu terjadi Dika telah mengantisipasinya, dan juga agar dua gadis labil itu tidak mengejarnya lagi.
"Kak Dika jangan lama disana, nanti jika kakak kembali lagi kemari lamar Luna ya" Ucap dengan senyum mengembang menggungkapkan harapannya, masih mencoba merayu Dika disaat terakhir.
Dika seketika membulatkan matanya, tercengag mendengar ucapan gadis percaya diri yang ada didepannya, terang-terangan mengungkapkan harapannya bukan lagi menjadi pacar tapi menjadi istri.
"Apaan sih Lun.." Protes Hana memukul lengan sahabatnya.
"Ya ialah siapa tahu dengan jauh disana, kak Dika kangen denganku dan menyadari cintanya padaku bagaimana" Ucap Luna dengan penuh keyakinan.
"Ia juga ya Lun, mana tahu ia sadar setelah kehilangan jika ia jatuh, seperti kata orang-orang, jika kehilang baru tahu rasanya cinta" Hana merasa apa yang ucapan sahabatnya itu benar kemudian.
"Kak Dika, kalau kakak kembali lagi kemari, nanti mau lamar Hana kabari dulu, telpon dulu ya biar Hana bisa dandan yag cantik dan orang tua Hana ,siap-siap ngak kaget, anak gadisnya dilamar" Ucap Hana ternyata juga mengungkapkan harapannya dan rencananya dengan penuh keyakinan jika Dika kembali akan melamarnya. seperti biasa kompak menembak Dika diwaktu yang sama dan ditolak bersama pula.
Dika memegangi dadanya, ia seperti sesak nafasnya mendengar ucapan mereka yang begitu blak-blakan dan percaya diri, Dika akan kembali dan melamar mereka. Seperti biasa Dika mulai kesal kedua gadis ini memang tak bisa dibiarkan.
"Hana yang mau dilamar itu aku, bukannya kamu" protes Luna
"Aku kan mau juga dilamar sama Kak Dika" Ucap Hana polos.
"Jangan dia kak, Luna Aja." pinta Luna.
"Kak Dika pilih Hana kan" Ucapnya Hana.
Dika melihat kearah Nayla yang mencoba menyembunyikan tawanya melihat kakaknya dalam situasi diperebutkan oleh dua sahabatnya. Dika menatir nafas panjang memegepalkan tangannya berusaha menahan emosinya.
"Itu tidak akan terjadi, aku tidak akan kembali kemari, dan soal harapan kalian aku tidak akan memihi salah satu diantara kalian, aku tidak akan kembali dan semoga kita tidak berjumpa lagi." Ucap Dika ketus. menyeringai dengan tatapan tajam.
"Ayo Nay, kita pergi, bisa mati jantungan kakak disini, aku sudah tak sabar sini, aku ingin cepat pulang dan bebas dari kalian" Ucap Dika tersenyum lebar penuh kemenenga akan meninggalkan kehidupannya yang disini.
"Ih Kak Dika, kakak belum memberikan kami pelukan perpisahan" Pinta Luna.
__ADS_1
Hana dan Luna tanpa aba-aba kompak mendekat lalu memeluk tubuh Dika erat disebelah kanan dan kiri.
"Kak Dika, kami pasti merindukan kak" Ucap Hana yang juga diangguki Luna mempererat pelukannya membenamkan wajahnya ketubuh Dika, mencium aroma wangi tubuh laki-laki ini.
Dika terdiam mendapatkan pelukkan dari dua gadis sekaligus hatinya mulai melemah walau bagaimana pun dua gadis ini telah membantu adiknya keluar dari masa sulitnya meskipun menyebalkan. ia menggangap mereka sudah seperti adiknya juga.
"Kalian jaga diri kalian, belajar yang rajin, jangan suka keluyuran" Pesan Dika sebagai seorang kakak suaranya mulai lembut, hatinya mulai melemah.
"Kak Dika kalau Luna lulus kuliah, Luna cari kakak ya, Luna akan lamar Kak Dika" Ucap Luna mulai kembali merayu Dika terus memeluk erat.
"Kakak jangan nikah dulu ya tunggu Hana, aku akan cari kak Dika, jika aku berhasil ketemu kakak, Hana akan lamar kakak, kita nikah secara sederhana juga ngak apa-apa" Ucap Hana
"Hana ..." protes Luna.
"Nay" panggil meminta pertolongan adiknya, wajahnya kembali kesal dan sedikit takut dengan kegencaran dua gadis gila ini dalam menyatakan cinta
"Kak Dika, kami tahu kakak pasti bimbang memilih antara Luna dan Hana, karena kakak takut akan menyakiti hati kami, tanya hati kakak, tutup mata kakak dan pilih siapa yang ada dihati kak" Ucap Hana sok bijak memberikan solusi atas pilihan Dika, Penuh keyakinan jika Dika hanya ragu dalam memilih, padahala Dika benar tak menyukai mereka, benar-benar gadis yang memiliki percaya diri yang tinggi
"Jika kakak ngak bisa memilih kakak bisa menikahi kami berdua" Ucap Hana gadis polos yang memberikan solusi bijaknya.
Dika menelan salivanya dengan susah payah, ia ketakutan mendengar solusi Hana padahal jangankan mereka berdua, satu saja ia tak mau
Dika menyesal bicara lembut pada mereka, walau bagaimanapun dua gadis itu tak akan bisa tahan untuk tidak merayu dan mengungkapkan isi hatinya.
Dika mengarahkan pandangannya ke Nayla, ia kembali memasang wajah frustasi.
"Ayo Nay, cepat kita pergi dari sini bisa gila aku lama-lama disini." Ucap Dika ketus melepaskan pelukan mereka lalu masuk bergesas masuk kedalam mobil.
"Aku pergi dulu ya" pamit Nayla kemudian masuk kedalam mobil.
"Hati-hati dijalan, sering-sering menghubungi kami" Ucap mereka yang dibalas Nayla dengan anggukan.
"kak Dika" Panggil mereka kompak lalu" I Love You" kompak mereka berteriak.
Dika yang mendengarkan mereka melambaikan tangannya tanda perpisahan untuk dua gadis gila itu lalu mobilpun melaju.
Nayla dan Dika berada di dalam mobil duduk berdampingan, Nayla mengarahkan pandangannya keluar kaca mobil menikmati pemandangan yang lalui, gurat wajahsedih terpasang diwajahnya, disebelahnya Dika terus tersenyum terlihat sangat bahagia akan pulang dan sangat bersemangat.
"Nay kamu kenapa diam, kamu tak suka kita pulang" Tanya Dika yang dari tadi melihat adik kesayangannya hanya diam tak bersemangat.
"Tidak, Nay senang akan pulang kerumah tapi, aku sedih meninggalkan tempat ini entah kapan lagi, aku bisa kembali lagi kemari" Jelas Nayla
"Ia juga sih Nay, kamu juga bisa kemari akan kembali kemari sesukamu dan nanti kamu kemari bersama Aska"
"Ke Mall aja ngak boleh apalagi kemari." Protes Nayla.
"Nay semua telah berubah, bahkan kamu ingin keliling dunia Aska akan Siap menemanimu" Jelas Dika semua telah berubah setelah penyerangan itu Aska sekarang telah bebas.
"Benarkah" senyum Nayla menggembang.
"Ia kau siap kembali padanyakan?" Tanya Dika.
Nayla mengganguk
"Aku siap kembali, aku akan bahagia dengan tiang listrik itu"
"Nay.."
"Ia....ia..."Lalu tertawa.
Mobil yang mereka tumpangi terhenti didepan bandara, Nayla dan Dika kemudian turun dari mobil mengambil barang-barang mereka menyeret koper masing-masing, terdiam sejenak menatap penuh harapan dan kebahagian masa depan yang baik dan hidup bahagia menjadi bayangan Nayla.
"Kau siap menyambut hidup baru yang penuh kegilaan lagi dari tiga laki-laki seperti kami" Ucap Dika menggoda adiknya.
"Hahahahaha" Nayla tertawa.
"Nay siap, aku bukan lagi Kimberly Nayla Sanders, Nay aKan menjadi. Nayla Askara Dirga" Ucap Nayla dengan bangga menarik kopernya lalu tersenyum menyambut hidup yang baru. meniggalkan kakaknya
"Nay, kamu melepaskan nama Sanders ayah kita" Protes Dika lalu menyusul adiknya.
Nayla dan Dika Akhirnya pulang setelah setahun meninggalkan Aska dan Endy, kali ini ia pulang ingin memberikan kejutan pada sahabatnya sama seperti dulu pergi diam-diam sekarang pun mereka pulang tak mengabari Ask Dan Endy.
***
__ADS_1
Aska dan Endy berada didalam mobil menuju kantor Dirgantara Mitra hari ini adalah hari merayakan berdirinya Dirgantara Mitra serta suksenya proyek-proyek yang yang telah mereka kerjakan berkat usaha dan kerja keras karyawannya. Ini adalah acara yang sangat penting, yang banyak dihadiri oleh orang-orang penting, pemilik perusahaan,relasi semua hadir memenuhi undangan.
Aska memasang wajah datar seolah memiliki banyak tenaga sepertinya ia ingin mati dalam bekerja sedangkan Endy memasang wajah kaku, tak bersemangat karena acara penting kantor ini, ia hampir tak tidur dan terus bekerja menyiapkan semuanya, mendampingi Aska yang gila kerja dan menginginkan semuanya hingga ikut terbawa dalam jadwal kerja Aska yang begitu banyak, ia sangat mengantuk ingin sekali ia tertidur dalam kasur yang empuk.
"Endy kau tidur ya "Aska menepuk lengan Endy yang kepalanya menempel pada kaca mobil, disebelahnya sudah tak bisa menahan kantuknya.
"Jangan potong gajiku..." rancau Endy terkejut "Ha...." Endy lalu tersadar memasang wajah binggung lalu menatap Aska.
"Aku sangat lelah aku tidak usah ikut ya, aku pulang saja tidur" Pinta Endy memohon pada sahabatnya, yang telah berubah kejam padanya.
"Kita sudah sampai" Ucap Aska yang ternyata mereka telah berada didepan kantor Dirgantara Mitra.
Endy menarik nafas panjang lalu mengerucutkan bibirnya ia melihat Aska telah turun dari mobil disambut oleh Pak Chan dan banyak orang sekelilingnya, iapun ikut turun berjalan dibelakang pak Chan menyeret langkah kakinya yang terasa berat.
Aska berjalan dengaan cepat dan penuh wibawa masuk kedalam gedung.
"Tring....."Tiba-tiba handphonenya berbunyi sekali bersamaan dengan handpone milik Endy yang juga berbunyi. Aska meraih saku celananya lalu memberikan handphonenya pada pak Chan yang ada dibelakangnya seperti biasa pak Chan telah mengerti maksud Aska, ia sedang diperintah melihat siapa yang mengirimkannya pesan.
Pak Chan dan Endy memegang handpone sambil berjalan cepat mengikuti langkah kaki Aska yang panjang, lalu pak Chan membacanya.
"Pesan dari sahabatku Dika.Kami sudah pulang dan telah sampai dirumah." Baca Pak Chan dengan datar belum mengerti apa isi pesan itu.
Aska yang berjalan cepat tiba-tiba menghentikan langkahnya, ia tersenyum mengembang, ia terlihat sangat tampan ketika kembali menarik sudut bibirnya lagi dan melengkungkan senyuman yang telah lama ia tak lakukan, ia sangat bahagia hatinya tiba-tiba berbunga.
"Nayla" Ucapnya kemudian berbalik melihat Endy yang juga tersenyum menggembang menatap handphonenya.
Mereka saling menatap lalu melemparkan senyuman menbuat orang yang berda disekelingnya heran.
"Ye...bule Jerman pulang"Seru Endy.
"Aku akan pulang" Ucap Endy membalikkan tubuhnya dengan cepat melangkahkan kakinya keluar gedung.
Aska yang melihat Endy membalikkan badannya untuk kembali keluar gedung dengan cepat ia juga ingin menyusul Endy.
Aska mencoba berjalan keluar kantor meninggalkan gedung lalu menemui Nayla namun langkahnya terhenti saat pak Chan menghadanganya.
"Mau kemana tuan" Tanya pak Chan berdiri dihadapan tuannya menahan tubuh Aska.
"Aku mau pulang" Ucap Aska .
"Tidak bisa tuan, ini acara penting anda harus hadir" Pak Chan menghentikan usaha Aska untuk pergi.
"Minggir pak Chan, Aku mau pulang Jangan halangi aku" Teriak Aska kesal berontak dalam hadangan pak Chan, matanya menatap punggung Endy.
"Maat tuan anda tidak bisa pulang" Tahan pak Chan sekarang ekor matanya mengarahkan pada orang disekelilingnya agar menahan tubuh Aska.
"Pak Chan istriku sudah pulang, aku ingin melihatnya" Ucap Aska berontak meminta untuk dilepaskan.
"Pak Chan aku ingin pulang, aku ingin libur sudah setahun aku bekerja keras, aku ingin libur, hari ini saja" Pinta Aska yang sudah tidak peduli sepenting apa pekerjaannya.
"Saya tahu, terus bekerja, tapi ini acara penting anda tidak boleh tidak menghadirinya.
"Endy, Endy...tunggu aku, aku juga ingin kesana" Teriak Aska semakin kesal karena Endy meninggalkannya.
"Aku akan pulang menemui bule jermanku," Ucap Endy santai
"Aska bule Jerman ku dan sahabatku telah kembali aku, aku mengundurkan diri dari perusaahan ini" Ucap Endy berlalu meninggkalkan Aska yang kesal.
Endy membalikkan badannya lalu menatap Aska dari jauh yang dikelilingi oleh banyak orang yang menahannya.
"Aska .....da..da" Ucapnya tersenyum puas sambil melambaikan tangannya mengeluarkan lidahnya mengejek kesialan Aska.
"Beraninya kau ,Endy .....awas kau, ku hajar kau nanti" Teriak Aska kesal. Namun Endy tak peduli dan berjalan semakin jauh.
"Pak Chan lepaskan aku, aku akan pergi"
"Kalian semua kupotong gaji kalian 50 persen" Ucap Aska kesal.
Endy telah pergi lebih dulu mememui sahabatnya Dika dan bule Jermannya yang telah setahun ia rindukan. Meninggalkan Aska dengan segala tuntutan pekerjaannya.
.
.
__ADS_1
.
.yang baca tolong tinggalkan jejak Like, coment,vote ya.